“Pak, kenapa pulangnya terlambat banget? Kasian Jingga, di hari ulang tahunnya harus bersabar menunggu hingga larut, bahkan hanya sekedar untuk makan kue bolu keju kesukaannya, dan Bapak gak pulang cepat seperti yang dijanjikan ke Jingga. Dia sampe tidur di depan tivi nungguin Bapak yang gak kunjung pulang, padahal permintaannya sederhana, Pak, Jingga hanya ingin bisa merayakan ulang tahunnya dengan ibu dan bapaknya saja.” Tidak ada jawaban, suamiku itu hanya ngeloyor pergi masuk ke kamar mandi dan meninggalkanku sendirian menangis di sini, meratapi kue ulang tahun yang masih utuh dan tidak disentuh sama sekali sama si empunya yang berulang tahun hari ini, Jingga.
***
Pagi itu, demi melihat Jingga, anak semata wayangku. tersenyum di hari ulang tahunnya, aku rela ngebon dulu di warung Mpok Leha, karena gajian Bapak masih lama, “Mpok, saya mau ambil beberapa bahan, ya, untuk buat kue Jingga, besok dia ulang tahun, Mpok. Gajian Bapaknya Jingga, langsung saya bayar.” Mpok Leha, dengan gayanya yang ajaib, pakaiannya yang tabrak lari, dengan penampilannya hari ini yang memadumadankan lipstik oren, sandal tumit tinggi warna merah, baju atasan warna senada dengan lipstiknya yaitu oren, dan kulot panjangnya berwarna hijau, sungguh, bukan pemandangan yang enak dilihat, pakaian yang bisa dibilang nyentrik ini, gaya bicaranya yang ceplas ceplos, mungkin membuat yang belum terlalu kenal dengan Mpok Leha akan berkata bahwa Mpok Leha ngomongnya kasar, tapi soal hati, tidak usah ditanya dan tidak perlu diragukan lagi, Mpok Leha memiliki hati yang baik, sangat baik dan baiknya luar biasa, apalagi untuk kami yang tinggal di perantauan ini, dapet tetangga macem Mpok Leha ini sungguh suatu keberuntungan, dan dengan permintaan kasbonku tadi dengan entengnya Mpok Leha menjawab, “Ya boleh banget, donk, Bu Lastri, emang ape aje yang mau diambil? Sama saya aja kok sungkan kayak sama siapa aja. Oh iya, Jingga ulang tahun yang keberapa, Bu Lastri? Udah jadi gadis aja itu anak, ya. Gak kerasa cepet bener gedenya, ya, Bu.” tanpa banyak alasan dan kata-kata, Mpok Leha mengizinkanku ngebon di warungnya, "Saya mau ambil dulu, ya, Mpk, minta terigu seperempat kilo, mentega 1 bungkus, telor delapan butir, gula pasir seperempat kilo, s**u kental manis dua bungkus, itu aja, Mpok. Makasih banyak, ya, Mpok. Gak banyak orang yang percaya sama orang yang baru dikenal, apalagi saya jarang ngobrol di sini, jarang keluar sama ibu-ibu komplek sini.” Dengan lincah Mpok Leha mengambil dan membungkus pesananku, “Apaan sih, Bu Lastri, jangan ngomong gitu ah. Tetangga itu sodara paling dekat, Bu. Saya begini juga karena dulu saya sempat merantau ke Solo, Cuma berdua sama suami. Bayangin, Bu, orang Sumatera, merantau ke Jawa, gak cuma budaya yang beda, cara kita ngomong aja udah beda bagai bumi dan langit, kan? Belom lagi, ntu para tetangga yang nyinyirun, astagfirullah, kalo saya gak sering-sering disabarin suami, cuma bertahan sebulan, saya udah balik lagi, Bu, ke Lampung. Ini saya tambahin gula, kopi, beras sekilo, sama jajanan untuk Jingga, ya.” Selesai dari warung Mpok Leha, aku langsung menyimpan semua bahan-bahan tadi, lalu lupa juga aku menghubungi bapaknya Jingga agar besok diusahakan agar bisa pulang lebih cepat, “Pak, besok tolong jangan pulang terlalu malam, ya. Ibu mau bikin kue ulang tahun untuk Jingga, Bapak ingat, kan, besok hari ulang tahunnya?” yang ditelepon, tidak merespon banyak, hanya meng-iya-kan, “Iya, aku ingat, gak perlu sampe berkali-kali begitu ngomongnya. Sudah, ya, aku sibuk.” lalu menutup telepon. Setelah menutup telepon tersebut, Jingga yang hari ini tampak ceria sejak bangun tidur tadi tidak berhenti berceloteh, “Kue ulang tahun Jingga bagus, kan, Bu?” aku mengangguk, “Iya, Nak.” Lalu dia bertanya lagi, “Bapak besok pasti pulang cepat, kan, Bu, enggak lembur seperti biasanya?” aku mengangguk lagi, mencoba meyakinkan Jingga sekaligus meyakinkan hatiku sendiri bahwa bapaknya Jingga, suamiku tidak akan ingkar pada janjinya. Keesokan paginya, ketika kami bertiga berkumpul di ruang makan untuk sarapan, Jingga kembali membicarakan tentang kue ulang tahunnya, lalu tidak lupa juga dia ngomong ke bapaknya nanti malam jangan pulang terlalu larut, “Pak, Bapak ingat kan hari ini ulang tahun Jingga?” yang diajak bicara tidak merespon, hanya mengangguk, “Pak, nanti Bapak pulangnya gak malem-malem, kan? Nanti kita tiup lilin sama-sama, ya, Pak.” Lagi-lagi si bapak hanya mengangguk, seperti terpaksa dan tidak ada sedikitpun menunjukkan antusias terhadap apa yang dibicarakan Jingga. Dan setelah selesai sarapan, bapaknya Jingga pamit untuk pergi kerja. Jingga aku antarkan ke sekolah, dan setelah pulang ke rumah, aku sengaja masak uduk untuk sukuran kecil-kecilan nanti malam acara ulang tahun Jingga dan mulai mengolah bahan-bahan kue yang kemarin aku ambil di warung Mpok Leha. Dengan banyak doa dan zikir yang aku lantunkan untuk masa depan Jingga, banyak harapan dan doa baik yang aku selipkan pada setiap langkah Jingga, selain dia anak satu-satunya kami, dia juga adalah tabungan kami di dunia dan di akhirat kelak. Sekitar jam sebelas siang kue ulang tahun untuk Jingga sudah selesai, aku masukan ke lemari pendingin, sengaja aku tutupi dengan beberapa belanjaan lain, agar menjadi kejutan kecil untuk Jingga, nanti. Dan aku kembali menjemput Jingga ke sekolah, karena hari ini bertepatan dengan hari Jumat, maka jam pulang sekolah Jingga lebih cepat dari biasanya. Ulang tahunnya yang ke sepuluh tahun ini tidak bisa kami rayakan seperti ulang tahunnya beberapa tahun lalu, ketika usianya masih balita. Kebangkrutan dan himpitan ekonomi membuat kami harus berhemat, untuk makan ayam atau ikan saja, menunggu gajian dari suamiku, bapaknya Jingga. Kami hanya hidup dari menggantungkan nasib pada gaji tersebut. Sore menjelang magrib, aku mengeluarkan kue ulang tahun Jingga dan menaruhnya di meja makan, Jingga yang melihat kue tersebut melonjak kegirangan sambil bertepuk tangan, “Hore, ini kue ulang tahun Jingga, kan, Bu? Tinggal nunggu Bapak pulang, nanti kita nanyi sama-sama terus potong kue dan makan kue ini bareng-bareng sama Bapak, ya, Bu.” Aku meng-iya-kan ucapan Jingga, “Iya, Nak. Ibu juga udah masakin kamu uduk, biar nanti habis salat magrib kita tunggu Bapak pulang terus kita santap deh makanan ini sama-sama, ya.” menit demi menit kami menunggu kepulangan suamiku, jam menunjukkan pukul tujuh malam dan waktu salat isya datang, “Kita salat isya dulu, ya, Nak. Ibu yakin, pasti setelah ini Bapak sampe rumah, mungkin sekarang Bapak sedang dalam perjalanan.” Walaupun wajahnya tidak se-berbinar tadi, tapi senyumnya masih merekah dan nampak di wajah cantik Jingga, “Oke, Bu.” Setelah salat isya, kami menunggu lagi di meja makan, dan setelah jam menunjukkan pukul setengah delapan aku bilang ke Jingga agar kami makan nasi uduknya dulu, “Kita makan nasi uduk dulu, yuk, Nak. Kamu udah laper, kan. Nanti potong kuenya tunggu Bapak.” Jingga lagi-lagi mengangguk, anak penurut yang tidak pernah marah, ngambek apalagi merajuk terhadap aku dan bapaknya. Kami makan dalam diam, jam berputar, semakin larut tapi tidak ada tanda-tanda bapaknya Jingga pulang dan Jingga harus menelan kecewa, ketika tepat pukul sepuluh malam bapaknya belum juga pulang dan aku harus melihat air mata pertamanya, di ulang tahunnya yang ke sepuluh tahun ini, “Aku tidur, ya, Bu. Mungkin Bapak banyak kerjaan jadi lupa janjinya, atau Bapak sedang rapat dengan bosnya, ya, kan, Bu?” aku mengangguk mencoba menyembunyikan air mataku juga. Ketika Jingga sudah masuk ke dalam kamar, aku memutuskan untuk menunggu suamiku di ruang makan ini, kue ulang tahun Jingga masih ada di atas meja ini belum tersentuh sama sekali. Entah sudah berapa lama aku tertidur, aku mendengar pintu depan diketuk, ketika melihat jam di dinding, menunjukkan pukul dua subuh, aku berjalan ke depan dan membukakan pintu untuknya, masih dengan mata yang sembab aku bertanya ke suamiku, “Pak, kenapa pulangnya terlambat banget? Kasian Jingga, di hari ulang tahunnya harus bersabar menunggu hingga larut, bahkan hanya sekedar untuk makan kue bolu keju kesukaannya, dan Bapak gak pulang cepat seperti yang dijanjikan ke Jingga.” Dia hanya ngeloyor pergi tanpa memerdulikanku dan tidak menjawab pertanyaanku, hanya sekenanya saja ngomong "Sudahlah, aku capek. Toh tahun depan Jingga masih ulang tahun. Perkara makan kue aja kok jadi masalah besar?" Aku menatap wajahnya, lelaki yang dulu aku cintai setengah mati, bahkan kedua orang tuaku, aku bantah, sekarang seperti ini, “Aku gak pernah melarang Bapak kemana saja, pergi dengan siapa saja, aku hanya minta Bapak pulang cepat, hari ini saja, demi Jingga. Aku tau kamu sibuk sama Diana, tapi Jingga anakmu, sementara, dia hanya gundikmu!” Aku berjalan melaluinya, lebih dulu ke kamar, aku kunci kamar, terserah dia mau tidur di mana. Pernikahan ini aku pertahankan demi Jingga, jika tidak rasanya sudah sejak lama pernikahan ini aku akhiri.