Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, mobil Inggar melaju membela gemerlapnya lampu jalanan. Bertepatan dengan malam minggu, malam sejuta para muda mudi, membuat laju mobil Inggar sedikit melambat karena macet.
"Itu dia tempatnya," gumam Inggar, tanpa mau buang-buang waktu lagi, langsung memutar haluan mobilnya memasuki area yang ia tuju.
Bukannya menemui pria yang dimaksud kedua orang tuanya, Inggar malah ke hotel tempatnya dan pria asing menghabiskan malam panjang.
Mobil terparkir begitu saja, sedang Inggar berjalan sedikit tergesa-gesa memasuki pintu masuk hotel dengan menenteng tas kecil mahal miliknya.
"Kamar nomor berapa? Aduh, bagaimana ini? Masa iya aku harus menunggu di lobby sampai pria itu lewat?" batin Inggar, memperhatikan orang-orang sekitarnya.
Merasa tak ada satupun yang ia kenal, Inggar memutuskan menunggu di sebuah cafe yang tak jauh dari pintu masuk hotel. Berjam-jam Inggar menunggu kedatangan pria asing menurutnya, akhirnya yang ditunggu muncul juga.
"Ah, pucuk dicinta ulam pun tiba. Itu dia, pria asing yang sudah berani-beraninya mempermainkan aku. Lihat saja kamu!" gerutu Inggar, beranjak dari tempatnya melangkah menghampiri Kenzo yang berdiri tidak jauh dari tempat Inggar.
Saat jarak semakin mendekat, langkah kaki Inggar tiba-tiba saja terhenti. Netranya menatap tajam ke arah pria yang sudah menidurinya malam kemarin. Tak hanya Inggar yang menatap, Kenzo yang tak sengaja melihat keberadaan Inggar juga terkejut menatap Inggar lekat.
"Huh, dasar buaya darat cap tokek gadungan! Setelah menghabiskan satu malam bersamaku. Sekarang dia malah asyik berkencan dengan wanita lain. Sedangkan aku dengan bodohnya, harus menunggu berjam-jam hanya untuk menunggu pria buaya seperti dia," umpat Inggar, tak bicara satu patah katapun, Inggar gegas menjauh.
Kenzo masih terpaku di tempatnya menatap Inggar yang semakin menjauh. Ia begitu terkejut melihat kehadiran Inggar. Wanita satu malam yang sudah berhasil membuat hatinya bergetar, dan kehilangan keperjakaannya.
"Ken, kamu kenapa? Tegang sekali!" tegur wanita seksi di sampingnya.
"Apa? Wanita itu!" Tunjuk Kenzo ke arah Inggar yang kini sudah hampir hilang dari pandangannya.
"Wanita siapa sih? Di sini banyak sekali wanita, wanita mana yang kamu maksud?" tanya wanita di samping Kenzo.
Kenzo tak mempedulikan pertanyaan wanita seksi di sampingnya. Tak mau kehilangan jejak, dengan cepat Kenzo berlari mengejar Inggar yang hampir saja masuk ke dalam mobilnya.
"Tunggu sebentar!" Tahan Kenzo, tanpa sadar menarik pergelangan tangan Inggar.
Inggar berbalik menatap tajam pergelangan tangannya. Sadar dengan tatapan Inggar, Kenzo mengulas senyum aneh di wajahnya. Bukannya melepaskan genggaman tangannya. Kenzo malah menariknya, mau tak mau tubuh Inggar mendekat ke arahnya.
"Lepaskan! Dasar buaya cap kadal!" umpat Inggar, menarik pergelangan tangannya.
"Diamlah!" titah Kenzo, mendekatkan wajahnya ke arah wajah Inggar.
Wajah putih Inggar berubah merah seketika. Antara menahan emosi dan juga malu.
"Kenapa kamu kembali? Apa di dalam sana, sudah tumbuh benih milikku?" bisik Kenzo, jarak keduanya begitu dekat.
Mendengar kata-kata Kenzo, Inggar dengan cepat mendorong tubuh Kenzo menjauh. Kali ini wajahnya semakin memerah karena marah.
"Jaga bicara kamu! Siapa yang sudi menampung benih milik buaya cap kadal sepertimu?" sentak Inggar, menatap nyalang.
Bukannya marah karena dicap sebagai buaya, Kenzo malah tertawa keras di depan Inggar. "Buaya kamu bilang? Buaya tidak berada di hotel, tapi di air,"
Bibir Inggar mengerucut, lalu mendengus kesal. "Itu buaya air, sedangkan kamu buaya darat!"
---
Inggar melangkah cepat mengimbangi langkah pria asing di depannya. Ia terpaksa mengikuti Kenzo, karena terus-terusan didesak. Sesampainya Inggar di depan kamar hotel, ia memilih berhenti guna melihat nomor kamar yang akan ia masuki.
"Oh, nomor 212... Seperti nomor seri Wiro Sableng aja," batin Inggar, tanpa sadar tersenyum saat teringat film kesukaannya waktu kecil.
Kenzo menautkan kedua alisnya menatap Inggar. "Apa wanita ini sudah tidak waras setelah malam itu? Melihat nomor kamar saja sampai tersenyum seperti itu. Dasar aneh!" batin Kenzo, lalu membuka pintu kamar hotelnya.
"Mau masuk, atau terus berdiri seperti patung di situ?" tanya Kenzo, membuyarkan lamunan Inggar.
Wajah Inggar berubah cemberut, kemudian berlalu begitu saja melewati Kenzo masuk ke dalam kamar hotel. Tanpa sungkan, Inggar langsung melemparkan bokongnya kasar ke atas tempat tidur menunggu Kenzo.
"Wah... wah... Sepertinya kamu sudah sangat siap kali ini. Apa kejadian malam kemarin, membuat kamu ketagihan?" goda Kenzo, mengerlingkan matanya genit.
Tangan Inggar terkepal sempurna mendapat perlakuan seperti itu. Untung saja ia masih bisa menahan diri untuk tidak menampar mulut Kenzo.
"Sudahlah! Jangan banyak bicara lagi! Kedatanganku ke sini hanya ingin bertanya. Apa maksud kamu melakukan semua ini?" tanya Inggar, memulai pembahasannya.
"Melakukan apa? Aku tidak melakukan apapun. Lihat saja sendiri, bahkan aku masih berdiri di tempatku, belum memulai apapun," sahut Kenzo, pura-pura tidak mengerti.
Merasa kesal karena pria di depannya selalu berkelit dan membahas hal yang lain. Inggar sontak saja berdiri dan menatap tajam Kenzo.
"Jangan berbelit-belit! Aku sedang bicara serius. Kamu tau dari awal kan, kalau kamu bukan pria yang aku maksud malam itu?" sentak Inggar, maju satu langkah seraya bertolak pinggang.
Kening Kenzo berkerut, terlihat seperti sedang berpikir. Lalu, menatap Inggar datar. "Lalu?" tanya Kenzo.
"Kenapa kamu balik bertanya? Jawab saja, iya atau tidak!" Inggar mulai terlihat emosi.
"Kalau kamu sudah tau jawabannya, kenapa masih bertanya? Apa kedatangan kamu ke sini, cuma mau menanyakan ini saja?" tanya Kenzo, melangkah menuju jendela kamar dan berhenti membelakangi Inggar.
Wajah Inggar memerah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Kenzo, kalimat yang Inggar anggap sebagai pengakuan. Tanpa basa basi, Inggar menghampiri Kenzo.
Kemeja bagian belakang Kenzo ditarik paksa, agar sang pemiliknya berbalik. "Apa-apaan kamu? Anarkis sekali!" omel Kenzo, mengibas tangan Inggar yang masih menempel di kemejanya.
"Kalau kamu tau, bukan kamu orang yang aku maksud. Kenapa kamu tidak mengatakannya? Kenapa hanya diam? Kamu dengan entengnya malah memberiku syarat untuk kencan gila malam itu,"
Kali ini emosi Inggar benar-benar tidak terkendali. Ia merasa tertipu saat itu, yang membuat ia harus merasakan kehilangan mahkota berharganya di tangan pria asing. Tangan Inggar dengan cepat melayang dan mendarat tepat di pipi kanan Kenzo.
Wajah Kenzo memanas, bekas merah di pipi kanannya membuat aliran darahnya mengalir cepat. Tangan kanannya memegang pipi, sementara tangan kirinya terkepal erat.
"Beraninya kamu!" Kenzo berpaling menatap nyalang Inggar yang saat itu langsung memundurkan langkahnya ke belakang.
"Harusnya aku yang marah saat ini. Kamu mengacaukan acaraku malam itu, dengan sombong dan angkuhnya kamu duduk di kursi yang jelas-jelas bukan milik kamu. Tanpa bertanya atau memberi ruang untuk aku menjelaskan, kamu malah seenak kamu bicara panjang lebar. Memberi syarat untuk kencan gila, yang aku sendiri tidak mengerti. Harusnya kamu sadar diri, yang salah di sini bukan aku. Tapi kamu! Aku hanya mengikuti permainan kamu saja," sentak Kenzo, kini berjalan sangat pelan mencoba mendekati Inggar yang terus berjalan mundur.
"A-aku... Aku ti-tidak salah! Malam itu kamu yang salah. Kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan," ujar Inggar tergagap.
"Aku kamu bilang? Aku tidak melakukan apapun malam itu. Kamu sendiri yang memintaku bahkan memaksa aku melakukannya. Kalau tidak percaya, aku perlihatkan rekaman cctvnya sekarang juga. Lihat bagaimana aksi liar kamu malam itu!"
Kini posisi keduanya hanya berjarak beberapa centi saja. Inggar yang sudah tidak bisa memundurkan langkahnya lagi karena terhalang dinding, hanya bisa pasrah, seraya menutup matanya takut.