Bertengkar

974 Words
Mobil hitam itu melaju menembus hujan malam, lampu jalan memantul di kaca jendela seperti bayangan kenangan yang tak bisa dihapus. Evelyn duduk di kursi belakang, jantungnya berdetak tak beraturan. Di sampingnya, Edwin Fernandez menggenggam kemudi dengan tangan gemetar, sesekali melirik Evelyn yang diam membeku. “Tuan Celeste pingsan di ruang kerja. Dokter bilang serangan jantung. Kami sudah bawa ke rumah sakit, tapi... dia belum sadar,” ujar Edwin, menjelaskan dengan suara tercekat. Evelyn menatap jalanan yang basah, pikirannya berputar. Ayahnya. Satu-satunya orang yang selalu menjadi jangkar dalam hidupnya. Pria yang mungkin tidak sempurna, tapi selalu berusaha melindunginya. Dan sekarang... Evelyn mungkin akan kehilangan sosok itu. * Rumah Sakit Westbridge tampak sunyi saat mereka tiba. Evelyn berlari masuk, sepatu haknya menghantam lantai koridor dengan suara yang menggema. Di depan ruang ICU, seorang dokter baru saja keluar, beberapa tenaga medis juga terlihat melangkah keluar dengan wajah sedih. Kegagalan tampak terpancar di mata mereka. “Putri Tuan Celeste?” tanya dokter itu. Evelyn mengangguk cepat. “Bagaimana kondisi ayah saya?” Dokter menunduk, wajahnya muram. “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi serangan jantungnya terlalu kuat. Jantungnya sudah berhenti selama lebih dari lima menit sebelum tiba di rumah sakit. Kami... tidak berhasil menyelamatkannya.” DEG! Dunia Evelyn terasa runtuh. “A-apa... maksud Anda?” ucapnya pelan. “Ayah Anda meninggal dua puluh menit yang lalu.” Evelyn terdiam. Tubuhnya terasa ringan, seolah jiwanya terlepas dari raganya. Dia melangkah pelan ke ruang ICU, dan di sana, di balik tirai putih, Andrew Celeste terbaring diam. Wajahnya tenang. Seolah hanya tertidur. Evelyn mendekat, duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan ayahnya yang sudah dingin. “Ayah...” ucapnya pelan. “Aku belum sempat bilang kalau aku... hancur. Kenapa Ayah meninggalkanku secepat ini?” Air matanya jatuh, membasahi tangan Andrew yang tak lagi bisa membalas genggaman itu. *** Pemakaman berlangsung dua hari kemudian. Langit mendung, angin berhembus pelan. Evelyn berdiri di sisi liang lahat, mengenakan gaun hitam dan kacamata gelap. Di sekelilingnya, para pengusaha, pejabat, dan kerabat datang memberi penghormatan terakhir. Daniel berdiri di seberangnya, wajahnya datar. Emma berdiri tak jauh, mengenakan pakaian hitam yang elegan, tapi matanya tak menyimpan duka. Evelyn tidak menatap mereka. Ia sibuk menatap tanah yang menelan tubuh ayahnya. Setelah semua orang pergi, Evelyn tetap berdiri di sana. Diam membeku seperti patung. Di kejauhan, di balik pohon kamboja yang rindang, Marcus Miller berdiri sendirian. Dia mengenakan jas hitam, tangannya di saku, matanya menatap Evelyn dari jauh. Ia tidak datang sebagai tamu. Juga tidak datang sebagai mitra. Ia datang sebagai seseorang yang pernah ditolak, pernah diabaikan, tapi... tetap peduli. Dia tidak mendekat. Dia hanya mengawasi. Dan ketika Evelyn akhirnya berbalik, mata mereka bertemu sejenak. Evelyn tidak tersenyum. Marcus tidak melambaikan tangan. Tapi di antara mereka, ada sesuatu yang tak terucap—kesedihan yang sama, dan luka yang serupa. Tak lama kemudian, Marcus melangkah pergi, membiarkan Evelyn berdiri sendiri di sisi makam Andrew Celeste. *** Rumah keluarga Celeste malam itu sunyi. Lampu-lampu menyala redup, tapi tidak memberi kehangatan. Evelyn duduk di ruang tamu, mengenakan pakaian hitam yang masih ia kenakan sejak pemakaman. Rambutnya diikat seadanya, wajahnya pucat, tatapannya kosong. Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Daniel masuk, mengenakan jas yang basah oleh gerimis. Ia meletakkan tas kerja di meja, lalu menatap Evelyn yang duduk diam. “Kamu belum tidur?” tanyanya, mungkin terdengar seperti orang yang peduli, tapi ekspresinya tidak menunjukkan kepedulian sedikit pun pada keadaan Evelyn. Evelyn menatapnya. “Dari mana saja kamu?” Daniel menghela napas, lalu menjawab dengan nada sarkas, “Mengurus semua pekerjaan yang ditinggalkan ayahmu. Atau kamu pikir pekerjaan itu bisa beres sendiri?” Evelyn menahan napas. Kata-kata Daniel menusuk, bukan karena nada sinisnya, tapi karena ia menyebut Andrew dengan cara yang dingin—seolah pria itu bukan ayah mertuanya, bukan sosok yang pernah memberinya kesempatan, tempat layak dan bahkan jabatan tinggi. “Seharusnya kamu hadir di acara pemakaman sampai selesai,” ujar Evelyn pelan. “Masalah pekerjaan bisa ditunda, Daniel.” Daniel membuka jasnya, meletakkannya di sandaran sofa. “Aku harus rapat dengan investor. Kita tidak bisa berhenti hanya karena seseorang meninggal.” “Seseorang?” Evelyn berdiri, matanya mulai memerah. “Itu ayahku, Daniel. Ayah mertuamu.” Daniel menatap Evelyn, lalu mengangkat bahu. “Ya, tapi selama ini aku tidak merasa dia ayah mertuaku, dia selalu bersikap dingin padaku seperti seorang bos. Sekarang dia sudah tidak ada, dan semua tanggung jawab jatuh ke kita. Aku tidak punya waktu untuk menangis.” Evelyn terdiam. Dia menatap pria yang dulu ia cintai karena ketulusan dan kesederhanaannya. Tapi malam ini, Evelyn melihat seseorang yang asing. Seseorang yang dingin. Seseorang yang tidak lagi peduli, bahkan terasa tidak punya hati. “Kamu berubah, Niel,” bisik Evelyn. Daniel tertawa kecil. “Mungkin karena aku lelah jadi bayanganmu. Semua orang memuja Evelyn Celeste. Dan aku hanya pelengkap.” Evelyn melangkah mendekat. “Kalau kamu merasa seperti pelengkap, kenapa kamu tidak bicara? Kenapa kamu memilih... memuaskan diri dengan wanita lain?” Tubuh Daniel menegang sesaat. “Apa maksudmu?” Evelyn menatapnya tajam. “Aku tahu. Aku tahu semuanya.” Daniel terdiam. Wajahnya berubah. Tapi ia tidak menyangkal. Dia hanya menatap Evelyn, lalu berkata pelan, “Kamu tidak tahu apa-apa.” Evelyn mengambil amplop dari dalam laci nakas, lalu melemparkannya ke meja. “Buka itu. Lihat sendiri.” Daniel menatap amplop itu, lalu duduk perlahan. Ia membuka isinya, melihat foto-foto yang ada di amplop itu satu per satu. “Aku tidak berniat menyakitimu,” ujar Daniel. “Tidak berniat menyakiti?!” Evelyn mencebik. “Tapi kamu sudah melakukannya,” jawab Evelyn. “Dan kamu bahkan terlihat tidak menyesal.” Daniel menatap Evelyn, lalu berdiri. “Aku akan tidur di kamar tamu malam ini. Kita bicara besok.” Evelyn tidak menjawab. Dia hanya diam berdiri di tempatnya, mendengarkan langkah Daniel yang semakin menjauh. Dan saat pintu kamar tertutup, air mata Evelyn jatuh. Sekarang dia sadar bahwa rumah ini tak lagi menjadi tempat untuknya pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD