Minuman laknat

1074 Words
Inggar menatap lekat pria yang kini hanya termangu setelah mendengar peraturannya. Ada rasa kesal, saat kata-kata panjang yang ia ucapkan. Seolah tidak direspon sama sekali oleh lawan bicaranya. "Kenapa diam? Kamu mengerti yang aku katakan tadi, kan?" tanya Inggar, mendengus kesal. "Hem, aku mengerti. Lalu?" Pria itu balik bertanya, dengan menampilkan senyuman aneh di wajahnya. "Lalu apa? Katamu mengerti, kenapa malah bertanya lagi? Ikuti saja mauku!" ketus Inggar. Pria itu mengangguk-anggukan kepalanya. Menatap dalam Inggar yang kini sudah membuang pandangannya ke arah lain. 'Siapa sebenarnya wanita ini? Datang-datang langsung meminta aku mengikuti kemauannya. Siapa yang sedang kencan buta? Aku sedang menunggu klienku, tapi malah dia yang datang tanpa rasa dosa dan bersalah,' batik pria itu. "Kalau tidak ada lagi yang mau dibicarakan atau ditanyakan. Aku pulang dulu!" Inggar beranjak dari duduknya, berdiri menatap tajam pria yang menatapnya aneh sedari tadi. "Tunggu dulu! Siapa nama kamu?" tanya pria itu penasaran. "Kamu bertanya namaku? Apa orang tuamu tidak memberitahu, siapa nama gadis yang akan berkencan buta denganmu malam ini? Baiklah, aku perkenalkan diriku lagi. Namaku Inggar Saputri. Sekarang kamu sudah tau, kan? Aku pergi dulu!" ujar Inggar, meraih tas kecil miliknya di atas meja. "Aku mau mengikuti aturanmu, asalkan kamu mau mengikuti aturan yang aku buat juga. Simpel dan adil bukan?" Kata-kata yang diucapkan pria itu, mampu menahan langkah kaki Inggar. Dengan raut wajah bingung, Inggar berbalik menatap sang pria yang kini tengah duduk santai dengan kaki menyilang. "Aturanmu? Kenapa aku harus mengikutinya? Aku tidak mau!" tolak Inggar cepat. Pria itu beranjak dari duduknya, berjalan menghampiri Inggar. "Kalau kamu tidak mau. Aku bisa saja memaksa kedua orang tua kamu untuk segera menikahkan kita, malam ini juga!" bisik pria itu, tersenyum nakal. Bulu-bulu halus di tubuh Inggar mulai berdiri. Deru nafas pria yang kini hanya berjarak beberapa centi saja dari tempatnya, benar-benar membuat jantung Inggar berdetak tak karuan. "Ma-malam ini juga?" gumam Inggar, saat tersadar langsung mendorong pria itu menjauh. "Kenapa? Keberatan? Di sini bukan hanya kamu saja yang punya aturan. Aku juga punya aturannya. Temani aku malam ini di kamar hotel, maka aku akan menuruti semua yang kamu katakan tadi!" ujar pria itu, mengusap pelan pipi kanan Inggar. Wajah Inggar memerah menahan malu sekaligus emosi. "Singkirkan tangan kamu dari wajahku! Aku bukan w************n yang mau menghabiskan malam dengan pria seperti kamu! Jangan coba-coba berpikir bisa melakukan itu denganku!" "Kalau kamu menolak, aku juga tidak masalah. Silakan saja kalau mau pergi sekarang! Tapi lihat saja setelah ini! Kita akan menikah dalam waktu yang cepat," Pria itu kembali berbisik di telinga Inggar, bahkan kini jaraknya begitu dekat. "Menjauh kataku! Baiklah, aku mau menemani kamu di kamar hotel malam ini. Hanya sebatas menemani, tidak untuk melakukan hal yang aneh-aneh atau di luar batasan!" ujar Inggar, dengan berat hati menyetujui syarat pria itu. "Nice... Aku juga tidak mengatakan melakukan hal-hal di luar batasan. Pikiran kamu saja yang terlalu jauh. Kalau begitu, kita pergi sekarang ke hotel Deluxe!" ajak pria yang masih belum mengenalkan siapa dirinya pada Inggar. --- Di kamar hotel berukuran besar kini Inggar dan pria misterius itu berada. Tak ada yang Inggar lakukan, selain mengotak-atik layar ponselnya membuka pesan masuk dari teman-temannya atau sekedar melihat berita terkini di sosial media. Sedangkan pria itu berada di balkon kamar hotel, menyesap sebatang rokok dan menikmati setiap asap yang ia hembuskan lalu hilang terbawa angin malam. "Siapa sebenarnya wanita itu? Aku rasa dia sudah salah orang. Pria yang dimaksud kedua orang tuanya pasti sedang menunggu kedatangannya. Meeting penting malam ini juga harus gagal, dan aku malah berakhir di kamar hotel dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya," gumam pria itu pelan, menatap langit malam yang bertabur bintang. Tanpa sepengetahuan pria itu. Inggar yang sedari tadi hanya memainkan ponselnya merasa haus. Malas bertanya di mana letak air minum. Inggar berjalan sendiri menuju lemari pendingin di sudut kamar hotel. "Sepertinya ini es teh. Lebih baik aku minum ini saja. Bukannya menyuguhkan minuman untuk tamu, dia malah asyik menghabiskan sebatang rokok di sana," gerutu Inggar, dengan cepat mengambil segelas air berwarna coklat sedikit tua. Beberapa kali tegukan, air dalam gelas habis tak bersisa. Rasa dahaga yang tadi sempat Inggar rasakan, sekarang hilang sudah berganti dengan rasa segar di tenggorokannya. "Hei, apa ini sudah cukup? Kalau sudah, aku mau pulang sekarang," ujar Inggar, berjalan mendekati pintu balkon. Pria itu menoleh, dan mematikan rokok miliknya saat Inggar mendekat. "Pulanglah!" sahut pria itu, berniat mengatakan yang sebenarnya pada Inggar, kalau dia bukan pria yang sebenarnya Inggar ingin temui. Namun, belum sempat pria itu mengatakan semuanya. Inggar mulai merasa gelisah sendiri. Beberapa kali Inggar menyingkap dressnya, merasa panas di sekujur tubuhnya. Kerongkongannya bahkan terasa tercekat saat ini. "Kamu kenapa? Turunkan pakaianmu! Atau aku bisa berbuat lebih nanti!" ancam pria itu merasa aneh. Bukannya menuruti, Inggar yang merasa ada sesuatu yang bergejolak di dalam tubuhnya berjalan mendekat menempel pada tubuh sang pria. "Panas... Aku kepanasan," ujar Inggar, terdengar suara lenguhan kecil saat mengatakan itu. "Kamu ini kenapa? Apa kamu sengaja ingin menggodaku? Cepat menjauh, sebelum aku benar-benar melakukan hal yang di luar batas!" Pria itu mendorong tubuh Inggar menjauh. Tubuh Inggar langsung sempoyongan. Bahkan kini bukan hanya tubuhnya saja merasa panas. Kepalanya juga mulai merasakan pusing. Melihat itu, pria yang sedari tadi berada di balkon kamar hotel merasa curiga. "Bukannya tadi kamu baik-baik saja? Kenapa sekarang mendadak seperti ini? Kamu sengaja menggodaku atau apa? Jawab aku! Siapa yang menyuruh kamu?" tanya pria itu, menggoyangkan pundak Inggar sedikit keras. Inggar hanya menggeleng. Tatapan matanya tak beralih saat melihat bibir pria di depannya. Hampir saja Inggar melumat bibir itu, jika saja sang pria tidak sigap menghindar. Tatapan mata pria itu tidak sengaja melihat ke arah gelas kaca yang sudah kosong di atas lemari pendingin. "Gelas apa itu? Kamu meminum air itu?" tanya sang pria, memegang kedua pipi Inggar. Inggar mengangguk pelan. Pakaiannya kini sudah mulai terlihat berantakan karena menahan rasa panas dan gejolak aneh dalam tubuhnya. "Celaka! Siapa yang sudah meletakkan minuman laknat ini di kamar hotelku? Keterlaluan! Wanita ini meneguk semuanya sampai habis tak bersisa. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin membiarkan dia pulang dalam kondisi di bawah pengaruh obat rangsangan itu. Bisa-bisa pria jahat di luar sana memanfaatkan kesempatan ini. Dari pada orang lain yang mendapatkannya, lebih baik aku yang menikmatinya," ujar pria itu, sedetik kemudian seringai licik terbit di wajah tampannya. "Kamu yang sudah datang sendiri. Kamu yang salah mengenali orang, bukan salahku. Aku hanya menunggu klienku datang, tapi kamu malah mengacaukan semuanya," gumam pria itu, gegas menarik tubuh ramping Inggar ke arah tempat tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD