Hidup itu pilihan, dan Narin memilih untuk menikah dengan Karan, pria yang jelas-jelas membencinya. Awalnya Narin berencana membuat Karan jatuh cinta dengannya, tapi sekarang Narin merasa tidak percaya diri dengan rencananya.
"Narin! Dimana sepatuku!" Teriak Karan.
Narin menghembuskan nafas berat, baru saja duduk sebentar Karan sudah berteriak. Narin bahkan rela bangun pukul 4 pagi untuk membersihkan rumah dan juga memasak, belum lagi mencuci pakaian, menjemur, menggosok, dan melipat. Semua itu Narin lakukan setiap hari setelah menikah dengan Karan.
Narin memang sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga, namun Narin masih dibantu mamanya, dan setelah menikah Narin harus belajar mandiri, apapun dia kerjakan sendiri. Sedangkan Karan? Pekerjaan dia hanya makan, tidur, main, tidak ada bantuannya sama sekali.
Narin menemui Karan, melihat Karan yang tengah duduk santai di sofa dan sibuk bermain ponsel. Atensinya beralih ke rak sepatu, semua sepatu milik Karan masih tertata rapi disana.
"Apa kamu tidak melihat sepatumu di rak? Kenapa harus berteriak?" Tanya Narin yang tengah berkacak pinggang.
Karan melihat rak sepatu, "Oh ya? Aku tidak melihatnya tadi." Ucap Karan seraya mengendikkan bahunya.
"Kamu pasti sengaja mengerjaiku kan?"
"Apa kamu pikir aku tidak ada kerjaan lain, ha?"
Karan beranjak dari sofa, memakai sepatunya.
"Kamu mau kemana?"
"Pergi."
"Bisa tidak kali ini jangan kemana-kemana? Bantu aku beres-beres rumah, aku lelah." Narin mengusap keringat yang mengalir di dahinya, dia benar-benar lelah mengerjakan perkerjaan rumah dari pagi sampai hampir siang.
"Aku tidak peduli, kerjakan saja tugasmu. Aku harus pergi."
"Tapi Karan--"
"Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu Karan?"
Karan menoleh, tiba-tiba saja mamanya sudah berada di rumahnya. Elina, sengaja datang ke rumah mereka untuk berkunjung, melihat bagaimana keadaan mereka setelah menikah. Namun Elina justru menghadapi hal seperti ini, dan itu membuatnya tidak suka dengan sikap Karan pada Narin.
Elina mendekati mereka, "Narin itu istrimu, kalian sudah menikah. Suami istri seharusnya saling membantu, itu namanya kerja sama."
"Kamu mau kemana?" Tanyanya.
"Pergi ma."
"Kamu tidak boleh pergi." Tegas Elina.
"Tapi ma, aku ada urusan dengan teman."
"Apa temanmu lebih penting dari pada membantu istrimu sendiri?" Elina lalu merangkul bahu Narin, "Apa kamu tidak lihat istrimu kelelahan karena bekerja sendirian? Sebagai suami, harusnya kamu bantu istrimu, tugas rumah bukan hanya tugas istri, tapi tugas berdua."
Karan berdecak sebal, Narin tersenyum puas, beruntung mertuanya datang ke rumah disaat yang tepat. Narin merasaa terselamatkan, memang pantas Karan di beri wejangan agar tidak semena-mena dengan istri.
Melihat hal ini, sesuai dengan prediksi Elina, mereka masih belum akur walaupun sudah menikah. Karan masih saja keras kepala, sebenarnya Elina merasa kasihan dengan Narin karena Narin mungkin diperlakukan dengan tidak baik oleh Karan, tapi Elina berharap Narin bisa bersabar sampai Karan luluh dengannya.
Mereka duduk di sofa, begitupun dengan Karan yang harus membatalkan rencananya dengan temannya.
"Mama kesini ada perlu apa?" Tanya Narin.
"Mama kesini untuk melihat keadaan kalian berdua, ah ya mama juga ada sesuatu untuk kalian." Elina mengeluarkan sesuatu dari tasnya lalu menyerahkannya pada Narin, "Ini, ambilah."
"Tiket?"
"Iya, itu tiket hotel ke Thailand. Hadiah dari mama untuk pernikahan kalian."
Narin tersenyum senang, apa itu artinya dia dan Karan pergi Honeymoon? Narin sudah tidak sabar untuk pergi kesana, apalagi Thailand memang salah satu destinasi wisata yang ingin Narin kunjungi.
"Aku tidak akan pergi. Jika Narin mau pergi, dia bisa pergi sendiri." Ucap Karan sukses membuat senyum Narin seketika luntur.
"Kenapa Karan? Setelah menikah kalian belum pergi honeymoon, jadi kamu dan Narin harus pergi."
Honeymoon? Bukankah honeymoon untuk orang-orang yang menikah karena cinta? Sedangkan Karan, dia sama sekali tidak mencintai Narin, dia bahkan merasa jijik.
Narin mengigit bibir bawahnya, dia harus mencari cara agar bisa pergi ke Thailand dengan Karan. Narin tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Kalau kamu tidak mau menganggap ini sebagai honeymoon, anggap saja ini liburan. Aku ingin sekali pergi ke Thailand, kamu mau kan pergi kesana, Karan?"
Karan menggertakkan giginya kesal, jika dia menolaknya, mamanya pasti akan terus memaksanya. Karan akhirnya mengangguk agar semua ini cepat selesai.
Narin tersenyum lebar, dia lalu memeluk Elina, "Terima kasih ma."
Elina tersenyum seraya mengangguk, "Iya. Kalian pergi minggu depan ya?"
Karan menghela nafas, "Sudah selesai kan? Aku boleh pergi sekarang?"
"Tidak bisa, kamu harus membantu Narin mengerjakan pekerjaan rumah."
"Narin, jika Karan pergi, kamu hubungi mama, kalau perlu mama akan paksa Karan untuk pulang."
Elina beranjak, "Mama pulang dulu ya, jaga diri kalian baik-baik."
"Iya ma."
Elina pergi meninggalkan rumah. Sedangkan Narin terus saja tersenyum seraya memandangi tiket yang ada di tangannya. Narin tidak pernah pergi ke luar negeri, karena itu dia begitu antusias. Sebenarnya Narin bisa saja pergi sendiri, tapi dia kan sudah mempunyai suami, jadi Narin harus pergi suaminya.
Karan mengambil tiket hotel dari Narin lalu berkata, "Jika saja aku pergi dengan Gina, aku pasti akan bahagia. Sayangnya aku harus pergi dengan wanita yang sudah membunuhnya." Ucap Karan pada dirinya sendiri, dia tengah menyindir Narin.
Narin yang merasa tersindir lantas menjawab, "Aku rasa kata membunuh terlalu berlebihan, Karan. Aku tidak membunuh Gina, aku hanya tidak sengaja menabraknya."
Karan menatap Narin tajam, "Sama saja, kamu yang sudah membunuh Gina." Ucapnya menunjuk ke wajah Narin.
"Aku akan terus mengingatnya, dan aku juga tidak akan pernah lupa bahwa aku, membencimu, Narina!"
Narin terdiam, walaupun Karan sudah sering mengatakan hal itu, namun tetap saja hati Narin merasa sakit. Rasa benci Karan mungkin sudah mendarah daging. Tapi tidak apa-apa, Narin masih bisa menahannya.
Setelah mengatakan itu, Karan lantas pergi. Narin lalu berkata, "Kamu mau pergi kemana? Kamu harus membantuku mengerjakan pekerjaan rumah, jika tidak aku akan memberitahu mama!"
"Aku tau." Ucap Karan seraya berjalan ke kamar mandi.
Narin menggelengkan kepalanya pelan, walaupun Karan terlihat cuek dan dingin namun saat Karan menjadi penurut, dia terlihat lucu di mata Narin.
"Lihat saja nanti, aku pasti akan membuatmu berhenti membenciku, Karan."