Kehidupan berjalan seperti sebagaimana mestinya, walaupun tidak bisa menjadi lebih baik, hubunganku dengan suamiku ayahnya Jingga berjalan sebagaimana mestinya hubungan suami istri berjalan. Hanya saja memang sikap dan perangai Jingga yang tidak bisa lagi sama dan berubah seperti sebelumnya, Jingga tumbuh menjadi anak yang pendiam, dia akan mengangguk jika setuju akan sesuatu dan menggeleng jika mengatakan tidak atau tidak setuju pada sesuatu, “Bicara pada Ibu, ya, Nak, kalo Jingga memang ada sesuatu yang mau disampaikan, meskipun Bapak sekarang sudah berubah tidak seperti sebelumnya, tapi Ibu tidak akan pernah berubah demi Jingga.” Dan ya, seperti biasa, seperti kemarin-kemarin Jingga hanya mengangguk. sejak kemarin, suamiku pamit katanya diajak bosnya untuk menemaninya ke Jakarta, “Bu, aku diajak sama bos besar ke Jakarta, biasa nyupirin dia. Mungkin tiga sampe empat hari, berangkat malam ini, Senin pagi sudah ada di sini lagi.” Maka dengan berbekal uang dua ratus ribu yang dia tinggalkan untukku belanja selama dia gak di rumah, ini sudah hari Minggu yang berarti besok bapaknya Jingga akan pulang, tapi semua berubah ketika kemunculan seseorang, sore ini, aku yang sedang menemani Jingga mengerjakan pekerjaan rumahnya untuk kemudian dikumpulkan besok, karena Jingga tidak pernah menunda mengerjakan apa saja tugas dari sekolah, begitu selesai makan siang dan istirahat sejenak, ketika kami sedang berkutat dengan pekerjaan rumah Jingga tersebut, pintu rumah kami diketuk, Jingga yang menawarkan diri untuk membukakan pintu, “Biar aku saja, Bu.” Tidak berapa lama kemudian dia kembali ke ruangan ini dan bilang bahwa di depan ada yang mencariku, "Bu, di luar ada perempuan, katanya namanya Diana. Jingga belom pernah ngeliat, Bu. Apa Ibu ada janji sama seseorang." Ucap Jingga yang langsung ke depan setiap kali bel pintu depan berbunyi, aku mencoba mengingat-ingat, siapa Diana? Sepertinya aku tidak pernah punya teman yang namanya Diana. Ada juga tetangga sebelah rumah Mama di Palembang, tapi itupun, beliau sudah meninggal. Demi menjawab pertanyaan tersebut, aku bergegas ke depan. Aku yang penasaran siapa Diana ini bergegas ke depan untuk menemui tamu tak diundang hari itu. Ketika aku melihat penampakannya, wanita di depanku ini memiliki perawakan yang tidak lebih tinggi dariku, wanita sepertinya di umur 35-40 tahun, lebih muda dariku, aku langsung menanyakan siapa dia dan ada perlu apa "Ada yang bisa dibantu, Mbak? Cari siapa, ya?" Dengan senyum manis, dia menganggukkan kepala ke arahku, mengucap salam, dan meminta izin untuk bicara di dalam, "Boleh kita bicara di dalam, Mbak? Saya Diana, apa yang mau saya sampaikan ini ada hubungannya sama suamimu. Aku gak mau terdengar oleh tetangga kanan kirimu yang sejak tadi sudah memperhatikanku ketika aku melangkah ke pekarangan rumah ini." Aku mengangguk dan mempersilahkannya masuk, lalu menyuruh Jingga belajar di kamar, “Jingga, belajar di kamar dulu, ya, Nak, Ibu ada tamu.” Ucapku padanya. Setelah Jingga masuk ke dalam kamar, perempuan yang bernama Diana yang sedang duduk di depanku ini buka suara dan memulai pembicaraannya, "Rasanya tidak perlu berlama-lama dan berbasa-basi, saya Diana, wanita yang dinikahi oleh Mas Subagja. Ini bukti dan foto-foto pernikahan kami.” Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, foto-foto yang dia berikan ke aku, lima lembar menunjukkan kalo Mas Subagja sedang bersanding dengan perempuan ini dihadiri tiga orang lainnya, terlihat senyum semringah suamiku di sana. jujur saja, setengah otakku sedang memproses informasi yang aku terima ini, setengahnya lagi otakku berkata jambak saja rambut perempuan ini lalu seret dia keluar, dan teriakin bahwa dia adalah perempuan yang merebut suamiku, bagaimana bisa perempuan ini, yang mengaku menikah dengan suami orang lain tampak tenang, dengan wajah penuh senyuman, merasa tidak bersalah dan berani menampakkan wajahnya di depanku, tapi alih-alih melakukan demikian, aku hanya mematung dan bergeming di tempatku duduk, menunggu apa lagi yang akan dikatakan oleh perempuan ini, “Tolong jangan ada drama, saya rasa kita sudah sama-sama dewasa, tidak perlu rasanya kita saling bertengkar untuk merebutkan Mas Subagja.” Lagi-lagi aku tidak bereaksi apa pun, “Iya, betul sekali informasi yang Mbak dengar, saya sudah menikah dengan Mas Subagja suami Mbak yang sudah Mbak nikahi beberapa puluh tahun belakangan, jujus saja saya menikah dengan Mas karena kami sama-sama mencintai. Mas juga bilang tidak akan menceraikan Mbak, dan saya pun tidak menuntut hal tersebut.” Menceraikanku? Mas Subagja mau menceraikanku demi perempuan ini, demi ketan putih cocol serundeng asem manis, berani-beraninya lelaki itu berpikir demikian setelah beberapa waktu lalu berjanji kalo dia tidak akan bertindak macam-macam dan tidak akan berulah lagi, “Tapi saya sadar, Mbak sudah tidak muda lagi, Mbak juga punya anak perempuan yang butuh figur ayahnya untuk tumbuh dan berkembang menjadi perempuan yang utuh, saya juga sadar kalo Mbak tidak memiliki pendapatan dan pemasukan selain dari gaji Mas Subagja, jadi, mari kita berdamai. Saya hanya minta waktu Mas Subagja Senin-Rabu. Selebihnya Mas bisa di sini." Aku benar-benar terdiam dibuatnya, perempuan yang baru datang ini, bisa-bisanya dia menentukan hal-hal seperti ini, aku mencoba memilih kata-kata yang bisa aku gunakan untuk membuatnya sadar kalo dia ini salah, perbuatannya ini tidak bisa dibenarkan, “Diana, saya bisa paham, kalo perempuan umuran kamu ini, memang tidak punya banyak pilihan lelaki untuk dinikahi, kalo bukan duda yang ditinggal mati istrinya pilihan lainnya adalah kamu rela merendahkan harga diri dan martabatmu sebagai perempuan untuk bisa bersanding dengan lelaki meskipun itu suami orang, yang dalam hal ini kamu menikah dengan suami saya, betul begitu, ya.” aku bisa melihat wajahnya yang tadi cerah, dengan percaya diri yang tinggi, perlahan berubah menjadi pucat pias, “Saya gak tau, apa yang sudah kamu tawarkan ke suami saya untuk bisa menikahimu, perempuan tua yang tidak laku jika menikah dengan perjaka, mungkin saja kamu menawarkan tubuhmu yang memang mungkin belum pernah dijamah oleh lelaki manapun itu, mungkin juga kamu bisa membuatnya mengerang puluhan kali di bawah ketiakmu itu dan seluruh tubuh yang kamu persembahkan untuk Mas Subagja yang sampai saat ini masih suami saya statusnya dan Bapak dari anak saya. Oh iya, saya lupa, tadi apa kegiatanmu, Diana?” dia mengerjapkan mata beberapa kali, mungkin mencoba menguasai keadaan lagi, “Saya seorang pegawai negeri di pemerintahan.” Aku mengangguk, “Di kantor atau bagian apa lebih tepatnya?” dia membusungkan d**a, seperti bangga sekali dengan status sosialnya, “Saya bekerja di kementrian dinas sosial sebagai sekretaris Kadis.” Ada senyum sombong dan pongah di sudut bibirnya, “Apakah instansimu tau, kalo kamu sudah menikah? Atau pernikahan ini hanya di bawah tangan saja dan tidak tercatat di catatan sipil? Apakah kedua orang tuamu tau dan keluargamu merestuinya?” seketika senyum sombong tadi pudar, benar-benar hilang, dia terdiam, “Well … jika saya bisa simpulkan, dari sikapmu yang diam ini, bahwa kamu dinikahi oleh Mas Subagja sebagai sirinya, ya? pernikahan kalian tidak tercatat secara hukum di catatan sipil. Berarti jika semua ini saya berikan ke kantormu, jika saya menghadap ke atasanmu, maka sudah dipastikan karirmu akan hancur karena kamu diketahui berselingkuh dengan suami orang, yang dalam hal ini suami saya, betul?” duduknya sudah tidak tenang, aku melanjutkan ucapanku dengan nada yang aku tahan sedemikian rupa agar tetap terdengar tenang, “Jadi, sebelum saya melaporkan apa yang terjadi ini ke atasanmu di dinas tempat kamu bekerja ada baiknya kamu sadar, sudahi saja pernikahan kalian, toh memang tidak tercatat secara hukum, jadi bisa dengan mudah mengakhirinya.” Dia protes, “Tapi kami sudah menikah, aku sudah memberikan semuanya untuk Mas Subagja, toh Mas juga udah berjanji akan menikahiku secara hukum dan tertulis di negara jika Mas sudah menceraikan Mbak. Dan saya percaya kalo Mas akan melakukan hal tersebut, jadi jangan coba-coba untuk menggertak saya dengan ancaman tersebut.” Ucapnya dengan nada tinggi, aku tersenyum, “Tidak ada yang menggertak Mbak, kok. Kalo memang Mbak tetap bersikukuh untuk meneruskan pernikahan ini, maka saya juga akan meneruskan rencana saya tadi, istri sah itu memiliki kewenangan lebih banyak dibandingkan istri yang dinikahi hanya bermodal emas kawin yang gak seberapa. Jadi sekarang, tolong tinggalkan rumah saya, sebelum saya panggil satpam dan pihak rukun warga saya di sini karena Mbak sudah membuat kekacauan dan keributan di rumah saya.” Dengan secepat kilat perempuan itu mau merebut foto-foto yang tadi dia beberkan dengan bangga, tapi terlambat, aku sudah lebih dulu mengamankannya, “Tinggalkan saja ini di sini, agar saya bisa punya bukti untuk bicara ke suami saya kalo istri sirinya hari ini datang menemui saya istri sah dari Mas Subagja.” Pertahanan terakhir yang bisa dia lakukan hanya mengancam, “Kalo kamu berani membuat saya malu maka saya juga tidak segan untuk membuat malu suamimu dan datang ke kantornya untuk melaporkan saya agar bisa terdaftar pada list yang menerima gaji Mas Subagja.” Aku tertawa, sekeras-kerasnya, “Coba saja, kalo kamu melakukan itu, bukan saya yang rugi tapi kalian, kamu kehilangan pekerjaanmu dan Mas Subagja kehilangan mata pencariannya. Aku rugi? Tentu saja tidak, aku bisa pulang ke rumahku, dan kalian yang akan memetik hasil dari kelakuan kalian tersebut.” Dan perempuan ini keluar tanpa berpamitan, meninggalkanku yang setelah tertawa keras tadi tawaku itu berubah jadi keheningan. Tidak ada air mata. Tidak ada sedih, yang ada kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi, Mas Subagja gak pernah menunjukkan tindak tanduk mencurigakan, kecuali handphonenya yang memang selalu dikunci, pulang, walaupun lembur, selalu bilang. Rasanya tidak pernah ada celah sekalipun yang dilakukannya untuk melakukan perselingkuhan ini, tapi dugaanku salah, sikapnya yang biasa saja selama ini merupakan kamuflase dirinya untuk berbohong terhadapku, istrinya.