bc

Cinta Di Atas Luka

book_age16+
53
FOLLOW
1K
READ
revenge
family
HE
opposites attract
arranged marriage
drama
sweet
bxg
secrets
like
intro-logo
Blurb

Karan Septian dijodohkan dengan Narin, wanita yang Karan benci dari dulu. Sedangkan Narin, dia sangat mencintai Karan selama bertahun-tahun. Berawal dari Narin yang tak sengaja menabrak kekasih Karan hinggal tewas, Karan semakin membencinya. Saat itulah Karan memiliki rencana, dimana dia menerima perjodohan itu, dia ingin membalaskan dendamnya pada Narin. Segala perlakuan buruk Karan lakukan untuk membuat Narin menderita dan menyesal menikah dengannya.Sayangnya, Narin adalah perempuan yang cukup keras kepala. Bukannya takut, Narin justru menawarakan sebuah permainan. Dimana Karan ingin membuat Narin menderita, sedangkan Narin berencana untuk membuat Karan jatuh cinta padanya.Siapakah diantara mereka yang akan memenangkan permainan tersebut?

chap-preview
Free preview
Bab 1. Kecelakaan
Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju rumah sakit. Dengan langkah besar, dia berjalan menuju sebuah ruangan. Karan Septian, terkejut saat mendengar kekasihnya mengalami kecelakaan. Saat itu juga Karan menuju rumah sakit. Karena jarak rumahnya dengan rumah sakit cukup dekat, tak butuh waktu lama bagi Karan sampai di rumah sakit. Langkah kaki Karan terhenti saat tepat berada di sebuah ruangan. Dengan nafas yang terengah-engah, dan jantung berdetak sangat cepat, Karan membuka pintu. Suasana dingin dan gelap seketika menyeruak, kakinya kembali melangkah, hingga langkahnya terhenti tepat di depan salah satu bangsal dengan kain yang menutupi seluruh tubuh seseorang. Dengan tangan gemetar dan penuh keberanian, Karan mengulurkan tangannya, membuka kainnya perlahan. Karan berharap dugaannya salah, Karan yakin jika itu hanyalah firasat buruknya. Namun saat kain itu terbuka, saat itu juga Karan menangis, menggelengkan kepalanya pelan. Karan tidak percaya jika seseorang, yang dia cintai kini terbaring tak bernyawa di depannya. Ya, orang itu adalah kekasihnya, Gina. Karan menangis sejadi-jadinya. Jika laki-laki sudah menangisi seorang perempuan, itu berarti perempuan itu sangat berharga. Gina adalah kekasihnya, tambatan hatinya. Karan masih ingat senyum manis Gina, namun kini Karan melihat Gina dengan keadaan yang begitu mengenaskan. Sungguh, Karan tidak ikhlas Gina pergi meninggalkannya. Apalagi dengan keadaan seperti ini. Gina memang sempat kritis saat dibawa rumah sakit, namun beberapa jam kemudian Gina dinyatakan meninggal dunia. Karan yang tidak sanggup melihat wajah Gina, lantas kembali menutup wajah kekasihnya itu dengan kain. Karan mengikuti acara pemakaman Gina, setelah semua selesai, Karan kembali ke rumahnya. Saat tiba di rumahnya, kedua orang tuanya kini tengah berkumpul di ruang keluarga. Karan berjalan mengabaikan mereka yang kini tengah menatapnya. Hingga langkahnya terhenti saat ayahnya berkata, "Dari mana saja kamu? Dari siang sampai malam begini, kenapa baru pulang?" "Apa kamu tidak tau jika Narin kecelakaan? Seharusnya kamu menjaganya, bukannya keluyuran tidak jelas!" Bentaknya. Karan mengepalkan tangannya erat, dia mencoba untuk meredam emosinya. Karan sedang tidak ingin bertengkar dengan siapapun karena dia baru saja kehilangan kekasihnya, Gina. Karan berbalik lalu menjawab, "Kenapa bukan papa saja yang menjaga wanita itu? Bukankah papa sangat menyayanginya?" Karan tidak ada hubungan dengan Narin, Karan bahkan membencinya. Jadi, apapun yang terjadi dengan Narin, itu bukan urusan Karan, bahkan Narin mati pun Karan tidak akan peduli. "Narin itu calon tunangan kamu Karan!" Bentak Wildan. Karan menyeringai, lalu berkata dengan pelan. "Aku bahkan tidak sudi bertunangan dengan perempuan itu." Narina Maheswara, atau yang kerap di panggil Narin. Wanita yang paling Karan benci. Bukan tanpa alasan Karan membenci Narin. Bagi Karan, Narin adalah hama, karena Narin selalu saja menganggunya dari masih sekolah sampai sekarang mereka sama-sama kuliah. Narin selalu menguntitnya kemanapun Karan pergi. Bahkan saat Narin tau Karan sudah mempunyai kekasih, Narin masih saja mengganggunya. Karan tidak mengerti kenapa orang tuanya begitu terobsesi untuk menjodohkan dirinya dengan Narina. Padahal saat itu Karan sudah mempunyai kekasih yaitu Gina, dan Karan sangat mencintainya. Karan sudah berulang kali menolak perjodohan itu, namun orang tuanya terutama papanya tetap memaksa Karan untuk menerima perjodohannya dengan Narina. Narina merupakan anak dari sahabat orang tuanya. Konon katanya, kedua orang tua Karan dan Narina sudah berjanji akan menjodohkan anak mereka ketika sudah dewasa. Dan juga, keluarga Narina juga sudah banyak membantu keluarga Karan. Karena hal itulah papanya terus memaksa Karan untuk menikah dengan Narina. Terlalu klise, bukan? Karan bahkan tidak tau menahu atas hal itu, tapi kenapa Karan yang harus jadi tumbalnya. Walaupun Gina sudah tidak ada, Karan tidak akan pernah mau menikah dengan Narina. "Besok, kita pergi menjenguk Narin. Papa tidak mau tau, kamu harus ikut." Karan tidak mengatakan apapun, dia melenggang pergi begitu saja. Karan tidak ingin berdebat, ada hal yang harus dia selesaikan. Sesampainya di kamar, Karan membuka laptopnya. Seseorang mengirimkan sebuah video. Ya, Karan meminta temannya untuk memeriksa cctv dimana Gina ditabrak oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Seteleh melihat rekaman cctv, hatinya hancur saat Karan melihat bagaimana mobil itu menabrak Gina. Karan menyipitkan matanya, dia mungkin bisa mencari orang itu melalui plat mobilnya. Sampai akhirnya Karan membelalakan matanya, Karan tau siapa pemilik mobil tersebut. "Narin...." Karan mengepalkan tangannya, matanya merah menyala. Karan tidak menyangka jika perempuan itulah yang sudah menabrak Gina. Karan pasti akan membawa bukti itu pada polisi agar polisi segera menangkapnya. Keesokan harinya, Karan pergi ke kantor polisi, karena dia harus segera menyerahkan bukti rekaman cctv pada polisi. Karan tidak mau perempuan itu hidup bebas sedangkan kekasihnya harus meregang nyawa karena perbuatannya. Sesampainya di kantor polisi, Karan bertemu dengan temannya, Hardy yang juga seorang polisi. "Karan? Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Hardy. "Aku mau menyerahkan bukti rekaman cctv yang kamu kirim." "Hardy, apa kamu tau jika Narin yang sudah menabrak Gina. Aku yakin mobil yang sudah menabrak Gina adalah mobil Narin." Hardy mengangguk, "Aku tau." Karan menautkan kedua alisnya,"Kamu tau, kenapa kamu tidak menangkapnya?" Hardy terlihat gelisah, menepuk pelan pundak Karan lalu berkata,"Begini, kemarin orangtua Narin datang kesini. Mereka ingin kasus ini agar tidak semakin lebar, karena itu mereka memberikan kompensasi pada keluarga Gina dengan memberikan sejumlah uang. Keluarga Gina menyetujuinya. Jadi, keluarga Narin dan keluarga Gina sepakat untuk menghentikan kasus ini." Karan terkejut sekaligus emosi mendengar pernyataan dari Hardy. Karan tidak menyangka jika keluarga Narin akan menyelesaikan kasus ini hanya dengan uang. Apa mereka tidak sadar jika anaknya sudah membuat nyawa seseorang hilang? Uang bahkan tidak bisa mengembalikan nyawa Gina. Karan tidak bisa membiarkan hal ini, dia bergegas pergi dari kantor polisi menuju rumah sakit dimana Narin tengah dirawat. Setibanya di rumah sakit, Karan berjalan menuju ruangan Narin. Membuka pintu, Karan melihat semua orang tengah tertawa-tertawa sedangkan Karan tengah sedih karena kehilangan kekasihnya. Emosi Karan semakin meluap saat melihat Narin tertawa lepas bahkan setelah dia menghilangkan nyawa orang yang Karan cintai. "Karan, kamu dari mana saja? Narin sedang menunggumu." Tanya Elina Karan menatap Narin yang kini tengah tersenyum padanya. Senyum itu, Karan membencinya. Dengan perasaan emosi, Karan berjalan mendekati Narin. Begitu sampai di dekat Narin, tak pikir panjang, Karan tiba-tiba mencekal tangannya, hal itu membuat Narin dan seluruh keluarga terkejut. "Karan! Apa yang kamu lakukan?!" Teriak Wildan. Karan menatap wajah Narin dengan tatapan marah dan emosi. Narin meringis kesakitan saat Karan mengeratkan cekalan tangannya, "Karan, sakit." Narin bingung sekaligus takut karena Karan tiba-tiba begitu marah padanya. "Rasa sakit ini tidak sebanding dengan apa yang sudah kamu lakukan." "Apa maksud kamu Karan? Kenapa kamu berkata seperti itu?" Tanya Elina, mama Karan. "Seharusnya mama tanya dengan wanita ini, apa yang sudah dia lakukan sampai bisa menghilangkan nyawa seseorang." Ucap Karan penuh tekanan pada Narin. Narin menatap Karan, "Memangnya apa yang aku lakukan?" Ucapnya lemah dan bingung dengan apa yang Karan katakan. Karan berdecak, "Apa keluargamu tidak memberitahumu kejahatan apa yang sudah kamu lakukan hah?!" Narin menautkan kedua alisnya, "Apa yang sebenarnya terjadi Karan? Aku tidak mengerti." "Karan berhenti! Sebaiknya kamu pergi dari sini. Keadaan Narin masih lemah, kamu jangan mengganggunya." Wildan mencoba untuk menghentikan Karan. Wildan tidak ingin Karan membuat masalah dirumah sakit. Karan menaikkan satu sudut bibirnya. Karan yakin, papanya pasti juga terlibat dalam masalah ini. Karan melepaskan cekalan tangannya pada Narin dengan kasar. "Apa semua masalah hanya bisa kalian selesaikan dengan uang? Bahkan nyawa pun kalian bisa bayar dengan uang?" "Apa kalian pikir dengan uang kalian bisa mengembalikan nyawa seseorang?!" Karan tersulut emosi, orang jahat mana yang akan melakukan hal keji seperti itu. Keluarga Narin, mereka adalah manusia yang tidak punya empati. Semua orang terdiam begitu Karan mengatakan hal itu. Begitupun dengan Narin, kepalanya tiba-tiba pusing mendengar teriakan Karan. Lira, yang melihat putrinya memegangi kepalanya, di lantas menghampirinya. "Ma, sebenarnya apa yang sudah terjadi?" Tanya Narin. "Tidak ada apa-apa sayang." Ucap Lira seraya mengelus kepala Narin, berusaha untuk menenangkannya. Tapi Narin justru merasa keluarganya sedang menyembunyikan sesuatu darinya. "Karan, kamu pergi dari sini! Kita bicara di rumah." Ucap Wildan. "Asal kalian tau, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau menikah dengan wanita ini." Ucap Karan penuh tekanan. Setelah mengatakan itu, Karan keluar dari ruangan itu. Karan tidak bisa berlama-lama berada di dalam sana. Karan tidak sudi melihat wajah Narin, hal itu hanya akan membuatnya semakin membencinya. "Aku tidak membiarkan kematianmu sia-sia. Aku pasti akan membalaskan dendam atas apa yang sudah mereka lakukan padamu."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Kali kedua

read
221.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook