Cookies 6

1055 Words
“Lagian apasih yang ada di otakmu, ikut ke tempat begituan? Gak takut apa, itu perawanmu diambil paksa? Jadi perempuan tuh yang pinter, jangan cuma karena masalah dan hal yang sepele, terus berasa dunia runtuh, berasa diri paling gak beruntung, berasa tuhan gak adil, lantas setelah merasa seperti itu kamu akan memutuskan untuk seenaknya menjalani hidup, tuhan gak di gubris, orang tua gak dianggap, kayak gak ada teman lagi aja. Hidupmu itu gak semenyedihkan itu jika kamu mau melihat sisi positif yang akan kamu dapatkan setelah ini, bukankah habis gelap akan terbit terang?” aku masih bisa mendengar, dia, entah siapa lelaki ini, dari tadi nyerocos terus, gak mau berhenti, padahal aku baru saja lepas dari laki-laki biadab yang hampir saja meluluh lantakkan hidupku. Sambil terus meracau gak karuan, dengan derai air mataku yang masih juga turun tidak mau berhenti, aku memutuskan untuk ikut dengan lelaki ini, dan kami berjalan beriringan dari club tadi sampai tidak terasa kami sudah kami berjalan dan sampai di depan mobilnya. “Jadi, kamu yakin mau ikut sama aku? Kalo emang yakin, silakan naik ke mobil ini. Nanti aku coba carikan tempat untukmu bermalam dulu, minimal sampai besok pagi kamu bisa menenangkan diri dulu mala mini.” Dia membukakan pintu untukku, aku bergeming di tempatku berdiri, aku yang masih bimbang tanpa sadar mengeluarkan pertanyaan, “Atas alasan apa aku harus masuk ke dalam mobilmu, ikut denganmu, siapa yang bisa jamin kamu tidak lebih baik dari laki-laki di dalam tadi? Siapa bisa jamin kalo aku aman dan tidak akan dilukai sama kamu?” aku memiringkan kepalaku, melihat reaksinya, “Tadi ketika akum au tinggalin kamu di sana, kamu maksa mau ikut aku, sampe ada drama nangis segala. Sekarang ketika aku menawarkanmu untuk ikut masuk ke dalam mobilku, malah kamu yang mencurigai aku. Kamu ini di kehidupan sehari-harinya, pasti tipe perempuan yang kalo nanya bagus pake baju warna biru atau kuning, akhirnya pasti memutuskan pakai baju putih, iya, kan. Tipe perempuan labil yang gak jelas maunya apa.” aku melotot ke arahnya, “Enak aja. Aku gak seperti itu, ya.” lalu kulihat ada senyum tipis di sudut bibirnya. Bukan, bukan senyum manis, tapi senyum ngece, dan aku jadi suka senyum itu, terasa familiar dan sering kulihat, tapi di mana, aku lupa. “Buruan deh, diputuskan, kamu mau ikut aku atau tinggal di sini. Aku mau pulang.” Aku berpikir sejenak, “Apa yang jadi jaminan kalo perangaimu tidak seperti lelaki yang di dalam club sana itu?” dia tertawa terkekeh, “Ya, gak ada yang bisa jamin, sih. Tapi paling tidak, aku tidak menggerayangimu, sampai detik ini, entah nanti.” Aku melotot dan meninju perutnya, dia meringis, sepertinya beneran sakit, karena tinjuku memang beneran bukan bercanda, “Ini, ya, balasan buat orang yang menyelamatkanmu dari pria gatal yang tadi hampir membuatmu kehilangan masa depan. Dasar tega banget jadi orang.” Aku masih menatapnya, “Kasih aku satu alasan, kenapa aku harus percaya sama kamu?” Dia berdiri, berhadap-hadapan denganku, “Dari tadi, kamu berdiri di sini, di depanku, dengan pakaian begitu, terbuka, bikin aku, bukan, jangankan aku, nyamuk aja bakal mampir, apalagi aku, lelaki yang normal, tapi toh, buktinya aku gak ngapa-ngapain kamu. Walopun, ya, gitu, deh.” Aku gak jawab lagi omongan itu lelaki, aku langsung masuk ke mobilnya, kalo memang terjadi apa-apa, ya sudah, memang sudah nasibku, mungkin aku memang ditakdirkan tidak akan pernah merasa bahagia, jangankan orang asing, bahkan orang tuaku sendiri aja gak perduli sama aku, orang yang aku anggap teman juga begitu, seperti menjerumuskan aku ke lubang buaya, nah … ini ketemu lagi, lelaki yang begini, yang aneh tapi baik. Bisa-bisanya dia membawaku pergi dari tempat itu dengan ngaku-ngaku sebagai pacarku, tapi setelahnya dia mau ninggalin aku, sudah aja sekalian kepalang basah, sungguh, aku pasrah, tuhan, aku pasrah. Ketika kami sudah di dalam mobil, dia menghidupkan radio yang memutar lagu-lagu barat lawas, menenangkan dan menyenangkan, ada satu lagu yang aku suka, aku bersenandung, mungkin terdengar olehnya, tapi lama kelamaan senandungku berubah menjadi isakan tangis, “Lah, kenapa nangis? Tadi nyanyi. Kamu ini benar-benar perempuan unik.” Aku menyusut air mataku, “Lagu ini bercerita tentang seorang anak yang rindu sama ayahnya yang udah meninggal, bagaimana ayahnya memperlakukan dia, membuatnya tenang ketika dunia berubah menjadi tempat tidak dikenal.” Begitu ucapku, “Inget orang tuamu, ya? apa aku antarkan saja kamu ke rumahmu?” aku menggeleng dengan kencang, “Tidak. Bawa aku ke mana saja asalkan bukan ke rumah. Aku baru saja minggat hari ini, masa iya udah pulang lagi, lemah banget aku jadi orang.” Dia tertawa, “Egois, keras kepala. Perempuan seperti kamu ini kalo udah punya kemauan pasti harus segera direalisasikan.” Aku menengok ke arahnya, “Daritadi kamu selalu menebak-nebak bagaimana aku, dengan bilang kamu ini begini, kamu ini begitu, seolah orang yang paling tau banget tentang perempuan.” Dia menanggapi ucapanku, “Aku memang bukan siapa-siapa, tapi di sepanjang perjalanan hidupku, aku bertemu dengan banyak perempuan, jadi sedikit banyak aku paham sifat dan kebiasaan mereka.” Setelah terjadi perbincangan yang lumayan panjang, di sisa perjalanan menuju entah kemana ini, aku hanya diam, dia juga diam, gak ada niat buat ngomong, bahkan sekedar bertanya siapa namanya. Malas, toh habis ini kami akan berpisah dan gak ketemu lagi, ya, kan? Jadi untuk apa berbasa-basi lagi dengan hal-hal yang tidak penting. Sekitar setengah jam mobil berjalan, dia berhenti di sebuah hotel, aku mulai bingung, gelagapan, bertanya dalam hati, apakah malam ini memang akhir dari kehidupanku, apakah setelah ini aku harus menyerahkan nyawaku di tangan lelaki ini, aku bertanya pada tuhan bener banget, nih, aku harus berakhir seperti ini? Tuhan, gak sayang lagi nih, sama makhluk ciptaan-Mu yang imut ini? Ketika sedang berpikir keras mengenai apa yang sedang terjadi ini, sementara kepalaku masih penuh dengan pertanyaan dan dan juga rencana melarikan diri, mesin mobil dimatikan, lalu dia keluar dari mobil, dan membukakan pintu mobil untukku, “Malam ini, kita nginep di sini, ya.” Aku benar-benar terkejut mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan olehnya, “Kita? Menginap di sini?” aku mencoba untuk mengulang ucapan yang baru saja dia ucapkan untuk memastikan bahwa apa yang aku dengar ini tidak salah, dan dia mengangguk dengan mantap, “Iya. Daripada keliling-keliling dan kita gak juga menemukan tempat untuk bermalam, lebih baik kita bermalam di sini.” aku menggedikkan bahuku, membayangkan kejadian-kejadian buruk yang sebentar lagi akan terjadi padaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD