Setelah selesai urusanku dengan perempuan ini aku langsung turun ke parkiran dan menemukan tukang ojek tadi yang menungguku, “Maaf agak lama, ya, Pak.” Ucapku padanya, si bapak tersenyum, “Gak apa-apa, Bu. Lama juga saya tungguin, daripada saya harus keliling nyari orderan yang belom pasti. Kasian anak-anak di rumah, pasti mereka lagi nungguin saya pulang bawa makan siang.” Aku terenyuh dengan yang diucapkannya, “Nyari uang emang lagi susah, ya, Pak. Emang istrinya ke mana, Pak, kok cuma anak-anak yang di rumah?” si bapak menjawab, “Ibunya anak-anak kabur sama lelaki yang lebih kaya, Bu. Mungkin bosan sama hidup susah.” Jleb, hatiku seperti ditusuk, aku yang bertahan dalam kekurangan, aku yang masih setia pada suamiku yang menemaninya dalam keadaan susah dan bangkrut, malah diselingkuhi, manusia memang tidak pernah bisa ditebak isi hatinya. Selama perjalanan pulang, aku terus mencoba mencari cara bagaimana agar bisa diizinkan untuk bekerja, selain untuk menambah penghasilan, aku juga ingin ada suasana baru, sumpek rasanya di rumah terus berkutat dengan hal yang itu-itu saja. Mungkin, dengan mengancam bahwa aku akan meninggalkan rumah jika tidak diberi izin bekerja, bisa kali, ya. Iya, alasan dan cara itu saja yang nanti akan aku pakai, biarlah dia mau kasih izin atau enggak, aku tetap akan bekerja. Ketika sampai di rumah, aku bisa melihat Mas Subagja duduk di teras aku melihat ada sesuatu yang tidak biasa dari wajahnya, “Bu, kamu darimana?” aku memasang wajah lempeng, “Ada urusan sedikit. Tadi kan aku udah pamit bilangnya begitu, memangnya kenapa, Mas?” dia mungkin sedang mencari kata dan kalimat untuk menanyakan apakah aku datang ke kantor gundiknya itu, tapi aku tau mungkin dia juga khawatir kalo aku marah, “Ehm … kamu mampir ke kantor Diana, ya?” aku melotot ke arahnya, “Oo .. jadi gundikmu itu ngadu, ya, sama kamu kalo aku ke sana. Bagus betul, ya, berani dia masih menghubungimu, padahal tadi dia janji kalo dia tidak akan lagi berurusan dan berhubungan sama kamu. Apa perlu aku balik lagi ke kantornya dan langsung menemui atasannya, HAH?” dan wajahnya seketika ketakutan jelas sekali tergambar di sana, “Bukan begitu, Bu. Diana hanya bilang kalo kamu mampir ke kantornya. Itu saja, dia gak ngomong apa-apa lagi.” Aku menatap wajah Mas Subagja, “Aku gak perduli dia ngomong apa sama kamu, yang pasti dia sudah melanggar ucapannya sendiri kalo dia bilang dia tidak akan lagi menghubungi kamu, Mas, untuk urusan apa pun. Salah besar dia kalo mau bermain-main sama aku.” Mas Subagja memegang tanganku, membawaku ke dalam pelukannya, “Bu, aku kan sudah minta maaf dan berjanji bahwa aku tidak akan ada hubungan apa-apa lagi sama Diana atau perempuan manapun. Kalo Diana menghubungiku barusan, semata hanya untuk bilang kalo kamu mampir ke kantornya, itu saja. Tolong jangan berpikir yang macem-macem, ya, Bu.” Aku bergeming, sentuhan, pelukan suamiku ini sudah tidak mempan lagi untukku, mau dia gimana juga aku sudah mati rasa terhadapnya, sekali selingkuh dia akan terus melakukan hal ini, tanpa dia sadari. Selingkuh adalah candu paling parah selain berjudi, maka aku harus bersiap-siap jika hal ini terjadi lagi, cepat atau lambat pasti akan terulang. Ini juga alasan kenapa aku bersikukuh mau bekerja dan menghasilkan uang sendiri, agar nanti, jika Mas Subagja berulah lagi aku sudah punya uang tabungan sendiri yang akan aku gunakan untuk berjaga-jaga. Aku melepaskan pelukannya dan bilang ke Mas Subagja kalo aku akan bekerja, “Terserah kamu mau berbuat apa, terserah kamu mau bicara apa, aku sudah tidak mau ambil pusing lagi. Karena sekarang kamu bisa saja bicara seperti ini, sekarang kamu bisa saja tidak berhubungan lagi sama Diana, gundikmu itu, tapi tidak ada yang menjamin kelak, di masa depan bahwa kamu tidak mengulangi hal ini lagi. Satu lagi, mulai besok aku akan bekerja.” Mas Subagja menggelengkan kepalanya, “Gak boleh, kita sudah membahas ini berkali-kali, Bu. Tugasmu di rumah mengurus Jingga, aku yang akan menyediakan segala kebutuhanmu dan Jingga.” Aku tertawa, mengejeknya, “Tugas istri di rumah, ngurus anak, itu kalo suaminya bener, suaminya gak selingkuh dan berpotensi ninggalin si istri dan anaknya. Tapi kalo kamu ini kasusnya beda, hari ini kamu bisa berjanji tidak akan selingkuh, hari ini kamu janji bahwa kamu akan bekerja keras untuk aku dan Jingga, tapi besok, bisa jadi kamu terjerat lagi sama perempuan yang entah siapa, besok bisa jadi kamu mengelih lagi bahwa cari uang itu capek, kerja sama orang itu gak bebas, dan seribu alasanmu lainnya yang sudah sering kamu ucapkan dan sudah sangat aku hapal. Jadi, terserah kamu mau mengizinkan atau tidak, aku tetap akan bekerja, kalo aku tidak diizinkan bekerja maka aku akan membawa Jingga keluar dari rumah ini, aku akan hidup berdua saja dengannya, biar kamu bebas mau melakukan apa saja yang kamu suka, biar kamu bisa bebas mau berhubungan dengan wanita manapun yang kamu mau.” Mas Subagja tidak bicara sepatah katapun, dia hanya diam, lalu melepaskan pelukannya, dan berjalan gontai masuk ke dalam rumah. “Ini ada uang bonus dari kemarin aku nyupirin pak bos, maafkan aku, ya, selama ini aku belum bisa membahagiakanmu dan Jingga, tapi aku janji aku akan berusaha sekuat tenaga melakukannya.” Aku mengambil uang itu, lalu berencana keluar dan menuju ke warung Mpok Leha, “Oke. Aku ke warung Mpok Leha dulu, mau bayar utang-utang kemarin. Mungkin ini juga gak cukup buat bayar utang.” Lalu aku meninggalkannya sendiri di rumah. Aku mungkin jadi perempuan jahat yang membantah ucapan suami, yang tidak mau mendengar perintah suami, tapi aku sudah tidak bisa tahan lagi, tidak bisa mentolerir jika ada perselingkuhan. Kekurangan uang, dipaksa harus ngutang ke kanan-kiri menahan malu sama tetangga, digunjingkan, aku terima. Tidak apa-apa, ini adalah proses hidup dan perjalanannya yang harus aku hadapi, aku anggap ini sebagai sebuah pelajaran dan juga melatih kesabaranku dalam menjalani biduk rumah tangga. Tapi sekali saja kepercayaanku dirusak, maka selamanya aku tidak akan pernah lagi bisa mempercayainya. Jangan salahkan aku bersikap seperti ini, Mas Subagja yang memulai genderang perang, maka aku hanya mengikuti tabuhannya saja. “Mpok Leha, assalamualaikum.” Panggilku ketika sampai di warungnya, “Eh, mamanya Jingga. Ade ape, nih. Mau belanja apa?” ucapnya dengan senyumnya yang seceria biasanya, “Mau bayar utang kemaren, Mpok. Berapa ya, total semuanya?” aku bilang ke Mpok Leha seperti itu, “Udah ada uangnya bener nih? Kalo belom ade, nanti lagi juga kagak kenape-nape. Pake aja dulu buat yang lebih penting.” Aku menggeleng, “Kebetulan ada rezeki, Mpok. Bayar dulu, nanti kalo perlu lagi, saya ngambil lagi bayarnya nanti, boleh, ya, Mpok.” Mpok Leha mengangguk, “Ya boleh, donk. Utang lu sama gue dua ratus lima puluh dua ribu. Dua ribunya gue korting dah. Jadi utangnya dua ratus lima puluh ribu aje.” Benar, kan, dugaanku. Uang ini pun masih kurang, “Yah, Mpok. Ini uangnya baru ade seratus lima puluh ribu, pegang dulu, ya, Mpok.” Lagi-lagi perempuan nyetrik di depanku ini, yang hari ini memakai baju atasan kebaya pink, dipadukan dengan kain selutut, dan bibirnya yang memakai lipstick berwarna oren, warna lipstik kesuakaannya, mengangguk, “Ya, gak ape-ape. Makasih, ya. Duitnya bisa gue puterin lagi, bisa gue belanjain barang lagi. Ini, ya, catatannya, jadi utang lu sisa seratus ribu. Jangan sungkan kalo mau nambah ngambil apa lagi, gitu. Sante aje sama gue mah.” Aku mengangguk, mengucapkan terima kasih ke Mpok Leha, dan langsung berjalan ke arah sekolah Jingga, untuk menjemputnya pulang sekolah.