Ucapan lelaki ini barusan sungguh seperti sambaran petir di telingaku, kami berhenti di bangunan yang mirip dengan hotel, motel, losmen atau apa pun, terserah, gak apa-apa, yang penting aku jauh dari lelaki yang tadi mau mencelakaiku tadi. Tapi masalahnya, aku tidak kenal dengan pria ini, dan tadi dia bilang bahwa kami akan menginap di sini, yang masih jadi pertanyaan siapa lelaki ini, aku bahkan belum tau namanya sampai sekarang, darimana dia berasal, asal usulnya. Lagi-lagi, ketika aku sedang berpikir mengenai semua pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepalaku, dia sudah keluar dari mobil, dan mengetuk kaca pintu di sebelahku, "Kamu tunggu di sini, biar aku yang pesan kamarnya." Aku mencegahnya, sadar bahwa uang yang aku punya sekarang tidak lebih dari tiga ratus ribu, itu juga harus aku hemat sampai aku bisa mendapatkan uang lagi, jadi aku cegah lelaki ini, "Tunggu. Sepertinya uangku gak banyak, apa tidak bisa kamu carikan aku tempat lain yang lebih murah gitu harga per malamnya, atau aku saja yang nginap di sini? Kamu, ya mungkin bisa pulang atau kemana gitu? Karena sungguh, aku tidak mau lagi malam ini berakhir dengan drama." Dia tertawa terbahak-bahak, "Oke kita pesan satu kamar, nanti kita bisa sharing tempat tidur. Janji, aku gak akan ngapa-ngapain kamu.” Tubuhku seketika panas dingin, aku gemetaran, membayangkan harus satu kamar dengan lelaki yang tidak aku kenal, baru saja aku temui. Mungkin dia melihatku berkeringat, “Ya ampun. Kamu percaya banget sih, dibecandain gitu. Hanya kamu kok yang akan tidur di sini, aku akan pulang, gak bakal nginep di sini sama kamu, kok. Emak bisa marah kalo tau aku tidur di hotel, sama perempuan lagi, yang gak aku kenal lagi. Bisa pecah perang dunia ketiga. Toh aku hanya kebetulan masuk ke suatu tempat yang gak jauh dari club itu. Karena tadinya, rencana awalku hanya ingin menikmati makanan gratis di sebuah pesta, setelah aku dipaksa oleh temanku untuk menemaninya ke sebuah acara. Tapi tiba-tiba terjadi hal yang tidak terduga, ketika aku baru saja menyendokkan nasi dan ikan filet saos asam manis ke mulutku di suapan kedua, aku mendengar ada jeritan di mana-mana, maka dengan segenap jiwa raga, aku lari menjauh dari tempat pesta itu, dan asal saja masuk ke tempat yang jauh dari sana, ternyata aku malah nyasar masuk ke club itu lalu ketemu kamu yang bahkan aku belom bertemu lagi dengan teman yang seharusnya tadi ada di depan pintu masuk. Mardi, kemana lu?" Tatapnya nanar, mungkin dia sedang teringat akan temannya. Sungguh, ini kejadian yang random sekali, aku yang hampir celaka diselamatkan oleh lelaki yang salah masuk ke club setelah menghadiri pesta yang bahkan dia tidak diundang pada acara tersebut, alasan hanya mau makan gratis ini sungguh di luar ekpektasiku. Aku, entah harus iba atau ketawa melihat ekspresinya. Entah bagaimana, aku yakin lelaki di depanku ini bukan orang jahat. Tapi kemudian aku penasaran, demi melihat wajahnya yang melas banget seperti ini, aku jadi penasaran siapa Mardi. "Mardi itu pacarmu? Mardiah? Mardiyanti? Sampe segitu sedihnya terpisah dari dia? Memangnya kamu gak ada nomor handphonenya atau orang yang bisa kamu hubungi untuk mengetahui keberadaan si Mardi itu.” Dia bergidik, demi menanggapi pertanyaanku, "Amit-amit pacar. Mardi itu lelaki, dia sahabat sejak kecil. Yang pasti sekali lagi aku tegaskan dia itu lelaki. Bisa dicoret namaku dari kartu keluarga, sama Mamak, kalo aku suka sama lelaki, mana baju londryan Mamak yang aku pinjam robek lagi, mana harus nolongin wanita yang aneh dan ajaib banget lagi, hemh … malang banget nasibku, malam ini." Ucapnya kemudian sambil ngeloyor pergi dan dia melangkah menuju resepsionis, sepertinya memesan kamar, dan kembali dengan menyerahkan kunci. Seraya mengucapkan selamat beristirahat, “Gak usah bayar. Aku udah bayarkan kamarmu untuk mala mini. Tapi maaf, ya, aku hanya bisa bantu kamu sampe sini, setelah ini tolong jaga dirimu baik-baik, aku yakin kamu perempuan baik, jangan sampai terjerumus lagi ke tempat seperti tadi.” Setelah aku menerima kunci kamar darinya, aku bertanya, "Tunggu, siapa namamu? Boleh aku minta nomor Whatsup-mu?" dia mengangguk, "Aku Ujang. Panggil aja aku begitu, untuk apa kamu minta nomor Whatsup-ku. Gak usah, deh. Hubungan kita cukup sampe di sini aja, aku gak mau lagi terlibat dengan masalahmu.” Aku mengerucutkan bibirku, “Yah, sekedar mengucapkan terima kasih atau kalo nanti aku udah ada uang akan aku ganti semua uang yang kamu keluarkan untukku malam ini.” Lalu dia mengangguk, “Oke deh, kalo untuk alasan itu sih, siapa yang bisa nolak, nomor Whatsup-ku nol delapan tiga lima satu dua tujuh delapan. Disimpan, ya, tapi ingat, jangan mimpikan aku, ya.” aku memasang wajah bertanya, “Hah, mimpiin kamu? Ya ampun, ke-GR-an banget jadi orang, astaga.” Ucapku secara spontan menanggapi celotehannya. Dia mengangguk, “Iya, bisanya, wanita akan terpikat oleh pesonaku dan sering memimpikanku di dalam tidur mereka. Jadi aku gak mau malam ini harus pusing karena tidak bisa tidur yang disebabkan oleh kamu yang ngerasanin aku. Maaf, aku masih mau fokus dulu membahagiakan Mamak, jadi sampai waktu yang belum ditentukan aku belum mau berhubungan serius dengan wanita manapun." Aku melongo, “Astaga, serius kamu sampe mikir aku bakal begitu?” dia mengangguk, “Iya. Jadi maaf, ya. Aku gak bisa dulu menerima cintamu, jika sekarang sudah ada benih-benih cinta itu di hatimu lebih baik dihapus saja.” demi mendengar ucapannya aku jadi geleng-geleng kepala, “Oke. Aku pamit, ya. Selamat istirahat, ingat, jauh-jauh dari bahaya. Karena malam ini kamu beruntung bertemu denganku, kalo sampe kejadian lagi hal yang seperti ini, belum tentu kamu bisa bertemu lagi dengan lelaki setampan dan sebaik aku. Kamu langsung masuk aja ke kamarmu.” Dan setelah bilang begitu, dia berlalu menuju pintu keluar, menghilang ditelan kabut malam, meninggalkanku yang masih bergeming di tempatku, “Ada ya, manusia modelan begitu.” Setelahnya, aku bergegas berjalan menuju ke lantai dua, kamar yang sudah dipesankan Ujang barusan. Setelah sampai di depan kamarnya, aku memutar kunci kamar, dan langsung masuk. Berkeliling sebentar untuk memeriksa keadaan kamar. Ukuran kamar ini tidak besar, tapi cukuplah untukku, ranjang single bed yang rapi, dilengkapi dengan bantal dan selimut yang seperti sudah memanggil-manggil, tapi aku memutuskan untuk mandi dan bebersih dulu, untung saja ada kimono hotel yang disediakan, jadi baju yang aku pakai ini bisa aku gantung untuk kemudian aku pakai untuk pulang besok.