Cookies 16

1560 Words
Bukan tanpa alasan aku meminta dibelikan ruko oleh Ranti, karena aku tau betul watak dan sifatnya, dia akan melakukan apa pun demi terselamatkannya nama baik keluarganya. Aku memegang kartu AS Tari, ketika malam dia membawaku ke tempat remang-remang itu, tanpa ada niat apa pun aku merekam beberapa kejadian di sana, niat awalku adalah untuk sekedar kenang-kenangan saja karena kapan lagi aku bisa masuk ke tempat seperti itu, dan tanpa sengaja juga aku merekam Tari yang sedang duduk dan diapit oleh dua orang pria paruh baya, dengan pakaiannya yang terbuka, memegang segelas minuman keras di tangannya, dan tubuhnya yang digerayangi dua pria paruh baya aku yakin akan membuat siapa pun yang melihatnya akan berpikir kalo Tari bukan wanita baik-baik. Reputasi keluarga Tari dan Ranti akan hancur jika foto itu aku sebarkan. Kemarin, ketika Ranti mengajakku bertemu, sebelum bertemu dengannya aku sudah mengirimkan beberapa foto ke handphonenya, “Lucu, ya, Tari kalo sedang minum begitu, Ran.” Disertai emoticon tertawa yang sengaja aku selipkan, rupanya foto itu membuat Ranti kebakaran ubun-ubun, dia membalas pesanku tersebut dengan kalimat yang sebenarnya tidak aku duga, “Jingga, tolong aku, jangan sebarkan foto ini ke manapun, aku akan menuruti semua kemauanmu, tapi tolong hapus foto ini.” Aku sempat berpikir bahwa Ranti berpikir terlalu jauh, tapi kemudian pikiran cemerlang dan ide brilian muncul, kenapa tidak aku manfaatkan saja keadaan ini, maka dengan segera aku membalas pesan Ranti, “Memangnya apa yang mau kasih ke aku, demi menyelamatkan reputasi keluargamu dan adik kesayanganmu ini?” hanya dalam hitungan detik, pesanku sudah dibalas kembali oleh Ranti, “Anything you want, uang, sesuatu yang kamu inginkan untuk aku belikan, anything, tapi tolong aku, jangan sampe foto ini bocor ke manapun.” Maka dengan secepatnya juga aku memikirkan apa yang aku inginkan, sesuatu yang menguntungkan untukku, maka aku membalas pesan Ranti dengan balasan yang membuatnya kepikiran terus tentang masalah ini, “Nanti deh, aku pikir-pikir dulu apa yang aku butuhkan. Tapi kalo memang aku gak pengen apa pun, ya, gak apa-apa juga, kok kamu gak harus kasih aku apa-apa.” dia membalas lagi pesanku dengan pesan yang semakin membuatku kesenangan, “Tolong, minta apa pun, akan aku berikan. Tolong pikirkan sesuatu, ya, Ngga.” Aku tersenyum menang. Sekedar kalian tau saja, keluarga Ranti dan Tari adalah keluarga terpandang, papi Ranti dan Tari adalah seorang anggota dewan yang duduk di lahan “Basah” jadi, sekedar gonta ganti mobil baru setiap bulan, liburan ke luar negeri, atau beli tas bermerk untuk mereka itu udah seperti makanan sehari-hari, sementara mami mereka adalah seorang wanita sosialita, dokter kecantikan yang didatangi banyak artis untuk perawatan kulit, melangsingkan tubuh, bahkan untuk operasi bagian-bagian tubuh yang diinginkan pun, ibunya mampu. Bagaimana Ranti tidak gelisah dan kegerahan ketika melihat foto Tari yang aku kirimkan kepadanya, well … awalnya aku tidak gubris dan tidak ingin memperpanjang urusan ini, tapi ketika mengingat lagi kejadian yang menimpaku, jika aku tidak datang ke tempat itu, jika aku tidak harus kabur ikut dengan Ujang, lelaki yang bahkan aku tidak kenal, lalu gabut karena malam-malam di hotel tidak ada kerjaan dan menginstal aplikasi dating online, berkenalan dengan Mas Pri, dan aku berakhir di ranjang dengan dia selama berhari-hari bagai budaknya, maka atas alasan itu, aku merasa perlu meminta pertanggung jawaban Ranti dan Tari, aku bahkan berniat untuk mengirimkan juga foto ini ke orang tua mereka, jika sudah dapat sesuatu dari Ranti, aku akan meminta juga sesuatu dari orang tua mereka yang kaya raya itu. Sekedar uang ratusan juta atau rumah dan mobil, rasanya tidak akan memberatkan mereka. Dan setelah bertemu dengan Ranti aku jadi kepikiran dengan cita-citaku untuk memiliki kafe dan toko kue yang bisa dikunjungi semua kalangan, baik mahasiswa, pekerja, sampai anak sekolah. Maka, aku meminta Ranti untuk membelikanku ruko beserta isinya atau kalo dia keberatan membelikan barang-barang tersebut, aku akan meminta uang tambahan untuk membeli keperluan untuk membuka kafe tersebut. Setelah selesai urusan dengan Ranti, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Aku berniat untuk menjual motorku yang udah butut ini, motor pertama yang aku beli dari hasil ngumpulin uang serupiah dua rupiah dari kerja serabutan, terima orderan bikin kue ulang tahun, terima proyek mengetikkan skripsi orang, begitu terkumpul sekitar lima juta rupiah aku meminta tolong Bapak untuk mencarikan motor, bodohnya aku percaya ketika Bapak bilang harga motornya pas lima juta gak bisa kurang, “Bapak udah coba tawar, Ngga, tapi yang punya motor gak ngasih.” Setelah memberikan uang tersebut ke Bapak, motor sudah di rumah, dan sekitar tiga bulan setelahnya ketika aku mengambilkan dompet Bapak di kamar karena Bapak yang sudah pergi ketinggalan dompet tersebut, jatuh sebuah kuitansi pembelian sepeda motor di situ, tertulis jenis motor, nomor platnya, lalu nomor mesinnya, ini persis seperti motorku, “Empat juta dua ratus ribu rupiah.” Angka yang tertulis di sana, berarti delapan ratus ribu lagi kemana uangku dibawa Bapak, aku yang penasaran menanyakan hal tersebut, “Pak, ini kuitansi pembelian motor Jingga, kan?” aku melihat Bapak seperti ingin mengalihkan pembicaraan, “Bukan ah. Itu kuitansi jual beli motor Bapak sama Om Ari.” Aku menggeleng, “Bukan, ini kuitansi pembelian motor Jingga, nomor plat, jenis motor, nomor mesinnya juga sama. Ini di sini tertulis empat juta delapan ratus ribu rupiah, Pak. Kemarin Jingga kasih uang lima juta ke Bapak, kan? Yang delapan ratus lagi untuk apa, Pak?” kalian tau apa jawaban Bapak? Bukan, Bapak bukan menjelaskan kemana uang delapan ratus sisanya itu, Bapak justru marah dan menuduhku perhitungan, “Kamu tuh jadi anak senengnya itung-itungan sama orang tua. Delapan ratus ribu itu buat Bapak, kenapa, kamu gak ikhlas, hah? Uang segitu aja kamu pandai berhitung, coba itung berapa uang yang sudah saya keluarkan untuk ngegedein kamu sampai sebesar ini, bandingkan sama delapan ratus ribu yang kamu kasih, GAK SEBANDING!” setelah bicara seperti itu Bapak pergi. Aku hanya terduduk diam, padahal aku hanya ingin bertanya untuk apa uang yang delapan ratus ribu itu, kalopun memang diambil Bapak, ya, gak apa-apa. Toh selama ini aku gak pernah mengambil apa yang sudah aku berikan. Aku hanya bisa menghembuskan napas kasar, “Kali ini, biar aku yang cari motor sendiri, deh. Kalo perlu ke dealer resminya sekalian, cari motor baru. Biar mahal tapi gak bolak-balik masuk bengkel seperti motor ini.” Begitu tekatku di dalam hati. Meskipun nanti, jika sudah berhadapan dengan Bapak aku seperti tidak bisa menolak apa yang dia ucapkan, Bapak selalu bisa seperti memengaruhiku untuk percaya padanya, “Masa Bapak mau menjerumuskan kamu, sih, Ngga. Udah biar Bapak yang urus.” Dan hal tersebut sudah beberapa kali terjadi, dari kepercayaanku yang dihancurkan perihal beli motor, belum lagi kreditan televisi yang Bapak ambil, setelah sebelumnya bilang, “Nanti kita bagi dua, ya, Ngga bayar bulanannya.” Tapi ketika jatuh tempo tanggal pembayaran, maka Bapak hanya memberikan tidak sampai tiga puluh persen dari total tagihan, “Sisanya kamu yang bayarin, ya. Bapak belum ada uang.” Begitu terus, Bapak sering mengambil barang kreditan, yang cicilannya dibebankan ke aku, padahal aku juga tidak punya uang cukup untuk membayarnya. Pernah sekali waktu aku bilang ke Bapak, untuk tidak mengambil kreditan barang-barang lagi, “Pak, kalo emang belum ada uang, jangan ambil kreditan apa-apa dulu. Nanti kalo ada uang beli cash aja, selain ngambil barang kreditan harganya bisa dua sampai tiga kali lipat lebih mahal, aku juga belum sanggup kalo harus membayar beberapa barang sekaligus dalam sebulan.” Tapi lagi dan lagi, seperti biasa, Bapak akan marah, mengungkit jasa besarnya menghadirkanku ke dunia, membesarkanku, menghitung biaya yang dikeluarkan untuk aku sekolah, “Masa cuma uang segitu aja kamu gak bisa ngusahain?” hingga pada akhirnya barang-barang kreditan itu berakhir di tangan leasing, diambil kembali oleh mereka, karena memang aku tidak bisa membayar cicilannya, sementara Bapak juga gak ada usaha untuk membantu mencari uang untuk membayar. Aku inget banget, gaji pertamaku kerja jadi guru pendamping di sebuah taman kanak-kanak hanya delapan ratus ribu, untuk bayar ojek yang tiap hari mengantarkanku habis tiga ratus ribu untuk satu bulan, belum lagi ngasih uang belanja ke Ibu, aku sampai tidak bisa lagi membeli barang-barang pribadiku, sekedar pakaian dalam atau untuk pulsa handphone saja susah banget, aku harus sering kasbon ke keuangan yang akhirnya gajiku bulan depan akan dipotong, lalu tengah bulannya aku akan kehabisan uang dan kasbon lagi, membuatku akhirnya ditegur oleh HRD tempatku bekerja. Akhirnya terakhir setelah kasbonku beres, aku memutuskan untuk resign dari sana, karena namaku sudah rusak, terkenal sebagai karyawan rajin kasbon. Malu, tidak bisa lagi aku hindari. Dan sejak saat itu, jika aku dapat kerja, sebisa mungkin aku merahasiakan tempat kerjaku dari Bapak, begitu juga dengan jumlah gaji, aku selalu bilang kalo gajiku tidak besar, jika aku mendapat gaji satu juta, maka aku akan sampaikan ke Bapak bahwa gajiku hanya tujuh ratus ribu. Bukan berbohong untuk urusanku, tapi uang sisanya itu aku sisihkan untuk nyambung napas sampai ke gajian di bulan depannya lagi. Tanpa terasa, motor ini mengantarkanku sampai ke depan rumah, aku bisa melihat Bapak yang lagi duduk di teras sambil ngopi dan menghirup rokoknya nikmat, “Kamu tuh, kalo orang tua kirim pesan, dibalas cepat kenapa. Itu kasian Ibu, sampe terlambat ke arisan keluarganya karena kamu lambat transfer uang. Dari kecil, semua kebutuhanmu selalu kami usahakan. Ibumu, aku, selalu berusaha untuk memenuhinya, memang tidak kaya raya, tapi buktinya kamu selamat, kan, sampe umur segini juga masih tinggal di sini.” Aku hanya bisa menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan, “Maaf, Pak. Tadi aku lagi di jalan.” Lalu berjalan gontai masuk ke kamar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD