Ketika sedang memarkirkan mobil di taman ini dan baru juga keluar untuk menghirup udara segar, dan kabur dari rutinitas yang sungguh membuat muak, aku melihat seorang gadis kecil, ehm … gak kecil juga sih, aku taksir umurnya sekitar delapan sampai sepuluh tahun, seperti kebingungan. Dia kutemukan sedang menangis, tersedu-sedu. Jujur saja, ketika aku melihatnya menangis seperti itu, selain iba, karena kasihan, aku justru lebih melihat wajahnya itu lucu, dengan semburat kemerahan terlukis di kedua pipi putihnya, belum lagi ditingkahi cantik rambutnya ikal yang dikepang dua. Entah kenapa, sejak pertama melihatnya aku jatuh hati. Iya-iya, aku tau apa yang kalian pikirkan, “Dia itu anak kecil. Dasar om-om m***m. Tapi jujur saja, tingkahnya yang menggemaskan itu, dia bertingkah seperti anak kecil. Melihatnya seperti kehilangan sesuatu dan akhirnya terlintas ide mendekatinya,
"Hai ... kamu kenapa? Ada yang bisa aku bantu?” bukannya menjawab pertanyaanku, malah semakin kencang tangisannya. Karena takut dikira aku yang membuatnya seperti itu, aku mencoba mencari polisi yang biasanya berpatroli di sekitaran taman ini. Cukup lama juga, aku berkeliling sambil menggandeng tangan anak itu. Karena tidak ketemu juga polisi yang berpatroli, akhirnya aku berinisiatif ke kantor polisi terdekat. Sesampainya di sana, aku menjelaskan duduk permasalahannya, “Saya menemukan anak ini sedang menangis sendirian di taman. Orang-orang di sekitar sini tidak ada yang peduli, saya kasihan melihatnya. Tadinya saya mau melaporkan anak ini ke polisi yang berpatroli, tapi sudah cukup lama saya menunggu, polisinya tidak muncul-muncul. Saya takut saya dituduh apa-apa akhirnya saya membawa dia ke sini.” Setelah menanyakan beberapa pertanyaan kepada gadis kecil ini, akhirnya polisi langsung berkeliling memberikan pengumuman.
Sementara, dia gak mau aku tinggal di kantor polisi, “Nanti kalo aku dipenjara, gimana? Kamu tega sama aku? Sama anak kecil yang lagi bersedih ini?” ya ampun, gimana gak menggemaskan, coba, dia ngomong begitu. Akhirnya aku bilang sama polisi yang ada di situ, bahwa aku akan mengajaknya keluar dari situ. Tadinya polisi tidak mengizinkan, khawatir anak ini justru aku apa-apain. Tapi setelah menjaminkan identitasku, memberitahu di mana kami akan duduk sambil menunggu ibunya, akhirnya polisi itu memberi izin dengan syarat ada satu orang polisi yang akan berjaga di sekitar kami.
Ketika lewat di kedai es krim, aku tawarkan ke dia “Aku mau beli es krim, kamu mau?" dengan girang dia mengangguk, lalu aku bergegas ke kedai, membeli dua es krim, satu untukku, rasa vanilla dan coklat, sementara, karena aku tidak tau rasa apa kesukaannya, aku melihat ada es krim coklat dengan topping cookies yang lucu, jadi aku pilihkan dia es krim itu saja. Setelah membayar, aku berjalan ke arahnya. Aku menyodorkan es krim coklat dengan taburan cookies yang banyak. Dia tidak melihatku, hanya tangannya terjulur dan mengambil es krim yang aku sodorkan sambil menyusut air matanya, "Terima kasih."
Aku melihatnya, ada getar halus, melihat matanya yang indah, ditambah lagi perangainya yang malu-malu, sepertinya dia bukan penduduk asli sini, "Sudah jangan menangis lagi. Kalo kamu menangis seperti itu, kamu seperti gadis yang baru putus cinta, tau kamu, nona muda?”
Air mata yang tadi sudah berhenti perlahan turun, aku bertanya bagaimana bisa dia sampai tertinggal dan lepas dari pegangan ibunya? "Aku kehilangan Ibu, tadi kami berjalan-jalan berdua di taman ini. Tapi aku terlepas darinya, aku bingung, bagaimana sekarang, Mister? Bagaimana?"
Aku ingin tertawa melihatnya, tapi melihat wajahnya yang masih turun air mata, sesekali, kok jahat banget rasanya, ya, ehehe. Jadilah, sembari menunggu kabar dari polisi tempat aku melaporkan gadis ini, akhirnya aku tanggapi dia bercerita sambil sesekali dia menggigit cone es krim atau menjilat es krim yang meluncur turun karena lumer, menghabiskan es krimnya,
Tanpa ada aba-aba, dia bilang ke aku dengan tiba-tiba bahwa aku tampan. "Kamu tampan, Mister. Bagaimana kalau kita menikah?" Aku terbahak, bagaimana gadis muda ini bisa berpikiran menikah?
“Aku janji, kita akan bertemu lagi, ya. Tapi, ketika menemuimu nanti, kamu janji, ya, kita akan nikah, young lady.”
Aku melihatnya mengangguk, dan meneruskan celotehnya, “Selain membelikanku rumah yang besar dan mobil yang bagus, ehm … Mister juga bisa, ‘kan, membelikan banyak es krim cokelat dengan topping cookies yang banyak seperti ini?” lanjutnya. Aku mengangguk,
“Aku janji akan datang melamarmu dan membawamu tinggal di rumah besar dengan taman yang indah seperti pemandangan hari ini, dan menyediakan es krim sebanyak yang kamu mau, ya.”
Lalu aku melihat seorang Ibu, setengah berlari, menangis meneriakkan sebuah nama, entah siapa tidak terdengar olehku, hanya saja young lady di sebelahku ini berlari menghampirinya, "Ibuuu ... Ngga takut, Ngga bingung Ibu ada di mana? Untung ada Mister ini yang membelikan ku es krim, dia mau melamar ku, Bu. Katanya dia kaya, dia ..." Si ibu mengangguk ke arahku, "sstt ... Ngga, iya, maafin Ibu, ya. Bilang terimakasih sama Mister, kita pulang, ya."
Aku melihatnya mengangguk, "Terimakasih, Mister. Aku tunggu, ya." Si ibu mengucapkan terimakasih kepadaku, dan mereka berlalu, masih bisa ku dengar celotehnya, gadis manis.
***
"Bantu aku, sudah beribu kali aku mencarinya. CARI SAMPAI DAPAT!!!" Setengah frustasi aku menjerit ke arah Agnes, "iya, Pak, kami sedang mengusahakan, tapi bekal informasi yang Bapak berikan tidak cukup, kami harus berusaha lebih ke ..."
Aku menghentak meja, kesal. "Itulah gunanya aku membayarmu MAHAL! CARI SAMPAI DAPAT atau akan ku kembalikan kamu ke lorong sempit tempat di mana pertama kali aku menemukan mu dan mengangkat derajatmu!"
Di mana kamu, Ngga? Jingga? Mangga? Jelaga? Siapa namamuuu???
Aarrghhh ... Sudahlah, bagaimanapun aku harus menemukanmu. Young lady.
"Pak, ada Bu Andrea, di depan. Apakah Bapak mau menerimanya?" Riana, sekretarisku membuyarkan lamunanku, mau apalagi dia, mengganggu saja. Sebenarnya aku tidak ingin lagi berurusan dengan wanita ular itu, tapi aku juga masih membutuhkannya. Dengan enggan aku meminta Riana mempersilahkan Andrea masuk.
"Hai, tampan. Bagaimana kabarmu, kenapa semalam tidak datang ke apartemenku? Padahal aku sudah mempersiapkan sesuatu yang istimewa untukmu." Andrea tidak pernah gagal membuatku terbawa suasana. Terus terang saja, jiwa lelakiku berontak, masih teringat jelas bagaimana malam itu, dia berupaya menaklukkan ku dan akhirnya ya, aku jatuh juga ke dalam pelukannya. Seperti siang ini, dia berhasil membujukku, dan bodohnya aku, lagi-lagi tergoda.
Aku mendengar pintu ruanganku dikuncinya, dan terjadi lagi kejadian beberapa malam kemarin dan malam kemarin, dan malam kemarin lagi, Andrea seperti candu. Yang dengan niat sekeras apa pun berusaha aku tolak, jika sudah berdiri di depan sini, aku kalah.