Hari ini, pertama kalinya dalam hidupku, keluar dari rumah, meninggalkan Ibu dan Bapak. Sejak berseteru dengan beliau entah bagaimana aku bisa meneruskan hidup? Aku si manja yang tidak pernah sedetikpun jauh dari kedua orang tua memutuskan hengkang. Tapi toh ini sudah jalannya. Melangkah saja, semoga tuhan menuntunku. Hal pertama yang ada di kepalaku adalah menghubungi Tari, “Aku butuh ketemu sekarang, bisa, Tar?” pesan itu aku ketikkan sambil kepalaku terus berpikir tentang rencana apa setelah ini yang akan aku kerjakan, tidak berselang berapa lama, ada pesan masuk, pesan balasan dari Tari, “Aku lagi di toko buku. Kamu ke sini aja.” Aku yang bingung tidak tau mau ke mana, gelap semua jalan di depanku, akhirnya harus menyerah dan menemui Tari, “Oke. Aku ke sana sekarang.” Begitu pesan balasan yang aku ketikkan ke Tari. Hanya butuh waktu lima belas menit aku mengendarai sepeda motor, satu-satunya barang berharga yang aku dapatkan dari uang yang aku kumpulkan selama ini, harta yang nempel dari uang gaji yang aku dapatkan. Sesampainya di toko buku, Tari menyambutku, “Kusut banget itu muka. Lu kenapa, Ga?” aku diam, “Kenapa ih. Masuk ke ruanganku aja, yuk.” Ajak Tari padaku, “Aku minggat dari rumah.” Begitu ucapkku pada Tari, setelah kami duduk berhadap-hadapan, "Kenapa sih, Ngga? Lu tau, kan, lu gak bisa apa-apa, sekarang malah bisa-bisanya lu malah keluar dari rumah?" Tari, sahabat paling kampret yang kupunya tapi selalu berhasil membuatku merasa bahwa hidup akan baik-baik saja. "Bapak udah keterlaluan, Tar. Semua udah gw lakukan, semua permintaannya udah berusaha gw penuhi, tapi ya, gimana? Anak perempuannya ini belom bisa memenuhi semua ekspektasinya. Bapak mau gw begini, gw begitu, kalo ngobrol sama teman-temannya, dia selalu membanding-bandingkan aku sama anak-anak temannya, selalu bilang kalo aku belom jadi apa-apa. Menurutmu, orang tua yang seperti itu gimana? Banyak tuntutan yang ditujukan ke aku, tapi Bapak lupa, gw ini manusia, punya hati, punya perasaan, masa iya gw diem aja?" Demi mendengarkan ocehanku yang mulai tidak terarah, Tari diam. Sampai aku sadar, Tari ... Menangis. Aku bingung, aku yang pergi dari rumah, bingung harus bagaimana, kok dia yang nangis? “Gue yang diusir dari rumah, gak punya uang, cuma punya motor butut itu, dan baju satu ransel, lah ko lu yang nangis, dah?” dengan masih sesegukan, dia bicara gak jelas, sampai aku harus bertanya berulang kali, “Hah? Apaan?” mungkin karena dia kesel, akhirnya dia menghapus air matanya, menyusut aliran air yang keluar dari hidungnya, dan menarik napas dalam, "Kamu beruntung, Ga. Berbahagialah, kamu masih bisa dicerewetin Bapak, diomelin Ibu. Gue rindu suara itu. Jangan sampai menyesal, Ga. Kelak mereka pergi, ketika mereka sudah gak ada di dunia ini, lu gak akan bisa apa-apa lagi. Bahkan gue jamin, lu akan mempertaruhkan apa pun, memberikan semuanya demi kehadiran mereka. Itu yang gue rasakan sekarang, gue akan mempertaruhkan apa pun untuk bertemu kedua orang tua gue, mau diomelin, dimarahin, gue bakal dengan ikhlas dan dengan senang hati dengerin semuanya." Aku lupa, Tari adalah yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya sejak umur 5 tahun. Kecelakaan lalulintas merenggut nyawa kedua orang tua Tari. Dia hanya hidup berdua dengan neneknya, sementara semua biaya sekolahnya ditanggung oleh adik dan kakak kedua orang tuanya. "Sorry ... So sorry. Gak ada maksud bikin lu sedih, Tar. Maaf," aku merangkulnya, kami berpelukan lebih tepatnya, menangis dengan alasan kesedihan kamu masing-masing. Niat hati mau mencari solusi untuk masalah yang sedang aku hadapi, justru malah adu nasib tragis. Tuhan, tolong bantu aku, setidaknya jangan ambil nyawa kedua orang tuaku sebelum aku bisa membahagiakan mereka, doaku. Walaupun kekesalan yang masih aku rasakan tapi semoga perasaan kecewa ini tidak berlarut. Setelah drama bertangisan yang akhirnya kami tertawakan, Tari angkat bicara, "Oke ... Karena lu gembel yang butuh duit dan kerjaan, gak ada pilihan lain, lu harus kerja. Udah ada rencana, Ga?" Aku melepas pelukan kami yang semakin lama semakin iyuh ... Karena baju kami basah dan banjir air, dan duduk tegak di hadapan Tari, "Gw gak tau harus ngapain dan kerja apa. Gw cuma bisa buat cookies, itu juga alakadarnya, karena Ibu belom ngajarin banyak resep. Dan kalopun mau nikah, ah … iya, gimana kalo gw nikah aja? Sama pangeran berkuda putih, yang pernah gw ceritain waktu itu loh, yang ..." Belom selesai kalimat yang seharusnya aku sampaikan, tari mengambil remot AC di dekatnya dan menggetok jidatku, sakit, euy, aku meringis, "Apaan, sih? Kan tadi lu tanya, gw punya rencana apa? Ya itu, rencana gw. Ish ..." Tari geleng-geleng, demi melihat sahabat ajaibnya ini. Dia mengeluarkan beberapa jenis pakaian, mulai memadu padankan di badanku, berkali-kali, geleng-geleng, bongkar lagi, ganti dengan yang baru, ganti lagi, ada kali, lima pasang baju yang dicoba, gak ada yang masuk dengan selera Tari. "Beli baju, yuk. Gw gak mau ngajak temen yang bajunya GAK BANGET, begini." Aku mengernyitkan dahi, “Emang kita mau ke mana?” Tari hanya tersenyum penuh rahasia, “Ikut aja, nanti juga lu tau.” Dia lalu meneruskan ucapannya, “Yuk, ikut aku. Kita belanja baju.” Aku menggeleng, "Duit dari manaaaa, Marpuaaaah???" teriakku padanya, tapi bukan Tari namanya kalo gak bisa meloloskan keinginannya, “Lu lupa, ya, kalo gue ini tajir?” aku menjitak kepalanya, “Sombong amat jadi orang, ih.” Tapi dia tidak memerdulikanku. Dia menggeret tanganku dan kami berakhir di mall yang sebenarnya tidak pernah aku inginkan. Aku ingin bekerja, aku butuh pekerjaan, "Tari, gue tuh butuh kerjaan, gue butuh sumber duit, bukan malah ngabisin duit lu begini. Belom apa-apa gue udah punya utang banyak sama lu, lagian ini baju-baju model gini tuh untuk apa?" Aku melihat beberapa pilihan model baju yang dipilihkan Tari, "Gampang urusan kerjaan itu, nanti gue cariin. Tugas lu adalah malem ini nemenin gue ke suatu tempat yang nanti bakal bikin lu sejenak melupakan keruwetan hidup, kesedihan, dan juga masalah yang lagi lu hadapin. Percaya deh sama gue." Mau gak mau aku menuruti juga keinginan Tari, Karena memang aku harus ikut apa yang Tari ucapkan, karena aku belum ada pilihan lain dan bayangan mengenai rencana yang akan aku kerjakan setelah ini, Tari adalah harapanku satu-satunya yang ada di depan mata.