"Jason. Bagaimana tidak, Miranda selalu mengeluh. Permainan kamu terlalu gila, Jason! Ah!" Kayla seolah sudah hilang keseimbangan dalam melayani Jason.
Namun, ia akui jika dirinya sangat terpuaskan oleh permainan Jason. Sangat jauh berbeda dengan yang dimainkan oleh Bisma.
'Ditinggal buaya, dapat singa. Ternyata, Jason jauh lebih hebat dari Bisma. Jelas begitu, karena usianya pun jauh berbeda dengannya. Tak salah, aku menawarkan diri untuk menjadi pemuas nafsu Jason. Yang ternyata memiliki gairah mematikan yang harus dituntaskan.'
Kayla melumat bibir seksinya itu kemudian menatap Jason yang masih menghantamnya di belakang sana. "Sampai pagi, Honey?" godanya dengan suara seksinya.
Jason menjambak rambut panjang berwarna cokelat kehitaman milik Kayla. Kemudian melumat bibir seksi itu.
"Of course. Sampai malam lagi pun, tak masalah. Hanya saja, besok sore ada meeting di Hotel Livina. Selesai meeting, puaskan aku hotel itu," bisiknya dengan suara parau.
"Okay! Dengan senang hati!" Kayla tersenyum menyeringai.
'Oh, Miranda. Posisimu sebentar lagi akan tergeser. Jason tidak akan akan membutuhkanmu lagi. Selamat merana, Miranda.'
Tak sadar, perempuan itu tertawa setelah berucap dalam hatinya. Terlalu bahagia karena apa yang sedang dia rencanakan seolah berjalan dengan mulus.
Jason terpikat olehnya. Bahkan, ia menginginkan lagi dan lagi tubuh seksi yang begitu terjaga. Jangan lupakan gumpalan kenyal yang seolah menjadi candu Jason, mengalahkan segalanya.
Pria itu lupa daratan. Ia yang tak tahu sedang menjadi alat balas dendam Kayla malah jatuh cinta kepada sekretarisnya itu.
Membuat Kayla akhirnya berpikir bahwa cukup mudah untuk menghancurkan Miranda dan juga Bisma dalam sekejap.
Pergumulan untuk yang kesekian kalinya itu akhirnya selesai. Kini, Jason tengah memeluk tubuh mungil Kayla yang masih terjaga. Tengah menatap langit-langit kamar hotel itu kemudian menghela napasnya dengan panjang.
"What are you think?" tanya Jason sembari mengusapi pucuk kenyal milik Kayla.
Tubuh itu menggeliat pelan. "Bagaimana jadinya, kalau istrimu tau, apa yang kamu lakukan ketika dia pergi?" tanyanya pelan.
Jason mengendikan bahunya. "I don't know. Jangan tanyakan itu padaku. Karena aku tidak bisa menjawabnya. Karena kalau dia memintaku untuk melepaskanmu, rasanya tidak mungkin."
Kayla tersenyum tipis. Entahlah. Apa yang harus dia rasakan. Bahagiakah? Atau malah sebaliknya. Kemudian menghela napasnya dengan panjang.
"Aku rasa, dia tidak akan mau dipisah olehmu. Seperti yang kamu katakan tadi. Hanya akan memintamu untuk menjauhi ku."
Jason menganggukkan kepalanya. "Dan tidak akan aku lakukan. Aku seorang pria. Ada hasrat yang ingin aku tuntaskan. Dan hanya kamu yang bisa menuntaskannya."
Kayla kembali mengulas senyumnya. "Lalu, bagaimana kalau aku hamil? Aku tidak menjaganya. Kamu pun tidak mengenakan pengaman."
Jason menenggelamkan wajahnya di d**a perempuan itu kemudian menghela napas kasar.
"Itu lebih baik. Agar hanya aku yang bisa memilikimu. Jika harus hami, yaa hamil saja. Aku tidak akan lari dari tanggung jawab. Tenang saja," ucapnya santai.
Kayla kembali tersenyum tipis. 'Dan aku hanya memastikan saja. Mana mungkin, aku tidak mengenakan pengaman. Niatku hanya untuk balas dendam. Bukan untuk memberikan keturunan kepada Jason.
‘Walau dia mencintaiku, bukan berarti aku memberinya anak. Biar saja, dia dan Miranda berpisah terlebih dahulu. Setelah itu ....' Kayla menolehkan kepalanya kepada Jason yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Merasakan betapa hangatnya tubuh perempuan itu, sampai membuatnya terlelap dalam sekejap.
'Hhh! Kenapa pria ini malah mencintaiku? Bilangnya tidak pernah bermain di belakang Miranda. Tapi, hanya disuguhkan pemandangan seksi atas tubuhku ini, langsung terangsang dan menjadikanku pemuas nafsunya. Seperti ada yang dia sembunyikan dariku.'
Kayla mencurigai Jason tentang perasaannya, yang mengatakan cinta padanya. Sementara pria itu tak pernah sekali pun mengkhianati Miranda.
'Aku harus mencari tahu semuanya. Pasti ada yang Jason sembunyikan dariku. Terlihat dari raut wajahnya, jika dia menyimpan sesuatu dariku.'
Kayla terlalu banyak berpikir. Sampai lupa jika waktu terus berputar. Kini, sudah menunjuk angka empat pagi. Lantas perempuan itu memilih untuk menutup matanya karena besok pagi, harus bangun kembali dan menyiapkan berkas-berkas untuk dibawa ke Hotel Livina.
**
Waktu sudah menunjukkan angka tujuh pagi. Kayla dan juga Jason check out dari kamar tersebut setelah hampir dua belas jam lamanya berada di hotel itu. Lantaran adanya meeting yang harus mereka hadiri di jam sepuluh pagi, di kantornya.
"Tidak perlu pergi ke rumah dulu. Aku sudah membelikan baju untuk kamu kenakan ke kantor. Juga sepatu, tas baru dan skincare yang kamu kenakan," kata Jason sembari memberikan paper bag kepada Kayla.
Perempuan itu mengambil paper bag tersebut, kemudian matanya menatap Jason. "Kapan belinya?" tanyanya bingung.
"Kemarin. Saat kamu ke kamar mandi untuk ganti pakaian seksi yang sudah aku robek-robek, kurir datang membawa pesanan yang aku pesan lewat online."
Kayla lantas terkekeh. "Okee!! And thank you," ucapnya kemudian menerbitkan senyumnya.
Lantas dengan senang hati, perempuan itu mengenakan pakaian yang dibelikan oleh Jason.
Sudah selesai mengenakan pakaian rapi, keduanya langsung pergi dari hotel tersebut. Pergi menuju restoran yang ada di hotel tersebut untuk mengisi perutnya terlebih dahulu.
"Tubuhmu, tidak terasa pegal? Kalau terasa remuk atau tidak enak badan, kita pergi ke spa. Tapi, setelah selesai meeting," kata Jason menawarkan merelaksasikan tubuh Kayla yang menurutnya pasti remuk redam akibat pergulatan selama hampir tujuh jam lamanya itu.
"Nanti saja. Aku bisa pergi sendiri. Lagi pula, setelah minum suplemen vitamin juga sudah enakan. Tidak perlu berlebihan, Pak Jason."
Pria itu berdecak kesal. "Honey! Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Ini bukan di kantor. Kamu sudah menjadi milikku. Turuti semua yang aku perintahkan. Okay?"
Kayla terkekeh melihat raut wajah Jason yang tengah kesal padanya. "Baby besar, jangan marah-marah. Nanti keriputnya kelihatan."
"Hais!! Aku masih muda, Honey. Baru kepala tiga."
"Lima tahun lagi kepala empat."
Jason geleng-geleng kepala kemudian menyesap kopi yang lebih dulu tiba di sana. "Jangan tinggalkan aku, Kayla," ucapnya tak terduga.
Kayla tersenyum sembari mengibaskan rambutnya dengan pelan. "Never!"
Jason lantas menerbitkan senyumnya dengan lebar. Terlihat jika pria itu begitu senang karena Kayla berjanji tidak akan meninggalkannya.
"Jika Miranda memilih untuk kamu lepaskan, apakah kamu akan menuruti permintaannya?" tanya Kayla memancing kembali perasaan Jason.
Pria itu mengendikan bahunya. "Rasanya tidak mungkin jika dia mau aku lepaskan. Kecuali aku yang melepasnya."
Kayla tersenyum miring. "Dia bisa mencintai kamu dengan tulus, bahkan tidak mau kehilangan kamu. Tapi, yang dilakukan suaminya malah selingkuh di belakangnya. Kamu tidak merasa bersalah, Jason?" Kayla seolah tengah menyadarkan Jason tentang kelakuannya.