Bab 4. Malam mengenaskan

1018 Words
Narin Maheswara resmi menikah dengan Karan Septian. Mereka menikah bukan karena saling mencintai, namun karena perjodohan kedua orang tuanya. Ralat, hanya Narin yang mencintai Karan, tidak dengan Karan yang membenci Narin. Sudah lama sekali Karan membenci Narin, karena Narin yang sudah menyebabkan kekasihnya meninggal, hal itu membuat kebencian dalam diri Karan semakin besar. Seperti sekarang, setelah acara pernikahan mereka selesai, Narin tidak melihat batang hidung Karan, entah kemana perginya suaminya itu. Suami? Narin bahkan tidak menyangka jika Karan resmi menjadi suaminya. Narin sudah lama menantikan hal ini, walaupun Karan tidak mencintainya, setidaknya Narin bisa memiliki Karan seutuhnya, mungkin. Karan meninggalkan acara begitu saja, dan Narin yang harus mencari alasan jika ada beberapa tamu yang bertanya kenapa Karan tidak bersamanya. Malam nanti adalah acara resepsi, dan Narin berharap Karan tidak akan melakukan hal ini lagi. Di kamarnya, Narin duduk sendiri seraya memikirkan bagaimana kehidupannya setelah menikah dengan Karan. Narin tidak yakin jika dia akan bahagia karena dia tau Karan sangat membencinya. Narin menoleh ke arah jam dinding, jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Sebentar lagi acara resepsi, namun Karan tak kunjung pulang. Narin masih menunggunya, harap-harap cemas, takut Karan tidak datang ke acara resepsi pernikahan mereka. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Narin tersenyum sumringah, dia mengira Karan yang datang, namun detik berikutnya senyum Narin luntur, bukan Karan melainkan MUA yang akan meriasnya di acara resepsi nanti. "Kita mulai sekarang ya?" Narin mengangguk, dia lalu bertanya, "Apa Karan sudah datang?" "Sudah, baru saja kembali beberapa menit yang lalu." Narin tersenyum lega, Narin pikir Karan tidak akan pulang. Narin sudah berpikir buruk. 1 jam setelah Narin selesai dirias, terdengar suara pintu terbuka, Narin menoleh, melihat Karan datang menemuinya. Orang yang merias Narin keluar meninggalkan mereka berdua. "Karan, aku pikir kamu tidak datang ke acara resepsi pernikahan kita." Ucap Narin seraya melihat Karan di pantulan cermin. "Sebenarnya itu ide yang bagus, hanya saja aku tidak mau membuat keluargaku malu." Karan berdiri di belakang Narin yang kini tengah duduk menghadap cermin besar. Karan lalu meletakkan tangannya di kedua sisi kursi dan menatap datar Narin di balik cermin, "Kamu tau alasanku mau menikah denganmu kan? Karena aku membencimu! Bagiku, ini hanya pernikahan palsu, jadi jangan pernah berharap lebih Narin!" "Dan aku akan membuatmu menyesal karena menikah denganku. Ingat itu baik-baik." Ucap Karan dengan nada mengancam. Setelah mengatakan itu, Karan pergi meninggalkan Narin yang kini terdiam mendengarkan perkataan Karan yang cukup menyakitkan. Narin menghela nafas, berusaha untuk tetap tenang. Sesuai janji Narin, dia akan membuat Karan jatuh cinta dengannya, dan itu akan tetap Narin lakukan. Apa yang Karan katakan tadi tidak akan membuat Narin menyerah begitu saja. Narin sudah kebal dengan hinaan dan cacian Karan padanya. Acara resepsi di gelar secara mewah di sebuah gedung. Seluruh tamu mulai berdatangan. Pengantin pria dan wanita kini tengah berada di atas panggung untuk bersalam-salaman dengan tamu yang datang. Setelah acara selesai, para tamu pulang ke rumah masing-masing. Begitupun dengan keluarga Karan dan Narin, mereka pulang ke rumah masing-masing, sedangkan Karan dan Narin pulang ke rumah yang sudah orang tua Karan siapkan. Orang tua Karan sudah lama menyiapkan rumah itu untuk ditempati Karan dan calon istrinya. Karan menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang rumah. "Karan, kenapa kamu berhenti disini?" Narin terlihat kebingungan. "Turun!" Perintah Karan. "Karan, kamu mau pergi kemana?" "Kemanapun aku pergi, itu bukan urusanmu. Cepat turun!" "Tapi Karan, malam ini--" "Aku tidak peduli Narin! Cepat turun atau aku yang akan menyeretmu masuk ke dalam." Ancamnya. Narin mengangguk, turun dari mobil dengan menenteng tas berisi pakaiannya. Karan lalu melempar kunci rumah pada Narin membuat Narin sedikit kaget. "Itu kunci rumah, ah ya kamu tidak perlu menungguku. Aku mungkin tidak akan pulang." Setelah mengatakan itu Karan menutup kaca mobilnya lalu melaju meninggalkan Narin. Narin hanya bisa pasrah saat Karan pergi. Narin bahkan belum pernah datang ke rumah itu sebelumnya, bisa-bisanya Karan meninggalkannya sendirian. Tidak ada yang bisa Narin lakukan selain masuk ke dalam rumah itu, karena jika Narin pulang ke rumahnya, orangtuanya pasti akan curiga. Narin membuka kunci gerbang, lalu masuk ke dalam. Begitu Narin masuk ke dalam rumah, dia langsung menuju ke kamarnya. Tapi Narin tidak tau dimana kamarnya, karena itu dia tidur di kamar mana saja. Narin sangat lelah, dia sangat ingin beristirahat. Narin memutuskan untuk membersihkan diri, setelah selesai dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Narin tidak memikirkan Karan karena rasa lelah membuatnya tidak mau memikirkan apapun selain tidur. Beberapa jam kemudian, Narin terbangun saat mendengar suara mobil. Melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 2 pagi. Karan pulang? Pikir Narin. Narin beranjak dari tempat tidurnya lalu bergegas menemui Karan. Narin membuka pintu, saat pintu terbuka Narin terkejut melihat Karan bersama dengan seorang wanita. Hati Narin terasa tercubit melihat suaminya bersama wanita lain saat malam pernikahan mereka. "Karan, dia siapa?" Tanya wanita itu. Karan menatap Narin lalu berkata, "Dia Narin." "Ayo kita masuk." Lanjutnya. Mereka masuk ke dalam rumah, tatapan Narin tertuju pada tangan wanita itu yang menggandeng mesra suaminya. "Karan?" Karan menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya menghadap Narin. "Kenapa kamu bawa wanita lain ke rumah kita?" "Ini rumahku, jadi aku bebas membawa siapapun kesini." "Tapi aku istri kamu, dengan membawa wanita lain ke rumah sama saja kamu tidak menghargai aku sebagai istri kamu." "Istri palsu maksud kamu? Kita memang sudah menikah tapi aku tidak pernah menganggap kamu sebagai istri aku karena ini hanya pernikahan palsu." "Tapi Karan--" Karan berbalik pergi meninggalkan Narin. Narin menghembuskan nafasnya kasar, dia tidak boleh terlihat sedih walaupun hatinya memang sakit. Narin sudah menyiapkan dirinya untuk hal ini. Narin yakin ini adalah salah satu cara Karan agar Narin merasa menyesal menikah dengannya. Narin mengikuti langkah mereka yang berjalan menaiki tangga. Disana, Narin melihat ada sebuah kamar dan mereka masuk ke dalam sana. Narin tidak menyangka saat malam pertamanya, dia justru mengalami hal yang sangat menyedihkan. Narin menghela nafas, mendengar ponselnya berdering, dia lantas pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya. Ibu mertuanya, menghubunginya. Narin mengangkat teleponnya, "Halo?" "Narin, bagaimana keadaan kalian?" "Narin baik-baik saja ma." "Ah ya, dimana Karan? Mama ingin berbicara dengannya." Narin terdiam, apa yang harus dia katakan? Narin keluar kamar, menatap pintu kamar Karan dari bawah. Narin tidak mungkin pergi kesana, dia takut melihat atau mendengar sesuatu yang lebih menyakitkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD