Cookies 5

1025 Words
Setelah drama memilih baju dan main rahasia-rahasiaan dengan Tari mengenai rencana dan tempat yang akan kami datangi hari ini, akhirnya kami sampai juga di tempat ini. Baju yang dipilihkan Tari tadi, seharusnya bisa aku tebak ke mana kami akan pergi, dan di sinilah aku, sekarang, ikut dengan Tari di tempat yang sering dia kunjungi selepas kerja dari toko buku yang dia miliki, tempat yang penuh dengan musik, penuh dengan berbagai macam dan rupa manusia, tempat yang menyediakan beragam minuman, dari minuman haram, jus, sampai air mineral, iya, ini club yang sering Tari ceritakan ke aku, “Gw sering ke club ini kalo lagi kesel atau pusing karena pekerjaan di toko buku. Ayok donk, lu ikut gue sekali-sekali.” Begitu beberapa kali Tari mengajakku ke tempat ini yang selalu aku tolak, bukan karena apa, aku memang tidak pernah nyaman berada di lingkungan seperti ini, aku lebih suka tempat yang tenang, tentram, bukan tempat yang berisik dan asap rokok yang menguar ke segala penjuru ruang dan tercium hingga pintu masuk tadi, ketika aku baru saja menjejakkan kaki masuk ke sini. Rikuh, risih, melihat banyak orang berlalu lalang. Dentuman musik memekakkan telinga, membuatku mual, kepala berdenyut, ya tuhan, tempat apa ini? Aku berusaha menyesuaikan mataku, demi melihat lautan manusia yang bergoyang menghentakkan kaki mengikuti musik yang diputar, “Lu mau minum apa? malam ini gue yang traktir, lu enjoy aja, lupain aja dulu sebentar semua masalah yang lagi lu hadapi, gw janji bakal bantu lu keluar dari masalah itu. Tapi sekarang, lu nikmatin dulu aja yang ada di depan mata.” Aku mencoba untuk menikmati apa yang tersaji di depanku, tapi gak pernah bisa aku terima, baik di pendengaran atau di penciuman. “Gue ke sana sebentar, mau nyapa temen-temen gw, lu jangan ke mana-mana, ya, nanti gue balik lagi.” Aku menggeleng, “Lu jangan tinggalin gue, donk, Tar. Gue takut ih, tempatnya begini banget.” Tapi terlambat, Tari sudah turun ke bawah meninggalkanku sendirian. Ketika sedang membuka handphoneku untuk melihat mungkin ada pesan atau telepon yang tidak aku balas, tiba-tiba aku disapa seorang lelaki, "Hai ... Malam. Anak baru, ya?" Aku melihat seseorang di sebelahku berusaha mendekat, dengan potongan bapak-bapak perut buncit yang mempunyai sorot mata ganjen menatapku dan menyoroti pakaianku, aku yang risih banget ditatap seperti itu, berusaha untuk menggeser dudukku, aku mencoba menjauh, tapi kemudian dia memepetku lagi, "Jauh banget, sih, sini, donk. Gw Doni. Lu, siapa?" Tanpa ba bi bu, dia merangkulku, aku yang terkejut mendorongnya dengan kerasa, pria ini hampir terjengkang, “Wah, suka yang kasar juga, ya, rupanya. Kamu tipeku banget.” Dia menatapku seolah ingin melahapku, lalu kembali merangsekku ke pojok bangku tempat aku duduk lalu merangkulku lagi, kali ini dia berbuat sudah di luar batas, dengan tidak sopannya dia mencoba untuk memegang dengkulku lalu tangannya naik semakin ke atas, aku menepis tangan itu, “Jangan kurang ajar, ya.” begitu ancamku padanya, sekuat tenaga aku mencoba melepaskan pelukannya, tapi cengkramannya semakin kuat dan tangannya mulai tak terarah menjelajah bagian-bagian tubuhku yang bisa dijangkaunya. Aku berusaha berontak, mencoba melepaskan pelukannya yang semakin kuat, "Gak usah munafik. Berapa harga lu? Gw bayar. Jangan malu-malu gitu ato lu mau minta apa handphone baru, mobil, motor, atau apartemen? Tinggal sebut aja mau yang mana, pasti gw kabulin. Gw cuma minta ditemenin minum doank, gak ngapa-ngapain, lu udah bisa dapet semua itu, lu menang banyak, kan?" dan seketika setan di kepalaku seperti menggoda, “Cuma nemenin minum, aku bisa dapat semua itu? Enak banget kan. Apalagi sekarang aku memang lagi butuh pekerjaan. Kalo bisa menghasilkan semua itu hanya dengan menemani minum, ini bisa aku jadikan sumber mata pencarian, nih.” Namun kemudian aku tersadarkan ketika tangan lelaki di sebelahku ini sudah menyusup ke area yang sensitifku di bagian bawah, aku merasakan ada gelenyar aneh, namun kemudian aku tersadar, bahwa ini salah. Aku menangis, beginikah akhir cerita hidupku? Haruskah aku menyerahkan hidupku di jalan yang kelam ini? Tuhan ... Aku tau, aku bukan hamba yang baik, masih banyak dosa, tapi sekali ini aja, sekali aja, tolong selamatkan aku, lindungilah hamba, aku berdoa tak putus-putusnya. Aku berontak, memukul tangan yang masih gentayangan itu, “Mana nomor rekening lu? Cepet, gue udah naik banget ini, biar kita tuntaskan di sini.” Begitu ucapnya, aku melongo, menuntaskannya di sini? Aku menggeleng, “Lepaskan aku atau aku akan teriak.” Begitu ucapanku yang masih berusaha untuk melepaskan tanganny tersebut. Tapi lelaki itu tidak menyerah, “Teriak saja, tidak bakal ada yang perduli denganmu. Lihat sekelilingmu, mereka sudah sibuk dengan urusannya masing-masing.” Aku mengedarkan pandangan berkeliling, benar kata lelaki ini, karena aku melihat banyak pasangan yang datang ini tidak malu-malu untuk menuntaskan hajatnya di tempat ini. Aku makin tidak karuan, sekali lagi mencoba untuk mendorongnya sekali lagi, tapi tiba-tiba ada seseorang yang bicara, "Bung ... Dia pacarku, tolong jaga sikapmu, lepaskan tanganmu dari badannya kalo besok kamu masih mau melihat dunia." Seseorang, entah siapa, siapa saja aku tidak peduli. Terbukti, laki-laki b******k tadi melepaskan tangannya dari tubuhku dan pergi. Ketika berjalan keluar dari tempat itu, lelaki tadi bertanya, memastikan kondisiku, "Kamu baik-baik aja? Ayo jalannya cepat sedikit." Aku diam sejenak, otakku berfikir keras, setengah sadar masih bingung atas kejadian barusan, setengah lagi harus cepat memutuskan, akan tinggal, atau ikut pria yang tidak kukenal ini. Setelah dirasa cukup jauh dari tempat tadi, kami berhenti, “Oke. Kamu aku tinggal di sini, ya. Aku masih ada urusan lain.” Aku yang takut, menarik tangannya, “Eh … kamu mau kemana? Masa udah diselamatkan dari lelaki itu, terus kamu tinggalin aku di sini. Sama aja kamu nyelametin aku keluar dari mulut buaya masuk ke mulut singa.” Dia menatapku, “Terus kalo aku di sini, kamu yakin kalo aku bukan singa yang kamu maksud tadi?” aku melepaskan tangannya, bimbang. Tanpa terasa air mataku turun, lelaki yang di depanku ini terlihat bingung, “Aduh, kamu jangan nangis donk. Nanti aku dikira orang-orang yang lewat ini nyakitin kamu ato ngapa-ngapain kamu.” Aku tidak perduli, aku menangis dan semakin keras nangisnya, “Aku gak tau harus gimana, aku gak tau harus ke mana. Aku juga gak tau ini di mana, tolongin aku, jangan tinggalin aku di sini sendirian. Temenin aku, bantu aku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD