Hamil

1144 Words
Satu bulan sudah berlalu, sejak kejadian malam panjang Inggar bersama Kenzo. Inggar mulai menjalani hidup seperti biasanya. Ia juga sudah bertemu dengan pria yang digadang-gadangkan orang tuanya untuk jadi calon suaminya. Tak ada perasaan apapun yang muncul setelah satu bulan kebersamaannya dengan Fredi. Pikiran Inggar justru terus tertuju dengan kata-kata Kenzo. Kata-kata yang menjurus ke arah kehamilan. "Apa yang aku lewatkan, ya? Kenapa rasanya ada yang mengganjal?" batin Inggar, beberapa hari ini pikirannya terus tertuju pada sesuatu, namun ia sendiri masih tidak tau apa yang ia tuju. Saat Inggar bersiap berangkat kerja seperti biasa, tanpa sadar ia berjalan melewati kalender yang menempel di dinding kamarnya. "Eh, tunggu sebentar!" Langkah Inggar terhenti, sejurus kemudian Inggar memundurkan langkahnya berdiri tepat di depan kalender yang terpajang. "Tanggal 26? Ini sudah satu bulan aku tidak kedatangan tamu. Apa ada masalah dengan jalan keluarnya?" gumam Inggar, wajahnya berubah tegang kala teringat kata-kata Kenzo yang kembali terngiang memenuhi isi kepalanya. "Apa aku hamil?" Kata-kata itu meluncur begitu saja, terdengar lirih. Tanpa mau menduga-duga atau memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Inggar gegas keluar dari kamarnya. Tujuan yang tadinya adalah kantor tempatnya bekerja, langsung berubah ke arah apotik. "Nggar, tidak sarapan dulu?" tanya sang ibu, yang saat itu sibuk menata meja makan. "Nanti saja Bu, Inggar buru-buru!" tolak Inggar, meneruskan langkahnya menuju pintu utama rumah. Kedua orang tua Inggar hanya saling melirik satu sama lain. "Kenapa dia, Ma? Tumben-tumbennya Inggar pergi tanpa sarapan dulu," ujar ayah Inggar curiga. Bukannya menjawab, ibu Inggar hanya menggerakkan pundaknya pelan, kemudian berlalu menuju dapur. Mobil Inggar melaju cepat membelah jalanan aspal yang kini terlihat ramai dengan aktifitas anak-anak yang akan berangkat sekolah. Beberapa toko di pinggir jalan raya masih terlihat banyak yang tutup. Merasa kesal toko obat belum ada yang buka, Inggar memutar arah tujuannya ke arah mini market. Mini market dengan tulisan berwarna merah putih yang kini jadi tujuan Inggar. Dengan tergesa-gesa, Inggar mendorong pintu yang terbuat dari kaca transparan dan masuk ke dalamnya. "Selamat pagi, ada yang bisa dibantu, Mbak?" tanya kasir mini market tersenyum ramah menyapa Inggar. "Em, sa-saya mau beli..." Kata-kata Inggar terhenti, rasa malu tiba-tiba saja menjalar membuat wajahnya bersemu merah menahannya. "Beli apa, Mbak?" tanya kasir itu lagi, menautkan kedua alisnya bingung. Ekor mata Inggar terlihat bergerak liar mencari benda yang ia inginkan. Tanpa memakan waktu lama, netranya menangkap susunan benda yang ia cari di atas meja kasir. "Saya mau beli itu!" Tunjuk Inggar, tanpa menyebut nama bendanya. Kasir mini market itu tersenyum tipis, kemudian mengambil benda berbentuk pipih. "Mbak mau beli tes kehamilan?" Inggar hanya mengangguk tanpa menjawabnya. Setelah membayar dengan jumlah yang tertera di layar komputer, Inggar gegas keluar dari dalam mini market dan masuk ke dalam mobilnya. Tangan Inggar gemetar saat memegang benda pipih yang tadi ia beli. Tidak hanya satu saja Inggar beli, melainkan ada lima. "Aku harus memastikan semuanya hari ini. Semoga saja hasilnya, tidak seperti yang pria itu katakan," ujar Inggar. --- Di hotel tempat terakhir bertemu Kenzo, kini Inggar berada. Kakinya terasa lemas bagai kehilangan sendi-sendinya saat berdiri menatap nanar bangunan megah di depannya. Tes kehamilan yang ia beli, menunjukkan hasil positif. Ada rasa ragu di hati Inggar saat memutuskan untuk menemui pria yang sudah menanamkan benih di rahimnya. "Bagaimana kalau dia menolak bertanggung jawab? Aku juga tidak mengenalnya. Kami bertemu hanya dua kali saja, itupun sudah satu bulan yang lalu. Kalau dia pura-pura lupa atau tidak mengenaliku, bisa mampus aku," Suara Inggar terdengar pelan dengan nada yang bergetar. Cukup lama Inggar berdiri di depan hotel, hingga akhirnya Inggar memutuskan untuk masuk. Namun, baru saja tangannya terangkat ingin mengetuk pintu kamar. Seorang pelayan hotel yang kebetulan lewat, langsung memberitahu Inggar, jika kamar itu sudah kosong sejak setengah bulan yang lalu. Musnah sudah harapan Inggar bertemu dan memberitahu kehamilannya. Pria yang sudah mengambil keuntungan darinya, kini tidak tau ke mana rimbanya. Dengan langkah gontai, Inggar kembali menuju mobilnya yang terparkir. Mobil melaju pelan menuju kantor tempatnya bekerja. Setelah mengetahui kehamilannya, Inggar memutuskan untuk tidak kembali ke rumah karena takut. "Nggar, kenapa dari tadi masuk kerja sampai sekarang kamu diam aja sih? Kamu sakit?" tanya Rara, teman sekantor Inggar. "Enggak kok, aku sehat. Aku cuma sedikit pusing aja," sanggah Inggar, memijat keningnya pelan. "Kalau pusing, simpan aja dulu tuh berkas! Emang sih, kalau jadi manajer itu susah, terlalu banyak pikiran, Nggar," ujar Rara, mencoba mencairkan suasana. "Oh iya Nggar, aku ada cerita nih. Dua hari yang lalu aku ketemu sama cowok. Keren, tampan, pokoknya idola aku banget deh," Lanjut Rara, memulai ceritanya. Inggar memutar bola matanya malas. "Terus? Apa hubungannya sama aku? Kamu kan memang suka cowok yang kayak gitu? Tampan, keren, apalagi kalau kaya, paket komplit," celetuk Inggar. "Aih, bukan itu Nggar yang aku maksud. Aku sih tidak tau, dia ini kaya atau tidak. Tapi kelihatannya sih, dompetnya tebal," ujar Rara, kemudian tertawa setelah mengatakan itu. "Dasar mata duitan! Bisa-bisanya kamu memikirkan isi dompet orang. Memangnya siapa tuh cowok? Pengusaha atau apa?" tanya Inggar. "Bukan keduanya Nggar! Dia jualan ayam potong, " ujar Rara, wajahnya terlihat manyun setelah menjawab pertanyaan Inggar. Inggar yang awalnya malas mendengar cerita Rara, kini berpaling menatap Rara. "Jualan ayam potong? Maksud kamu pedagang di pasar?" tanya Inggar, kali ini tawanya terdengar lepas. "Diam dong Nggar! Dia bukan pedagang di pasar. Sembarangan kalau ngomong!" ketus Rara kesal. "Kalau bukan pedagang apa? Apa jangan-jangan mata kamu sudah bermasalah Ra? Cowok tampan yang kamu bilang tadi, jangan-jangan bapak-bapak pedagang ayam potong?" Inggar semakin meledek temannya. "Enak saja! Begini-begini mataku masih normal Nggar. Aku juga bisa membedakan, mana yang tua, dan mana yang muda. Lebih baik kamu ikut aku sekarang deh, mumpung lagi jam istirahat!" ajak Rara menarik tangan Inggar. "Eh, mau ke mana Ra? Kamu gila ya? Seenaknya tarik-tarik tangan atasan," gerutu Inggar. "Ini sudah jam istirahat, jadi kamu bukan atasan lagi. Melainkan sahabat kecilku. Ayo Nggar, temani aku melihat pria itu!" ujar Rara memaksa Inggar. "Aku tidak mau. Bisa-bisa waktu istirahatku habis percuma. Kalau mau melihat dia, pergi saja sendiri!" tolak Inggar cepat. Rara tidak mempedulikan penolakan Inggar, ia terus menarik tangan Inggar. Sampai akhirnya Inggar terpaksa mengalah. Sesampainya di pasar, Inggar mulai merasa risih. Pasar tradisional yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari, membuat perut Inggar merasa mual. "Eh, Nggar mau ke mana?" tanya Rara, gegas menyusul Inggar yang berlari menjauh. "Di sini bau Ra, aku tinggu di mobil saja!" ujar Inggar, menutup hidungnya dengan tangan. "Namanya juga pasar tradisional Nggar, sudah pasti bermacam-macam bau ada. Temani aku dulu! Itu dia ada di sana!" Tunjuk Rara ke arah salah satu pedagang ayam potong. Pandangan Rara berpaling menatap pedagang yang Rara maksud. "Itu yang kamu bilang tampan, Ra? Lebih baik kamu pergi ke optik kacamata dulu! Bapak yang perutnya besar begitu, kamu bilang tampan? Sakit mata kamu Ra!" ujar Inggar, menertawai sahabatnya. "Bukan bapak itu yang aku maksud. Mata kamu tuh yang harusnya digunakan! Itu, cowok yang di samping kedai!" Tunjuk Rara. Manik Inggar membulat sempurna saat melihat ke arah yang Rara maksud. "Dia...?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD