Bab 5. Tidak menjadi rahasia

1001 Words
Tiga hari menikah dengan Karan, setiap malam Karan selalu membawa wanita berbeda menginap di rumah. Dan mereka tidur di kamar yang sama, entah apa yang mereka lakukan di sana. Narin hanya menyayangkan sikap Karan, selain menyakitinya, Karan juga menyakiti Gina. Jika Gina tau hal ini, dia pasti sangat sedih melihat Karan tidur dengan wanita lain. "Sudah tiga hari Karan, tiga hari kamu membawa wanita berbeda datang ke sini. Sebenarnya apa yang kamu pikirkan?" "Jika kamu tidak suka atau keberatan, kamu bisa meninggalkan rumah ini." Narin tersenyum simpul, "Kamu pikir dengan melakukan ini bisa membuatku pergi? Apa yang kamu lakukan sekarang tidak berpengaruh apa-apa Karan." "Hanya saja aku merasa kasihan dengan Gina. Mungkin Gina berpikir kamu pria yang setia, ternyata dia salah. Kamu bahkan tidur dengan wanita lain. Jika Gina melihatnya, dia pasti sangat kecewa denganmu, Karan." Perkataan Narin sukses membuat Karan diam seribu bahasa. Sejak hari itu, Karan tidak lagi membawa wanita lain ke rumah. Kini pernikahan mereka sudah memasuki minggu pertama dan mereka kembali berangkat kuliah. Jika kalian pikir Karan dan Narin berangkat bersama, kalian salah besar. Karan berangkat dengan membawa mobilnya, dan membiarkab Narin berangkat sendiri. Karan tidak sudi berangkat berdua dengan Narin, dia tidak mau pernikahannya akan terbongkar. Dan disinilah Narin sekarang, duduk di depan halte menunggu bus. Alih-alih berangkat bersama, Karan justru membiarkan Narin berangkat sendiri, bahkan Narin harus berjalan kaki untuk sampai ke halte. Menghadapi Karan memang membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Beberapa menit menunggu, bus datang dan semua penumpang masuk ke dalam termasuk Narin. Bus tersebut lantas melaju meninggalkan halte. Narin sampai di Universitasnya begitupun dengan Karan yang baru saja memarkirkan mobilnya. Narin yang melihat Karan baru sampai lantas mendekatinya, "Karan, aku pikir kamu sudah sampai lebih dulu." Karan mengacuhkan Narin, dia melengang pergi begitu saja. Narin memutar bola matanya malas, dia lantas mengikuti Karan dari belakang. Karan yang menyadari, dia lantas berhenti mendadak hingga Narin tak sengaja menabraknya. "Berhenti mengikutiku Narin! Dan ingat, jangan pernah dekat-dekat denganku!" Karan melihat sekitar lalu berkata dengan nada lirih namun tegas, "Jangan pernah menunjukkan seolah-olah kita sudah menikah, bersikaplah seperti biasa, aku tidak mau semua orang tau tentang status kita. Kamu mengerti?!" "Tapi kenapa? Kenapa kita harus menyembunyikannya?" Tanya Narin. "Kamu masih bertanya kenapa? Karena aku tidak ingin semua orang tau kamu istriku, dan itu akan membuatku malu. Kenapa kamu tidak mengerti juga, hm?" Karan yang sudah sangat jengkel, dia lantas pergi meninggalkan Narin. Narin memanyunkan bibirnya, apa Narin terlihat memalukan? Narin terpaksa menuruti permintaan Karan, padahal jika bisa Narin ingin semua orang tau kalau Karan adalah suaminya, jadi tidak ada wanita lain yang sengaja menggoda suaminya. Walaupun pernikahan mereka digelar secara mewah namun semua temannya tidak ada satupun yang tau tentang pernikahan Karan dan Narin. Alasannya karena Karan tidak ingin membuat satu Universitas heboh dengan berita tersebut. Karan juga tidak ingin merusak reputasinya karena menikah dengan Narin. Siapa yang tidak mengenal Karan Septian? Hampir satu Universitas bahkan mengenal Karan. Karena memang Karan terkenal dengan ketampanannya dan kepintarannya, dia juga termasuk pria populer di Universitasnya. Karan berjalan mendekati geng nya yang tengah berkumpul di kelas. "Ran, kamu sudah berangkat?" Tanya Calvin. "Hm." Karan meletakkan tasnya di atas meja lalu duduk. "Ran, baguslah kamu sudah berangkat, ada yang ingin kita tanyakan." Ucap Rendy dengan nada serius. Karan menaikkan kedua alisnya, "Apa?" "Apa benar kamu dan Narin sudah menikah?" Seketika Karan membelalakan matanya, terkejut karena temannya tau tentang pernikahannya. "Bagaimana kalian tau?" "Apa kamu tidak membaca grup kelas?" Karan menyipitkan kedua matanya, dengan cepat dia mengambil ponselnya di tasnya. Membuka grup kelas, lalu menghela nafas berat seraya mengusap wajahnya kasar. Narin Maheswara! Wanita itu, Karan yakin Narin yang sudah menyebarkan berita ini. "Jadi, selama ini kamu berbohong? Kamu izin tidak berangkat selama seminggu itu bukan ke rumah nenek di kampung, tapi menikah dengan Narin?" Karan tak menjawabnya, hatinya sedang dongkol karena Narin. Karan meremas ponselnya lalu beranjak dari duduknya, dia lantas pergi meninggalkan kedua temannya. "Ran? Mau kemana?" Tanya Calvin. "Aku ada urusan sebentar." Jawab Karan sebelum menghilang dari balik pintu. Disisi lain, Narin meremas tangannya yang terasa dingin dan gemetar. Tiba-tiba Karan muncul di depannya, Narin menghela nafas kasar, dia sudah menduganya. Setelah berita pernikahan mereka tersebar, Karan pasti akan datang menemuinya. Dan benar saja, Karan muncul dengan ekspresi datarnya, namun di balik itu, Karan pasti tengah menahan amarah, pikir Narin. Karan mendekatinya lalu menarik pergelangan tangan Narin, "Ikut denganku." Terpaksa Narin mengikutinya, dia juga ingin membicarakan masalah ini dengan Karan. Karan membawa Narin keluar dari kelas. "Karan, apa kamu tidak bisa berjalan lebih pelan?" Karan tidak menghiraukan pertanyaan Narin, dia terus berjalan cepat membuat langkah Narin terseok-seok karena mengikuti langkah Karan. "Karan, tanganku sakit." Setelah sampai di tempat yang sepi, Karan melepaskan tangannya secara kasar. Narin mengelus pergelangan tangannya yang sakit, dan juga sedikit kemerahan. "Bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk tidak memberitahu semua orang tentang pernikahan ini?!" Tanya Karan meluapkan emosinya. "Aku tidak melakukan apapun, dan aku tidak tau kenapa berita itu cepat menyebar." Jawab Narin dengan tenang, karena dia juga tidak tau siapa yang sudah melakukan itu. Karan berdecak sebal, menyisir rambutnya ke belakang. Narin melihat Karan yang begitu gelisah, dia lantas bertanya, "Memangnya kenapa jika mereka tau kita sudah menikah? Aku rasa menikah itu bukan sebuah dosa besar yang harus ditakutkan." Karan tersenyum miring, "Ya, menikah memang bukan dosa besar, tapi menikah denganmu yang membuat aku merasa sudah melakukan dosa besar. Kamu tau kenapa? Karena aku menikah dengan orang yang sudah membunuh kekasihku, dan itu adalah dosa besar yang sudah aku lakukan." Perkataan Karan seperti sebuah jarum yang langsung menusuk jantungnya tanpa permisi. Selama ini Karan menganggap pernikahannya dengan Narin adalah dosa besar, dan itu membuat hatinya sakit sekali. Narin menahan air matanya yang hampir jatuh. Narin harus lebih bersabar, bukankah dia sudah terbiasa mendengar mulut kotor Karan? Setelah mengatakan hal menyakitkan itu, Karan pergi meninggalkan Narin. Narin yang tidak bisa lagi menahannya, seketika air matanya menetes di pipinya, secepat mungkin Narin menghapusnya. "Tega sekali kamu berkata seperti itu Karan? Jika saja aku tidak mencintaimu, aku juga tidak akan pernah melakukan hal bodoh seperti ini. Cih!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD