Jason sudah pulang, setelah sikap menyebalkan yang ia tunjukkan saat melihat gambar di ponsel Angela yang semula ingin dijadikan bukti oleh gadis itu.
Tak ada gambar apa pun di sana. Semua gambar aksesori yang rusak itu sudah tidak ada dalam memori ponselnya.
Hal yang menyebalkan bagi Angela, Jason justru menertawakan kesialannya seolah bukan masalah besar. Pada akhirnya, ia mengusir laki-laki itu dan berniat untuk kembali beristirahat saja.
Namun, baru saja ia hendak memejamkan mata, terdengar suara ketukan di pintu yang ia yakini sebagai Jason.
“Kalo lo mau nertawain gue lagi, mendingan gak usah balik ke sini!” semprotnya, yang pada akhirnya harus ia sesali, karena yang ternyata ada di hadapannya bukanlah Jason, melainkan Gin.
“Eh, kamu Gino. Ngapain ketok pintu aku?” tanya Angela, hanya melongokkan kepala di celah yang tidak terlalu lebar.
“Bukan apa-apa, Non. Hanya memastikan Non Angela baik-baik aja,” jawab laki-laki berpostur tegap itu. Angela hanya mengangguk-angguk mengerti, kemudian hendak menutup pintu, tetapi urung ia lakukan.
“Gino, kamu suka makanan apa?” tanya Angela.
“Kenapa, Non?”
“Jawab aja! Kamu suka makanan apa? Bakso suka gak?” desak Angela. Gin mengangguk. “Oke, kalau gitu kita beli bakso.”
“Tunggu, Non. Pak Michael bilang Non Angela gak boleh turun dari kasur. Saya bisa kena marah dan dipecat kalau bapak tahu Non Angela malah kelayapan beli makanan,” tolak Gin, mengingatkan Angela akan pesan dari sang ayah.
“Emangnya kenapa kalau papa marah? Lagian kan, perginya sama kamu. Sudah tugas kamu jaga aku, jadi gak apa-apa kalau aku keluar rumah,” jawab Angela, masuk ke kamar, membiarkan pintunya terbuka sementara dirinya bersiap.
Ia mengambil jaket, juga tas selempangnya.
“Tapi, Non, Pak Michael bilang gak boleh turun dari kasur sama sekali, lho.” Gin masih berusaha mencegah tindakan majikannya yang keras kepala itu, tetapi Angela pura-pura tidak dengar.
Bayangkan saja, seharian tidak boleh turun dari kasur padahal badannya sehat dan baik-baik saja. Pastinya akan sangat membosankan dan ia bisa gila jika seperti itu.
“Non ....”
“Sst, diem Gino! Aku pagi cari dompetku di mana. Kamu tahu dompetku, gak?” Angela mulai merogoh tas yang sudah tergantung di pundaknya.
Tangannya meraba tiap-tiap kantong dan merasakan sesuatu yang kenyal di dalam sana. Kenyal, agak lembek, dan sedikit lengket.
Ia tidak berani membayangkan, tetapi entah kenapa perasaannya sangat tidak enak, sekarang.
Antara yakin dan tidak—karena jika benar seperti dugaannya, maka artinya ini sudah ke sekian kalinya ia dikerjai seperti ini, dan entah siapa pelakunya.
Namun, ia tidak boleh berpikiran buruk dulu. Yang harus dilakukannya sekarang adalah memastikan, benda apa itu. Atau jangan-jangan itu adalah makhluk—entah makhluk apa.
Angela menjauhkan tangannya perlahan, kemudian membuka tas kanvasnya lebih lebar dan mengintip isinya. Dan benar saja, seekor hewan dengan mata agak besar tengah berkedip-kedip. Tubuhnya kembang kempis seakan hendak meledak.
“AAAH!” Angela sontak melemparkan tasnya sembari menjerit histeris. Tangannya ia kibaskan karena jijik. Dan tentu saja hal itu menarik perhatian Gin yang sejak tadi hanya bungkam menanti jawaban, karena tak jua mendapat respon dari sang majikan.
“Ada apa, Non?” tanya lelaki itu, sembari menyiapkan pistol di tangannya.
“ADA KODOK, GINO! KODOOOK!” jeritnya, dengan beberapa kali rengekan tanda bahwa hewan menjijikkan itu mungkin saja sudah membuat Angela trauma, sekarang.
Ia berlari dan bersembunyi di balik punggung bidang sang pengawal, berusaha meminta perlindungan dari makhluk menjijikkan yang seolah sudah menyita kewarasannya untuk sesaat.
“Di mana?” tanya Gin, singkat.
“Di tas aku! Cepetan usir, Gino, usiiir!”
Gin mengambil benda yang tergeletak di lantai, mengintip sejenak, memastikan bahwa hewan itu masih ada di dalam sana, dan memang ... makhluk itu masih anteng, seolah betah berada di salah satu kantong tas Angela.
Gin keluar sembari membawa barang milik majikannya itu, dan tak lama kemudian kembali dengan tas yang sudah bersih dan kosong, lalu menyodorkan pada Angela.
“Ini, Non. Sudah saya buang kodoknya.”
“Gak mau! Kamu buang aja tasnya sekalian, jijik!” rengek Angela sembari mengusap-usapkan tangan yang gunakan untuk mengelus-elus binatang itu. “Apes banget, sih gue hari ini ....”
“Dia kayaknya betah di dalam tas Non Angela.”
“Enggak! Udah deh jauhin itu dari aku! Kasihin ke bi Imah aja!” titah Angela, sembari sesekali melirik Gin memastikan ekspresi laki-laki itu, yang ternyata masih datar.
Ia sempat berpikiran jelek, kalau Gin akan tertawa karena tingkah konyolnya, ternyata tidak.
“Ya, sudah. Kalau begitu tasnya saya kasihkan Bi Imah, ya.” Gin kemudian keluar dari kamar Angela dan kembali dengan tangan kosong. “Sudah, Non. Sekarang Non Angela bisa beristirahat lagi. Saya akan berjaga di sini.”
“Eh, tunggu! Kata siapa aku mau istirahat? Kita tadi mau pergi makan. Ayok berangkat sekarang!” titah gadis itu, membenarkan jaket dan tas lain yang baru ia keluarkan dari dalam lemari.
Masih bersih dan wangi.
“T–tapi ... saya kira Non Angela—“
“GINO! Jangan protes dan ayok berangkat sekarang!” Angela tak ingin menunggu reaksi pengawalnya, melainkan langsung saja ngeloyor keluar kamar dan menuju ke halaman.
Ia berpamitan pada beberapa asisten rumah tangga yang menyuarakan pendapat hampir sama dengan apa yang dikatakan oleh Gin. Dan Angela pun menjawab sama persis dengan apa yang ia katakan pada Gin.
Satu hal yang harus ia biasakan mulai Sekarang, tatapan para pembantu yang tak teralih dari sosok yang selalu mengekor ke mana pun Angela pergi.
Gin memang berbeda.
Jika dikatakan rupawan, ia bahkan lebih dari itu. Parasnya tidak seperti orang Indonesia. Kulitnya yang coklat tampak mengilat seolah ia mandi tidak menggunakan sabun, melainkan minyak kelapa, lalu tatapan mata tajam, hidung bangir yang bagi Angela terlampau bangir untuk ukuran orang Indonesia, lalu jangan lupakan rahang tegas yang dihiasi bulu halus itu.
Andai tidak ingat kalau dia adalah pengawal pribadinya, mungkin Angela juga akan naksir pada lelaki itu.
Ia menanti Gin yang menjalankan perintah Angela dengan perasaan waswas.
Ini tidak sesuai dengan perintah Michael, tentu saja. Bagaimana jika bosnya itu marah besar dan memecatnya? Apa yang akan ia lakukan dengan ....
“Gino! Lama banget, sih aku! Keburu papa pulang, lho,” protes Angela, sembari mengibaskan tangan demi mengipasi lehernya. “Lagian panas banget ini!”
“Iya, Non, maaf. Saya Cuma ragu kalau mengizinkan Non Angela pergi. Apa lagi kalau panas begini, kan lebih enak ada di rumah aja, Non. Pak Michael bisa marah sama saya nanti, kalau tahu saya bolehkan Non pergi.”
“Gino, kamu itu jadi pengawal aku atau pengawalnya papa, sih? Bawel banget, dikit-dikit sebut papa. Udah ayo jalan. Lagian bukan kamu yang bolehkan aku pergi, ini kemauanku sendiri, jadi kamu tenang aja.”
Gin hanya mengangguk, kemudian mengemudikan mobil ke mana pun Angela meminta.