“Kalian dari mana?” tanya lelaki berusia lima puluhan itu pada dua orang yang baru saja tiba dari makan bakso di warung langganan dan berkeliling sebentar.
Sebenarnya bukan berkeliling, tetapi karena jalan yang biasa mereka lewati sedang dalam pembangunan, memaksa Gin untuk mengemudikan mobil ke arah lain. Itu sebabnya pada akhirnya ia tak bisa menahan diri untuk tidak kebut-kebutan.
Dan kini, berdiri di hadapan Michael tentu saja membuat tempurung kaki Gin seakan mau copot. Sementara perempuan yang sejak tadi merengek minta ditemani, justru begitu tenang.
“Baru dari kampus, Pa. Ada yang harus aku cari,” jawab Angela, tak menoleh pada Gin. Ia tidak ingin sang ayah mengira kalau dirinya tengah berusaha membela sang pengawal.
Meski sebenarnya iya, karena Gin sudah memenuhi kemauannya, tetapi tetap saja ia tidak ingin terlalu kentara kalau dirinya membela laki-laki itu.
“Cari apa lagi?” desak Michael.
“Ehm ... alat butsir aku—“
“Hilang lagi?”
Angela hanya bisa menggaruk tengkuk kala mendengar pertanyaan yang memberondongnya. Sementara Gin, tak tega sang majikan merasa terpojok, akhirnya hendak ambil bagian. Namun, Angela memotong kalimat yang hendak diucapkan oleh Gin.
“Pa, udah, ya ... aku capek banget, mau masuk dulu. Dah, Papa ....” Ia melambaikan tangan setelah mengecup pipi sang ayah, lalu menarik kemeja Gin agar menjauh dari sang Tuan Besar untuk menghindari pertanyaan lain ditujukan padanya.
Tiba di dalam, Angela merasa canggung sendiri, karena sadar bersikap kelepasan, seperti terhadap Jason. Ia kemudian memutar tubuh, menghadap Gin yang diam mematung dan tetap dengan raut wajah datar.
“M–maaf, Gin, aku tarik kamu. Kalau gak gitu, bisa berabe entar kamu ditanyain terus sama Papa. Ya, udah, kamu istirahat aja di kamar kamu, gak usah jaga-jaga di depan kamarku, aku baik-baik aha kalo udah di rumah. Aku masuk dulu,” ucapnya, kemudian masuk dan membanting pintu kamar.
Sepeninggal Angela, Gin memandangi pintu kamar sang majikan dengan tatapan gamang, lalu memutar tubuh dan masuk ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Angela.
Kamar yang sengaja ia pilih agar jika sewaktu-waktu dibutuhkan ia bisa sigap dan dengan kamar bersebelahan seperti ini akan mempermudah pergerakannya menuju ke kamar Angela.
Di dalam kamar, Gin tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia duduk di sisi ranjang, tepekur sendiri memandang lurus dengan tatapan kosong.
Segala kenangan masa lalunya masih terus berseliweran dalam angannya. Bayang-bayang sang kakak yang tewas dalam dekapannya, tak akan bisa dengan mudah ia terima.
Beberapa tahun ia sudah berduka dan menyalahkan diri sendiri, menghancurkan diri karena telah mengambul keputusan salah, menolak membantu Abigail, sang kakak untuk tujuan balas dendamnya. Andaikan ia ikut andil saat itu, setidaknya ia bisa melindungi wanita itu dan mencegah agar semua itu tidak terjadi.
Lamunannya buyar, kala telinganya mendengar suara pintu kamar Angela.
Bergegas ia bangkit dan membuka pintu, demi menuju ke arah gadis itu untuk melakukan pekerjaannya. Ia terkadang bingung dengan apa yang dikerjakannya sekarang. Berbeda dari sebelumnya, ia harus mengawal artis atau aktor papan atas, bahkan seorang pemimpin negara. Namun kini, hanya anak orang kayak yang mendapat teror di kampusnya.
Gin berdiri, tepat di dekat Angela yang baru saja menutup pintu kamar. Sudah ia lakukan sepelan mungkin agar sang pengawal tidak terganggu istirahatnya. Namun, sepertinya ia gagal.
“Kenapa kamu keluar lagi? Lanjutin aja istirahatnya.”
“Non Angela mau ke mana?”
Angela menghela napas, perlahan. Jika bahkan di dalam rumah pun terus diawasi seperti ini, ia kemungkinan bisa gila. Baginya, ini sudah kelewat batas.
“Kamu gak harus ngikutin aku ke mana-mana selama di dalam rumah, Gino. Aku aman di sini. Aku bosen di kamar terus. Mau keluar.”
“Ke mana, Non? Saya temani.”
“Gak usah!”
“Non, maaf, Non Angela tahu sendiri seperti apa kekhawatiran Pak Michael, kan? Saya rasa itu masuk akal. Bahkan di dalam rumah pun gak menjamin Non aman.”
“Ampun, deh! Aku mau ke ruang art! Gak biasa kalo ada orang lain yang nemenin, karena bisa buyar konsentrasi. Apalagi orangnya kayak kamu.”
Gin tampak mengerutkan kening mendengar perkataan Angela.
“Memangnya kenapa, Non?”
Ditanyai seperti itu, terlebih tatapan Gin yang tampak mengharapkan jawaban, membuat Angela jadi berpikir yang tidak-tidak. Ia menggeleng cepat, lalu ngeloyor begitu saja.
“Diem di situ! Awas aja kalo kamu ikutin aku, aku bisa marah!” pekiknya, sembari berlalu meninggalkan Gin yang hanya mematung tak tahu harus berbuat apa.
Sementara di ruang art, seperti yang ia katakan bahwa dirinya memang bosan hanya diam di kamar, status anak kuliahan tetapi sering tidak mengikuti perkuliahan hanya karena kecemasan berlebih dari sang ayah, membuatnya seperti hilang arah.
Sudah berapa kali sudah ia pindah kampus, dan hasilnya tetap sama. Orang yang ia anggap iseng sepertinya terus saja mengikutinya ke mana pun ia pergi.
“Kayaknya papa, tuh, butuh konseling, deh,” gerutunya. “Akunya aja gak apa-apa, masak papa yang cemas berlebihan. Sampe nyewa pengawal segala. Mana pengawalnya ganteng, lagi. Hah!” omelnya, bermonolog.
Ia kemudian mengeluarkan sebuah potongan kayu yang baru saja ia beli. Meletakkannya di atas meja pahat, kemudian ia mulai duduk menghadap pada benda itu.
Sepuluh menit berlalu, tak ada perubahan pada benda itu, karena hanya ia pandangi dengan tatapan kosong.
Ia menyerah. Ia letakkan kembali peralatan pahatnya ke tempat semula, kemudian memutuskan untuk kembali ke kamar saja dan menghubungi Jason lalu berbincang sampai ia tertidur. Sepertinya itu akan lebih baik ketimbang apa yang dilakukannya saat ini, seperti orang hilang akal.
Angela keluar dari ruangan dan nyaris terjingkat kala melihat seseorang berdiri di sana, tak bergerak.
“GINO! Kebiasaan, ya kamu! Ngagetin orang aja, aku kira kamu setan, tau gak?”
Laki-laki itu sedikit membungkukkan badan.
“Maaf, Non.”
“Ngapain kamu di sini? Kan aku udah bilang, jangan ngikutin!” ketus Angela, masih mengelus dadanya yang berdegup kencang tak keruan.
“Saya hanya khawatir, Non. Saya belum pernah masuk ke ruangan itu, belum memastikan kalau ruangan itu aman untuk Non datangi seorang diri.”
“Ck! Aman! Tuh, lihat!” Angela membuka pintu ruang favoritnya itu lebar-lebar, kemudian memberi isyarat pada Gin untuk masuk. “Periksa aja kalo mau. Tapi kalo udah, dan memang bener aman, kamu harus janji gak akan ngikutin aku ke ruangan itu, dengan siapa pun aku ke sana. Setuju?”
Mendengar kalimat itu, layaknya pertaruhan hidup dan mati bagi Gin. Terlebih saat tiba pada kalimat ‘dengan siapa pun’, seperti yang diucapkan Angela, membuat sinyal bahaya di otak Gin merespon dengan cepat.
Ia tidak mungkin membiarkan Angela berada di ruangan itu dengan orang yang tidak dikenal, bukan?
Terlebih laki-laki bernama Jason yang katanya merupakan sahabat Angela sejak kecil. Hingga kini, Gin belum bisa percaya pada lelaki itu.
“Gino! Jawab, donk! Kamu setuju, gak sama syaratku?”
“Itu sulit, Non. Siapa saja bisa jadi penjahat.”
“Gak akan ada penjahat yang bisa masuk ke rumah keluarga Arbianto. Apa lagi banyak pengawal dan ada kamu, iya, kan? Jadi jangan ketularan papa, deh ... cemas berlebihan itu gak baik.”
“Ini bukan cemas berlebihan, Non. Saya vuma menjalankan tugas.”
Mengibaskan tangan kala mendengar perkataan Gin, Angela ngeloyor begitu saja. Ia tidak mau terpengaruh dengan kecemasan para lelaki yang ada di rumahnya.
“Gak papa, gak pak Jono, eh sekarang ketambahan si Gino! Semua laki-laki sama aja, terlalu ngeremehin perempuan!” gerutunya, sembari berjalan mengentak kaki. Ia sudah melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya, tetapi sial, kakinya salah mendarat di salah satu anak tangga hingga tubuhnya limbung.
Di pikirannya hanya satu, ia pasti akan jatuh.