Tidak, tidak ... Angela tidak jatuh dan tidak juga langsung mati di tempat. Ia selamat, karena tubuh tegap yang jadi tempat sandarannya. Dan jangan lupakan lengan kokoh yang merengkuh pinggangnya.
Angela berusaha melupakan aroma yang sempat mampir di dalam ingatannya, beberapa waktu lalu. Namun, kini ia teringat kembali. Aroma parfum Gin, bau yang selama ini berusaha ia cari tahu dan kini terjawab sudah.
Namun, bukan itu yang jadi masalah, melainkan posisi mereka saat ini sungguh sangat meresahkan.
‘Tuhan, tolong ... hatiku kayaknya gak baik-baik aja,’ batin Angela.
Sementara itu, Gin dengan tenang, membantu Angela untuk berdiri di kakinya dengan tegap. Ia bahkan mengambil sandal sang majikan yang terlepas dan jatuh tak jauh dari sana. Diletakkannya alas kaki tepat di hadapan gadis itu.
“Non Angela tidak apa-apa? Apa ada yang terkilir?” tanya laki-laki itu, sembari menilik kondisi Angela, dan memeriksa beberapa bagian kakinya.
“Eng-gak apa-apa. Makasih. Aku naik dulu.” Angela tak ingin menunggu jawaban dari Gin, dari pada jantungnya makin tak keruan. Ia memutuskan langsung saja masuk ke kamar dan membanting pintu.
Hal itu sedikit mengundang kebingungan di hati Gin, tetapi ia berusaha untuk abaikan semua itu dan menyusul Angela, bukan untuk ikut dengan gadis itu masuk ke kamar, melainkan berjaga di depan pintu kamar, seperti biasa.
“Kamu istirahat aja! Jangan di depan pintu kamarku!” teriak Angela dari dalam kamarnya. Namun, Gin bergeming dan tetap berada di tempatnya.
Ia tak akan pergi ke mana pun.
Malam hari pun Angel atak keluar dari kamarnya. Michael yang baru tiba dari kantor, memerhatikan Gin yang masih setia berdiri di depan pintu kamar putrinya. Ia menaiki tangga dan mendekat pada lelaki itu.
“Istirahat aja, Gin. Gak usah ditungguin seperti itu, nanti dia ngamuk,” ujar Michael, yang mulai mencemaskan Gin yang begitu setia menjaga dan menjalankan tugasnya.
Lelaki itu mengangguk. Namun, tak juga beranjak dari tempatnya.
“Saya mau pastikan Non Angela sudah tidur, Pak. Kalau dia tidur, saya akan kembali ke kamar,” jawabnya, penuh rasa hormat pada Michael.
“Kenapa gak kamu pastikan sendiri, apakah dia sudah tidur atau belum?” tanya Michael bermaksud memancing lelaki itu. Sesungguhnya ia cemas dengan idenya ini, tetapi demi mengetahui kesetiaan dan kesopanan Gin, ia harus lakukan itu.
“Maaf, Pak Michael, tidak seharusnya saya lakukan itu.” Lelaki itu menjawab tegas.
Lelaki paruh baya itu kemudian memberi isyarat pada Gin agar menunggu. Ia sendiri yang akan memastikan apakah putrinya itu sudah terlelap atau belum.
Ia mengetuk beberapa kali, tak ada jawaban. Namun, bisa saja Angela memang tak ingin menjawab.
“Angie ... kamu sudah tidur, Nak? Apa boleh papa masuk?” tanya laki-laki itu dan tak ada jawaban sama sekali. Ia kemudian membuka pintu dan menemukan putrinya sudah tertidur dengan memeluk sebuah bingkai foto.
Michael tersenyum haru kala tahu bahwa bingkai foto Sarita istrinya yang tengah dipeluk oleh Angela.
“Kamu kangen sama mama, ya Nak? Sama ... papa juga kangen. Kamu istirahat ... kamu aman, ada papa di sini. Juga Gin yang selalu menjaga kamu,” lirih Michael, kemudian mengecup kepala Angela, membenarkan selimut sang putri, lalu keluar setelah mematikan lampu.
“Dia sudah tidur. Kamu istirahatlah, Gin. Besok tugasmu banyak, karena kamu tahu sendiri seperti apa Angela.”
“Maaf, Pak ... saya masih meraba-raba seperti apa Non Angela. Apa yang dia suka, apa yang dia tidak suka, apa kegiatannya. Saya mohon maaf kalau masih ada hal yang kurang,” ucap Gin.
“Oh, gak masalah, Gin. Kamu gak harus tahu semuanya. Kamu hanya menjaga dia, menuruti apa yang dia mau, jadi ikuti aja sesuai kemauan dia. Tapi satu catatan, jangan melanggar batasan yang sudah saya buat untuk kamu dan kalian,” tegasnya.
Gin tahu apa yang dimaksud oleh Michael, dan itu tak sulit baginya. Selama ini ia selalu bersikap profesional dan tak pernah terlibat cinta dengan para klien. Maka, yang kali ini pun akan ia lakukan dengan baik.
“Baik, Pak. Saya akan patuhi apa yang Bapak katakan.”
Michael mengangguk, yakin kalau Gin pasti akan menepati janjinya bahwa dirinya akan melaksanakan tugas dengan baik. Namun, sebelum pergi ia kembali menoleh pada lelaki muda itu.
“Usia kamu berapa, Gin?” tanya Michael.
“Dua puluh sembilan tahun, Pak.”
“Oke. Satu tahun lagi sudah usia ideal. Bekerjalah dengan baik.”
Michael kemudian pergi dari hadapan Gin, meninggalkan tanda tanya besar di benak lelaki itu.
Ideal? Apanya yang ideal? Apakah ia akan naik jabatan padahal ia baru beberapa hari saja menjadi pengawal putrinya? Ataukah ... ada tugas lain yang akan diberikan oleh Michael?
Ia menggeleng cepat. Berusaha menepis pikiran apa oun yang mampir dan terus mengganggunya.
Laki-laki itu kemudian beranjak dan masuk ke kamarnya.
Pagi harinya, Angela bangun lebih awal dengan niat untuk joging setidaknya sebentar, sebelum berangkat ke kampus, seperti yang biasa ia lakukan.
Baru saja membuka pintu, Gin sudah berdiri di sana dengan pakaian olah raga lengkap, memberi salam tanpa ekspresi. Seperti biasanya.
Angela yang terkejut menyadari keberadaan Gin yang tiba-tiba—untuk ke sekian kalinya, nyaris terlompat.
“Selamat pagi, Non Angela. Apa kita akan pergi lari, sekarang?” tanya Gin, seolah Angela pasti akan mengajaknya untuk turut serta dalam setiap kegiatan yang ia lakukan.
Gadis itu menghela napas berat.
“Kenapa selalu kamu lagi, kamu lagi, sih Gino? Kamu gak bisa, ya, biarin aku agak santai dikit tanpa perlu ngerasa lagi diikutin, atau ngerasa kayak anak manja? Kamu lama-lama jadi ketularan papa!” sungutnya, kesal.
“Maaf, Non. Saya hanya menjalankan tugas.”
“Iya, tapi—udahlah, terserah kamu!” Angela berjalan lesu menuruni anak tangga, satu demi satu, secara hati-hati. Ia tidak mau mengalami insiden seperti yang terjadi malam tadi.
Bukan apa-apa. Mungkin berdekatan seperti itu dengan Gin akan menyenangkan, lagi pula tidak ada cela dalam diri lelaki itu. Di usianya yang menginjak 29 tahun, tampang bisa dikatakan menarik karena blasteran—bahkan Angela sampai tidak percaya Gin orang Indonesia asli, dan memang bukan, jangan lupakan rahang tegas dihiasi bulu halus yang membuatnya tampak macho.
Semua itu jelas jadi nilai plus dan masuk ke dalam kategori cowok idaman Angela. Sayangnya, status mereka sebagai pengawal dan klien itu membuat Angela harus gigit jari.
Jika ia mendekat, nanti ia dikatakan keganjenan.
Terlebih, dirinya memang bukan perempuan yang mudah menempel pada laki-laki sembarangan. Jadi, anggap saja degupan aneh yang semalam ia rasakan hanyalah selingan.
Tiba di lantai bawah, Angela menghentikan langkah yang diikuti oleh Gin setelah berhasil mendarat tepat di sampingnya.
Angela menoleh barang sebentar, kemudian berjalan ke arah sudut ruangan, mengambil air minum dan meminumnya sedikit. Gin pun melakukan hal yang sama dengan sebelumnya, mengikuti ke mana pun Angela pergi.
Gadis itu berbalik, berhadapan dengan Gin, sedikit mendongak agar ia bisa menatap mata laki-laki itu.
“Gak capek apa ngekor aku terus kayak gitu? Duduk, kek! Masak Cuma ambil minum juga kamu ikutin, Gino?”
“Maaf, Non. Saya Cuma—“
“Menjalankan tugas, i know! Kamu udah bilang itu ratusan kali, please, deh!”
“Air itu bisa saja ada racunnya,” ujarnya, pastinya bukan dengan niat membela diri, melainkan demi profesionalitas dan sesuai dengan aturan dalam pekerjaannya yang mungkin telah ia setujui dengan Michael.
“Ini di rumah, Gino! Gak mungkin ada yang mau bunuh aku, mereka semua asisten rumah tangga yang kerja udah belasan tahun, ajudan papa juga, justru kamu yang orang baru di sini! Justru kamu yang patut dicurigai menyimpan niat terselubung, entah apa. Bisa aja, kan, kamu yang nyelakain aku?!” ketus Angela, yang kemudian ia sesali. Terlebih saat melihat ekspresi Gin yang berubah seketika.