Ibu 4

1155 Words
"Abis nelepon siapa, Pak? Kopinya mau ditarok di mana?" malam itu setelah kedatangan Diana dua hari lalu, aku belum membahas apa pun dengan suamiku, aku masih menimbang apa yang akan aku lakukan untuk meminta penjelasan tentang semua yang terjadi ini dengan suamiku, aku ingin memastikan dulu mengenai semua yang terjadi ini. Ketika melihat aku datang membawa gelas kopi pesanannya tadi, dia buru-buru mematikan telepon, “Tarok di meja itu aja, Bu.” Setelah menaruh gelas kopi tersebut dia duduk menyeruput kopinya dan aku duduk di sebelahnya, “Aku ingin bertanya mengenai sesuatu kepadamu, Pak. Tapi janji sama aku kalo kamu akan jujur terhadap semua hal yang akan aku tanyakan ini dan tidak akan ada yang kamu tutup-tutupi.” Suamiku itu masih belum menanggapi ucapanku, dia masih berkutat dengan handphonenya dan sibuk dengan benda pipih putih yang ada di tangannya itu. Aku masih menunggu reaksinya, lalu aku kembali mencoba membuka percakapan, “Pak, aku lagi ngomong, Bapak dengerin aku apa enggak, sih?” tanpa melepas pandangannya dari handphonennya itu, dia mengangguk, “Iya, aku dengar. Ngomong aja sih, apa yang mau dibicarakan, gak usah banyak drama begitu, memangnya apa yang mau kamu omongin?” aku mengambil lembaran foto yang beberapa hari lalu dibawa oleh perempuan itu, “Kamu mau menjelaskan, apa maksud dari foto ini, Pak?” tanpa ujan tanpa angina, seketika dia merambet dengan paksa semua foto-foto itu dari tanganku, “Darimana kamu dapatkan ini, hah? Sudah berani, ya, kamu menguntit aku, sejak kapan kamu ngikutin aku sampai tau mengenai hal ini?” aku tertawa sinis, “Nguntit kamu? Kamu pikir aku gak punya kerjaan lain apa sampe harus nguntit kamu?” wajahnya memerah, khas lelaki yang ketahuan selingkuh dan bersalah tapi tidak mau mengaku, “Jangan banyak memutar cerita, kapan kamu mendapatkan foto ini?” aku menggeleng, “Kalo memang semua kejadian yang ada di foto itu benar, aku akan menghadap ke atasanmu dan atasan perempuan itu, aku akan beberkan semua yang terjadi.” Tatapan tajamnya memudar, berganti dengan tatapan penuh ketakutan, “Jangan macam-macam kamu. Kalo sampe kamu melakukan itu aku akan kehilangan pekerjaan, kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan uang lagi dari aku karena aku akan dipecat.” Dengan tenang aku tetap menjawab ucapannya, “Aku tidak pernah takut dengan apa pun di dunia ini kecuali Allah dan mati dalam keadaan penuh dosa. Kalo kamu penasaran dan bertanya dari mana aku mendapatkan foto tersebut, mungkin ada baiknya kamu langsung menghubungi saja gundikmu itu, Diana, cari tau apa yang terjadi dua hari yang lalu di rumah ini.” Begitu ucapku dan reaksi suamiku benar-benar bingung, wajahnya sekarang pucat pias, seperti tidak ada darah yang mengalir di tubuhnya, “Kamu mengenalnya?” aku menggeleng, “Tidak sampai dua hari yang lalu dia datang ke rumah ini, menjelaskan bahwa dia adalah istri sirimu, dia memintaku untuk melepaskanmu agar kamu dan dia bisa menikah secara sah di mata hukum. Hebat kan, perempuan itu, istri sirimu itu?” lelaki di depanku ini terkesiap, “Diana datang ke rumah ini?” aku mengangguk, “Iya, yang barusan kamu dengar itu tidak salah, dia datang ke rumah ini. Berani menampakkan wajahnya, terang-terangan ke sini menampakkan batang hidungnya dan dengan beraninya dia meminta kita untuk bercerai. Sudah puluhan tahun kita menikah, mengalami susah dan senang bersama, tiba-tiba perempuan muda itu datang dengan bilang bahwa kamu memilih dia, menikahinya, karena aku ini sudah tidak lagi sedap di pandangan matamu, bahwa kamu bilang bahwa aku ini bau bawang, tidak pandai mengurus badan, dia percaya diri banget bicara bahwa kamu memilihnya karena dia lebih pandai memuaskan kamu di ranjang ketimbang aku. Karena masih muda, dia merasa kamu membelanya, dia yakin banget sekarang sedang berada di atas awan, dia lupa kalo sekali laporan saja aku ke atasannya, bahwa kalian berselingkuh maka jabatannya sebagai pegawai negeri akan langsung dicopot tanpa ampun, dia lupa kalo aku yang istri sahmu memegang buku nikah asli pernikahan kita, dia tidak sadar kalo menggertakku seperti itu maka kalian berdua yang akan mengalami kerugian paling besar, bukan aku. Aku bisa dengan mudahnya sekarang, pergi ke kantormu, ke kantornya, dan melaporkan semua kejadian ini, setelah kalian bangkrut, miskin, tidak ada mata pencarian, aku akan pergi dengan tertawa dan bahagia bersama Jingga yang akan aku bawa serta bersamaku, kami bisa menjalin hidup yang lebih baik jauh dari kamu, kerugianku hanya satu, kehilangan suami, tapi kamu dan dia akan rugi berkali-kali lipat, kalian akan dikeluarkan dengan tidak hormat dari kantor kalian, tidak memiliki gaji, malu dengan hukuman masyarakat yang akan menilai kalian sebagai pasangan kumpul kebo.” Aku benar-benar sudah tidak bisa lagi menahan emosiku, walaupun tidak lagi ada air mata yang bisa menetes dari mataku, tapi jujur saja hatiku benar-benar tersayat-sayat. Kehidupan kami yang awalnya baik-baik saja, meskipun kami mengalami roller coaster episode kehidupan yang ajaib, dengan bergelimangan harta, uang, dan kemewahan berkat usaha suamiku yang sukses, hanya dalam satu malam saja kekayaan dan kejayaan keluarga kami, runtuh, dan semua berbalik tiga ratus enam puluh derajat, asam garam kami rasakan berdua, tiba-tiba hadir perempuan yang entah dari mana, berhasil meluluhlantakkan kehidupan rumah tangga kami. “Aku mengakui aku salah, tapi tolong jangan lakukan apa pun yang tadi kamu bicarakan, tolong maafkan aku, Bu.” Tiba-tiba saja lelaki ini sudah bersujud di bawah kakiku, perangainya yang tadi dengan percaya diri menantangku hilang seketika, “Aku akan melepaskannya, aku berjanji ini adalah yang pertama kalinya dan yang terakhir kali aku melakukan hal seperti ini, tolong jangan laporkan aku ataupun Diana ke kantor kami, tolong urungkan dan hapus niatmu itu, jangan, Bu.” Aku benar-benar tertawa dibuatnya, “Bisa banget, kamu, ngebelain perempuan itu, sampai mampu menelan harga dirimu dan bersujud di kakiku, demi melindungi gundikmu itu, hah?” dia menangis, iya, lelaki ini menangis sesegukan, ini bukan yang pertama kali aku melihatnya menangis, tapi lelaki ini bukan tipe lelaki yang dengan mudahnya menitikkan air mata. Well … aku gak tau air mata ini air mata tulus atau hanya air mata bualan agar dia bisa bebas dari jeratan ancamanku tadi, tapi aku bergeming, aku sudah meneguhkan diriku untuk melaporkan mereka ke kantor mereka masing-masing, “Tidak akan ada satu pun yang bisa membuatku membatalkan niatku untuk melaporkan kalian berdua ke kantor kalian masing-masing, harusnya, sebelum berbuat hal seperti ini kalian memikirkan apa dampak yang akan kalian hadapi. Jangan seperti ini, sudah sombong dan percaya diri banget, terang-terangan jujur kalo kalian sudah menikah siri tapi kemudian mundur dan jadi pengecut ketika aku akan melaporkan kalian. Kira-kira, apa, ya, reaksi Diana kalo tau besok pagi aku datang ke kantornya dan menemui atasannya untuk melaporkan hal ini?” puas banget aku melihat wajah ketakutan suamiku ini, “Tolong, jangan lakukan itu. Aku akan melakukan apa pun yang kamu minta asalkan kamu tidak melakukannya, tolong, Bu, tolong aku. Maafkan aku sekali ini saja, aku janji aku tidak akan berbuat hal yang seperti ini lagi, aku janji setelah ini hidupku hanya ada kamu dan Jingga tidak akan ada yang lain, tolong, Bu. Tolong lepaskan aku kali ini, lepaskan kami, Bu”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD