Cookies 15

1840 Words
Tepat dua hari tiga malam aku berada di dalam kamar hotel ini dengan Mas Pri, dia tidak mengizinkanku beranjak dari sini kecuali untuk buang air kecil atau mandi. Tepat pukul dua belas siang hari ini, waktunya check out dari hotel, dia memintaku untuk mengantarkannya ke bandara, “Anterin Mas ke bandara, ya. Mas gak bisa pisah lagi nih, sama kamu.” Aku memasang wajah datar, “Kan ada istri Mas yang nanti menyambut Mas di rumah.” Dia membawa wajahku menghadap ke wajahnya, “Perempuan itu hanya statusnya aja sebagai istri, tapi dia sudah tidak bisa lagi aku andalkan. Sejak ketemu kamu, merasakan tubuhmu, Mas gak bisa berpaling lagi dari kamu, Jingga sayang. Jangan kecewakan Mas, ya. Ingat, kamu hanya milik Mas, gak boleh ada lelaki lain yang menjamah tubuhmu, paham?” pertanyaan retoris, tidak membutuhkan jawaban sama sekali, toh aku iya-kan atau aku jawab tidak, pasti akan sama kondisinya, dia akan mengontrolku. Setelah kami beberes semua barang-barang yang dibawa, Mas Pri memesan taksi online, “Kamu duduk di belakang, ya, sayang. Takut ada teman Mas yang liat.” Sementara dia memilih untuk duduk di depan, di samping supir. Tiga puluh menit perjalanan menuju ke bandara, kami langung menuju ke kafe yang menyediakan minuman kopi, aku membutuhkan asupan kafein demi untuk bisa menjejakkan kaki ke bumi, ketika sedang menunggu kopi pesananku, ada beberapa pesan yang masuk ke handphoneku, Ranti sahabatku yang sebenarnya, kakanya Tari, perempuan yang kemarin menjebakku dalam bahaya, dia mengajakku bertemu, “Jingga, aku mohon, hubungi aku segera setelah kamu membaca pesan ini. Aku harus ketemu kamu, Tari sudah menceritakan semuanya. Aku minta maaf, aku akan membalas semua dosa dan kesalahan Tari terhadapmu, tolong hubungi aku.” lalu dari Bapak, “Jingga, hari ini pulang, gak? Tolong bayarkan dulu tagihan air, Ngga. Cuma dua ratus lima puluh ribu, Bapak lagi gak ada uang.” Dan ada juga dari Ibu, “Jingga, Ibu pinjam uang tiga ratus ribu dulu, Nak, untuk bayar arisan keluarga. Nanti kalo Ibu dapat, uang Jingga Ibu kembalikan, bisa, kan, Nak?” yap, seperti biasa, mereka hanya memerlukan uangku. Bukan bertanya bagaimana kabarku, apakah aku masih hidup, oo … tentu saja tidak akan pernah mereka bertanya seperti itu. Aku sebenarnya malas mau membalas semua pesan ini, karena jelas-jelas saja mereka hanya akan membual, terutama Ranti, dia hanya akan memberikan alasan klasik mengenai kelakuan adik perempuannya. Ranti ini sebenarnya adalah sahabatku yang sebenarnya, Tari adik Ranti memang sering ikut nimbrung ketika aku dan Ranti seting ngobrol atau sekedar ketemu dan makan bakso, dari situlah Tari jadi dekat juga denganku. Kebetulan kemarin, ketika aku mencoba menghubungi Ranti, dia tidak bisa dihubungi, maka aku menghubungi Tari dan kebetulan dia yang menyahuti teleponku, dia yang memberiku sedikit ketenangan karena sudah ngobrol dengan dia, hingga terjadi insiden kemarin, aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan Tari, dengan mereka sebenarnya. Tapi, rasanya gak adil kalo aku kesal dengan Tari tapi Ranti juga ikut kena dampaknya, setelah aku pikir-pikir, gak ada salahnya aku menemui dia, mungkin ada keuntungan yang bisa aku ambil dari rasa bersalah Ranti terhadapku karena adiknya sudah menjerumuskanku, maka aku meng-iya-kan untuk bertemu dengan Ranti, “Oke. Jam dua siang nanti kita ketemu di Mall Kedaton. Traktir aku makan, ya. Aku mau makan sushi.” Dan tidak berapa lama kemudian ada balasan pesan masuk dari Ranti, “Alhamdulillah, syukurlah kamu mau membalas pesanku, Jingga. Iya, siap, jam dua siang ini kita ketemu di sana, ya. Apa pun yang kamu mau, aku traktir.” Jika kalian berpikir betapa begitu mudahnya aku memberikan maaf untuk Ranti dan adiknya, yah, untuk apa aku jual mahal, toh tubuhku saja sudah tidak ada harganya lagi, apalagi sekedar harga diri dan rasa sakit, sudah tidak ada rasanya. Aku kini hanya jadi manusia sia-sia, yang akan mendedikasikan hidupku hanya untuk kedua orang tuaku, menjadi mesin ATM tarik tunai untuk mereka, semoga dengan baktiku ini, meskipun dosaku banyak, tubuhku kotor penuh dosa, tuhan masih memberikan maaf dan pengampunan-Nya untukku. Sementara Mas Pri mengajakku ngobrol bahwa dia akan mengerjakan project pembangunan resto yang ada di Bandar Lampung sini, ada pengusaha kaya raya yang akan membangun restoran, “Mungkin Mas akan berada di Bandar Lampung ini lebih lama dari biasanya, sekitar tiga bulan pertama Mas akan berada di sini, lalu Mas pulang ke Solo selama sebulan, lalu balik lagi ke sini, apa sebaiknya Mas beli rumah aja di sini, ya, sayang. Biar kamu bisa tinggal di rumah itu.” Aku langsung semringah, aku membayangkan kalo aku dikasih rumah cuma-Cuma sama Mas Pri, aku gak harus capek-capek bayar uang kontrakan setiap bulan. Belum lagi semua kebutuhanku akan dipenuhi olehnya, “Tapi kita nikah kan, Mas?” aku tidak melihat reaksi dari Mas Pri, dia seperti melamun, “Untuk pernikahan, nanti kita pikirkan lagi, ya, Jingga. Mas mau menyelesaikan dulu urusan Mas dengan istri Mas. Biar nanti ketika kita nikah, kamu gak akan diganggu.” Aku mengernyitkan dahi, “Bukannya kemarin Mas bilang Mas mau menikahiku? Mas janji loh, mau nikahin aku. Kok sekarang omongan Mas berbeda dari kemarin.” Dia seperti sedang mencari alasan, dia menundukkan kepala, “Mas pusing, sayang, di satu sisi Mas butuh kamu, butuh tubuhmu, sungguh, Mas gak bisa lupa dengan setiap inci lekukan yang ada, tapi di sisi lain Mas juga masih harus bertanggung jawab terhadap istri Mas. Meski begitu, satu hal yang pasti, Mas akan menikahimu, cepat atau lambat.” Aku diam, memasang wajah kesal, kok ucapannya sekarang berubah, “Ah … kalo gitu, aku gak bisa memegang apa yang sudah Mas katakan, awal ketemu Mas bilang mau menikahiku, tapi sekarang Mas bilang nanti Mas pikirkan. Jangan-jangan janji Mas mau beliin aku rumah tadi, cuma hawa surga aja yang Mas tawarkan, tapi kenyataannya nanti tidak seperti itu.” Dia menggeleng, “Kalo untuk menikah, Mas harus memikirkan matang-matang, sayang. Tapi kalo beli rumah, demi untuk ketemu dan berduaan aja sama kamu, Mas bakal dengan senang hati melakukannya.” Aku sudah tidak mau lagi mendengarkannya, aku anggap saja ini bonus aja, kalopun dia datang lagi maka aku akan mendapatkan uang, tapi kalo lelaki yang ada di depanku ini berbohong, minimal aku tidak rugi apa pun. Jangan bicara keperawananku yang hilang, aku sudah menganggap Mas Pri sudah membelinya dengan mentransferku banyak uang kemarin. Ketika mengantarkan Mas Pri di depan pintu chek-in, setelahnya dia masuk ke dalam bandara dan aku memutuskan untuk memesan taksi online, dan menuju Mall Kedaton untuk bertemu Ranti. Ketika dalam perjalanan ke mall, Mas Pri mengirimkan beberapa fotoku, “Lihat, sayang, kamu punya tanda lahir di pinggang sebelah kanan, menarik sekali.” Aku terkejut, Mas Pri punya foto-fotoku seperti ini tanpa ada sehelai benang pun menempel di tubuhku, lalu dia mengirimkan lagi foto-foto lainnya, bahkan bagian paling sensitif di tubuhku pun, dia punya fotonya. Aku bertanya, untuk alasan apa dia mengambil fotoku dalam keadaan seperti ini, “Mas, ini kenapa kok Mas mengambil foto-foto pribadi ini tanpa izinku?” lama, tidak ada jawab. Aku menunggunya dengan cemas, aku sekarang takut, dia akan menggunakan foto-foto ini untuk hal yang aneh-aneh. Tapi tidak berapa lama kemudian dia mengirimkan balasan, “Gak akan aku apa-apain, foto-foto ini hanya untuk aku lihat dan aku pandang-pandangi kalo aku lagi kangen sama kamu sementara kita tidak bisa bertemu.” Ada sedikit lega, jika memang maksud dan tujuannya seperti itu, tapi tidak bisa dipungkiri, aku juga agak khawatir. Setelah sampai di Mall Kedaton, lalu aku turun dari taksi online, handphoneku berdering, panggilan dari Ibu masuk, “Ngga, kamu di mana, Nak? Pesan Ibu sama Bapak udah dibaca? Ibu minjem uang dulu untuk bayar arisan, nanti kalo Ibu dapet, Ibu kembalikan. Bapak juga minta tolong dibayarkan dulu uang tagihan air di rumah.” Aku tidak bisa lagi membantahnya, “Iya, Jingga pulang nanti jam empat sore, nanti uangnya Jingga kasih, ya.” lalu dijawab Ibu, “Ditransfer aja sekarang, Ngga. Ibu butuh bayar arisannya sore ini.” Aku menghembuskan napas kasar, “Jadi gak bisa nunggu lagi, Bu? Harus sekarang?” rupanya handphone sudah berpindah tangan, “Baru dimintain tolong begitu aja udah perhitungan. Dulu, waktu kamu kecil, kamu lapar, apa pernah aku dan ibumu menyuruhmu menunggu untuk makan? Dulu, waktu kamu haus, mau minum s**u, apa pernah aku dan ibumu menyuruhmu untuk tidak minum s**u dulu?” iya, dulu, dulu, dan dulu, yang selalu jadi andalan Bapak kalo udah ada maunya, kudu, harus, wajib, gak bisa enggak. Jadi aku hanya menjawab, “Iya, aku transfer ke rekening Bapak, sekarang.” Dan sambungan telepon itu aku matikan, aku tidak mau lagi mendengar ucapan apa pun dari mereka, sudah cukup mereka bicara hal-hal yang menyakitkan begini. Maka tanpa menunggu lagi, aku langsung mentransfer uang yang tadi Bapak dan Ibu minta, lalu mengirimkan bukti transfernya, “Sudah Jingga transfer.” Dan tidak ada kata-kata apa pun, bahkan sekedar balasan, “Oke” saja gak ada. Ya sudahlah, aku tidak mau ambil pusing dengan urusan ini, aku kembali meneruskan langkahku menuju ke tempat sushi yang sudah aku dan Ranti jadikan tempat janji temu kami sore ini. Begitu aku masuk, rupanya Ranti sudah ada di dalam sana, duduk di depan meja yang sudah penuh dengan aneka macam sushi, “Jingga. Gimana kabarmu?” tanya Ranti dengan mata yang dialiri air, dia menangis, aku hanya menjawab sekenaku, “Baik.” Lalu mencomot sushi roll California yang memang aku suka, sambil duduk, dan meletakkan tasku. Ranti menatapku, “Maafkan aku, Jingga. Aku tidak ada di sisimu ketika kamu membutuhkanku, Tari adikku yang seharusnya bisa membantumu justru membuatmu hampir celaka, aku minta maaf. Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa memaafkanku?” aku mencomot lagi sushi yang lain, sambil mengunyah, aku mencoba berpikir apa yang mau aku minta ke Ranti, anak orang kaya yang tajir melintir ini, kalo diminta uang sepuluh dua puluh juta sih gak ada masalah buat mereka, “Aku mau kamu beliin aku ruko untuk membuka usaha toko kueku. Gimana?” Ranti berpikir sejenak, mungkin dia tidak menyangka kalo aku akan meminta hal tersebut, “Apa tidak ada permintaan lain, Ngga? Harus ruko, ya?” dia seperti ragu bertanya seperti itu, “Kamu tadi nanya, aku mau apa, biar kamu memaafkan aku dan adikmu Tari itu? Sekarang, ketika aku jawab, kok kamu malah nanya balik begitu, kalo kamu gak mau beliin, ya, gak apa-apa. Aku pergi, makasih sushinya.” Aku mengangkat tubuhku dari kursi, tapi kemudian Ranti menarik tanganku, “Tunggu dulu. Oke-oke, aku akan usahakan …” belum selesai dia ngomong, aku memberhentikannya, “Usahakan? Itu berarti belum pasti? Sorry, aku gak menerima lagi janji-janji seperti itu, kalo mau belikan, yang jelas kapan, kalo memang gak mau membelikan, ya sudah. Kita cukupkan hubungan pertemanan kita ini, ya.” dia mengangguk, “Oke, aku akan membelikan rukonya. Kasih aku waktu seminggu, kamu bisa kasih tau ruko di mana yang kamu mau.” Aku menggeleng, “Besok, rukonya sudah harus dibayarkan dan dibalik nama atas namaku.” Ranti mengangguk setuju, “Baik, Ngga. Yang penting kamu harus memaafkan aku dan Tari, ya. Aku gak mau persahabatan kita hancur karena hal ini.” Aku mengangguk, “Oke.” Jawabku dan meneruskan makan sushi yang sudah tersaji banyak di depanku, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan baik ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD