Cookies 8

1750 Words
Setelah insiden tadi di club, aku menenangkan diri di kamar motel ini. Hotel yang sengaja dipesankan untuk aku oleh lelaki yang baru pertama kali aku temui, bukan, dia yang dengan sok jagoan menemuiku, aku sendiri gak paham apa motifnya tiba-tiba muncul dan mengaku-ngaku sebagai pacarku demi menyelamatkanku dari lelaki hidung belang yang mencoba untuk melancarkan aksi tangannya yang gak sopan demi bisa menjelajahi setiap jengkal tubuhku. Ujang, terima kasih untuk dia, lelaki dari langit yang dikirimkan tuhan dan yang sudah menyelamatkanku lepas dari cengkeraman lelaki itu dan membantuku untuk mencarikan tempat tinggal malam ini. Setelah mandi, aku berbaring di atas ranjang sembari mulai menyusun kembali rencana yang akan aku ambil, tapi sebelum itu, satu hal yang pasti aku lakukan adalah besok pagi, aku akan harus mengambil semua barang-barang yang tersisa di kostan Tari, orang yang selama ini aku anggap teman, teman yang selalu bisa aku andalkan, orang yang aku anggap teman sampai kejadian tadi, dia menjerumuskanku ke tempat jahat itu, maka tidak salah, kan kalo aku memutuskan untuk tidak meneruskan lagi berhubungan dengan manusia modelan begitu. Setelah merancang beberapa rencana dan menuliskannya di catatan yang ada di handphone-ku dan karena mata tidak juga bisa merem, yang disebabkan baju yang aku pakai ini memang tidak nyaman tapi mau pakai selimut saja kok rasanya risih, jadi karena iseng aku buka-buka media sosial, melihat banyak selebgram berkeliaran, jalan-jalan, makan-makan, kok enak banget, ya. Apalagi jika jumlah followersnya sudah banyak, mereka bisa menerima endorsmen dan mendapatkan bayaran dari sana, terbersit ide, bikin akun Intagrum yang isinya kulineran, dengan mengusung tema tersebut aku bisa yakin pasti banyak peminatnya, tapi kembali aku urungkan. Aku tipe manusia yang kalo liat makanan, boro-boro upload ke media sosial, mana sempet foto-foto dulu lah, review dulu lah, mana bahasa food viewer begitu aku gak paham. Akhirnya, sudahlah, aku membuka laman komik di salah satu portal membaca online. Dan tidak berapa lama aku merasa lapar. Mau keluar beli makan tapi kemana? Aku bahkan gak hapal daerah sini, sementara di kamar ini tidak tersedia telepon kabel yang bisa langsung disambungkan ke resepsionis atau restoran hotel, ya iyalah, motel begini apa sih yang aku harapin, dan hanya ada galon isi air mineral di pojok ruangan, “Ya sudahlah, malam ini aku ganjel dulu pake air minum ini, besok subuh aku keluar cari sarapan yang di dekat dengan motel ini, maka aku memutuskan untuk turun dari ranjang dan berjalan ke arah tempat galon tersebut berada lalu memencet krannya agar air keluar, dan seketika itu juga tiba-tiba pintu kamarku diketok, aku terkejut sampai berteriak, setelah sadar, aku menutup mulutku, aku malah ketakutan sendiri. Aku tidak kenal siapa-siapa di sini, siapa yang mengetuk pintu kamarku tengah malam begini, jadi aku diam sambil berusaha mendengarkan suara apa pun yang ada di luar sebagai petunjuk, "Jingga, ini aku. Buka pintunya." Aku terkejut, kok orang yang di luar itu bisa tau namaku, tapi tunggu, sepertinya suara itu aku kenal, jadi aku memberanikan diri untuk berjalan ke arah pintu dan sedikit mengintip dari tirai yang kusibak seukuran bola mata sebelah, jantungku mencelos, tapi kemudian hatiku bersorak, Ujang. Lelaki itu yang ada di depan pintu kamarku sekarang, "Ngapain sih, malem-malem ke sini, ganggu aja." Aku membuka pintu kamar, walaupun ekspresiku kesal dan sebal tapi hatiku kegirangan. "Aku bawain kamu makanan, Non. Emang gak laper, nih, ada baju juga, daster, punya Emak, semoga cukup. Ukuranmu dan Emak gak jauh beda. Dimakan, ya ..." Gak perlu waktu lama, aku mengambil plastik makanan dan daster di tangan Ujang lalu mengucapkan terima kasih. “Makasih, ya, Jang. Tapi ... Kamu ngeledek aku, ya? Maksudnya apa, badan aku sama emakmu sama? Emang badanku kayak emak-emak gitu? Ih … Jahat banget sih jadi orang." Aku melihat Ujang bergeming. "Aku cuma bilang, ukurannya semoga pas. Karena ini baju Emak, kenapa jadi marah? Memangnya aku salah kalo ngomong begitu? Sudahlah, dimakan, ya. Aku mau pulang. Selamat beristirahat, inget, pesanku tadi, jangan rasanin aku. Cukup kamu bikin aku repot malam ini." Demi menahan egoku, demi rasa terima kasihku yang tak terhingga, maka aku menahan emosi dan keinginanku untuk membalas perkataannya tersebut alih-alih hanya mengangguk, padahal tawa sudah di ujung mulut. Setelah Ujang menghilang dari pandanganku, ketika dia sudah menghilang di ujung gang menuju kamar ini, aku menutup pintu, dan bersorak. Jingkrak-jingkrak. "Hore. Makan. Syukurlah, malam ini aku gak jadi kembung karena menelan banyak air dan gak jadi kelaparan, karena ada makanan ini. Akhirnya bisa ganti baju juga." Aku bersorak dan mulai membongkar bungkusan dari Ujang tadi, daster panjangnya selututku, celana dalam dan bra. Tapi tunggu, ini gimana ceritanya kok ukurannya bisa pas begini, masih ada merknya juga, HAH? Darimana Ujang tau ukuranku? Tapi sekali lagi, aku masa bodo dengan semua ini, yang penting malam ini aku bisa makan dan mandi juga ganti baju. Aman. Toh selama berinteraksi dengan Ujang juga dia gak pernah berlaku gak sopan ke aku, semua ukuran yang pas ini dugaanku hanya kebetulan saja karena terkaannya yang akurat, tidak lebih. Selama menikmati nasi bungkus rendang dan perkedel kentang, kesukaanku, but wait, ini lagi-lagi kok bisa pas, darimana dia tau makanan kesukaanku ini, apa dia jodohku? Demi perkedel kentang yang lagi kusantap, sekuat tenaga aku menggelengkan kepala, membuyarkan ide gila yang barusan berkelebat. Gimana bisa aku berpikir Ujang yang ajaib itu jadi jodohku, ide yang paling ngawur banget sih itu. Sambil masih mengunyah makanan ini, sambil iseng juga aku memutuskan untuk buka-buka beberapa pilihan aplikasi dating online, Entah kenapa, iklan dating online sering banget muncul terus kalo aku buka Instagrum dan entah dapet ide darimana, aku mulai daftar dan buat akun di situ. Hanya butuh lima menit pendaftaran dan verifikasi akun, maka aku sudah mulai berselancar di situs itu. Ada beberapa yang aku like fotonya, dan ada beberapa chat yang masuk. Tidak aku hiraukan, karena aku memang hanya iseng, aku sudah beberapa kali mendengar teman-temanku yang juga mempunyai akun di online dating seperti ini, awalnya seru, ngobrol di dunia maya, saling kenal, saling curhat, tapi lama kelamaan justru menakutkan, karena sudah mulai menyentuh ranah pribadi dan obrolannya pun makin lama makin menjurus ke hal-hal sensitif yang cenderung negatif. Setelah makan sambil scrolling akun tersebut, aku mencuci muka dan memutuskan merebahkan diri di ranjang sambil mencet-mencet remot televisi yang channelnya tidak banyak pilihan, hanya seputar gosip artis, berita olah raga malam, dan sinetron yang alay dan lebay. Karena memang sudah jadi kebiasaanku, handphone yang sedang dicharge aku atur ke mode diam, otomatis ada notifikasi apa pun tidak terdengar. Tapi karena memang tidak ada yang menarik acaranya di televisi ini dan karena bosan juga, akhirnya handphone yang baru discharge dan baru terisi beberapa persen, sudah aku cabut lagi. Ada email masuk yang mengarah ke aplikasi online dating tadi, muncul profil pria dengan wajah dewasa, manis, menyapaku, dan aku membalasnya. Aneh, padahal daritadi ada juga beberapa orang yang mengirim pesan langsung ke akunku tidak ada yang aku balas, “Malam, Dik Jingga. Saya Priandono, semoga berkenan, ya, kenalan dengan Mas. Dik Jingga masih online aja nih, jam segini, kok belum tidur?” aku yang terkesan dengan caranya mengirim pesan dan menyapaku dengan sapaan “Dik” langsung membalas pesan itu, “Malam, Mas Priandono. Belum tidur, nih. Emang belum bisa tidur aja, Mas Priandono tinggal di daerah mana?” begitu balasan pesanku, “Mas di Jogja, Dik. Kalo Dik Jingga sendiri tinggal di mana?” aku berpikir sejenak, apakah aku harus jujur tentang domisil tempat tinggalku atau aku mengarang saja tentang hal ini, tapi kemudian tanganku yang gak mau menunggu hasil keputusan sidang otak dan kroni-kroninya, bisa-bisanya langsung mengetik, “Aku tinggal di Lampung, Mas.” Dan pesan itu sudah terkirim begitu saja. Aku memukul kepalaku, “Dasar aneh. Kenapa sih, gak dipikirin dulu itu jawaban, jujur banget jadi orang.” Chating berlanjut, sampai ada kata-katanya yang membuatku tiba-tiba deg-degan, "Lusa aku ke Lampung. Jika Dik Jingga perkenankan, bolehkah kita ketemu?” aku yang trauma karena baru saja mengalami kejadian yang tidak menyenangkan ini, memutuskan untuk tidak akan bertemu lagi dengan orang asing, jadi aku menjawab saja, mengarang cerita, “Boleh aja, sih, Mas. Tapi lain waktu, ya. Kita juga baru kenal, aku sungkan kalo baru pertama ngobrol sudah harus bertemu langsung, lagian lusa aku ada kerjaan.” Begitu alasanku, padahal lusa belum tentu aku ada pekerjaan atau rencana apa pun. Lima menit, sepuluh menit aku menunggu jawabannya, tapi tidak juga ada balasan, dan aku ketiduran. Sekitar jam setengah enam aku terbangun, hal pertama yang aku lakukan adalah mengecek handphoneku, melihat aplikasi online dating yang semalam aku buka dan di sana aku bertemu dengan Priandono, dan semalam pesan terakhirku tidak dibalas. Awalnya aku kecewa, karena sebenarnya aku merasa klik dengan lelaki ini, aku berharap bisa ngobrol dengannya, jadi ketika semalam dia tidak membalas pesanku, aku khawatir dia marah dan tidak mau melanjutkan chatnya denganku, tapi kemudian aku tepuk tangan ketika menemukan pesan masuk darinya di akunku, “Maaf, Dik. Semalam Mas harus lembur menyelesaikan beberapa pekerjaan. Ya, gak apa-apa kalo Dik Jingga belum mau ketemu sama Mas. Tapi jujur, Mas kok nyaman dan nyambung gitu dari awal ngobrol sama Dik Jingga.” Aku dengan cepat membalas pesannya, “Maaf juga, Mas, aku gak langsung balas pesan Mas, semalam aku ketiduran.” Satu menit, dua menit aku menunggu balasannya, “Iya, Dik. Gak apa-apa, Mas mau kerja dulu, ya. Oh, iya ... Mas minta nomor rekeningmu, Dik. Mas mau transfer uang jajan." Pesan yang masuk barusan ini aku baca berulang kali, khawatir salah tangkap, “Mas mau transfer uang ke aku?” begitu balasan pesanku untuknya, “Iya. Mas mau transfer uang untuk Dik Jingga jajan, gak banyak, sih. Tapi cukuplah untuk beli bakso dan es jeruk. Ditunggu, ya, nomor rekeningnya.” Wah … ini sih rezeki nomplok namanya, maka dengan segera aku mengetikkan nomor rekeningku dan aku kirimkan ke Mas Pri, “Ini nomor rekeningku, Mas.” Dan selang lima menit kemudian, dia mengirimkan bukti transfer, “Sudah Mas kirim, ya. Dik, kalo boleh Mas minta nomor Whatsup Dik Jingga, donk. Soalnya Mas jarang-jarang buka aplikasi ini, kalo lewah Whatsup kan kita bisa lebih sering komunikasi. Itu juga kalo boleh, tapi kalo Dik Jingga keberatan, ya gak dikasih juga gak apa-apa, Mas ngerti kok.” Aku membuka bukti transfer tersebut, tertera nominal satu juta rupiah di sana, “Mas, ini sih beli bakso sama es jeruknya buat sekomplek juga cukup. Boleh kok, kalo mau langsung chat ke Whatsupku,” lalu aku memberikan nomor Whatsupku ke Mas Pri. Entah apa yang ada di otakku, aku berkhayal, siapa tau aku berjodoh dengannya, karena dengan mudahnya dia mengirimkan uang satu juta bahkan ke orang yang baru dia kenal, berarti bisa dibilang lelaki ini berduit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD