Kencan diulang lagi?

1068 Words
Inggar berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Pikirannya benar-benar kacau. Ia bahkan tak lagi memikirkan alasan apa yang akan ia katakan, jika nanti kedua orang tuanya bertanya, ke mana ia tadi malam. "Nggar, kamu baru pulang? Dari mana saja kamu?" tanya pak Gugun, menghentikan langkah Inggar. Bingung harus menjawab apa, Inggar hanya menggerak-gerakan jarinya sambil menunduk. "Nggar, kamu kenapa? Ayah kamu sedang tanya itu, kenapa tidak dijawab?" tanya bu Dewi, mendekati Inggar yang masih termangu. "Inggar dari rumah Sisil," jawab Inggar, tak ada pilihan lain selain berbohong saat ini. "Apa kamu yakin? Kamu tidak sedang berbohong kan?" tanya pak Gugun, menatap lekat putri semata wayangnya. "Kenapa ayah bertanya seperti itu? Apa pria itu sudah menceritakan semuanya? Kalau iya, harusnya ayah sudah marah saat ini. Tapi, ayah terlihat tenang-tenang saja," batin Inggar, mengamati ekspresi wajah sang ayah. "Sudahlah! Sini sarapan dulu! Sekalian kamu ceritakan, bagaimana kencan kamu tadi malam!" titah pak Gugun, memilih mengubah topik pembicaraan mereka. Inggar menghela nafas lega. Ingin ia menolak ajakan sang ayah, namun Inggar takut orang tuanya akan curiga. Dengan sangat terpaksa Inggar ikut bergabung dan duduk di kursi makan. "Apa pria yang Ayah dan ibumu pilihkan cocok, Nggar?" tanya Pak Gugun, terlihat antusias. "Hem, biasa saja," jawab Inggar dengan malasnya. "Masa sih Nggar biasa saja? Dia itu dokter loh, Nggar. Kalau kamu jadi menikah dengan dia, dia pasti menjaga kamu dengan baik. Kesehatan orang lain saja dia jaga, apalagi kesehatan kamu," goda bu Dewi, tersenyum aneh di mata Inggar. "Apa sih Bu? Tugas dokter kan memang seperti itu. Tanpa dia menjaga kesehatan Inggar, Inggar juga bisa menjaganya sendiri," sungut Inggar, mulai bosan. "Kamu ini Nggar, kalau orang tua bicara, bukannya diam dan dengar. Ini malah menjawab terus. Tapi dia tampan kan? Ya, walaupun dia memakai kacamata, tapi ketampanannya tetap saja terpancar," puji pak Gugun, pada calon menantunya. Inggar menoleh ke arah sang ayah. "Dia tidak berkacamata," gumam Inggar. "Tidak berkacamata, bagaimana maksud kamu Nggar? Jelas-jelas Fredi itu memakai kacamata. Ayah dan ibu sudah dua kali bertemu dengan dia. Kamu tidak salah orang kan, Nggar?" tanya pak Gugun, kini mulai membenarkan posisi duduknya. "Tidak, semuanya sesuai arahan Ayah," jawab Inggar cepat. "Meja nomor dua, kan?" tanya bu Dewi, kini ikut memastikan. "Iya, meja nomor dua. Ayah sama ibu kenapa sih? Inggar sudah bertemu tadi malam," terang Inggar kesal. "Kami cuma mau memastikan, kalau kamu tidak salah bertemu orang. Masalahnya, Fredi itu memakai kacamata. Kalau kamu bilang tidak memakai, bisa jadi kamu salah orang," jelas pak Gugun serius. "Aduh Yah, kalaupun salah orang juga. Dia pasti lebih dulu bilang waktu ketemu tadi malam. Tapi dia diam saja, berarti sudah jelas kan itu orangnya? Meja nomor dua di restauran Bintan, kan?" tanya Inggar. "Apa? Bintan kamu bilang? Bukan itu Nggar, bukan Bintan, tapi Sabintang, Inggar," sentak pak Gugun, menepuk keningnya. Inggar tergugu mendengar restauran yang seharusnya ia datangi, ternyata salah. "Kalau bukan dia orangnya, berarti aku sudah salah orang. Dan tadi malam? Ah, sial!" umpat Inggar dalam hati. "Aduh, kenapa bisa salah begini sih Nggar? Jadi bagaimana ini Yah? Siapa pria yang kamu temui itu, Nggar?" tanya bu Dewi panik. "Jawab Nggar? Siapa pria yang kamu temui? Bukannya tadi malam, Ayah sudah jelas sekali memberitahu kamu? Kenapa kamu bisa salah? Itu akibatnya kamu tidak ikhlas mendengar orang tua. Nanti malam kamu bertemu lagi dengan Fredi, lupakan saja kejadian tadi malam," omel pak Gugun kesal. --- Inggar duduk di atas tempat tidurnya. Hampir setengah hari ini ia hanya mengurung diri di dalam kamar. Selain pikirannya kacau, area sensitifnya juga masih terasa nyeri jika berjalan. "Apa yang harus aku lakukan? Pria itu bukan orang yang ayah dan ibu maksud. Sedangkan aku? Aku sudah melakukan hal di luar batas. Bagaimana kalau aku hamil?" Air mata Inggar tanpa sadar menetes begitu saja. Ia tak punya pilihan lain, selain menemui kembali pria yang sudah merenggut mahkota penting di hidupnya. "Pria itu bilang, aku harus menemuinya di hotel itu lagi. Tapi, di kamar nomor berapa?" Inggar menepuk keningnya pelan. Terlalu tergesa-gesa keluar dari kamar hotel, ia sampai lupa memperhatikan nomor kamar yang tadi malam ia masuki. Tengah sibuk memikirkan nomor kamar hotel, suara sang ibu terdengar nyaring diiringi ketukan pintu kamar. "Nggar, kamu sudah siap?" tanya bu Dewi, berdiri tepat di depan kamar Inggar. "Apa lagi ini? Ayah dan ibu selalu saja mengemukakan keinginan mereka, tanpa mau mendengar penolakan. Aku tidak mungkin menemui pria bernama Fredi itu. Apalagi setelah kejadian tadi malam," gumam Inggar, namun tetap melangkah menuju pintu kamarnya. "Ya ampun Nggar! Dari tadi kamu ngapain aja? Ibu kira kamu sudah siap," omel bu Dewi, saat pintu kamar terbuka lebar. "Bu, Inggar tidak mau pergi. Tadi malam sudah cukup, sekarang tidak lagi!" tolak Inggar, melangkah gontai kembali ke tempat tidurnya. Bu Dewi memperhatikan cara berjalan Inggar yang berbeda dari biasanya. "Kamu kenapa Nggar? Kenapa cara berjalan kamu seperti itu?" "Ah, tidak kenapa-napa kok Bu. Tadi malam kaki Inggar cuma terkilir. Makanya jalannya begini, sakit kakinya," ujar Inggar beralasan, kemudian tersenyum masam. "Bagaimana ceritanya bisa terkilir sih? Sini kakinya Ibu lihat sebentar!" Bu Dewi berjalan mendekati Inggar. "Eh, tidak usah Bu! Ini cuma terkilir biasa aja kok Bu. Tadi malam sudah Inggar kasih salep di rumah Sisil," Inggar menyembunyikan kakinya cepat. "Iya, Ibu cuma mau lihat saja. Sini kaki kamu! Siapa tau Ibu bisa obati biar cepat sembuh," ujar bu Dewi, menarik pelan kaki sang putri. "Aduh Bu, tidak usah! Inggar sudah tidak apa-apa lagi. Lebih baik Ibu keluar, Inggar mau siap-siap dulu!" Inggar terus berusaha meyakinkan ibunya. Ia takut, kalau sampai ibunya tau yang sebenarnya, bisa gawat. Sedang bu Dewi menatap lekat Inggar. "Kamu yakin bisa jalan Nggar? Kalau susah, nanti saja kencannya. Nanti Ibu bilang sama ayah kamu, kamu istirahat saja. Sekalian nanti Ibu panggil tukang pijat," Kali ini bu Dewi tampak begitu khawatir. "Eh, jangan panggil tukang pijat Bu! Inggar benar-benar tidak kenapa-napa. Terkilir seperti ini sudah biasa Bu, untuk apa manggil tukang pijat? Nanti juga sembuh sendiri. Lebih baik Ibu tunggu di luar, Inggar mau siap-siap ini. Kan malu kalau Ibu masih di sini, lihat Inggar ganti pakaian," bujuk Inggar, beranjak dari tempatnya mendorong pelan tubuh sang ibu. "Alah Nggar! Kamu pakai acara malu segala sama Ibu. Dulu waktu kamu kecil juga Ibu yang gantikan pakaian kamu, Ibu sudah lihat semuanya sedari kamu baru lahir," ujar bu Dewi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Inggar tersipu malu mendengar kata-kata sang ibu. Dengan menahan rasa sakit di area kewanitaannya, Inggar berjalan sebiasa mungkin guna meyakinkan sang ibu, kalau dirinya baik-baik saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD