Bab 2. Sebuah Kenyataan

964 Words
"Sebenarnya, wanita yang kamu tabrak sudah meninggal." Bagaikan disambar petir di siang bolong, perkataan mamanya membuat Narin merasa menjadi perempuan paling jahat. Dan yang membuat Narin tidak habis pikir adalah mamanya berbohong padanya, ah ya bukan hanya keluarganya namun keluarga Karan pun sama, menyembunyiakan hal sebesar ini padanya. Mereka mengatakan Narin mengalami kecelakaan tunggal tapi ternyata Narin sudah menabrak seseorang hingga meninggal. Namun Narin masih belum mengerti kenapa Karan sebegitu marah padanya atas kejadian ini. Karena itulah Narin diam-diam keluar dari kamar walaupun dia belum diperbolehkan untuk keluar kamar, persetan dengan keadaanya yang masih lemah, Narin ingin pergi menemui Karan, dia ingin berbicara dengan Karan, Narin ingin tau apa yang sebenarnya terjadi sampai Karan begitu emosi. Narin terus mencari keberadaan Karan. Narin tersenyum saat melihat Karan berada di belakang rumah sakit. Narin lalu menghampiri Karan yang tengah duduk di sebuah bangku. Karan berjengit saat seseorang menyentuh bahunya. Melihat Narin datang, Karan langsung menunjukkan ekspresi datarnya, "Kenapa kamu ada disini?" Narin mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah. Kondisinya masih belum stabil karena itu Narin merasa kelelahan saat tengah mencari Karan. Narin menghela nafas lalu berkata, "Karan, aku tau apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak mengalami kecelakaan tunggal, aku sudah menabrak seseorang hingga orang itu meninggal." "Aku tau aku salah Karan. Bukan, bukan hanya aku tapi keluarga aku dan juga keluarga kamu juga salah karena sudah menyembunyikan hal sebesar ini. Tapi, aku hanya tidak mengerti kenapa kamu begitu marah. Apa hubungan kamu dengan kejadian ini, Ran?" Karan menaikkan satu alisnya, "Kamu yakin ingin tau?" Narin mengangguk lemah, berbicara panjang lebar membuatnya sedikit lelah. "Ikut aku." Narin terkejut tiba-tiba Karan menarik tangannya. Karan membawanya menuju mobilnya, lalu membawanya pergi dari sana. Narin tidak tau kemana Karan pergi, namun saat tau Karan membawanya ke sebuah makam, Narin mengerutkan dahinya lalu bertanya, "Karan, kenapa kamu membawaku kesini?" Karan menghentikan mobilnya, lalu turun dari mobil begitupun dengan Narin. Karan kembali mencekal tangan Narin dan menyeretnya pergi. Narin masih belum mengerti kenapa Karan membawanya kesini namun saat Karan berhenti tepat di depan satu makam, Narin terdiam di tempat. Narin speechless saat sebuah batu nisan yang bertuliskan Gina Angelista tertulis di sana. Narin memegangi dadanya yang terasa sesak, jantungnya seakan berhenti berdetak, kakinya seperti tidak sanggup menahan beban tubuhnya hingga tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang. Air matanya seketika menetes, sekarang Narin tau kenapa Karan begitu marah padanya, mungkin Karan akan semakin membencinya. "Gina?" Lirihnya. "Kamu lihat itu Narin! Wanita yang aku cintai kini sudah tidak ada lagi, ini semua karena kamu Narin!" "Wanita yang kamu tabrak itu Gina, kekasihku! Karan kembali tersulut emosi, kali ini Karan menangis, dia masih tidak bisa terima dengan apa yang sudah terjadi dengan kekasihnya. Narin menggeleng pelan, air matanya kembali mengalir deras. Narin masih speechless, dia bahkan tidak bisa membuka suara. Narin sangat mengenal sosok Gina, perempuan yang sangat Karan cintai. Karan pasti sangat kehilangan Gina. Narin merasa sangat jahat karena sudah memisahkan dua orang yang saling mencintai. "Kamu pasti puas karena sudah membuat aku kehilangan orang yang aku cintai kan?" Narin menggelengkan kepalanya, dia mungkin mencintai Karan, tapi Narin juga tidak ingin hal ini terjadi. Narin bukan psikopat yang begitu terobsesi dengan Karan hingga senang membuat seseorang kehilangan nyawanya. Narin juga sangat terpukul, Karan tidak mengerti jika hati Narin juga merasakan sakit yang luar biasa. "Aku minta maaf. Gara-gara aku, kamu harus kehilangan Gina." Narin membuka suara, walaupun terdengar lirih dan dengan isakan tangis. Menggigit bibir bawahnya menahan tangisannya. Karan tersenyum smirk, melihat Narin menangis tidak akan membuat Karan luluh lalu memaafkan Narin begitu saja. Justru dengan Narin menangis seperti ini membuat Karan semakin membencinya. Dan Karan tidak akan pernah memaafkan orang yang sudah membuat kekasihnya meninggal. "Apa dengan meminta maaf kamu bisa mengembalikan Gina padaku? Lebih baik kamu pergi dari sini, aku tidak ingin melihat wajahmu!" Usir Karan. Narin menegakkan wajahnya lalu menggelengkan kepalanya, "Aku mungkin tidak bisa membuat Gina kembali, tapi setidaknya aku bisa melakukan sesuatu sebagai permintaan maafku pada Gina." Karan tersenyum remeh, dia tidak ingin mendengarkan omong kosong Narin. Karan lalu pergi meninggalkan Narin, namun Narin menarik tangannya. Seketika Karan melepaskan tangan Narin dengan kasar, lalu membersihkan bekas tangan Narin. Karan tidak suka Narin menyentuh tangannya. "Maaf." Lirih Narin, hatinya terasa sakit saat melihat Karan seperti jijik dengannya. Narin bukan benda najis yang tidak boleh disentuh, tapi Karan seolah menganggapnya seperti itu. "Karan, aku yang akan bertanggung jawab. Aku akan menyerahkan diri pada polisi. Aku tidak mau lari dari masalah." Ucap Narin, setidaknya dia mau menjalani hukuman seberat apapun nanti. Hanya ini yang bisa Narin lakukan untuk menebus kesalahannya. "Kamu yakin?" Ucap Karan seraya menaikkan kedua alisnya. Narin mengangguk, "Ya, aku tidak mau dihantui rasa bersalah." Narin melihat Karan berlutut diatas tanah. Setetes air jatuh dari langit membuat Narin mendongak dan melihat langit yang sudah mulai mendung, tanda hujan akan turun. Narin lalu mengajak Karan untuk pergi dari sana, "Karan, hujan akan turun, sebaiknya kita pulang." "Kenapa bukan kamu saja yang mati Narin! Kenapa harus Gina?" Sakit, kata-kata Karan bagaikan pedang yang menghujam jantungnya. Segitu bencinya Karan padanya sampai Karan menginginkan Narin mati. Setetes air mata Narin kembai terjatuh, bersamaan dengan air hujan yang kini mulai berjatuhan. Narin menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum pedih. Memangnya pernah Karan berbicara baik dengannya? Tidak pernah. Semua kata yang Karan ucapkan selalu menyakiti hatinya. Sebelumnya, Narin mungkin tidak memperdulikannya, tapi entah kenapa kata-kata yang Karan ucapkan tadi, membuatnya jauh lebih sakit, sangat sakit. Karan menegakkan tubuhnya, menatap Narin sekilas lalu pergi meninggalkannya. Karan bahkan tidak peduli dengan kondisi Narin yang masih lemah. Narin menangis begitu Karan pergi, hujan semakin deras, seluruh tubuhnya basah karena kehujuanan, namun Narin tetap pada posisinya. Narin memikirkan perkataan Karan, mungkin Karan benar, seharusnya bukan Gina yang mati, tapi Narin. Tak jauh dari sana seseorang menatap Narin yang sudah basah kuyup seraya menggunakan baju pasien rumah sakit. Dia lalu melihat Narin jatuh pingsan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD