“Bu, kemarin Bapak dan Ibu bertengkar, ya? apa Bapak punya istri baru, Bu?” Jingga yang baru saja aku jemput dari pulang sekolah menanyakan hal tersebut, aku terkejut, darimana Jingga bisa tau hal ini, apakah dia mendengar ketika aku dan Mas Subagja bertengkar, padahal kami selalu berusaha untuk tidak memperdengarkan jika kami sedang bertengkar, kami selalu berupaya untuk tidak pernah ribut dan bertengkar di depan Jingga. Aku yang penasaran dari mana Jingga tau, menanyakan dari mana dia mendengar hal ini, “Jingga kok ngomong begitu, memangnya Jingga tau Bapak dan Ibu bertengkar, Jingga dengar, ya?” dia menggeleng, aku mengernyitkan dahi, kalo Jingga tidak mendengar hal ini, lalu dari mana dia mengetahui hal ini, “Terus, kalo Jingga gak dengar langsung, Jingga tau dari mana?” dengan polosnya dia bicara, menjawab pertanyaanku, “Kemarin ibunya Randi cerita sama ibu-ibu temen-temen Jingga di sekolah, gini katanya, Bu, ‘Kemarin saya dengar, Pak Subagja sudah menikah lagi dengan perempuan muda, ibunya Jingga sampe ngancem mau kabur dari rumah.’ Gitu Bu, makanya Jingga tanya, apakah benar Bapak dan Ibu bertengkar?” aku terkejut, mamanya Randi benar-benar tukang gosip sejati, dia memang tinggal bersebelahan dengan rumah ini, tidak sebelahan langsung, sih, beda sekitar dua atau tiga rumah dari rumahku ini, entah kemarin memang aku yang bicara terlalu kencang atau memang dia yang sengaja nguping dengan apa yang aku dan Mas Subagja bicarakan dan hasil ngupingnya itu dia sebarkan ke orang-orang lain. Aku yang tidak ingin Jingga ikut kepikiran dengan masalah rumah tangga yang tidak seharusnya anak seumuran dia mengetahui permasalahan seperti ini, “Jingga, Ibu dan Bapak baik-baik saja, tidak ada masalah. Kalo besok Jingga masih mendengar hal-hal seperti ini, tidak usah didengarkan, ya, Nak. Yang penting yang harus Jingga dengar dan lihat adalah Bapak dan Ibu yang ada di depan Jingga saat ini. Bapak dan Ibu memang beberapa kali berbeda pendapat, dan itu tidak salah, tapi setelah itu Bapak dan Ibu kembali berbaikan dan Bapak tidak menikah lagi, yang Jingga dengar itu hanya gosip, gosip adalah kabar yang disebarkan oleh orang lain dan kabar itu tidak benar, Jingga tidak usah pusing dengan hal-hal seperti ini, ya, Nak.” Jingga mengangguk, “Sekarang Jingga salin baju, cuci badan, tangan, dan muka, terus ke meja makan, ya, kita makan siang bareng-bareng.” Jingga mengangguk, setelah dia masuk ke kamar, aku mengirimkan pesan ke Mas Subagja, “Nanti pulang jang terlambat, aku pengen Jingga tau kalo bapak dan ibunya baik-baik saja. Hari ini, ada gosip yang menyebar kamu menikah dengan perempuan itu sudah santer tersebar, karena kemarin ketika kita sedang membahas mengenai pernikahan sirimu, ada tetangga yang mendengar. Aku pengen kamu pulang normal dan tunjukan ke Jingga anakmu bahwa kondisi keluarga kita baik-baik saja. Aku tidak mau dia jadi sedih dan berpikir macam-macam tentang orang tuanya.” Dan pesan tersebut aku kirim yang tidak lama kemudian segera dibalas oleh Mas Subagja, “Aku usahakan.” Aku yang geram dengan balasannya itu seperti tidak menganggap pesanku dan kondisi ini serius, membalas kembali pesan tersebut, “Kalo kamu gak mau mengusahakan apa yang aku minta tadi, aku juga gak akan mengusahakan pernikahan kita.” Setelah itu tidak ada balasan lagi, kalo memang dia tidak mau mengabulkan permintaanku, maka aku tidak akan perduli lagi dengan dia. Ketika aku sedang meladeni Jingga makan, handphoneku berbunyi tanda pesan masuk, “Iya, Bu. Aku akan mengusahakan, soalnya Bapak lagi banyak kerjaan.” Dan setelah aku baca pesan tersebut aku tidak membalasnya lagi, terserah dia mau apa. setelah selesai Jingga makan, dia kembali ke kamar untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya dari sekolah, aku membuka koran-koran yang tadi aku beli di perempatan lampu merah, aku mencoba mencari pekerjaan yang sekiranya sesuai dengan klasifikasi pendidikanku yang hanya tamatan sekolah menengah atas ini, harus sadar diri dengan kapasitasku yang tidak besar, jika harus bersaing dengan mereka yang lulusan sarjana, aku tidak ada apa-apanya. Setelah beberapa kali membolak-balik laman koran ini, aku menemukan beberapa iklan lowongan pekerjaan yang aku anggap sesuai, aku coba lingkari, dan aku lihat juga catat apa saja yang mereka persyaratkan. Lalu aku mulai mencari ijazahku, lalu kelengkapan lainnya. Aku juga harus foto untuk melapirkan pas foto diri, sebagai syarat memasukan lamaran pekerjaan. Aku melihat ke kamar, Jingga masih berkutat dengan pekerjaan rumahnya, “Nak, Ibu mau keluar sebentar, ya. Mau ke fotocopyan depan, ada yang mau Ibu kerjakan, Jingga gak apa-apa, kan, ya, Ibu tinggal sebentar?” dia menggangguk, “Iya, Bu, gak apa-apa.” aku tersenyum, anakku ini tidak pernah cerewet dengan hal-hal apa pun, “Kunci pintunya, Nak. Jangan dibuka siapa pun yang datang, selain Bapak atau Ibu yang datang.” Aku dan Jingga berjalan beriringan ke depan, “Jangan buka pintu, ya, Nak.” Setelah memastikan Jingga menutup dan mengunci pintu, aku bergegas berjalan menuju ke tempat fotocopyan di ujung jalan rumahku ini. Ketika sampai, aku menyerahkan ijazah asli, bukti nilai asli, KTP, dan juga aku meminta untuk melakukan foto untuk melamar pekerjaan, selagi orang yang memfotocopy kelengkapan lamaran pekerjaanku ini mengerjakannya, “Saya mau foto untuk pas foto lamaran kerja, Mas.” Dan aku ditunjukkan ruangan untuk fotonya, semacam studio kecil gitu, tapi lengkap dengan peralatan kamera dan beberapa baju yang bebas dipakai untuk orang-orang seperti aku dengan budget minim tapi butuh foto dengan setelan blazer formal. Sekitar satu jam kemudian fotocopyan dan fotoku sudah selesai, aku juga membeli amplop coklat untuk mengirimkan lamaran pekerjaan ini, kemudian bergegas pulang ke rumah. Setelah mengetuk pintu rumah beberapa kali, muncul wajah Jingga yang mengintip di sela-sela gorden jendela ruang tamu, “Ini Ibu, Ngga.” Setelah dia melihat wajahku barulah dia berani untuk membukakan pintu rumah. Ketika sedang merebahkan diri di ranjang karena panas yang luar biasa, ada pesan masuk di handphoneku, “Assalamualaikum mamanya Jingga, saya mamanya Arum. Maaf, Mama Jingga, kemarin saya lihat Jingga dibawain bekal makanan seperti rolade gitu, Arum bilang dia mau coba, apakah boleh, Bu, saya dibuatkan rolade itu, berapa saya bayarnya, ya?” aku agak terkejut juga, ada yang tertarik dengan rolade ayam buatanku, “Bisa, Bu. Mau pesan berapa, Bu?” tidak berapa pesan balasan masuk, “Kalo saya minta buatkan lima puluh ribu saja dulu, bisa, Bu? Mau coba dulu, nanti kalo cocok dan enak saya pesan lagi.” Aku menyanggupi, “Baik, mamanya Arum. Insyaallah hari ini saya buatkan, ya. Besok saya titipkan ke Jingga ketika pergi sekolah.” Setelah mendapat kesepekatan tersebut, aku iseng menawarkan juga ke beberapa teman lain, mungkin ada yang mau ikut pesan, jadi aku bisa produksi banyak. Alhamdulillah, terkumpul lima orang lainnya yang ikutan pesan, mulai dari dua puluh ribu, hingga lima puluh ribu, total uang yang aku dapatkan sekitar seratus lima puluh ribu rupiah. Aku bahagia banget, ini uang pertama yang aku hasilkan dari tanganku sendiri setelah menikah dan tidak diizinkan untuk bekerja oleh suamiku. Keesokan harinya, beberapa orang yang pesan rolade ayam mengambil pesanannya langsung ke rumah, sementara pesanan mama Arum dan mama Ardi aku titipkan ke Jingga, “Nak, nanti ini bungkusan merah dikasih ke mamanya Arum dan yang bungkusan putih kecil ini dikasih ke mamanya Ardi. Jangan lupa ambil uangnya, ya, ke mamanya Arum lima puluh ribu, kalo mamanya Ardi tiga puluh ribu. Ngerti, Nak?” Jingga yang sedang menyantap sarapannya mengangguk, suamiku yang keheranan bertanya, “Itu apa, Bu?” aku menjawab sekenanya, “Pesanan rolade ayam dari ibu teman-temannya Jingga di sekolah, lumayanlah buat nyicil bayar utang di Mpok Leha.” Setelahnya aku mengantarkan Jingga ke depan untuk kemudian dia berjalan sendirian ke sekolah, dan aku kembali ke dalam, menemui suamiku yang sedang menatapku lewat ekor matanya. “Nanti siangan dikit, setelah selesai masak aku mau keluar, mau masukin lamaran ke beberapa tempat.” Masih dalam diam, dia memperhatikanku yang sedang memegang sapu untuk membersihkan dapur, ruang makan, kamar kami, dan juga ruang tamu, “Bu, kamu udah yakin banget mau kerja? Nanti Jingga sama siapa kalo kamu kerja, dia masih butuh kamu di rumah.” Aku menghentikan kegiatanku, “Jingga pasti paham, dia harus menerima keadaan ini, aku harus kerja, kalo begini terus dengan ngandelin gajimu dari kantor yang tidak cukup, setiap gajian, aku harus memutar otak untuk menyulap uang yang tidak seberapa itu sampai nanti jumpa lagi dengan gajian bulan depan. Kamu capek tuh cuma ngadepin bos dan kerjaan, tidur juga capeknya ilang. Aku, kalo aku capek banget yang aku hadapi itu banyak, utang di warung Mpok Leha, tempat beras yang lebih sering kosongnya daripada berisi, minyak goreng yang semakin hari semakin mahal, terus menghadapi nyinyiran tetangga yang selalu komentar kalo aku hanya beli tempe tahu, belum lagi sayuran, lauk. Kamu perhatikan, gak, belakangan ini aku jarang masak ayam, hanya tempe, tahu, paling mewah telur dadar yang aku sajikan, ya, itu karena memang keadaan keuangan kita tidak memungkinkan lagi untuk sekedar makan ayam. Kamu tidak tau, kan betapa beratnya jadi aku.” Mas Subagja menunduk, entah apa yang sedang dipikirkannya, aku gak perduli, aku harus mengambil langkah, semoga memang ada rezekiku kerja di luar untuk cari uang, minimal untuk uang makan sehari-hari dan biaya sekolah Jingga, “Itu tas sama sepatu sekolah Jingga, udah dari kelas tiga dia gak ganti, hampir jebol sepatunya, tasnya juga sudah ada jahitan yang putus, karena setiap hari harus membawa buku yang banyak.” Tidak ada jawaban, suamiku hanya menatapku nanar, lalu menghembuskan napas panjang, “Maafkan aku, tidak bisa sempurna jadi suami dan bapak bagi Jingga. Bahkan untuk makan kalian saja aku masih belum bisa memberikan yang baik, bahkan sekedar beli sepatu sekolah dan tas untuk Jingga aja aku tidak mampu.” Dan dia bangkit, mengambil tas kerjanya, lalu berpamitan untuk berangkat kerja, “Aku berangkat kerja, ya. Kamu hati-hati, Bu. Awas Jingga ya, di rumah.” Aku mengangguk dan mencium tangannya dan mengangguk, melepasnya pergi untuk bekerja.