CHANGE ME - 11

1082 Words
Maura bangkit dari tidurnya saat cahaya mentari menyorot wajah cantiknya. Ia mengerjapkan matanya berkali kali dan mendapati Arinda yang sedang tidur memeluknya.   Maura ingat jika semalam ia meminta Raga untuk membantunya pindah ke kamar Arinda. Karena sangat tidak pantas jika ia tidur di kamar itu dengan status mereka yang memang sudah berpisah. Tapi Raga malah memindahkan Arinda ke kamar mereka dan Raga tidur di kamar yang tadinya di tempati Arinda.   Maura menggeser tubuh Arinda perlahan lahan. Ia tak mau membangunkan gadis kecilnya yang kemarin hampir saja membuatnya gila.   Maura membersihkan dirinya. Ia keluar dari kamar mandi denga menggunakan bathrobe miliknya. Ternyata Raga masih menyimpannya. Apa ada wanita lain yang memakainya tiap menginap ke rumah Raga? Ah, Maura menepuk keningnya dengan sangat keras. Ia merasa bodoh sekarang.   Maura hampir saja membuka pintu walk in closet milik Raga karena terlalu terbawa suasana tujuh tahun yang lalu. Ia memutar tubuhnya menjauhi pintu tersebut. Tapi pada akhirnya Maura memilih untuk tetap membukanya saat mengingat jika ia tak membawa pakaian.   Maura berniat untuk meminjam pakaian Raga. Mungkin kaus pria itu bisa ia gunakan. Tapi lagi lagi ia dibuat tak bisa berhenti berpikir.   Sama seperti bathrobe miliknya, Raga pun masih menyimpan pakaian Maura yang tak sempat wanita itu bawa saat pergi dari rumah itu tujuh tahun yang lalu.   Maura memilih sesetel pakaian santai. Itu adalah pakaian yang Raga kirimkan saat pria itu masih bersekolah di luar negeri. Maura meletakannya namun lagi lagi ia berubah pikiran. Ia mengenakan pakaian tersebut sebab yang tersisa hanya beberapa potong dress berlengan pendek miliknya.   Setelah selesai merapikan penampilannya, Maura membangunkan Arinda yang masih terlelap di dalam mimpi.   "Arindaaa...sayaaang...bangun dong cintanya Mama. Udah pagi nihhh" ucap Maura sambil menepuk pelan tubuh Arinda.     Raga yang masuk ketika Maura selesai berdandan pun mengurungkan niatnya untuk membuka suara. Ia ingin menikmati momen indah yang selama ini sudah sangat jauh ia lewatkan.   Arinda mulai menggeliat. Gadis kecil itu sudah membuka matanya tapi memilih untuk menutupnya lagi.   "Ariin ayo dong bangun. Kita harus pulang sayang"   "Arin gak mau pulang, Ma" Arinda menarik selimutnya sampai ke kepala.   "Ari-"   "Kenapa harus pulang?" Raga akhirnya membuka suara karena mendengar keinginan Maura yang ingin pulang.   "Lohh..kita kan udah..."   Belum sempat Maura menyelesaikan ucapannya, ponsel di atas nakas berdering.   "Kamu bawa ponsel aku?" Tanya Maura pada Raga.   "Aku gak bawa. Tapi kamu yang bawa"   "Aku?"   "Kamu kan pingsan sambil megang ponsel, Ra. Mana kenceng banget lagi megangnya"   Maura ingin mengeluarkan suaranya, tapi lagi lagi dering ponselnya menginterupsi.   "Ya? Hallo?"   ...   "Aku..."   ...   "Mama gak ngerti!"   ...   "Aku gak mau!"   ...   "Ma!"   Maura mengeluarkan air matanya. Kali ini ia tak mau menahannya lagi seperti dahulu. Menahan air mata membuatnya merasa lebih terluka.   "Ada apa?" Ucap Raga yang ternyata sudah berada di samping Maura.   "Mama, Ga"   "Kenapa?"   "Mama tau aku ketemu sama kamu"   "Terus?"   "Mama marah, Ga. Dia bilang aku gak punya harga diri. Mama minta aku buat gak nemuin kamu lagi" air mata Maura semakin membanjiri wajah cantiknya.   "Sssttt...gak akan ada yang bisa misahin kita lagi, Ra. Pegang kata kata aku" Raga menarik Maura kedalam dekapannya. Pria itu juga mengusap kepala Maura agar wanitanya berhenti menangis.   Maura memeluk Raga dan mengencangkan pelukannya. Seakan Maura takut jika melonggarkannya sedetik saja, ia bisa kehilangan Raganya lagi.   Raga pun mencium kening Maura dengan sayang. Memancarkan keyakinan jika mereka tak akan pernah berpisah lagi.   "Mama sama Papa mau kasih Arinda adik yaaa?" Tanya Arinda dengan polosnya.   Sontak perkataan gadis itu membuat Maura menghentikan tangisannya dan melepas pelukannya dengan Raga.   "Arin mau?" Tanya Raga.   "Mau, Pa!" Jawab Arinda antusias.   "Ragaaaa!!!" Maura memukul lengan Raga dengan wajahnya yang memerah.   "Siapa yang ajarin kamu ngomong kaya gitu Arinda?!" Tanya Maura tidak santai.   "Teman Arinda, Ma. Kata teman Arinda, kalau kita di cium nanti bisa hamil" "Kamu jangan keseringan ngobrol sama teman disekolah. Mengerti?"   Arinda menganggukan kepalanya.   "Kamu jangan serius kaya gitu dong, Ra. Liat tuh anak kita jadi ketakutan" jelas Raga.   "Anak kita?!" Maura mengelak karena masih malu dengan Arinda.   "Kamu mau aku ingetin gimana kita buatnya?" Bisik Raga di telinga Maura. Membuat wanita itu merinding seketika.   "Sana kamu!" Usir Maura yang sudah tidak tahan lagi dengan rasa panas yang menjalar di kedua pipinya.   "Ayo. Aku kesini mau ngajak makan. Sarapannya udah siap" jelas Raga masih dengan tawa jahilnya.   "Nanti aku susul sama Arinda. Keluar sana!"   "Iya iyaaaaa" Raga mengalah karena tak tahan ingin terus tertawa melihat ekspresi wanitanya itu.   *****   Maura dan Arinda menuruni anak tangga. Mereka mendapati Raga tengah duduk di kursi utama di meja makan sedang menyesap secangkir teh.   "Anak Papa udah cantik nih?" Ucap Raga saat menyadari kehadiran dua perempuannya.   Arinda tersenyum malu malu lalu duduk di pangkuan Raga dan memeluk pria itu dengan erat.   "Hei, anak Papa kenapa?"   "Gak apa apa. Arin cuma pengen peluk Papa aja. Arin takut gak bisa ketemu Papa lagi"   "Arin jangan ngomong gitu dong" ucap Raga sambil memeluk gadis kecilnya   Seorang pelayan memasuki ruang makan sambil membawa hidangan terakhir. Sepiring Omelette Telur dengan sayur sayuran. Makanan kesukaan Maura.   "Ga?" Tanya Maura yang heran. Pasalnya sejak hari pertama menikah, Raga sudah berubah menjadi sosok pria yang sama sekali tak Maura kenal. Maura lebih sering sendirian melakukan aktifitasnya yang seharusnya dilakukan berdua dengan Raga. Ia jadi heran kenapa Raga tau makanan kesukaannya.   "Wahh ini Nyonya yang fotonya ada di kamar Tuan, ya?" Ucap pelayan tersebut sambil meletakan hidangan terakhir.   Maura hanya tersenyum tanpa berniat menjawab. Wanita itu terlalu malu untuk menjawab.   "Silahkan dimakan, Nya" ucap Bi Yati, nama pelayan tersebut. Bi Yati segera meninggalkan ruang makan.   "Arin, sini di samping Mama. Nanti Papa gak bisa makan kalau Arin duduk di pangkuan Papa" tegur Maura lembut.   Dengan berat hati, Arinda turun dari pangkuan Raga dan duduk di kursi yang Maura tunjuk.   "Papa, doa" pinta Arinda.   "Oke. Sebelum berdoa, Papa mau nanya sama Mama. Kamu masih suka makanannya kan?" Raga mengangkat sebelah alisnya.   Maura yang mengerti makanan apa yang di maksud Raga segera menganggukan kepalanya tanpa berniat untuk membuka suara.   "Kamu jangan heran. Dulu waktu kita masih sekolah, kamu selalu bawain aku itu. Padahal kamu tau aku gak suka sayur. Tapi kamu bilang, ini makanan kesukaan aku Diraga Andreas. Kalau aku suka ya berarti itu enak" jelas Raga sambil memperagakan gaya bicara Maura sewaktu dulu.   Maura menundukan kepalanya. Pagi ini Raga sudah menyerangnya hingga ia terus terusan merasa malu.   Arinda hanya menatap kedua orang tuanya dengan senyum yang mengembang. Ia sangat senang sekarang. Keluarganya telah lengkap.   Ting...tong...ting..tong..   Belum sempat mereka memulai sarapannya, suara bel di rumah itu menghentikan aktifitas mereka.   "Biar aku yang buka" ujar Maura sambil bangkit dari duduknya. Ia harus menormalkan wajahnya dan jantungnya.          
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD