Prolog
Langit sore di kawasan elit Westbridge tampak tenang, seolah enggan ikut berduka.
Di balik jendela kaca berlapis gorden renda, Evelyn Celeste berdiri mematung. Gaun hitamnya jatuh anggun di tubuh rampingnya, tapi wajahnya tak lagi memancarkan cahaya gadis lima belas tahun yang biasanya ceria. Matanya kosong, menatap taman belakang yang dulu sering ia lewati bersama ibunya.
Hari ini adalah hari ketujuh sejak Shopia Wilson, ibunya, pergi untuk selamanya.
Rumah megah keluarga Celeste dipenuhi bunga belasungkawa dan ucapan simpati, tapi tak satu pun mampu mengisi kekosongan yang menganga di hati Evelyn. Ayahnya, Andrew Celeste, sibuk menerima tamu dan mengurus bisnis yang tak pernah berhenti berputar. Evelyn tahu, itu cara ayahnya bertahan.
Ketika malam mulai datang dan tamu terakhir pamit, Andrew memanggil Evelyn ke ruang tamu. Di sana, berdiri seorang gadis berambut cokelat sebahu, mengenakan sweater abu-abu dan celana jeans yang tampak terlalu besar untuk tubuh mungilnya. Matanya menatap Evelyn dengan campuran gugup dan harap.
“Evelyn,” kata Andrew, suaranya berat namun tenang. “Ini Emma. Dia akan tinggal bersama kita mulai hari ini.”
Evelyn menatap gadis itu, bingung. Tidak ada penjelasan. Tidak ada latar belakang. Hanya pernyataan dingin yang terdengar seperti keputusan yang tidak dapat dibantah.
“Siapa dia?” tanya Evelyn pelan.
Andrew menghela napas, lalu mengusap bahu Evelyn. “Anggap saja... dia seperti adikmu.”
Adik? Evelyn tak pernah punya saudara. Tapi melihat Emma yang tampak canggung dan sendirian, hatinya yang lembut tergerak. Ia tersenyum kecil dan mengulurkan tangan.
“Hai, Emma. Selamat datang di rumah kami.”
Emma menyambut tangan itu, bibirnya melengkung dalam senyum yang tampak tulus. Tapi di balik senyum itu, ada sesuatu yang tak bisa Evelyn baca. Sesuatu yang akan ia kenali bertahun-tahun kemudian—mungkin ketika semuanya sudah terlambat.
Malam itu, Evelyn mengantar Emma ke kamar tamu di lantai dua. Ia menunjukkan lemari, jendela yang menghadap taman, dan rak buku kosong yang bisa diisi Emma sesuka hati. Mereka berbincang ringan, tentang sekolah, tentang hobi, tentang hal-hal kecil yang membuat Evelyn merasa sedikit lebih baik.
Dan saat Emma tertidur, Evelyn berdiri di ambang pintu, menatap gadis itu dengan perasaan campur aduk. Ia tak tahu siapa Emma sebenarnya. Tapi ia ingin percaya bahwa kehadiran gadis itu bisa menjadi awal baru—bukan akhir dari segalanya.
Di lantai bawah, Andrew duduk sendiri di ruang kerja, menatap foto lama yang disimpan di laci meja. Foto seorang wanita muda dengan senyum lembut, menggendong bayi mungil yang baru lahir.
Di balik pintu yang tertutup, rahasia mulai bernafas....
***
Hari-hari pertama Emma tinggal di rumah Celeste berjalan tenang, nyaris terlalu tenang. Evelyn, yang masih berkabung, menemukan pelipur lara dalam kehadiran Emma. Gadis itu pendiam, sopan, dan selalu tampak berusaha menyenangkan. Ia membantu membereskan meja makan, menyiapkan teh untuk Andrew, bahkan sesekali menemani Evelyn membaca di perpustakaan kecil milik keluarga mereka.
Evelyn mulai merasa Emma seperti adik yang dikirim semesta untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan ibunya.
“Kalau kamu mau, kita bisa dekor ulang kamar ini,” kata Evelyn suatu sore, menunjuk ke dinding kamar tamu yang kini menjadi milik Emma. “Biar lebih terasa milikmu.”
Emma tersenyum, senyum yang manis tapi tak sepenuhnya menyentuh matanya. “Tidak perlu, aku suka seperti ini. Rasanya... nyaman.”
Evelyn mengangguk, tak menyadari bahwa Emma menyimpan pandangan lain saat menatap bingkai foto keluarga Celeste di rak sudut kamar. Di sana, hanya ada Andrew—ayahnya Evelyn, Shopia—ibunya Evelyn, dan Evelyn. Tak ada ruang untuk Emma. Lebih tepatnya belum.
Di sekolah, Evelyn mulai mengenalkan Emma pada teman-temannya. Mereka menyambut Emma dengan ramah, meski beberapa bertanya-tanya siapa gadis misterius itu. Evelyn menjawab dengan versi yang ia tahu: Emma adalah anak angkat yang dibawa ayahnya setelah ibunya meninggal.
Emma tidak membantah. Tapi di balik senyumnya, ia menyimpan luka yang tak pernah Evelyn lihat—dan rasa iri yang mulai tumbuh pelan-pelan.
Evelyn memiliki segalanya: rumah megah, ayah yang penyayang, teman-teman yang hangat, dan masa depan yang cerah. Sedangkan Emma, dia hanya punya satu hal, orang tua yang tak pernah ia miliki.
Suatu malam, saat Evelyn tertidur di sofa ruang keluarga, Emma mendekat pelan. Ia menatap wajah Evelyn yang damai, lalu berbisik nyaris tak terdengar.
“Kalau saja aku lahir lebih dulu... mungkin aku yang jadi putri Celeste.”
Lalu ia berbalik, melangkah ke kamarnya, menyimpan bisikan itu di sudut hatinya yang gelap.
Di lantai atas, Andrew berdiri di depan jendela, menatap langit malam. Ia tahu rahasia yang ia simpan akan menjadi bom waktu. Tapi ia belum siap mengaku. Belum siap kehilangan cinta dan kepercayaan Evelyn, putri yang lahir dari istri sahnya.
Dan di bawah atap rumah yang megah itu, dua gadis tumbuh berdampingan—satu dengan hati terbuka, dan satu yang lain dengan luka tersembunyi beserta rasa iri.