Cookies 9

1770 Words
Setelah mengucapkan terima kasih berulang kali ke Mas Pri dan memberikan nomor Whatsupku, tidak berapa lama ada pesan masuk ke handphoneku, “Dik Jingga, ini Mas Pri.” Dia langsung mengirimkan pesan ke nomor yang tadi aku kasih, “Siap, Mas. Nomornya aku simpan, ya. Selamat kerja, ya, Mas. Semoga kerjaannya lancar.” Begitu balasan pesanku untuknya, “Terima kasih, Dik. Oh, iya, Dik, Mas boleh minta sesuatu, gak?” aku mengernyitkan keningku, lalu bertanya-tanya, apa nih, baru ngirim uang segitu udah minta-minta, pikiranku udah berkelana ke mana-mana, jangan-jangan dia ini termasuk salah satu orang jahat yang berkeliaran di media sosial, “Minta tolong apa, ya?” lalu aku menunggu pesannya, lima menit, sepuluh menit, tidak ada balasan, lalu aku memutuskan untuk mengecek pesan lain yang masuk, ada sepuluh pesan masuk dari Tari, isinya sama, "Ngga, di mana?" pesan lainnya berisi permintaan maaf “Ngga, maafkan aku. Semalam aku ninggalin kamu, ketika aku balik ke bangku kita, aku lihat kamu udah gak di sana, berniat untuk menghubungimu tapi kemudian handphoneku baterainya habis.” Dan pesan terakhirnya adalah permintaannya agar aku menghubunginya, “Ngga, tolong balas pesanku. Tolong hubungi aku, biar aku ke tempat kamu berada, biar aku jemput.” Dan pesan itu tidak aku balas, malas. Teman jahat yang tega ninggalin temennya dalam keadaan seperti semalam, apa masih pantas disebut teman? Pesan lainnya adalah dari Ibu, "Ngga, pulang, ya. Bapak sakit, nyariin kamu. Dari kamu pergi itu, Bapak sesak napas, tapi karena egonya yang luar biasa dan kepalanya yang keras seperti karang, dia gak mau ngaku sama Ibu. Tapi semalam, selain susah napas, Bapak bilang dadanya sakit, Ibu langsung bawa Bapak ke rumah sakit, untuk BPJS kita masih bisa dipakai, setelah di UGD selama setengah jam, dokternya bilang jantung Bapak kumat." Tanpa menunda-nunda, aku membalas pesan Ibu, "Siang, Ngga pulang, Bu. Masih ada kerjaan. Ibu sehat, kan?" tidak berapa lama pesan balasan dari Ibu masuk, “Ibu sehat, tapi keadaan Bapak masih sama seperti semalam, pulang, ya, Ngga.” Aku hanya membalas, “Iya, Bu.” Lalu bergegas menuju ke kamar mandi untuk bebersih badan dan membereskan semua barang-barangku. Lima belas menit aku habiskan di kamar mandi, untung saja aku selalu membawa body lotion dan parfum di tasku, jadi walaupun memakai baju semalam, aku tetap merasa nyaman setelah mengoleskan body lotion ke seluruh tubuh lalu menyemprotkan parfum ke bajuku, “Lumayan, deh. Gak bau-bau amat.” Dan aku kembali mengecek handphoneku, “Mas hanya minta, kalo boleh Mas mau liat Adek. Kirimin Mas fotonya Dik Jingga, ya. Insyaallah, Mas punya niat baik ke Adek." Niat baik apa ini maksudnya, tapi pesan itu tetap aku balas, "Nanti ya, Mas. Aku baru beres mandi. Belum cakep nih, nanti kalo aku udah siap, aku foto." Dan tidak berapa lama, pesan balasan darinya masuk, "Sayangnya Mas, pasti cantik, mau gimana pun. Ayo, donk, kirim fotonya. Mas kangen nih. Kamu sadar, gak, sih, kamu tuh ngangenin." Tiba-tiba perutku seperti ada gelenyar aneh, perasaan apa ini, "Kok bisa, kangen? Ketemu juga belom. Ada-ada aja, Mas." Begitulah jawaban basa-basiku, padahal aslinya aku sedang senyam-senyum sendiri begini karena pesannya tadi, lalu tadi dia memanggilku, “Sayangnya Mas.” Astagah lagi, kata-kata itu sungguh membuatku melayang, "Kita memang belum ketemu, sih. Tapi entah kenapa dari pesan-pesan yang kamu kirim, Mas suka bacanya, bikin hati Mas deg-degan. Sejak kenal kamu, walau baru semalam, Mas berasa jadi anak muda lagi, seperti ada semangat baru lagi untuk memulai hari. Padahal beberapa hari ini pekerjaan Mas lagi hectic banget, seperti malas mau ngapa-ngapain, tapi sejak semalam, Mas jadi punya kekuatan baru untuk bangun pagi." Ya ampun, ini beneran, gak, sih? Love at the first sight? Masa? Ah ... Terserah, yang penting dia baik, gak neko-neko, cuma minta foto ini. Lalu aku mengecek lagi m-banking, uang satu juta rupiah masuk ke rekeningku dari Mas Pri, aku hanya memastikan bahwa bahwa uang tersebut beneran ada, gak hanya ilusiku saja. Aku sudah berencana untuk menggunakan uang ini yang bisa aku pakai untuk beliin Ibu makan, beliin Bapak bakso kesukaannya, lalu membelikan obat jantung Bapak. Lalu, tanpa menunda, aku bergegas membereskan barang-barang. Tidak lupa aku kirim pesan ke Mas Pri, "Mas. Uang yang Mas transfer satu juta ini beneran boleh aku pake, kan? By the way, makasih, ya." Dan balasan darinya masih sama, tetap keukeuh meminta fotoku, "Sama-sama, sayang. Fotonya, mana? Ayo, donk, Mas udah kangen banget." Dan tanpa ba-bi-bu, langsung aja cekrek deh, kirim fotonya ke dia, toh hanya foto ini, gak mungkin kan dia ada niat jahat sama aku. “Nah, kan, cantik begini kok gak percaya diri, sih. Tapi, coba rambutnya digerai, itu bibirnya dipoles dikit sama lipstik, pasti cantik. Mas tunggu, ya." Aku yang pada dasarnya males dandan, ogah disuruh-suruh pake lipstick, "Udah, ah. Gitu aja, aku jarang dandan, Mas." Akhirnya dia mengalah, “Oke, deh. Makasih, ya, sayangnya Mas.” Dan obrolan kami berlanjut, sampai sekitar jam sepuluh pagi, dan ngantuk menyerang. Setelah memastikan ke resepsionis, bahwa jam check out hotel ini jam 12 siang, aku memutuskan untuk order makanan dari aplikasi online, setelah makanannya sampai sekitar setengah jam kemudian, aku menandaskan makanan yang aku beli tersebut, dan memutuskan untuk kembali tidur. Jam setengah dua belas lebih sedikit aku terbangun. Lumayan dapet tidur beberapa jam. Lalu aku membereskan barang-barangku, membasuh wajahku biar gak kusam, dan langsung menuju ke resepsionis untuk check out. “Ini daerah mana sih, Mbak?” begitu tanyaku pada resepsionis yang bertugas pagi ini, “Ini di daerah Panjang Utara, Mbak.” Aku menepuk jidat, seumur-umur, aku baru menginjakkan kakiku ke sini, “Kalo mau pesan taksi online, saya masukin titik jemputnya di mana?” lalu resepsionis tersebut membantuku untuk memesankan taksi online untukku. Setelah menunggu sekitar lima belas menit taksi onlinenya datang, dan tujuan pertamaku adalah ke tempat Tari untuk mengambil barang-barang dan motor yang aku taro di tempatnya. Perjalanan yang memakan waktu dua puluh menit, memberikanku waktu untuk bisa tidur sebentar, mataku masih ngantuk banget. Setelah sampai di tempat Tari, dia menyambutku dengan tangisan palsunya dan memelukku, “Ngga, maafin aku, maafin aku. Sungguh, semalam itu aku gak berniat untuk ninggalin kamu, aku hanya mau mengenalkan kamu sama Om Iskandar itu, karena dia bilang dia memang cari teman untuk ngobrol, aku gak tau kalo kelakuannya b***t begitu.” Aku bergeming menanggapi ucapan Tari, “Iya, gak apa-apa. makasih, ya. Aku mau ambil barang-barangku.” Aku tidak mau memperpanjang urusanku dengannya, hanya saja cukup sekali ini aku dibohonginya dan aku tidak akan pernah mau lagi berurusan dengannya, lalu masuk ke kamarnya dan keluar secepat yang aku bisa, menstarter motorku, dan melesat ke tujuanku yang pertama, apotek, membeli obat-obat untuk Bapak yang tadi sudah dirincikan oleh Ibu di pesan yang beliau kirim. Setelah selesai membeli obat-obatan itu, tujuan keduaku adalah ke warung bakso langganan, Bapak pasti suka kalo dibawain bakso, dan pulang. Setelah sampai di rumah, baru juga aku mengucapkan salam, sudah disambut sama Bapak, yang dengan entengnya bilang "Loh, pulang? Udah dapet uang banyak berarti. Bapak dibelikan apa? Udah lama Bapak gak makan bakso Mang Kardi, di pengkolan situ. Jualan, gak, dia, tadi kamu lewat?" berondongan pertanyaan Bapak ini membuatku seperti setengah menyesal pulang, Bapak lupa, anaknya keluar dari rumah ini, tanpa membawa uang banyak, tanpa pekerjaan, dan tanpa tujuan. Bapak gak pernah bertanya dari mana uang yang aku dapatkan ini, yang Bapak tau adalah jika dia menginginkan sesuatu harus ada. Benar dugaanku, ketika Ibu bilang Bapak sakit, itu hanya alasan saja agar aku pulang. "Ini udah aku belikan, Pak. Buat Ibu juga. Ibu mana, Pak?" Dengan sumringah Bapak masuk ke ruang tamu, duduk demi menghadap bungkusan bakso dan makanan lain yang aku beli. "Ambil mangkok, Ngga. Ibumu di dapur. Sekalian bikini kopi gitu bilang Ibu." Aku mengernyitkan dahi, “Ibu bilang Bapak sakit, kok ini Bapak terlihat sehat-sehat aja?” dan Bapak menjawab dengan entengnya, “Sakit itu kalo gak ada makanan. Kalo ada makanan enak begini mah, jadi sehat lah. Udah jangan kebanyakan omong, lekas ke dapur ambil mangkok.” Aku menghela napas panjang, untung aja, tadi Mas Pri transfer uang. Kalo gak, sekarang ini aku pulang dalam keadaan masih gembel, gak bakal ada harganya aku. Setelah bertemu dengan Ibu, aku masuk ke dalam kamarku, ada pesan masuk, aku langsung membukanya, aku berharap pesan itu dari Mas Pri, dan benas saja, dia mengirim pesan, "Dek. Mas tambah uang jajannya, ya. Dikit, tapi lumayan, lah. Sekalian Mas transfer juga untuk hotel, tolong bookingkan. Biar besok Mas dateng langsung bisa istirahat.” Ya ampun, uang untukku ditambahin lagi? “Mas, banyak banget ini uangnya, aku beneran jadi gak enak.” Dan balasan pesannya benar-benar menenagkan, “Gak apa-apa donk. Untuk sayangnya Mas, apa pun akan Mas kasih. Oh iya, Dik, kamu mau nemenin, kan, besok? Eh ... Tapi Mas gak paksa, ya. Kalo Adek mau aja loh." Buru-buru aku cek m-banking, ada uang lima juta masuk. Ni orang serius banget kayaknya. "Kamarnya mau berapa malam, Mas? Hotel apa?" Aku ketik pesan ke dia. Tidak lama dijawab, "Dua malam saja. Kecuali Adek mau nemenin, kita ngobrol-ngobrol gitu. Tenang, Adek jangan berpikir macam-macam, Mas tau batasan, kok. Hotelnya yang semalam maksimal satu juta aja, dua malam, jadi dua juta, sisanya buat Adek. Beli baju, ya, yang cantik nanti waktu ketemu Mas." Mimpi sih, ini. Benar-benar mimpi. Belum selesai aku ngetik untuk balas pesan Mas Pri, Ibu dari dapur teriak, "Ngga, token listrik pulsanya abis." Terus gak lama Ibu muncul di depan kamar, "Ada uang lebih, gak, Ngga? Beras, kopi, gula, sama gas, habis, Ngga." Ini seperti film yang diputar berulang-ulang kali, selalu sama alurnya dan akhirnya. Aku mengeluarkan uang dari dompet, uang dari Mas Pri. Yang semalam ditransfer, dalam hati bersyukur, ada orang baik begitu. Aku kembali membalas pesan Mas Pri, "Makasih, Mas, uang jajan semalam aja masih ada. Mas mah de bes deh, calon suami idaman." Aku kirim pesan ke dia. Sekejap dibalas, "Iya, donk. Aku gitu loh. Sayangnya Dik Jingga. Kirim foto lagi, donk, sayang. Dandan yang cantik. Kalo Mas boleh minta, pake baju yang warnanya cerah, terus jangan terlalu panjang. Sayang, kulit putih dan mulusmu itu ketutupan gitu." Ya ... Apa ruginya, toh cuma minta foto. Aku langsung membuka lemari pakaianku, mencari baju dengan warna cerah andalanku, karena tidak banyak pilihan baju pantas yang aku miliki, sisanya hanya daster bodol untuk di rumah, yang sudah tambal sulam berkali-kali. Aku berdoa dengan serius, semoga dia jadi jodohku beneran, deh. Masa depanku cerah kalo hidup sama dia. Yang pasti urusan rumah bisa aman, uang belanja Ibu, aman. Bapak bisa tersenyum, gak lagi cemberut ketika melihatku. Setelah mengambil beberapa foto mengirimkan ke Mas Pri, lalu mengetikkan pesan, "Ini fotonya, Mas. Besok aku mau kok nemenin Mas. Cuma ngobrol-ngobrol aja, kan, ya?" dan pesan tersebut aku langsung kirim ke Mas Pri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD