"Karan, hari ini kita berangkat bersama ya, aku ada kelas pagi." Ucap Narin dengan menenteng beberapa buku dibukunya. Semalaman Narin mengerjakan tugasnya yang cukup banyak hingga membuatnya tidur jam 2 pagi dan berakhir dengan bangun kesiangan.
"Tidak bisa, hari ini aku akan menjemput Jane."
Narin mengerutkan dahinya, "Jane? Sejak kapan kamu dekat dengannya?"
Narin mengenal Jane, perempuan yang selalu mengejar Karan, dan setau Narin Karan tidak menyukai Jane, seperti Karan yang tidak menyukai Narin. Tapi kenapa tiba-tiba Karan ingin menjemputnya?
"Bukan urusanmu." Karan mengambil kunci mobilnya lalu pergi meninggalkan Narin.
Narin berdecak sebal, bagaimana bisa Karan pergi dengan wanita lain sedangkan istrinya sedang membutuhkan bantuannya? Narin bergegas pergi, berlari menuju halte, dia tidak punya banyak waktu lagi.
Narin mempercepat langkahnya, walaupun dia sudah sangat lelah dan tubuhnya dipenuhi keringat, namun Narin tidak menyerah. Tak jauh dari sana, Karan tersenyum miring melihat Narin yang kelelahan, puas sekali melihat Narin menderita. Itu belum seberapa karena Karan pasti akan melakukan hal yang jauh lebih buruk dari pada itu.
Tak lama Karan melihat sebuah mobil berhenti tepat di samping istrinya itu.
Narin menghentikan langkahnya saat sebuah mobil berhenti di sampingnya. Narin lalu melihat seseorang membuka kaca mobil, dia lantas membelalakan terkejut, Narin mengenalnya, "David?"
Pria bernama David itu tersenyum, "Bagaimana kabarmu, Narin?"
"Aku baik-baik saja. Lalu bagaimana denganmu? Kamu kemana saja selama ini?"
David adalah kakak kelas Narin saat masih sekolah menengah pertama. Bisa dikatakan dulu mereka penah menjalin hubungan. Namun saat David lulus sekolah, David pergi entah kemana tanpa memberitahu Narin sama sekali. Saat itu juga hubungan mereka pun berakhir.
Setelah beberapa tahun mereka kembali dipertemukan.
"Ceritanya panjang. Ah ya, kamu mau kemana?"
"Aku mau ke halte depan, mau berangkat kuliah."
"Ayo, aku antar."
Narin tersenyum mengangguk, dengan senang hati dia menerima ajakan David. Narin tidak bisa basa-basi karena memang Narin sudah sangat lelah, Narin sangat berterima kasih pada Tuhan karena sudah memberinya kemudahan.
Karan melihat Narin masuk ke dalam mobil, dia mengikutinya.
Sesampainya di Universitas, Narin keluar dari mobil dan berkata, "David, terima kasih karena sudah mengantarkanku."
David menyerahkan ponselnya, "Boleh aku minta nomor telepon kamu Rin?"
Narin awalnya ragu namun akhirnya dia mengangguk, mengambil ponsel lalu memasukkan nomor ponselnya. Narin menyerahkannya pada David.
"Terima kasih Rin."
"Sama-sama, aku masuk dulu."
Saat mobil David melaju, Karan mendekati Narin dan bertanya, "Siapa pria itu?"
Narin tersentak kaget tiba-tiba Karan berada di sampingnya, karena tidak melihat Jane, Narin lantas balik bertanya, "Karan, dimana Jane? Kamu sendiri?"
Karan lupa jika dia hanya pura-pura menjemput Jane hanya untuk mengerjai Narin.
"Aku yang bertanya, kenapa kamu yang balik bertanya ha?" Karan mencoba mengalihkan pembicaraan.
Narin memutar bola matanya malas, membuat Karan berkata, "Kenapa? Kamu tidak mau memberitahuku karena pria itu kekasihmu?"
Narin mengerutkan dahinya kesal, "Jika dia kekasihku, untuk apa aku mau menikah denganmu?"
Narin melengang pergi begitu saja, dia masih jengkel dengan Karan karena sudah membuatnya harus berlari ke halte, beruntung Narin bertemu dengan David, jika tidak Narin pasti sudah terlambat. Jika Narin terkena hukuman, dia tidak akan memaafkan Karan.
Narin keluar dari kelas dengan perasaan lega yang luar biasa, dia bisa menyelesaikan presntasinya dengan baik, dosen memberinya nilai plus. Narin membuka ponselnya, entah siapa yang mengiriminya pesan.
"Narin, ini aku David. Apa kita bisa bertemu malam ini?"
Narin lalu membalasnya, "Kirim saja lokasinya, aku akan kesana."
Narin menyimpan ponselnya kembali, sebenarnya Narin juga ingin mengucapkan terima kasih karena David yang sudah menyelamatkannya. Keberhasilan Narin juga karena David, dia merasa berhutang budi pada David, karena itu Narin setuju untuk bertemu dengan David.
Narin hendak ke kantin, namun di jalan dia bertemu dengan Jane, tidak sendiri namun bersama suaminya, Karan. Atensinya tertuju pada tangan Karan yang dengan sengaja menggandeng tangan Jane. Sebenarnya Narin ingin mengabaikan mereka berdua, tapi jika Narin membiarkan Jane, wanita itu pasti akan terus menggatal pada suaminya.
Narin mendekati mereka berdua lalu bertanya pada Karan, "Sejak kapan kamu dekat dengan Jane? Aku tau kamu tidak pernah menyukainya."
"Memangnya kenapa? Karan juga manusia, dan perasaan manusia bisa berubah kapan saja." Jane yang menjawabnya.
Narin menatap Jane, "Aku tidak bertanya padamu, aku bertanya pada suamiku."
Narin menekankan kata 'suamiku' agar Jane sadar jika Karan adalah suaminya. Berani sekali dia bermesraan dengan suaminya.
"Jane benar, aku mau dekat dengan siapapun, tidak ada urusannya denganmu." Karan menjawabnya dengan nada ketus.
"Tapi aku istrimu Karan, aku tidak suka kamu dekat dengannya." Narin menyuarakan ketidaksukaannya pada Jane, menurut Narin, Jane adalah wanita yang penuh
Jane maju selangkah, menatap Narin dengan gaya angkuhnya, "Aku tau kamu menikah dengan Karan karena perjodohan orang tua kalian, dan Karan tidak pernah mencintaimu. Jadi, Karan bebas dekat dengan wanita manapun."
"Kamu benar Jane, walaupun kita menikah karena perjodohan orang tua, tapi tetap saja statusku adalah istri Karan. Dan aku punya hak untuk melarang kamu dekat dengan Karan."
Dengan tegas Narin mengatakan hal itu, seorang istri memang tidak boleh membiarkan wanita lain menganggu suaminya, sekalipun Narin tau jika Karan tidak mencintainya. Narin juga harus bisa mendapatkan haknya sebagai seorang istri. Apalagi Jane adalah wanita yang tidak baik, menurutnya. Karan pasti akan terpengaruh dengan sikap buruk Jane.
Narin melepaskan tangan mereka dengan kasar, sebenarnya dari tadi tangan Narin sudah gatal ingin melepaskan tangan Jane dari suaminya.
"Ingat Jane, semua orang tau kalau aku ini istri Karan, jika kamu terus menggoda suamiku, semua orang pasti akan memandangmu rendah, karena apa? Karena kamu sudah berani mendekati suami orang."
"Kamu tidak berhak berkata seperti itu pada kekasihku, Narin!"
Narin terkejut bukan main, Narin tidak percaya Karan akan berkata seperti itu. Begitupun dengan Jane, dia terkejut sekaligus senang karena Karan menyebutnya sebagai kekasihnya walaupun Karan tidak pernah menembaknya.
"Karan, apa maksudmu?"
Karan kembali memegang tangan Jane dengan erat, "Kamu ingat baik-baik, mulai sekarang Jane adalah kekasihku."
"Tapi, aku istrimu."
"Aku menikah denganmu karena terpaksa. Walaupun status kamu istriku, tapi aku tidak pernah menganggapmu sebagai istriku. Dan sesuai perjanjian, pernikahan kita hanya 1 tahun, setelah itu kita akan bercerai."
Setelah mengatakan itu, Karan membawa Jane pergi dari sana. Narin mengepalkan tangannya, walaupun Narin tidak yakin Karan menjalin hubungan dengan Jane, tapi Narin kesal, marah, dan sedih karena Karan berkata seperti itu di depan Jane. Apapun yang terjadi di pernikahan mereka, Narin hanya ingin mereka yang tahu, tapi Karan justru mengatakannya pada wanita yang jelas-jelas ingin menghancurkan pernikahan mereka.
"Aku tidak akan membiarkanmu merebut apa yang sudah menjadi milikku, Jane."
***
Malam harinya, sesuai janji Narin, dia pergi menemui David yang lokasinya tidak jauh dari rumah Narin. Karena itu, hanya dengan jalan kaki, Narin sampai disana.
Kini mereka tengah duduk berdua. Jujur saja, Narin merasa canggung karena ini pertama kalinya mereka mengobrol di situasi seperti ini.
"Narin, maksudku mengajakmu bertemu untuk menjelaskan, alasan waktu itu aku pergi tanpa memberitahumu."
Untuk beberapa tahun yang lalu, Narin mungkin sangat ingin mendengarkan hal itu, tapi sekarang Narin rasa dia tidak membutuhkannya lagi, karena dia sudah melupakannya. Tapi untuk menghargai David, Narin harus mendengarnya.
"Waktu itu perusahaan papa mengalami masalah yang cukup besar dan mama mengirimku ke luar negeri untuk sekolah disana, di sana ada kakek dan nenek yang bisa merawatku dan membiayai sekolahku. Butuh bertahun-tahun untuk mengembalikan perusahaan papa, setelah perusahaan papa kembali stabil, aku pulang kesini."
"Aku minta maaf Narin."
"Kamu tidak perlu minta maaf, lagipula aku sudah melupakannya." Jawab Narin dengan jujur.
"Aku mencarimu, Narin. Aku ke rumahmu, tapi tetangga kamu mengatakan, kamu sudah tidak tinggal disana."
"Sejak lulus sekolah, aku sudah pindah rumah."
David mengangguk mengerti, "Jadi, kamu sekarang tinggal di area sini?" Tanya David.
Narin mengangguk, namun dia tidak mengatakan dengan siapa dia tinggal.
"Rumahku juga tidak jauh dari sini, kapan-kapan aku pasti akan mampir ke rumah." Ucap David.
Narin terdiam, dia tidak tau harus mengatakan bahwa dia sudah menikah atau tidak. Tapi mungkin bukan sekarang saatnya, lagipula mereka baru bertemu lagi, David tidak mungkin ke rumahnya dalam waktu dekat.
Narin tertegun saat David tiba-tiba menyentuh tangannya dan berkata, "Narin, aku masih mencintaimu, apa kita bisa seperti dulu lagi?"