Sepanjang jalan Fibra tidak pernah melepaskan Zivanya sedetik pun. Malahan setelah sampai mobil dia tidak membiarkan Zivanya lepas dari pangkuannya. Fibra terus merangkulnya dan tidak pernah luput dari mencium keningnya dan membisikan kata maaf dan cinta di telinga sang istri. “Sabar, Zivanya pasti sembuh. Dia wanita yang hebat dan tangguh.” Mizan menepuk pundak sang Adik. sesampainya di rumasakit, tim dokter segera melakukan apa yang di dibutuhkan Zivanya, mereka begitu teliti memeriksanya. Apalagi ketika melihat Fibra yang mengamuk karena dokter sedikit terlambat menangani istrinya. Dia trauma dengan yang namanya telat penanganan, setelah kejadian Zivanya mengalami sesuatu yang mengerikan. Andaikan dia tidak lelet, mungkin Zivanya tidak akan tersiksa seperti saat ini. “Dasar laki-lak

