Bab 3. Sebuah Tawaran

997 Words
Narin menyisir rambutnya yang berantakan, melihat wajahnya di pantulan cermin. Mata sembab, hidung merah, bibir pucat itulah gambaran Narin sekarang. Narin tak berhenti menangis sejak semalam, ditambah flu karena hujan-hujanan. Tengah malam Narin terbangun setelah beberapa jam dia tidak sadarkan diri. Narin merasa saat itu dia masih di makam, namun tiba-tiba saja dia sudah berada di kamarnya. Mamanya mengatakan jika seseorang sudah mengantarkannya ke rumah sakit dengan kondisi basah kuyup. Narin mengatakan alasan kenapa dia basah kuyup karena dia pergi ke makam Gina bersama Karan. Setelah selesai, Narin turun kebawah. Namun saat sudah berada di anak tangga, Narin tertegun melihat Karan berada di rumahnya. Bukan hanya Karan, tapi kedua orangtuanya juga datang ke rumahnya. Narin pikir setelah kejadian kemarin Karan tidak ingin melihatnya lagi. Narin lalu bergabung dengan mereka, duduk di sofa depan Karan. Mata mereka saling menatap satu sama lain. Narin mengernyitkan dahinya, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Karena Narin sudah disini, jadi saya bisa menyampaikan kabar yang sangat penting." Menghela nafas sebentar lalu Wildan berkata, "Karan setuju untuk menikah dengan Narin." Pernyataan Wildan membuat Narin begitu terkejut. Seperti yang Narin tau bahwa Karan sangat membencinya, bahkan Karan selalu mengatakan jika dia tidak akan pernah mau menikah dengannya, tapi kenapa sekarang Karan berubah pikiran secepat itu? Berbeda dengan reaksi kedua orangtuanya yang terlihat bahagia, Narin justru terdiam. Karan yang sangat membencinya, tiba-tiba setuju untuk menikah dengannya. Apalagi setelah Narin membuat kekasihnya kehilangan nyawa. Tiba-tiba saja berbagai macam pikiran buruk bermunculan di otaknya. Apa yang Karan rencanakan sebenarnya? Disisi lain, Narin memang ingin menikah dengan Karan tapi dia juga masih bisa berpikir waras. Narin tidak ingin menikah disaat Karan bahkan masih berkabung atas meninggalnya Gina. "Bagaimana Narin? kamu setuju kan menikah dengan Karan?" Tanya Elina Narin tersadar dari lamunanya, dia beralih menatap menatap Karan yang kini juga tengah menatapnya. Apa yang harus Narin katakan sekarang? "Kenapa kamu diam saja? Bukankah ini yang kamu inginkan?" Karan menyeringai kecil, dia yakin Narin tidak akan menolaknya. Setelah lama berpikir, akhirnya Narin sudah memutuskan. Narin menganggukkan kepalanya setuju. Kedua orang tua mereka tersenyum lega dan bahagia. Karan tersenyum dengan senyum seringainya, tebakkannya memang tidak pernah salah. Lagipula Narin sangat terobsesi dengannya. Narin mencoba untuk tetap tenang walaupun ada perasaan takut. Takut apakah keputusannya untuk menikah dengan Karan adalah hal yang benar. Tapi bukankah itu impiannya? Merasa tenggorokannya kering, Narin pergi ke dapur untuk mengambil minum. Sedangkan kedua keluarga tersebut tengah berbincang mengenai rencana pernikahan kedua anaknya. Narin terkejut saat sesorang tiba-tiba menarik lengannya kasar. "Karan? Kenapa kamu mengikutiku?" "Kenapa? Apa aku tidak boleh mengikuti calon istriku, hm?" Tanyanya dengan nada menyindir. Jujur saja Karan merasa geli menyebut Narin sebagai calon istrinya. "Apa yang kamu rencanakan Karan? Dari awal kamu tidak pernah menginginkan pernikahan, tapi kenapa secepat itu kamu berubah pikiran?" Narin mengutarakan pertanyaan yang sedari tadi menghantui pikirannya. Karan menarik satu sudut bibirnya, lalu mengeratkan cekalan tangannya, dan berkata dengan nada pelan namun menusuk, "Karena aku membencimu, jadi aku setuju untuk menikah denganmu." Narin menautkan kedua alisnya bingung, perkataan Karan membuatnya tidak bisa bepikir nalar, "Apa maksudmu?" Karan melepaskan tangannya hingga membuat Narin terhuyung ke belakang. Menepuk tangannya, menghilangkan noda di tangannya karena sudah menyentuh Narin. "Ah ya untuk kasus Gina, kamu tidak perlu menyerahkan diri pada polisi. Aku tidak butuh itu." Dari semalam Karan sudah memikirkan semuanya, terlalu mudah untuk Narin berada di penjara karena tidak lama Narin pasti akan keluar dengan jaminan dan dia akan kembali hidup normal. Karena itu, Karan lebih memilih untuk menyiksa Narin sepanjang hidupnya dengan menikah dengannya. Karan akan membuat Narin serasa di neraka saat tinggal bersamanya, itu yang Narin pantas dapatkan karena sudah menghancurkan hidupnya. "Aku pasti akan membuatmu menyesal karena sudah menikah denganku, Narin." Ucapnya berbisik di telinga Narin. Narin tertegun mendengar perkataan Karan. Karan menatapnya tajam seolah-olah Karan ingin membalaskan dendam. Narin mempunyai firasat yang sangat buruk. "Karan, aku pikir kita batalkan saja pernikahan ini. Aku--" Karan memotong pembicaraan, "Aku tidak akan membatalkan pernikahan ini. Apa kamu tidak lihat betapa bahagianya keluarga kita saat tau jika kita akan menikah? Pikirkan keluargamu! Kamu pasti tidak mau membuat mereka kecewa kan?" Narin terdiam dan berpikir, Karan benar, Narin sudah terlanjur setuju untuk menikah dengan Karan. Jika Narin membatalkannya, kedua orangtuanya akan kecewa dengannya. Jika begitu, apapun yang akan Narin hadapi nanti, dia harus siap. Narin percaya jika suatu saat nanti Karan akan luluh dengannya. Sekeras kerasnya batu pasti akan terkikis jika terus terkena tetesan air, begitupun dengan manusia, jika sekarang hati Karan sekeras batu, tapi jika Narin menghadapinya dengan kesabaran dan ketulusan, Karan pasti akan luluh. Narin menatap dalam mata Karan lalu berkata,"Karan, sekarang kamu mungkin membenciku, tapi jika suatu saat aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku, apa yang akan kamu lakukan?" Narin ingin Karan tau jika Narin tidak akan pernah menyerah, dia pasti akan membuat Karan jatuh cinta padanya suatu saat nanti. Karan menaikkan satu sudut bibirnya, "Tidak mungkin, hal itu tidak akan pernah terjadi." "Apa kamu mau bertaruh denganku?" Karan menaikkan satu alisnya, dia lupa jika Narin adalah perempuan keras kepala, dia sudah tahan dengan sikap jahat Karan padanya selama bertahun-tahun, namun sampai sekarang Narin masih setia mencintainya. Tetapi Karan tidak menduga jika Narin berani menantangnya seperti itu, "Simpan saja omong kosongmu Narin! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintaimu." Narin menyilangkan kedua tangannya di depan d**a, menarik satu alisnya ke atas, "Kenapa? Kamu takut? Kamu takut jika suatu saat kamu akan kemakan omonganmu sendiri, kamu takut jika kamu akan mencintaiku, hm?" Karan tersenyum remeh, Narin ini terlalu percaya diri sekali. "Baiklah, aku akan mengikuti permainanmu. Tapi jangan pernah bermimpi aku akan jatuh cinta denganmu." Narin mengulurkan tangannya untuk bersalaman, namun Karan hanya tersenyum miring lalu pergi meninggalkannya. Narin menghela nafas, sejujurnya Narin merasa takut dan sedikit tidak percaya diri karena bagaimanapun Narin yang akan menjadi orang yang paling tersakiti disini. Namun Narin akan tetap berusaha yang terbaik untuk hubungan mereka. Setidaknya Narin bisa membuat Karan tidak lagi membencinya. Jika Karan jatuh cinta dengannya, anggap saja itu sebagai bonus. "Karan, aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta denganku." Ucapnya menyeringai lebar
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD