Angela tengah dipaksa untuk tidak masuk kuliah hari ini. Mengapa ada kata ‘dipaksa’? Karena memang itulah kenyataannya. Sang ayah yang memang begitu kolot, langaung saja panik kala tahu putri tunggalnya pingsan di kelas.
Beberapa dokter datang untuk memeriksa, lalu ahli gizi pun didatangkan, seakan sang putri nyawanya sudah diujung tanduk.
Sikap berlebihan semacam itu yang membuat Angela sering kali merasa malas.
“Papa apaan, sih? Aku baik-baik aja, Pa,” keluh Angela, yang hanya boleh berbaring di ranjang. Seakan ada alarm berbunyi tiap ia bergeser sedikit saja, sang ayah pasti akan tahu.
Ajaib dan mengesalkan.
“Bagaimana papa gak khawatir, Angie, kamu pingsan di kelas dan gak ada yang tahu, hah? Papa disurih diam saja juga gak mungkin.” Michael mendekat pada putrinya. “Papa gak mau melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Dulu mama kamu sakit, papa gak tahu apa-apa.”
“Pa ... kita semua gak tahu.”
“Kamu masih kecil, Angie.”
“Iya, itu maksudku. Jadi, Papa gak sendirian, oke? Lagi pula, ada si ... aduh siapa namanya, ya?” Angela berusaha mengingat nama teman sekelas yang menolongnya. “Yang ... itu, lho, Pa. Yang tinggi tegap badannya, terus ganteng, ada lesung pipinya.”
“Hmm ... bagian gantengnya gak usah dipertegas. Siapa? Rama?”
“Rama? Kok, Rama, sih?” Angela berusaha mengingat nama itu. Namun, bukan itu yang ada di kepalanya. Rama itu ....
“Cowok yang kerja di toko peralatan seni itu, kan?” tanya sang ayah, memastikan. “Itu namanya Rama.”
“Eh, masak iya? Ya pokoknya itu,” imbuh Angela. “Nah, itu dia ada di kelas waktu itu dan nolongin aku. Aku cuma inget itu.”
Angela memainkan jemarinya. Ingat kalau ada satu orang lagi yang selalu ada di mana pun ia berada.
“Lagian, kan, ada si Gino, Pa.”
“Gino?” tanya Michael, tak memahami siapa yang dimaksud oleh putrinya. Angela hanya mencebik.
“Ya, itu pengawal pribadi kita ....”
Michael nyaris menyemburkan tawa saat tahu siapa yang dimaksud oleh Angela.
“Astaga! Regin maksud kamu?”
“Gin, bukan Regin. Kenapa Papa buat nama dia jadi Regin? Iya itu. Si Gino, kan? Tahu sendiri dia selalu ada di mana aja bahkan aku ke toilet juga dia selalu ikut. Pa ... apa gak bisa kita berhenti main bodyguard-bodyguard-an kayak gini?” rengek Angela.
“Aku gak nyaman,” imbuhnya.
Michael menghela napas. Ia kemudian meraih jemari tangan putrinya dan menggenggamnya lembut.
“Papa gak peduli siapa yang nolongin kamu, yang pasti, saat itu terjadi sama kamu, papa gak ada di sana, kan? Wajar kalau papa cemas, Angie. Apa lagi ... kamu bilang beberapa kali ngalami kejadian aneh.”
Michael menatap bola mata gelap Angela.
“Papa perkerjakan Gin juga dengan alasan kuat. Papa mau kamu aman, di mana pun berada. Perundungan itu ... kita gak pernah tahu alasannya, kan?”
“Ada Jason, Pa. Jason bisa jagain aku, seperti biasanya. Papa gak usah cemas berlebihan. Aku jadi ngerasa kayak anak cengeng,” keluh Angela.
“Sudahlah, Angie. Papa pokoknya gak bolehkan kamu berangkat ke kampus dulu untuk hari ini. Seenggaknya biarkan papa berusaha untuk jaga kamu meski bukan dengan tangan papa sendiri, hm?”
Angela mendesah, cukup keras. Ia tahu, jika sanga ayah sudah begini ngotot, tidak akan ada lagi cara untuk menghindar.
Entah itu Gin, atau teman misteriusnya yang bernama Rama, atau bahkan Jason, gak akan bisa mengubah apa pun.
Bisa saja tiba-tiba sang ayah memperkerjakan orang lain lagi tanpa sepengetahuannya.
Atau mungkin saja salah satu dari orang suruhan ayahnya adalah Jason. Karena Jason bahkan sudah dekat dan kenal seluk beluk keluarganya sejak mereka sama-sama memakai popok.
Tengah dirundung perasaan kesal yang membuncah di dadanya, dering ponsel membuyarkan segala perasaan yang mulai berkumpul jadi satu. Terlebih kala tahu siapa yang menghubunginya.
Jason, tentu saja.
Di rumah?
Angela mengerutkan kening. Memangnya kenapa kalau dia di rumah?
Angela baru hendak mengetik balasan, satu pesan baru terlanjur masuk dan membuat bola matanya nyaris mencelus.
Aku masuk lewat jendela, ya?
Gadis itu langsung gelagapan, berusaha bangkit daro ranjang dan menuju ke jendela, memastikan kalau Jason todak berbuat yang todak-tidak dengan benar-benar masuk ke kamarnya lewat jalan seperti yang ia katakan.
Kamarnya ada di lantai dua, masuk lewat jendela sama artinya dengan ‘mission impossible’.
JANGAN GILA, JASE! LEWAT PINTU!
Dan tak berapa lama, terdengar suara gaduh yang jelas berasal dari depan kamarnya.
“Apa lagi, sih ini?” gerutu Angela, yang pada akhirnya turun dari kasurnya demi memeriksa apa yang sedang terjadi di luar sana.
Angela keluar dan menemukan Jason yang tengah berseteru dengan Gin yang memang memiliki kebiasaan berjaga di depan pintu kamarnya, terlebih di jam-jam kerja di mana itu memang sudah jadi tugasnya.
Jangankan di jam kerja, saat tengah malam pun Gin terkadang masih sering berkeliaran dan berdiri menjaganya seolah bahaya juga ada dalam rumahnya.
“Kamu gak dengar kata saya, Non Angela sedang sakit dan beristirahat di dalam. Kamu sebaiknya pulang sekarang juga,” titah Gin, masih dalam intonasi wajar.
“Lo gak tahu, gue sahabatnya. Dia juga gak akan keberatan kalau gue dateng, kok. Kenapa lo sewot banget? Sekarang biarin gue masuk!”
Angela yang sejak tadi sudah ada di belakang Gin—tanpa mereka sadari, hanya melipat tangan di depan d**a. Heran dengan kelakuan dua orang yang kini tengah meributkan hal yang seharusnya tidak perlu diributkan.
“Kalian ngapain, sih?” tanya Angela.
Mendengar suara majikannya, Gin berbalik.
“Non, sebaiknya Non Angela kembali ke kamar dan berbaring, seperti kata Pak Michael, Non Angela gak boleh bangun dari ranjang karena—“
“Gino! Jangan berisik! Dia temen aku, biarin dia masuk,” ucap Angela, yang biasanya selalu langsung dipatuhi oleh pengawal pribadinya itu.
“Tapi, Non—“
Angela tidak ingin terlalu banyak bicara, cukup dengan memasang ekspresi kesal, maka Gin akan langsung mengangguk dan memberi akses pada Jason untuk lewat dan masuk ke dalam kamar gadis itu.
“Kenapa lo betah, sih, ada anjing penjaga kayak gitu?” kelakar Jason, yang agak kesal karena dihadang seperti penjahat, beberapa menit lalu. “Emang dia gak tahu kalo gue sohib lo?”
Angela mengedikkan bahu.
“Maklumi aja, Jase, dia cuma menjalankan tugas. Lo ngapain ke sini?”
Jason terenyak saat mendengar pertanyaan Angela yang seolah merasa aneh dengan kedatangannya.
“Kok ngapain? Kan gue biasa kunjungin lo. Saking aja, tuh, si herder jaga-jaga di depan bikin ricuh aja.” Jason mengambil tempat di sofa, sementara Angela, patuh seperti apa yang dikatakan sang ayah—kembali ke atas ranjang empuknya.
“Ya, kan kemarin lo gak keliatan batang idungnya. Dari pagi gue gak tau lo ke mana.”
“Gue sibuk. Sekarang gue di sini, kan? Karena denger dari salah satu temen lo, kalo lo pingsan di kelas. Lo kenapa jadi gampang sakit, sih, Gie?”
Angela menggeleng.
Ia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya begitu ringkih akhir-akhir ini. Meski beberapa dokter didatangkan, sang ayah tidak ada inisiatif untuk mendatangkan seorang psikiatri atau psikolog ke rumahnya.
Siapa tahu apa yang dialami Angela adalah psikosomatik. Sakit yang disebabkan oleh psikis.
“Gak tau. Lagi-lagi peralatan tempur gue ilang. Terus aksesori yang ud susah payah gue bikin, ancur sudah.”
“Ancur? Ancur gimana?” tanya Jason, tidak paham apa yang dimaksud Angela.
“Tiap part-nya lepas. Kayak sengaja dilepasin satu per satu. Terus pas gue sadar itu udah gak berbentuk, gak ada satu pun temen sekelas gue yang melakukan sesuatu.”
Angela kemudian mengambil ponsel, menunjukkan seperti apa bentuk dari ‘hancur’ yang sejak tadi ia maksudkan. Dan Jason sama terkejutnya ketika melihat foto yang ada di hadapannya.