10 Tahun Kemudian....
Gedung Celeste Corporation menjulang megah di jantung kota, dinding kacanya memantulkan langit biru dan hiruk-pikuk metropolitan. Di lantai dua puluh, Evelyn Celeste duduk di balik meja kerjanya yang rapi, mengenakan setelan krem dengan rambut disanggul elegan. Matanya menelusuri laporan keuangan kuartal terakhir, sesekali mengetik catatan kecil di laptopnya.
Sudah setahun sejak ia kembali dari Inggris, menyelesaikan gelar S2-nya di bidang keuangan dengan predikat terbaik. Andrew Celeste, yang kini mulai mempercayakan sebagian besar urusan perusahaan padanya, menunjuk Evelyn sebagai manajer keuangan utama. Keputusan itu disambut hangat oleh dewan direksi, tapi diam-diam ada hati seseorang yang memanas karena iri.
Emma. Wanita itu berdiri di lorong luar ruang kerja Evelyn, mengenakan blouse biru dan rok pensil hitam. Ia baru saja lulus S2 dari universitas ternama di dalam negeri, dan hari ini ia datang ke kantor ayahnya dengan harapan besar. Tapi sejak pagi, Andrew hanya menyapanya sepintas, lalu sibuk dengan pekerjaannya.
“Dia selalu lebih unggul dariku,” gumam Emma, menatap pintu kaca yang tertutup rapat.
Tak lama kemudian pintu ruang rapat itu terbuka. Evelyn keluar dengan senyum hangat, membawa map berisi laporan.
“Emma?” ucapnya, terkejut. “Kamu di sini?”
Emma tersenyum tipis. “Iya. Aku pikir... mungkin Ayah ingin bicara soal posisiku di perusahaan. Tapi sepertinya dia sibuk.”
Evelyn mengangguk pelan. “Ayah belum lama tadi pergi dari ruang rapat ini, sekarang mungkin dia sedang rapat dengan investor. Tapi aku yakin dia akan mempertimbangkanmu. Oh ya, tentang wisudamu. Maaf aku tidak bisa hadir di hari kelulusanmu, tapi setidaknya ada Ayah yang mendampingimu. Aku sudah menitipkan buket bungaku untukmu ke Ayah.”
“Apa kamu tidak tahu? Ayah bahkan tidak datang di hari kelulusanku. Hanya Edwin, sekretarisnya yang hadir.”
“Astaga, aku tidak tahu itu. Andai aku tahu, aku pasti akan menyelesaikan rapat hari itu lebih awal, dan datang ke acara kelulusanmu. Maaf, Emma.”
“Tidak masalah. Lupakan saja,” jawab Emma, diiringi senyum tipis. “Kamu kelihatan sibuk,” ujarnya kemudian, sambil melihat dokumen di tangan Evelyn.
Evelyn tertawa kecil. “Lumayan. Tapi aku senang. Ini adalah tugas yang diberikan Ayah padaku.”
Emma menatap Evelyn, matanya menyimpan sesuatu yang tak terucap. “Kamu selalu mendapat perhatian dari Ayah. Bahkan posisi yang kamu tempati sekarang sudah dia siapkan sejak sebelum kamu lulus kuliah S2. Sedangkan aku... masih harus menunggu.” Setiap kali dia melihat Evelyn selalu diutamakan oleh Andrew Celeste, hatinya langsung mencelup lebih dalam pada racun yang ia pelihara sejak lama.
Evelyn terdiam sejenak, lalu menyentuh lengan Emma dengan lembut. “Aku yakin Ayah punya rencana untukmu. Jangan khawatir.”
Emma mengangguk, tapi hatinya menolak percaya. Ia sudah terlalu sering melihat Evelyn berada di tengah sorotan, dipuji, dipilih, dicintai. Sementara dirinya... selalu menjadi bayangan.
Tapi, ada satu hal yang membuat Emma lebih unggul. Laki-laki.
Tak lama setelah Evelyn pamit, Emma mendapatkan sebuah pesan dari Daniel Lewis—suaminya Evelyn.
‘Kamu datang ke kantor? Aku ada waktu sebentar. Kita bisa bicara.’
*
Di ruang kerja Daniel, Emma duduk di sofa, menyilangkan kaki, matanya menatap pria yang dulu hanya ia kagumi dari jauh.
“Aku kira kamu akan makan siang dengan Evelyn,” katanya pelan.
Daniel menghela napas. “Dia sibuk. Seperti biasa.”
Emma mencondongkan tubuh, suaranya lembut. “Kamu selalu kesepian.”
Daniel menatap Emma, matanya menyimpan lelah. “Aku tidak tahu harus bicara apa lagi dengannya. Aku tidak bisa mengeluh karena apa yang kudapatkan saat ini berasal dari ayahnya. Dan aku selalu merasa dia jauh berada di atasku. Dia terlalu sempurna.”
Emma tersenyum, lalu berdiri dan mendekat. “Aku tahu itu membuatmu kehilangan wibawa. Kamu sebagai laki-laki ingin melindungi wanitamu, tapi wanitamu lebih tangguh darimu. Bahkan kamu jauh berada di bawah kakinya. Ingat, dia seorang putri. Dia adalah anak tunggal keluarga Celeste, Daniel. Aku bahkan selalu menjadi bayangannya.”
Daniel tak menjawab. Tapi ketika Emma menyentuh tangannya, ia tidak menarik diri, membiarkan tangan wanita itu bergerak ke mana pun.
***
Malam itu, Evelyn pulang lebih awal. Rumah terasa sepi. Ia membuka pintu kamar, berharap Daniel sudah di sana. Tapi ranjang masih rapi. Ia duduk di tepi tempat tidur, membuka ponsel, mengetik pesan.
“Kamu di mana?”
Tapi tak ada balasan.
Evelyn menatap cermin. Wajahnya tampak lelah. Tapi pekerjaannya hari ini belum selesai, dia segera berjalan menuju kamar mandi. Malam ini ada acara penting perusahaan, dan dia tidak ingin terlambat hadir ke acara itu.
Di luar sana, Emma baru saja keluar dari mobil Daniel. Mereka berpisah di perempatan jalan, dengan senyum yang hanya mereka yang tahu.
Daniel kembali melajukan mobilnya, masuk ke dalam rumah mewah keluarga Celeste. Beberapa saat setelah Daniel pergi, barulah Emma berjalan menuju gerbang rumah itu.
Emma melangkah masuk ke dalam rumah, lalu berhenti sejenak di tangga. Ia menatap ke atas, ke arah kamar Evelyn.
“Kalau saja aku yang jadi istrinya,” bisiknya, pelan.
Dan di rumah yang dulu menyambutnya dengan hangat, Emma kini berjalan dengan langkah yang lebih mantap, wajah terangkat penuh percaya diri. Ia tak lagi merasa seperti tamu. Ia merasa seperti pewaris yang terlambat diakui.
***
Emma berada dikamarnya, dia berdiri di depan cermin, mengenakan gaun krem yang elegan. Ia akan menghadiri gala tahunan perusahaan bersama Evelyn dan Andrew. Tapi saat ia melihat pantulan dirinya, ia tak melihat seorang putri Celeste. Dia melihat gadis malang yang selalu hidup tersisihkan, diselipkan ke dalam kehidupan orang lain, lalu dibiarkan tumbuh di pinggir panggung.
Dan malam itu, saat Evelyn berdiri di atas panggung menerima penghargaan sebagai direktur muda terbaik, Emma berdiri di antara kerumunan, bertepuk tangan dengan senyum yang tak sampai ke hatinya.
Di dalam dirinya, sesuatu mulai retak.
*
Setelah acara, Evelyn mendekati Emma yang sedang berdiri sendiri di balkon ballroom.
“Emma, kamu baik-baik saja?”
Emma menoleh, senyumnya tipis. “Selalu jadi penonton ya, aku.”
Evelyn mengernyit. “Apa maksudmu?”
“Tidak apa-apa,” jawab Emma cepat. “Selamat atas penghargaanmu. Kamu pantas mendapatkannya.”
Evelyn ingin menjawab, tapi Emma sudah melangkah pergi, gaunnya berayun pelan di bawah cahaya lampu kristal.
Dan di malam yang gemerlap itu, Evelyn tak tahu bahwa langkah Emma menuju kegelapan semakin jauh. Bahwa di balik senyum dan ucapan selamat, ada rencana yang mulai tumbuh—rencana untuk merebut panggung yang selama ini bukan miliknya.