Kejadian kemarin sore membuatku tidak bisa lagi percaya dengan laki-laki yang sampai saat ini masih berstatus sebagai suamiku dan bapak dari anakku. Hari ini aku berniat untuk mendatangi perempuan itu di tempat kerjanya, tidak, aku tidak akan mengganggunya aku hanya ingin mengingatkannya agar dia sadar dan mundur dari pertarungan merebutkan Mas Subagja, istri sah harus menang dari istri siri yang bahkan entah kapan dinikahi oleh suamiku, “Kamu mau kemana, Bu, jam segini udah cantik aja,” tanya suamiku, tidak seperti biasanya dia bicara manis seperti itu, setidaknya sudah sejak beberapa tahun ini dia tidak pernah lagi bermulut manis terhadapku, aku justru curiga ketika dia bicara seperti ini, “Aku ada keperluan sebentar. Tidak usah khawatir, urusanku akan selesai ketika Jingga pulang sekolah nanti, kamu pergi kerja aja seperti biasa.” Ada tatapan penuh curiga di matanya dan aku tidak perduli, “Bu, tolong jangan berbuat macam-macam, tolong sudahi semua ini, lupakan. Kemarin aku kan sudah berjanji kalo aku akan menyudahi hubunganku dengan Diana, pegang janjiku itu.” Aku hanya mengangguk, “Tenang aja. Aku bukan Diana, perempuan yang berani-beraninya menurunkan martabatnya sebagai wanita demi mendapatkan pernikahan yang dia lakukan dengan cara tidak baik.” Setelah bicara seperti itu aku tidak memerdulikan lagi apa yang dibicarakan Mas Subagja setelahnya, aku langsung berjalan ke pintu, keluar dari gerbang rumahku, dan langsung masuk ke ojek online yang sudah aku pesan sejak tadi. Berbekal informasi yang kemarin perempuan itu sampaikan sendiri, foto yang kemarin perempuan itu tunjukkan sendiri, maka hari ini aku bergegas ke dinas tempat Diana itu bekerja. Hanya memakan waktu sekitar dua puluh menit dari rumahku ke kantor perempuan itu, aku sudah sampai di halaman parkirnya, “Mau ditungguin, gak, Bu? Gak apa-apa, ongkosnya disamain aja, daripada saya keliling lagi nyari orderan.” Aku menimbang tawaran tukang ojek ini, di satu sisi ada manfaatnya juga kalo dia ada di sini, jadi ketika urusanku sudah selesai di sini aku tidak perlu lagi nunggu lama untuk angkat kaki dari sini, tapi aku takut urusanku di sini juga lama, “Takutnya lama, Bang. Mau nunggu?” tukang ojek ini mengangguk, “Gak apa-apa, Bu. Saya tungguin. Uangnya nanti aja, sekalian.” Maka setelah membuat persetujuan dengan tukang ojek ini, aku masuk ke dalam dan langsung menuju ke bagian informasi, aku langsung bilang ke resepsionis kalo aku mencari seseorang, “Diana namanya, dia bekerja di kantor ini, kan? Saya teman lamanya.” Si resepsionis mengangguk, “Oo … Mbak Diana, iya, Bu, Mbak Diana bekerja di sini, dia ada di lantai dua, nanti dari sini ibu lurus aja, sampai ketemu tangga di sebelah kiri, terus naik, kalo udah ketemu pantry, ruangan Mbak Diana ada di depannya.” Begitu si reseposionis menjelaskan, aku mengucapkan terima kasih, “Makasih, ya, Mbak Dina.” Aku tersenyum lalu menganggukkan kepala yang dibalas dengan senyuman manis juga olehnya, dan langsung menuju ke lantai dua, tempat yang sudah diarahkan tadi sama Mbak Dina. Tidak susah mencari ruangan tersebut, tertulis di papan keterangan yang ada di depan pintunya, “Staff only” ketika aku mengetuk pintu, seseorang membukakan pintu, aku memberikan senyum terbaikku, “Maaf, mengganggu, saya mencari Ibu Diana, info yang saya dapat beliau sekretaris Kadis, apa benar ruangannya di sini?” yang membukakan pintu mengangguk, “Benar, Bu. Mbak Diana memang di sini ruangannya, tapi orangnya lagi dipanggil sama Bapak. Mungkin sebentar lagi balik ke ruangan. Masuk aja, Bu, tunggu di sini.” Dengan menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih lagi, aku masuk ke dalam ruangan itu dan duduk. Aku duduk tepat di meja Diana. Sekitar sepuluh menit kemudian, aku bisa mendengar pintu ruangan dibuka, dan perempuan yang tadi menyambutku memberikan informasi ke Diana bahwa dia ada tamu, “Ses Diana, itu ada tamu di mejamu.” Diana yang mungkin moodnya sedang bagus, bertanya, “Siapa, Jeunk. Orang LSM lagi tah?” yang dipanggil “Jeunk” tadi menjawab, “Bukan, weh. Perempuan, mungkin saudaramu atau temanmu. Gue gak nanyain tadi.” Dan aku bisa mendengar derap langkah seseorang mendekat ke arahku, dia menyapaku dengan wajah tersenyum lebar dan tutur kata halus, “Siapa, ya apa ada yang bisa dibantu?” dan aku membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya, “Saya istrinya Mas Subagja, masih ingat, kan Diana?” tiba-tiba senyum cerianya tadi hilang. Dia tidak berkutik sama sekali, ada kedutan di sudut bibirnya, “Loh, ngapain kamu ke sini?” tanya Diana dengan nada panik. Aku tersenyum menanggapi pertanyaan itu, “Santai aja, kali. Saya ke sini cuma mau silaturahim.” Lalu selebihnya kami duduk dalam canggung, “Tolong jangan datang mendadak seperti ini.” Aku mengangguk, “Oke. Saya hanya mau memastikan bahwa benar ucapan yang kamu sampaikan kemarin kalo kamu memang bekerja di sini. Oo iya, foto-foto kemarin ketinggalan di rumah, loh. Ini saya bawakan.” Sengaja foto-foto itu aku berikan dalam keadaan tidak ada plastik atau wadah sama sekali, orang yang berada di meja sebelah, pasti bisa melihat, dan aku yakin, barusan aku bisa melihat bahwa perempuan yang ada di meja sebelah ini melirik sekilas foto tersebut melalui ekor matanya. “Mas Subagja juga titip pesan, katanya perjanjian kemarin dia batalkan, mungkin dia sudah menghubungimu terlebih dahulu?” dia menggeleng, “Mas Subagja gak ada bicara apa-apa ke saya, bahkan pesan saya sejak dua hari lalu tidak dibalasnya.” Aku menggelengkan kepala, “Gimana sih, Mas Subagja itu, masa pesan dari Diana, temannya sendiri gak dibalas. Padahal, ketika melihat pesan masuk dari kamu itu ke handphone suami saya, saya sudah bilang ke Mas Subagja agar membalas pesanmu dan menjelaskan duduk permasalahannya. Saya yakin ini hanya kesalahpahaman saja di antara kita, iya, kan?” perempuan yang duduk dalam keadaan tidak tenang di depanku ini mungkin kalo bisa menghilang ditelan bumi, itu akan menjadi pilihan pertamanya, karena ketika kami sedang bicara, kondisi ruangan semakin ramai, “Tidak ada balasan apa pun.” Jawabnya. “Well … mungkin Mas Subagja lupa, namanya juga teman, ya, kadang suka lalai membalas pesan teman lainnya. Saya pamit dulu, ya. Fotonya disimpan, khawatir nanti tercecer malah digunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, jabatan dan karirmu bisa berakhir, loh.” Tidak ada senyum sama sekali di wajah Diana, setelah merasa cukup melihat wajah ketakutannya ini, aku pamit pulang, “Oke, deh. Saya hanya mau memastikan ini saja, lalu memberikan foto itu ke kamu. Saya pamit pulang dulu, ya.” ketika aku mau bangkit dari dudukku, tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiri meja kami, “Foto apa itu, Sus?” aku melihat Diana buru-buru memasukkan foto itu ke laci mejanya, “Bukan apa-apa. mari, Bu, saya antarkan ke bawah.” Sebelum bangkit sempurna dari dudukku, aku menjawab pertanyaan orang tadi, “Ituloh, foto Mbak Diana lagi mejeng sama temennya, kebetulan temennya itu suami saya.” Dan wajah orang tersebut berubah menjadi kaku, lalu berjalan menjauh dari mejaku, dengan ucapan sedikit berbisik, “Apa mereka tau hubunganmu dengan Mas Subagja?” dengan secepat kilat Diana menggeleng, “Tidak. Tolong jangan buat keributan di sini.” Lalu dia menggandeng tanganku dengan agak kasar, aku melepaskannya dengan lebih kasar, “Gak usah gandeng saya, saya bisa keluar dari ruangan ini sendiri. Selamat siang, semoga harimu menyenangkan, ya, Diana.” Dan aku melenggang dengan penuh percaya diri, rasanya, kalo dia memang manusia yang punya hati, manusia yang masih tersisa harga dirinya, gertakanku hari ini cukup untuk membuatnya sadar dan pergi menjauh dari kehidupan rumah tangga aku dan Mas Subagja.