Ibu 2

1350 Words
“Kamu tau, kan, aku gak pernah mau kerja sama orang, aku gak akan pernah cocok untuk jadi bawahan seseorang, bekerja di bawah tekanan, kamu tau kalo aku biasa bekerja sesuai dengan kesukaanku, masak, mengelola restoran, membawahi banyak karyawan, kamu tau itu. Kenapa sekarang aku harus menuruti kemauanmu, kenapa gak kamu aja yang kerja?” * Setelah kejadian kemarin malam, Jingga tidak lagi menunjukkan sikap yang senang ketika melihat bapaknya, biasanya ketika bapaknya ada di meja makan atau baru bangun tidur dan keluar dari kamar, Jingga akan menyambut bapaknya, bergelayutan manja di lengan bapaknya sambil menceritakan semua kejadian yang dialaminya di sekolah, tapi tidak hari ini, ketika duduk di meja makan untuk sarapan sebelum berangkat ke sekolah, Jingga cenderung diam, ketika aku tanya dia mau minum s**u atau teh hangat dia hanya menjawab, “Terserah Ibu aja.” Begitu juga nasi goreng yang aku sajikan di depannya, dia hanya menyendokkan beberapa sendok nasi saja ke piringnya, mengunyah dengan sangat pelan seperti tidak ada semangat. Aku bisa melihat Jingga tidak lagi mau melihat bapaknya, “Maafkan Bapak, ya. Semalam Bapak harus lembur karena ada pekerjaan mendadak dari bos, kalo gak dikerjakan Bapak bisa dipecat dan Bapak gak bisa dapat uang untuk bayar sekolahmu, uang masak ibumu, dan membiayai semua keperluan yang ada di rumah ini. Kamu tau, kan, kamu sadar kalo bapakmu ini udah gak sekaya dulu, Bapak harus nurut sama bos dan atasan Bapak di kantor, sekarang Bapak hanya jongos yang jadi keset orang-orang kaya, kamu harus tau itu. Gak bisa lagi kamu bermanja-manja minta ini, itu …” Jingga menatap bapaknya, “Bahkan sekedar waktu Bapak, Jingga udah gak bisa minta itu, ya, Pak?” aku melihat suamiku mengangguk, “Iya. Waktuku sekarang ini hanya dipakai untuk bekerja, mencari uang, buat biaya kalian hidup. Makanya, tolong jangan banyak minta ini itu, minta Bapak beli ini itu, minta Bapak melakukan ini dan itu, paham?” aku bisa melihat Jingga hanya mengangguk, menghabiskan nasi di piringnya dan menandaskan isi gelas yang aku berikan untuknya tadi, lalu mengambil tas dan menuju ke pintu, aku heran, memanggil Jingga, karena biasanya dia akan berangkat diantar bapaknya, “Loh, Ngga, mau ke mana? Tunggu Bapak ngabisin sarapannya sebentar lagi.” Dan lagi-lagi aku melihat sorot matanya yang sendu, sambil menggeleng dia bilang, “Mulai hari ini, Jingga jalan kaki aja, Bu. Sekolah Jingga juga dekat, kan. Kasian Bapak harus nganterin Jingga, seperti ucapan Bapak tadi, karena waktu Bapak berharga, jadi kalo Bapak nganterin Jingga artinya waktu Bapak akan terbuang sia-sia. Jingga pergi ke sekolah dulu, Pak, Bu.” Lalu aku melihatnya berjalan membawa tas yang lumayan berat. Setelah Jingga menghilang di kejauhan, aku melemparkan serbet makan yang ada di pundakku yang tadi aku gunakan untuk membersihkan meja ke wajah suamiku, “Dasar orang tua yang gak peka. Tega kamu ngomong begitu sama anakmu yang masih usia segitu, bukanya kamu minta maaf atas ketidakhadiranmu semalam, kamu justru menyakiti hatinya dengan bicara seperti itu. Apa tidak ada lagi kata-kata baik yang bisa keluar dari mulutmu? Di luar sana, lebih banyak kepala keluarga yang pekerjaannya jauh lebih susah daripada kamu, yang gajinya bahkan lebih kecil dari yang kamu dapatkan tapi mereka masih bisa bermanis-manis kata dengan istri dan anak-anaknya, mereka masih bisa memberikan kasih sayang untuk keluarganya, kamu memang gak pernah berterima kasih dan bersyukur atas apa yang sudah kamu dapatkan.” Aku yang sudah menahan kesal dari semalam sudah tidak bisa lagi menahan emosiku dan tepat seperti dugaanku, lelaki di depanku ini akan melontarkan lagi kata-kata yang lebih menyakitkan dari tadi, “Kamu yang jadi perempuan gak tau diri. Sudah gak bisa mengurus suamimu ini, tidak lagi menyenangkan mataku, tidak sedap dipandang, badanmu selalu berkeringat dan bau bawang. Ingat, dua malam lalu ketika aku memintamu memuaskanku di ranjang, kamu tidak berdaya sama sekali, hanya diam seperti gedebong pisang, tidak bergerak, aku yang harus bersusah payah memuaskan diriku sendiri. Perempuan seperti kamu ini seharusnya sudah lama aku ceraikan, aku bisa mencari perempuan muda lain yang bahkan jauh lebih b*******h hanya dengan aku sentuh, kamu? Bahkan aku sudah pancing dengan berbagai cara, bahkan untuk berusaha berpura-pura menyenangkanku saja kamu tidak mau. Jangan pernah menuntut apa pun dariku jika untuk memenuhi kewajibanmu sebagai istri saja tidak bisa.” Naik pitamku, aku benar-benar sudah tidak tahan lagi, “Aku bau bawang karena dari subuh aku sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapanmu dan anakmu, aku selalu berkeringat karena semua yang ada di rumah ini, ruang tamu, dapur, kamar, kamar mandi, bahkan teras itu, di depan itu harus aku yang membersihkan semua. Kalo kamu mau aku cantik, wangi, seperti aku yang dulu, kalo kamu mau aku bisa melayani dan memuaskan keinginan binatangmu itu, harusnya kamu sadar, uang yang kamu berikan kepadaku itu hanya cukup untuk makan, aku tidak bisa lagi membeli keperluanku, bahkan pakaian dalamku saja sudah tidak elok lagi dipandang, karena memang aku tidak bisa membeli sesuatu pun dari uang sedikit yang kamu berikan itu. Kemarin aku izin mau kerja di toko depan sekedar untuk membantu ekonomi kita, kamu melarang karena kamu cemburu, kan dengan pemilik toko itu, aku mau berjualan kue dan izin untuk meminjam sedikit dari uang yang kamu berikan itu, kamu juga melarangnya, sekarang kamu berani berhitung seperti itu, hah? Dasar lelaki gak berguna!” aku menggebrak meja dan meninggalkannya dalam keadaan bingung, mungkin dia terkejut dengan apa yang aku lakukan barusan, karena selama ini aku tidak pernah protes, meminta lebih uang yang dia berikan, aku hanya diam, menerima uang yang dia berikan, dan mencoba untuk menghemat sehemat mungkin uang ini agar sampai ke bulan depan lagi ketika dia gajian, aku berusaha untuk mengambil barang-barang di warung Mpok Leha dulu jika akhir bulan sudah datang dan barang-barang kebutuhan pokok di rumah sudah hampir habis, sudah berusaha menjadi istri yang nurut, tidak membangkang, malah justru diinjak seperti ini. Aku bergegas ke kamar, membereskan baju-bajuku dan baju-baju Jingga, aku bersumpah tidak akan lagi ada di rumah ini, biarlah berpisah mungkin lebih baik bagi kami, jika dia bilang aku dan Jingga adalah beban untuknya, jika selama ini dia harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan kami, maka jika aku dan Jingga pergi dari hidupnya, maka dia akan senang, tidak akan ada lagi yang membebani hidupnya. Setelah selesai dengan barang-barang secukupnya yang aku masukkan ke dalam tas dan aku rasa cukup untuk keperluan kami, aku keluar kamar. Dia yang melihatku menggeret tas akan pergi, segera berlari ke pintu depan, menutup dan menguncinya, sementara kuncinya aku lihat dia masukkan ke dalam kantong bajunya, “Mau kemana kamu?” aku menatap wajahnya, menantangnya, “Aku mau pergi dari rumah ini, aku dan Jingga, kami yang kamu anggap beban ini akan pergi dari sini, selamanya. Jadi kamu tidak akan merasa lagi kesusahan untuk bekerja dan harus banting tulang demi kami, itu kan yang tadi kamu omongin?” aku bisa melihat dia menggeleng, “Apa-apaan sih, kamu. Hal kecil seperti ini aja sampai harus pergi, wajar, kan aku menumpahkan kekesalanku, kelelahanku, kamu kan istriku, harusnya kamu paham dan mengerti akan aku, harusnya kamu merangkulku, menenangkanku.” Dia menundukkan kepalanya, ada sedikit iba terbersit di hatiku, “Maafkan aku, jangan pergi. Aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu dan Jingga, aku benar-benar melakukan kesalahan semalam, maafkan aku.” Dan dia menangis, sesegukan, entah beneran nangis karena sedih atau karena ingin menahanku agar tidak pergi, lalu dia berjalan mendekatiku, mengambil tas yang ada di dalam genggamanku, dan memelukku, “Jangan pergi, sayang. Maafkan aku, ya.” dan dia menciumi seluruh wajahku, “Maafkan aku, aku yang tidak becus jadi suami, harusnya kau bisa memenuhi semua kebutuhanmu dan Jingga, tolong jangan tinggalkan aku.” Aku bergeming, menunggu sampai di mana drama yang dimainkannya ini selesai. Lalu dia menuntunku untuk duduk di kursi yang ada di dapur, “Aku janji aku tidak akan melakukan hal ini lagi, tolong maafkan aku.” Dan istri mana yang tidak luluh melihat suaminya melakukan hal ini, “Kamu bisa pegang janjimu kalo kamu gak akan lagi mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu? Kamu janji kalo kamu gak akan menyakiti hati anakmu lagi seperti semalam dan tadi?” dia mengangguk, maka aku mengalah untuk saat ini, aku memaafkannya. Kami berpelukan seperti yang ada di film romansa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD