Retak

1323 Words
Di lorong hotel tempat gala tahunan perusahaan berlangsung, Emma dan Daniel melangkah menjauh dari keramaian. Mereka tidak berbicara, hanya saling menatap sejenak sebelum Daniel membuka pintu salah satu kamar yang sudah ia pesan diam-diam. Di dalam, suasana hening menyambut mereka—sebuah ruang yang seolah terpisah dari dunia luar. Daniel duduk di tepi ranjang, wajahnya menunduk. Emma berdiri di depan jendela, memandangi cahaya kota yang berkilau. “Aku tidak tahu kenapa aku terus kembali padamu,” kata Daniel pelan. Emma menoleh, matanya tajam. “Karena aku satu-satunya yang membuatmu merasa diakui sebagai laki-laki.” Daniel mengangkat wajahnya. “Tapi ini salah.” Emma mendekat, duduk di sampingnya. “Salah? Di sini kamu korban, Daniel. Kamu tidak bersalah. Evelyn yang salah. Dia terlalu sibuk dengan dunianya sampai dia melupakanmu. Dia terlalu egois.” Daniel terdiam. Ia tahu Emma benar. Di mata dunia, Evelyn adalah wanita sempurna—cerdas, cantik, sukses. Tapi di balik semua itu, Daniel merasa seperti bayangan yang tak pernah cukup terang untuk berdiri di sampingnya. “Aku tidak ingin menyakitinya,” bisik Daniel. Emma menyentuh tangannya. “Tapi kamu sudah melakukannya. Setiap kali kamu merasa kecil di hadapannya, kamu menyakiti dirimu sendiri. Dan itu... menyakiti dia juga.” Daniel menatap Emma, dan untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa dimengerti. Saat tangan Emma menyentuh wajahnya, Daniel hanya diam saja. Dan sentuhan itu membangkitkan hasrat Daniel yang tak dapat dia lampiaskan pada Evelyn. * Sementara itu, Evelyn berdiri di depan cermin di kamar hotelnya, mengenakan gaun malam berwarna biru tua. Di balik senyumnya yang anggun, ada rasa sepi yang tak bisa ia jelaskan. Ia meraih ponsel, membuka pesan terakhir dari Daniel yang belum dibalas. Dia mengetik, 'Aku tidak melihatmu di pesta. Apa kamu baik-baik saja?' Tapi lagi-lagi, tak ada balasan apa pun dari Daniel. Evelyn menarik napas dalam, lalu melangkah keluar kamar. Ia tahu malam ini bukan hanya tentang penghargaan. Ada sesuatu yang berubah. Ia semakin merasakannya. * Di pagi hari berikutnya, Emma duduk di ruang makan hotel, menyendok sarapan dengan tenang. Daniel sudah pergi lebih dulu, meninggalkan kamar tanpa sepatah kata. Tapi Emma tidak marah. Ia tahu, benih yang ia tanam sudah mulai tumbuh. Evelyn muncul di ambang pintu, mengenakan blazer putih dan celana panjang hitam. Ia melihat Emma, lalu berjalan mendekat. “Pagi, Emma,” sapa Evelyn. Emma tersenyum. “Pagi.” “Kamu tidak pulang semalam?” tanya Evelyn. Emma mengangkat bahu. “Aku merasa tidak enak badan. Jadi aku menginap di sini.” Evelyn mengangguk, pantas saja suasana hati Emma semalam seperti tidak baik-baik saja, pikir Evelyn. Dia kemudian duduk di depan Emma. “Aku ingin bicara,” kata Evelyn. Emma menatap Evelyn, tatapannya terlihat tenang. “Tentang apa?” “Daniel,” jawab Evelyn, langsung. Emma menahan napas sejenak, lalu tersenyum tipis. “Apa yang ingin kamu bicarakan tentangnya?” Kepala Evelyn tertunduk. Ini pertama kalinya Emma melihat Evelyn terlihat malang di matanya, dan anehnya itu membuat hati kotor Emma merasa senang. “Aku merasa Daniel berubah. Semenjak aku melanjutkan pendidikan ke luar negeri, kami jarang bertemu, setiap kali aku menghubunginya, dia jarang mengangkat panggilan dariku, dan setiap kali aku mengiriminya pesan, dia juga jarang sekali membalas pesanku. Belakangan ini jarak di antara kami semakin terasa. Aku khawatir....” Evelyn menatap Emma dengan raut cemas. “Apa Daniel marah padaku? Kamu punya saran? Apa yang harus aku lakukan, Em?” Emma tersenyum tipis, tangannya menyentuh lengan Evelyn. “Kamu tahu, biasanya laki-laki berubah karena dia menemukan sesuatu lain yang lebih menarik,” ujar Emma. Evelyn mengernyit, saat dia ingin bertanya maksudnya apa, Emma sudah berdiri dari duduknya. “Ayah memintaku untuk menemuinya jam delapan pagi. Aku duluan ya,” pamitnya. Evelyn menghela napas, pandangannya tertuju pada menu sarapan yang tersaji di hadapannya, pikirannya berputar-putar mencerna kalimat Emma yang terasa masuk akal. Apa Daniel selingkuh? *** Evelyn melihat handphonenya. ‘Sore ini aku akan pergi ke Mile Group untuk mengantarkan berkas penting. Ayah yang menyuruhku. Apa kamu mau mengantarku?’ Itu pesan terakhir yang Evelyn tulis, tapi tidak ada balasan apa pun dari Daniel. Pria itu hanya membacanya, tanpa mengirimkan pesan balasan. Evelyn merasa ini sudah tidak baik-baik saja. Pasti ada sesuatu yang membuat Daniel berubah. Evelyn akan bicara padanya saat di rumah nanti. Langit Jakarta mendung sore itu, seolah ikut menyimpan rahasia yang tak terucap. Evelyn melangkah keluar dari gedung Celeste Corporation, membawa map berisi laporan keuangan yang harus ia serahkan langsung kepada salah satu mitra strategis perusahaannya, yaitu Mile Group. Dia tahu nama itu. Semua orang tahu. Mile Group adalah raksasa bisnis multinasional yang bergerak di bidang teknologi, logistik, dan investasi. Tapi bagi Evelyn, nama itu menyimpan sesuatu yang lebih personal. Marcus Miller. Pria yang pernah dijodohkan dengannya lima tahun lalu. Pria yang ia tolak dengan alasan sederhana, karena dia sudah jatuh cinta pada Daniel Lewis—seorang pria biasa, yatim piatu yang beruntung karena dicintai dengan tulus oleh putri tunggal Celeste. Evelyn menghela napas panjang sebelum masuk ke lobi gedung Mile Group. Dia mengenakan setelan krem, rambutnya diurai rapi, wajahnya tampak tenang, tapi di dalam dadanya, ada badai yang tak bisa ia redam. Setelah menunjukkan identitasnya, resepsionis mengantar Evelyn ke lantai atas, ke ruang rapat eksekutif. Pintu terbuka, dan di sana, berdiri Marcus Miller—tinggi, rapi, mengenakan jas hitam dengan dasi perak. Matanya menatap Evelyn dengan tatapan terkejut yang tak sepenuhnya bisa dia sembunyikan. “Evelyn,” ucapnya pelan. Evelyn tersenyum sopan. “Tuan Marcus.” Mereka saling menatap sejenak, lalu Marcus mempersilakan Evelyn duduk. Ruang itu sunyi, hanya suara AC dan detak jantung yang terasa berdetak terlalu keras. “Aku tidak menyangka kamu yang akan datang,” kata Marcus, membuka percakapan. “Ayah memintaku untuk langsung menyerahkan sendiri laporan ini. Katanya kamu lebih suka bicara dengan orang yang tahu angka, bukan hanya eksekusi,” jawab Evelyn, mencoba terdengar profesional. Marcus tersenyum tipis. “Ayahmu benar.” Evelyn menyerahkan map itu, dan Marcus membukanya perlahan. Tapi matanya tak benar-benar membaca. Dia menatap Evelyn. “Kamu terlihat... berbeda.” Evelyn mengangkat alis. “Berbeda bagaimana?” “Lebih tenang. Dan juga... terasa lebih dingin,” jawab Marcus jujur. Evelyn terdiam. Dia tahu dirinya berubah. Dia bukan lagi gadis yang menolak perjodohan karena percaya cinta sejati datang dari pilihan hati. Kini dia adalah wanita yang mulai meragukan segalanya—termasuk hatinya sendiri. “Aku dengar kamu menikah dengan laki-laki pilihanmu,” kata Marcus, suaranya datar. Evelyn mengangguk. “Sudah tiga tahun.” Marcus menatapnya lama. “Bahagia?” Pertanyaan itu menusuk lebih dalam dari yang Evelyn harapkan. Ia ingin menjawab ya. Tapi lidahnya kelu. “Aku....” Evelyn menghela napas berat. “Aku pikir rapat ini bukan untuk membahas masalah pribadi,” tukasnya. Marcus mengangguk, lalu menutup map laporan. “Kalau kamu tidak yakin dengan kebahagiaanmu sendiri, mungkin itu jawabannya.” Evelyn menatap Marcus. Di matanya, ada ketegasan yang dulu membuatnya takut. “Aku minta maaf dulu pernah menolakmu,” kata Evelyn tiba-tiba. Dia merasa Marcus mungkin sedang mengejeknya, mungkin pria itu punya dendam karena dulu dia menolak menikah dengannya. “Sekarang bisakah kita fokus pada rapat yang sesungguhnya?” Marcus terdiam. Lalu ia tersenyum. “Waktu itu, aku tidak cukup penting untukmu. Tapi aku tetap berharap kamu bahagia. Kalau kamu ingin tahu apa itu cinta, mungkin kamu harus mulai dari kejujuran. Lihat pada dirimu sendiri. Kamu bahagia atau tidak dengan cinta itu.” Evelyn menunduk. Kedua tangannya terkepal. Perkataan Marcus terlalu menusuk ke dalam hatinya. Semua terdengar benar, bahkan Evelyn juga memikirkan kebahagiaan atas pernikahannya akhir-akhir ini, tapi Evelyn selalu menyangkal. Dia mencoba menenangkan hatinya dan bersikap seolah pernikahannya baik-baik saja, seolah hubungannya dengan Daniel yang terasa semakin renggang bisa dia tambal kembali. “Ternyata Anda tidak profesional sama sekali. Rapat ini kita tunda, rekan saya akan datang besok pagi untuk melanjutkan rapat ini dengan Anda,” ujar Evelyn. “Permisi.” Dia bangkit dari kursi, melangkah pergi dengan raut datar. Marcus tidak mengejar, tidak juga memberikan respons apa pun, dia hanya diam di tempatnya, jarinya mengetuk-ngetuk meja rapat, seperti ada sesuatu yang sedang dia pertimbangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD