Langkah Evelyn bergema di lorong kantor Mile Group, sepatu hak tingginya menghantam lantai marmer dengan ritme yang tak stabil. Tangannya mengepal, napasnya berat. Ia tak tahu kenapa pertemuan singkat itu mengguncangnya begitu dalam. Mungkin karena Marcus tak berkata banyak, tapi setiap kalimatnya terasa seperti cermin yang memantulkan luka yang selama ini ia tutupi.
Saat ia keluar dari gedung, langit Jakarta mulai gerimis. Evelyn berdiri sejenak di bawah kanopi, menatap jalanan yang basah. Ponselnya bergetar.
Pesan dari Daniel.
‘Maaf, aku sibuk tadi. Kamu bisa datang ke sana sendiri kan? Aku ada rapat penting.’
Evelyn tidak membalasnya.
***
Di malam yang sama, Evelyn duduk di ruang kerja rumahnya, menatap layar laptop yang menampilkan laporan keuangan perusahaan. Tapi pikirannya melayang. Ia teringat kembali pada kata-kata Emma pagi tadi, dan tatapan Daniel yang semakin sulit ia baca.
Dia membuka folder pribadi di laptopnya, lalu mengetik sesuatu di kolom pencarian: “Riwayat transaksi kartu perusahaan – Daniel Lewis.”
Sebagai direktur keuangan, Evelyn punya akses penuh. Selama ini dia tidak pernah menggunakannya untuk urusan pribadi. Tapi kali ini, Evelyn melanggar batas itu.
Beberapa transaksi muncul. Hotel. Restoran. Bunga. Semua atas nama Daniel. Evelyn menelusuri tanggalnya—dan hatinya mencelos.
Salah satu transaksi hotel terjadi malam gala tahunan perusahaan. Di hotel yang sama dengannya. Di lantai yang sama juga.
“Tidak. Tidak. Daniel pasti hanya tidur. Tidak mungkin dia bersama wanita lain.” Evelyn mencoba menyangkal pikirannya.
Tangannya gemetar. Dia menutup laptop, lalu berdiri. Tapi sebelum dia sempat melangkah keluar, ponselnya kembali bergetar.
Nomor tak dikenal.
‘Kalau kamu ingin tahu siapa yang sebenarnya tidur dengan suamimu, datanglah ke Café Lune, besok jam 10 pagi. Duduk di meja paling pojok. Jangan ajak siapa pun.’
Evelyn menatap pesan itu, jantungnya berdetak tak karuan. Kenapa pesan ini pas sekali dengan momen setelah dia mengecek rekening Daniel. Itu membuat pikiran Evelyn semakin rancu. Apalagi malam ini Daniel tidak pulang, entah di mana suaminya itu.
***
Keesokan paginya, Evelyn datang ke Café Lune. Dia mengenakan kacamata hitam dan mantel panjang. Duduk di meja pojok seperti yang diminta. Lima menit. Sepuluh menit. Tak ada yang datang.
Sampai akhirnya, seseorang duduk di depannya.
Marcus.
Evelyn terkejut. “Kamu?”
Marcus menatapnya tenang. “Aku yang kirim pesan itu.”
Evelyn menegang. “Kenapa?”
Marcus duduk di kursi, menyandarkan tubuhnya. “Karena aku tahu kamu butuh kebenaran. Dan aku tahu kamu tidak akan mencarinya... kecuali seseorang memaksamu.”
Evelyn menatap Marcus, matanya tajam. “Kamu mengawasiku?”
“Tidak,” jawab Marcus. “Kamu tahu sendiri kalau aku tidak punya banyak waktu untuk mengurusi hidup orang lain. Malam itu aku hanya tidak sengaja melihat suamimu bersama wanita lain. Dan aku kasihan padamu.”
Kening Evelyn berkerut.
Marcus mengeluarkan sebuah amplop dari dalam jasnya, lalu meletakkannya di atas meja. “Aku tidak ingin peduli dengan kehidupanmu. Tapi kamu harus tahu orang seperti apa yang kamu cintai selama ini.”
Evelyn menatap amplop itu. Tangannya gemetar saat membukanya. Di dalamnya, ada foto-foto. Daniel dan seorang wanita. Wajah wanita itu tidak terlihat jelas. Tapi Evelyn merasa mengenalinya. Gambar itu di ambil di hotel. Di mobil. Di restoran. Dalam potret itu, Daniel dan selingkuhannya berpegangan tangan, bahkan berciuman. Daniel tampak tertawa bahagia, tawa yang sudah lama tidak Evelyn lihat. Dan foto terakhir, mereka masuk ke dalam kamar hotel bersama.
Dunia Evelyn runtuh dalam diam.
Marcus menatapnya, suaranya pelan. “Aku tahu kamu kuat. Tapi kamu tidak harus sendirian. Aku....”
“Terima kasih untuk semua foto-foto ini. Tapi kalau kamu ingin menggunakan semua ini untuk mengancamku, aku tidak takut.”
Evelyn menutup amplop itu perlahan. Air matanya menggenang, tapi tak jatuh. Ia menatap Marcus, ada luka yang tergambar dalam matanya, tapi Evelyn berusaha menutupi. Dia terlihat masih ingin menyangkal semuanya.
“Aku tidak berniat mengancammu. Aku hanya....”
“Cukup. Aku minta sama kamu, jangan ikut campur urusan keluargaku. Kamu bukan siapa-siapa. Kita hanya mitra bisnis,” tukas Evelyn.
Hati Marcus mencelos. Kalimat Evelyn membuatnya terdiam sesaat.
“Oke,” ucap Marcus. “Aku tidak akan membuang waktu lagi untukmu.” Dia berdiri, lalu melangkah pergi dari hadapan Evelyn.
***
Malam itu, Evelyn pulang ke rumah lebih awal. Daniel belum pulang. Ia duduk di ruang tamu, menatap foto pernikahan mereka yang tergantung di dinding.
Malam ini dia akan menunggu Daniel pulang, dia ingin berbicara pada laki-laki itu tentang semuanya. Evelyn merasa ini sudah tidak bisa lagi ditoleransi, pernikahannya terasa semakin berada di ujung jurang kehancuran.
“Nona Celeste.” Edwin dengan keadaan basah kuyup berlari masuk ke rumah keluarga Celeste, dia berseru memanggil Evelyn yang kebetulan saat itu berada di ruang tamu.
“Pak Ed?” Kening Evelyn berkerut melihat penampilan Edwin—sekretaris ayahnya—tampak kacau.
“Kenapa Anda susah sekali dihubungi?”
Evelyn baru ingat kalau ponselnya belum dia sambungkan ke pengisi daya sejak sore tadi, pasti sekarang ponsel itu mati karena kehabisan baterai.
“Kenapa? Apa ada hal genting? Kalau memang ada kenapa tidak menghubungi telepon rumah?” ujar Evelyn.
“Saya sudah mencoba menghubungi telepon rumah, tapi tidak tersambung,” jelas Edwin. “Sekarang itu tidak penting. Nona Celeste ayo ikut saya. Tuan Celeste sedang kritis.”
Mata Evelyn terbeliak kaget. “Apa maksudmu, Pak Ed?!”