Pergulatan panas

1022 Words
Pertempuran panas tak terelakkan lagi. Inggar yang kini sudah tidak bisa mengendalikan dirinya terus menyerang pria di depannya. Sebagai pria normal dan menyukai seks, pria itu hanya bisa pasrah, setelah beberapa kali menghindar dan mencoba menyadarkan Inggar. Ranjang yang tadinya rapi, kini berantakan. Pakaian keduanya tampak berhamburan ke sembarang arah. Pergulatan masih terus berlanjut, desahan panas membuat gairah pria itu semakin bergejolak. Hampir satu jam berlalu, Inggar akhirnya tertidur dengan tubuh polos sambil mendekap tubuh pria di sampingnya. Waktu sudah menunjukan pukul dini hari. Dirasa wanita di sampingnya sudah tertidur pulas. Sang pria perlahan beranjak dari tempat tidurnya, tangannya terangkat mengambil ponsel yang tergeletak begitu saja di atas meja dan membawanya ke balkon kamar. Jari-jari pria itu bergerak lincah mencari nomor kontak seseorang. Setelah mendapatkannya, dengan cepat disentuhnya tombol berwarna hijau. "Hem, ada apa Ken? Kenapa menghubungiku dini hari seperti ini?" tanya seseorang di ujung telepon. "Bram, jelaskan padaku sekarang! Siapa yang sudah meletakkan minuman laknat di lemari pendingin kamar hotelku?" tanya pria bernama Kenzo itu geram. Lawan bicara yang sedari tadi masih mengantuk, seketika saja duduk dari tempat tidurnya. Matanya terbuka lebar mendengar pertanyaan Kenzo. "Minuman laknat apa maksudmu? Di dalam lemari pendingin itu hanya ada es teh," sahut Bram terkejut. "Teh apa? Jelas-jelas itu minuman yang sudah dicampurkan obat laknat. Kamu jangan macam-macam denganku Bram! Aku bisa saja mematahkan lehermu sekarang juga," ancam Kenzo, wajahnya memerah saat teringat, bagaimana ganasnya wanita yang tadi bergulat dengannya. "Jangan Ken! Kalau kamu patahkan leherku, bisa mati aku. Kalau aku mati, siapa yang akan mengurus semua pekerjaanmu? Aku benar-benar tidak tahu menahu perihal obat itu. Aku hanya meletakkan es teh, karena perintah orang tuamu," jelas Bram, suaranya terdengar takut seraya meraba lehernya yang terasa nyeri. "Orang tuaku?" gumam Kenzo, memijat keningnya pelan. "Jadi maksud kamu, mereka yang sudah melakukannya? " tanya Kenzo meyakinkan. "Aku tidak mengatakan orang tuamu yang bersalah. Tapi, es teh itu tante Amora yang memberikannya," sahut Bram dengan jujurnya. "Keterlaluan! Memangnya mereka pikir aku apa? Apa mereka begitu menginginkan menantu dan cucu? Sampai-sampai bertindak sejauh ini. Untung saja bukan aku yang meminumnya," geram Kenzo, ekor matanya melirik ke arah tempat tidur. "Huh, syukurlah kalau bukan kamu yang meminumnya. Aku kira sudah kamu minum habis, sampai kamu marah-marah tengah malam begini. Buat orang senam jantung saja!" gerutu Bram, merasa lega. "Aku memang tidak meminumnya. Tapi seorang gadis yang sudah meminum habis minuman laknat itu. Sekarang aku malah berakhir bergulat panas dengannya di kamar hotel. Semua ini gara-gara kamu!" omel Kenzo, melimpahkan semua kesalahan pada sang asisten pribadinya. "Hah? Ada gadis di kamar hotel kamu? Yang benar saja kamu Ken? Kamu benar-benar kikuk-kikuk dengan gadis itu? Aku kira kamu tidak punya nafsu dengan wanita," Suara Bram terdengar heboh mendengar cerita Kenzo. "Jaga mulut kamu itu Bram! Aku potong lidah kamu, baru tau rasa kamu. Kamu pikir aku tidak normal? Kamu pikir aku penyuka sesama jenis? Sekali lagi kamu mengatakan itu, habis kamu di tanganku Bram!" ancam Kenzo, dengan cepat memutus panggilan teleponnya. --- Pagi menyingsing, Inggar yang begitu nyenyak tidur semalaman, terbangun kala bias sang mentari menerobos masuk disela-sela gorden jendela. Kedua tangannya direntangkan ke udara, tanpa sadar bagaimana penampilannya sekarang ini. Disaat yang bersamaan, Kenzo yang baru saja selesai mandi, terpaku menatap pemandangan indah di pagi hari. Gaya Inggar yang begitu menantang dengan tubuh molek dan ramping tanpa tertutup sehelai benang pun. Membuat sesuatu di bagian bawah Kenzo berontak. "Kamu? Kenapa kamu ada di sini?" teriak Inggar, terkejut melihat kehadiran pria asing. "Nanti saja bertanya masalah itu! Lebih baik kamu tutupi saja dulu tubuh polos kamu itu! Berpose menantang seperti itu, membuatku ingin menerkam kamu lagi," ujar Kenzo, dengan santai berjalan menuju lemari hotel kamarnya. Inggar melongo mendengar kata-kata pria asing di depannya. Pandangan matanya seketika saja menunduk melihat ke arah tubuhnya. "Aaaa.... Apa yang sudah kamu lakukan, hah? Kenapa tubuhku merah-merah begini? Di mana pakaianku?" teriak Inggar, menarik selimut tebal dan dengan cepat menutup seluruh tubuhnya. "Harusnya aku yang menanyakan itu. Apa yang kamu lakukan tadi malam? Kamu sengaja menjebak aku dengan alasan kencan buta?" tanya Kenzo, kini sudah terlihat rapi dengan celana pendek selutut dan baju kaos berwarna merah. Inggar menggeleng cepat membantah tuduhan pria di depannya. "Sebelum kamu menyalahkan orang lain. Lebih baik kamu ingat-ingat dulu, bagaimana ganasnya kamu tadi malam? Sampai-sampai, wanita muda seperti kamu begitu berpengalaman memimpin jalan pertarungan," Kenzo tersenyum sinis mengucapkan itu. Mata Inggar memerah menahan marah sekaligus malu. Semua kata-kata yang diucapkan Kenzo, tak ada satupun yang ia percaya. Namun, itu tak berlangsung lama. Setelah semua nyawa Inggar terkumpul setelah bangun tidur. Bayang-bayang kelakuannya mulai teringat jelas. "Air itu... Kamu pasti sengaja melakukan itu kan? Awalnya aku baik-baik saja. Tapi, setelah aku meminum air itu, tubuhku langsung panas. Kamu pasti sudah menjebak aku," tuduh Inggar, kini perlahan turun dari tempat tidur dengan seluruh tubuhnya masih diselimuti selimut tebal. Tak memerlukan waktu lama untuk Inggar mengenakan kembali pakaiannya. Bercak darah di alas tempat tidur berwarna putih, sudah jelas untuk Inggar mengetahui semua yang terjadi. Terlebih di bagian sensitifnya kini mulai terasa nyeri saat berjalan. "Kamu melanggar perjanjian tadi malam. Apa kedua orang tuaku yang memintamu melakukan ini? Aku tidak akan sudi melanjutkan perjodohan ini. Aku tidak sudi menikah dengan pria yang sudah merusak hidupku," Suara Inggar terdengar lantang saat mengatakan itu. Wajahnya memerah menahan amarah. Bukannya marah, Kenzo justru tersenyum sinis. "Cukup bicaramu! Dari tadi aku diam saja. Tapi sekarang tidak lagi! Sebelum kamu menuduhku sejauh ini. Lebih baik kamu melihat rekaman cctv di kamar ini! Lihat dan nilai sendiri, siapa yang jadi tersangka, dan siapa yang jadi korbannya?" tantang Kenzo. Inggar membuang wajahnya kesal. Siapapun yang bersalah di antara mereka berdua. Tetap saja kesalahan sudah terjadi tadi malam. Tanpa bicara satu patah katapun, Inggar meletakkan kartu namanya dan pergi dari kamar hotel Kenzo. "Jika ada apa-apa denganmu, datang saja ke hotel ini! Siapa tau setelah ini, akan tumbuh benih pergulatan kita tadi malam di perut kamu," teriak Kenzo, tertawa puas melihat kepergian Inggar yang begitu tergesa-gesa. Kartu nama yang Inggar tinggalkan, dengan cepat diambil Kenzo. Cukup lama Kenzo mengamati kartu nama itu, sebelum akhirnya senyum aneh terbit di wajahnya. "Inggar Saputri? Kau membuatku penasaran," gumam Kenzo, menyesap aroma kartu nama Inggar sambil terus tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD