Selamat Menikmati Baksonya ....

1133 Words
Mobil yang dikemudikan oleh Gin berhenti di sebuah warung bakso tenda yang letaknya tak jauh dari kampus Angela. Warung bakso langganan yang baginya rasanya belum ada yang mengalahkan. Bahkan bakso di kantin kampusnya sekali pun masih kalah jauh dengan yang tengah mereka datangi sekarang. Angela bergegas duduk dan menepuk sisi bangkunya sebagai isyarat agar Gin duduk di sampingnya. Namun, yang terjadi justru laki-laki itu hanya berdiri berjaga layaknya petugas keamanan. Angela memutar bola mata, tanda bahwa ia mulai kesal. Tidak mungkin dirinya akan terus seperti ini, diperlakukan layaknya putri raja dan dilindungi melebihi Presiden. “Gino! Duduk sini!” panggil Angela, sedikit memberi tekanan pada kalimatnya, tetapi masih dalam volume yang aman. Ia yakin hanya dirinya dan Gin yang mendengar. “Saya di sini aja, Non,” jawab laki-laki itu. “Gino! Nurut, cepetan duduk di sini, atau aku gak mau pulang semobil sama kamu. Buruan!” Perkataan Angela adalah titah baginya, dan apabila sudah berubah menjadi titah, maka tak ada kata tidak. Ia wajib melaksanakan, meski buruk baginya sekali pun. Gin pada akhirnya duduk di samping Angela, sedikit ragu, karena baginya tak sopan jika duduk bersebelahan dengan sang majikan. “Saya gak seharusnya duduk di sini, Non. Saya, kan—“ “Diem, jangan bawel! Makan dulu!” ucap Angela, yang kemudian tak pedulikan lainnya selain semangkuk bakso di hadapannya. “Tunggu, Non!” cegah Gin, kala sesendok bakso plus kuah itu hendak masuk ke dalam mulut Angela. “Apa lagi?” tanya gadis itu, kesal. Gin segera mengambil sendok baru dari wadah yang disediakan di atas meja, mengambil sebungkus tissue dari saku celananya dan mengelapnya terlebih dahulu sebelum mendaratkan benda itu ke dalam kubangan di dalam mangkuk sang majikan. Laki-laki itu menyendok sedikit kuah bakso yang ada di hadapan Angela, kemudian memasukkan ke dalam mulutnya. “Aman, Non. Selamat menikmati baksonya,” ucap lelaki itu. Sayangnya, Angela tidak semudah itu membiarkan Gin tenang setelah melakukan apa yang baru saja ia lakukan. Aman, sih aman ... baksonya. Sementara, apa kabar dengan hati Angela yang tampaknya sudah membunyikan alarm tanda bahaya? Ia sudah siap menyemburkan amarahnya, tetapi Gin seketika menoleh ke arah gadis itu. Bola matanya yang berwarna hazel itu menatap intens manik gelap milik Angela. Satu detik .... Berubah menjadi satu menit .... Tak ingin menunggu hingga sepuluh menit, Angela segera mengalihkan tatapannya ke arah lain. Tangannya mendadak gemetar seperti tak bertulang. Apa-apaan, sih? Batinnya dalam hati. “Kenapa gak dimakan baksonya, Non?” tanya Gin, setelah mulai menikmati makanan miliknya sendiri. Angela menggeleng. “Gak apa-apa.” Lalu ia berusaha melupakan kejadian yang bisa jadi hanya mampir dalam batinnya saja. Bagaimana pun, Gin hanya menjalankan tugas, bukan? Kesialan nyatanya tak hanya sekali saja. Saat tengah menikmati makanan favoritnya, Pak Mamat, sang penjual bakso yang memang cukup mengenal Angela karena sering berlangganan baksonya, memandanginya dan Gin secara bergantian. Dan itu hanya disadari oleh Gin. Laki-laki itu tersenyum canggung, dibalas senyum oleh Pak Mamat. “Wah ... Masnya ini pasti pacar Mbak Angela, ya? Biasanya Mbak Angela kalo mampir selalu sendiri atau kalau gak, ya sama Mas Jason. Sekarang tumbenan sama Masnya,” celetuk Pak Mamat. Celetukan polos Pak Mamat itu menimbulkan efek bagi gadis yang tengah disindirnya. Angela yang memang doyan pedas, tiba-tiba tersedak kala mendengar perkataan Pak Mamat itu. “Uhuk-uhuk ....” Angela terbatuk, mencari minuman yang belum sempat ia pesan. Tentu saja dengan sigap Gin bangkit dan meracik sendiri es kelapa muda dari gerobak bakso Pak Mamat. “Lho, lho, Mas ... sini biar bapak aja yang buatin, Masnya kok gak bilang. Duduk, Mas. Temani mbak Angela aja. Bapak buatin esnya. Dua gelas, ya?” “Iya, Pak, terima kasih.” Gin kembali duduk, kemudian hanya menilik Angela yang memegangi dadanya. Ia tak pernah melakukan kontak fisik terhadap kliennya. Itu sebabnya, terhadap Angela pun ia akan melakukan hal yang sama. Tak bersapa lama, Pak Mamat sudah kembali dengan dua gelas es kelapa muda dan dua bungkus kerupuk. “Ini kerupuknya gratis, buat Mas sama Mbak Angela. Sebagai permohonan maaf bapak karena gak buatin minum,” ucap Pak Mamat, kemudian kembali duduk tak jauh dari keduanya. Kebetulan warung agak sepi, sehingga Pak Mamat bisa ikut duduk dan mengobrol dengan Angela seperti yang biasa ia lakukan setiap kalo Angela datang bersama Jason. “Eh, anu Mbak Angela. Dari pada keselek lagi, mending biar disuapin aja sama Masnya, kan enak. Wong Mbak Angela dari tadi mainan hape sampe gak fokus suap baksonya.” “Pak Mamat, ih, perhatian banget sampe tahu kalo saya keselek gara-gara mainan hape,” jawab Angela, yang dalam hati justru ngedumel sendiri. Aku, kan keselek gara-gara Pak Mamat! “Ya ... kan bapak udah hafal Mbak Angela gimana. Itu, Mas ... disuapin aja Mbak Angela-nya. Bapak gak ngintip, deh, biar kalian gak malu-malu. Monggo,” ucap Pak Mamat, kemudian kembali sibuk dengan pembeli lain yang kebetulan baru berdatangan. Sementara itu, Gin sudah mengangkat sendok dari mangkuk Angela yang sudah terisi potongan bakso dan kuah. “Saya bantu makannya, Non?” tawar Gin, yang tampak sedikit canggung. Namun, jika memang Angela membutuhkan bantuannya, sudah seharusnya ia sigap melakukannya. “Eng–gak usah, Gin. Aku bisa makan sendiri. Pak Mamat, tuh kebiasaan suka godain tiap aku dateng sama cowok. Udah, kamu makan bakso kamu aja, terus kita pulang. Kalo keduluan papa bisa berabe kita.” Angela mengambil kembali sendoknya dari tangan Gin, kemudian sedikit memutar tubuhnya ke arah berlawanan agar lelaki itu tidak melihat wajahnya yang sudah memerah layaknya kepiting rebus. Bukan cuma malu, lebih tepatnya grogi karena belum pernah ada laki-laki yang memberi perhatian padanya sebelumnya. Oke ... oke, ia tahu kalau laki-laki itu hanya menjalankan tugas. Namun, ayolah ... memangnya perempuan mana yang tidak deg-degan kalau mendapat perlakuan manis? Apalagi dari laki-laki berparas rupawan seperti Gin. Mereka berdua akhirnya selesai menghabiskan makanannya. Keduanya bergegas kembali ke rumah, seperti apa yang dikatakan oleh Angela, akan sangat berbahaya jika mereka terlambat dan ketahuan keluar dari rumah oleh Michael. Terlebih Gin, membiarkan Angela turun dari ranjang saja tak boleh, apa lagi ini. Gin mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi yang membuat Angela terpaksa berpegangan cukup erat. “GINO! Pelan-pelan, donk! Aku abis makan bakso, kalo muntah gimana?” racau Angela yang memang sudah merasa mual karena laju mobil yang bisa dibilang ugal-ugalan. “Maaf, Non. Untuk sekarang saya gak bisa nurut kata Non Angela. Kalau kita telat sampai rumah dan keduluan Pak Michael, bisa gawat.” “Iya, tapi gak usah kebut-kebutan, bisa, kan?” Angela meringis ngeri setiap kali mobilnya berpapasan dengan mobil lain, tetapi dengan mudah berpindah lajur. Gin tak lagi menjawab, melainkan memberi bukti pada Angela itu bahwa ia berhasil membawa majikannya itu tiba di rumah dengan selamat. Juga tidak sampai muntah. Sayangnya, tidak benar-benar selamat seperti apa yang mereka harapkan. Karena saat tiba, Michael sudah berdiri di ambang pintu, siap menyemburkan kemarahan karena perintahnya yang dilanggar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD