Hei calon istri!

1028 Words
Cukup lama posisi keduanya seperti itu. Merasa pegal menahan Inggar dalam kungkungannya. Kenzo memilih untuk menghentikan aksinya. Ia berjalan menuju tempat tidur. Sementara Inggar masih setia menutup matanya bersandar di dinding kamar. "Apa kamu hanya mau berdiri di sana sepanjang waktu?" tanya Kenzo, tersenyum geli. Mendengar suara Kenzo yang jauh dari tempatnya berada. Membuat Inggar perlahan membuka matanya. Rasa malu langsung menerpa wajahnya, dengan cepat Inggar memalingkan wajahnya menatap ke arah lain. "Sial! Ternyata dia sudah pergi dari tadi. Jadi, dari tadi aku berdiri di sini, hanya jadi tontonan pria gila itu saja? Keterlaluan sekali," umpat Inggar dalam hati. "Kemari lah! Kita bicarakan semua, yang mau kamu tanyakan," titah Kenzo, menepuk tepi ranjang di sampingnya. Kaki Inggar berayun mendekati Kenzo. Wajahnya masih terasa panas menahan malu. "Sebelum kamu bertanya siapa aku. Aku akan memperkenalkan diriku lebih dulu. Perkenalkan, namaku Kenz," Tangan kanan Kenzo terulur ke arah Inggar. Tak langsung menyambut uluran tangan itu, Inggar justru mengamatinya cukup lama. "Aku Inggar," ucap Inggar, akhirnya membalas uluran tangan Kenzo. "Tidak perlu memberitahu nama kamu lagi! Tanpa kamu bilang, aku juga sudah tau saat malam itu. Sekarang, apa tujuan utama kamu ke sini? Mau menanyakan, kenapa malam itu aku diam saja?" tebak Kenzo. "Jangan terlalu berbelit-belit! Katakan saja semuanya! Gara-gara kamu diam, aku harus kehilangan kegadisanku. Sekarang orang tuaku malah memintaku melanjutkan kencan gila itu," ujar Inggar menyalahkan Kenzo. Terus-terusan disalahkan membuat Kenzo yang tadinya tenang, mulai merasa kesal. "Apa semua ini salahku? Harusnya kamu tanyakan pada dirimu sendiri. Kamu yang datang begitu saja, dan memberiku syarat tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Dan, untuk masalah malam itu. Aku bisa saja memberikan kamu rekaman cctv di kamar ini. Aku hanya pria biasa, diperlakukan seperti malam itu. Tentu saja keimananku runtuh juga. Jadi, jangan hanya menyalahkan aku untuk masalah ini. Kamu juga salah!" sentak Kenzo, menatap tajam Inggar. Nyali Inggar sedikit menciut mendapat tatapan seperti itu. "Lalu aku harus apa? Kedua orangtuaku terus mendesakku. Sekarang saja aku harus berbohong. Mereka hanya tau, kalau sekarang aku sedang pergi kencan dengan pria yang mereka maksud. Sedangkan kenyataannya, aku di sini menemui kamu," ujar Inggar, dengan nada bicara yang sedikit ia turunkan. Kenzo terdiam sejenak. Ia memikirkan jalan keluar untuk masalah yang datang tiba-tiba. "Jadi intinya, kedatangan kamu ke sini untuk apa? Apa tujuan kamu? Kamu mau membatalkan kencan gila atau perjodohan kedua orang tua kamu? Atau, kamu memintaku bertanggung jawab atas kejadian malam itu?" Mendengar pertanyaan Kenzo, Inggar terlihat gelisah. "Aku tidak bermaksud seperti itu. Mana mungkin juga aku memintamu tanggung jawab, kenal saja tidak. Aku ke sini cuma mau memastikan saja, kalau orang yang dimaksud kedua orang tuaku itu benar atau tidak," sanggah Inggar. Bibir Kenzo melengkung membentuk setengah lingkaran. Ia tersenyum sinis mendengar sanggahan Inggar. "Kalau kamu sudah tau kebenarannya. Lalu, untuk apa kamu masih di sini?" Inggar menolah ke arah Kenzo, matanya menatap tajam pria yang kini masih menampilkan senyum sinisnya. "Kamu mengusirku?" tanya Inggar, seraya berdiri dari duduknya. "Aku tidak mengusir. Kapan aku mengatakan itu? Apa pendengaran kamu bermasalah? Sayang sekali punya wajah cantik, tapi pendengaran bermasalah," sindir Kenzo, terkekeh. Merasa kesal sendiri, Inggar gegas beranjak pergi meninggalkan Kenzo yang masih terkekeh, bahkan kekehan itu berubah jadi tawa yang sedikit menggema. "Hei, wanita cantik tapi pendengaran kurang. Kamu mau ke mana? Apa kamu tidak mau minta pertanggung jawaban pada Babang tampan ini?" teriak Kenzo, tertawa puas. "Dasar pria gila! Pria tidak tau tata krama, pria menyebalkan. Bisa-bisanya dia mengatai aku seperti itu. Memangnya dia pikir, aku ini tuli atau bolot? Dasar menyebalkan!" umpat Inggar dalam hati, kakinya terus melangkah menuju pintu kamar hotel. Belum sempat tangannya menggapai pegangan pintu. Kenzo lebih dulu menahannya. Entah kapan Kenzo beranjak dari tempatnya, yang jelas ia begitu cepat menyusul Inggar ke ambang pintu. "Kenapa cepat sekali pergi? Apa kamu mau melanjutkan kencan buta itu?" tanya Kenzo, menahan Inggar dalam kungkungannya. "Menjauh dariku sekarang! Aku mau pulang!" bentak Inggar, mendorong keras d**a bidang Kenzo. Sekuat tenaga Inggar melakukannya, tetap saja tubuh kekar itu tidak bergeser sedikitpun. "Jangan terlalu galak jadi calon istri!" goda Kenzo, tersenyum jahil. Inggar memutar bola matanya malas. "Aku bilang menjauh, ya menjauh!" Kali ini dorongan Inggar lebih bertenaga dari sebelumnya, hingga ia bisa melepaskan diri dari kungkungan Kenzo. "Siapa yang kamu bilang calon istri, hah? Kalau punya mulut itu dijaga! Siapa juga yang mau jadi istri pria gila seperti kamu. Kenal juga tidak, seenaknya aja bilang calon istri!" sentak Inggar tak terima. Kenzo menanggapi kata-kata Inggar hanya dengan senyuman saja. Ia tak ada niat sedikitpun marah, atau tersinggung. Sampai pada akhirnya Inggar berhasil membuka pintu kamar hotel. Sebelum benar-benar keluar, Inggar masih sempat berbalik menatap Kenzo tajam, kemudian berlalu begitu saja. "Hei calon istri! Kalau nanti kamu benar-benar hamil, temui lagi aku di sini!" teriak Kenzo. Teriakan kedua Kenzo saat Inggar keluar dari kamar hotelnya, membuat pipi Inggar merona merah. Inggar merasa benar-benar malu, sekaligus salah tingkah dibuatnya. "Apa aku benar-benar hamil setelah ini? Tapi, bagaimana dengan ayah dan ibu? Jangankan mereka, aku saja tidak mengenal pria itu. Bibit, bebet dan bobotnya tidak jelas, orang tuaku pasti menolaknya mentah-mentah sebelum resmi jadi menantu," batin Inggar, larut dalam pikirannya sendiri. Sesampainya Inggar di parkiran mobilnya. Ponselnya tiba-tiba saja berdering. Perasaannya mulai merasa tidak enak, terlebih saat ia melihat nama yang muncul di layar ponselnya. Dengan ragu, Inggar menjawab panggilan itu. "Nggar, kamu di mana? Fredi bilang kamu belum datang. Kamu di mana sih? Bukannya kamu berangkat dari tadi? Masa iya sampai pukul begini belum sampai juga? Kamu membohongi Ayah dan ibu?" Omelan dari seberang telepon membuat kuping Inggar memanas. "Cepat temui Fredi! Kasian dia menunggu kamu terlalu lama. Atau jangan-jangan kamu malah menemui pria lain?" Omelan masih berlanjut, bahkan Inggar tidak punya kesempatan untuk membela diri atau menjelaskannya. "Temui Fredi sekarang, Nggar! Jangan kamu bikin kami malu Nggar! Nanti apa kata kedua orang tua Fredi? Mereka pasti kecewa dengan cara kamu yang seperti in," ujar ayah Inggar, setelah mengatakan itu, panggilan telepon langsung terputus. Inggat menatap nanar layar ponselnya yang masih menyala. "Kenapa ayah dan ibu selalu mementingkan keinginan mereka? Aku tidak mau menikah muda, aku masih ingin bebas menikmati masa mudaku. Sedangkan mereka, seolah tidak mempedulikan itu. Mereka tidak mengerti keinginanku," batin Inggar. Tanpa ia sadari, Kenzo memperhatikan Inggar dari kejauhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD