02. Berganti Peran

1642 Words
“Pah…” Robert meletakkan kembali bingkai foto istrinya, setelah ia tatap lama. Matanya tertuju pada anak lak-laki pertamanya, James. Yang sudah tumbuh lebih besar. Ia menyunggingkan senyuman lebar yang sangat dipaksakan, begitu James menghampirinya dengan segelas air putih yang ia genggam.                  “Kata Mbok Tuti papah harus minum air putih yang banyak….!” ucapnya menyodorkan gelas berjenis flute glass itu ke ayahnya. James ingat, saat itu umurnya masih tiga belas tahun, ia baru saja dinyatakan menjadi murid SMP.                  “Sejak kapan jagoan Papah sudah sebesar ini…” bukannya menyambut gelas yang disodorkan anaknya. Robert malah mengangkat James yang badannya sudah jauh lebih besar sejak setahun lalu. Membuat minuman yang ia bawa tumpah membasahi mereka berdua.                  “Papah ah… James udah besar. Udah nggak bisa digendong-gendong lagi!” rengek James begitu terlihat ayahnya kesusahan mengangkatnya.                  “Iya Papah nggak sadar!” ucapnya sambil tersenyum memandang James yang tiga tahun lalu tubuhnya masih belum setinggi sekarang.                  “Papah minum ini lagi?” tanya James menunjuk gelas lain yang bersanding di samping bingkai foto istrinya yang baru saja ia letakkan. James melihat cairan coklat sedikit merah tersebut. Masih tersisa beberapa kotak es, yang mengambang di atas cairan yang sudah kosong setengah gelas.                  “Papah kangen Mamahmu Buddy!” jawab Robert ayah James. Ia melirik foto istrinya saat mereka masih berpacaran. Ibu James begitu cantik dengan balutan one shoulder gown berwarna peach orange dengan bingkai emas yang melingkar di atas perutnya. Ibu James yang saat itu masih berupa gadis, tersenyum ke arah kamera sambil mengangkat tangannya yang menggenggam gelas champagne yang terisi Moscato. Robert kembali tersenyum, mengingat moment foto tersebut diambil. Foto itu di ambil saat mereka merayakan kelulusan perkuliahan istrinya yang juga bertepatan dengan tahun kedua mereka resmi berpacaran.                  “Mamahmu begitu mempesona….! Lihat senyumannya mirip sekali dengan senyummu!” tambah Robert sembari memamerkan foto tersebut.                  “Tapi kata Mbok Tuti, Mama sekarang sudah lebih bahagia…!” timpal James tak melirik foto ibunya, ia hanya menatap tajam pada sosok ayahnya yang kini sudah berubah. Tidak seperti dulu. Sejak ibu Jame sakit-sakitan, ayahnya selalu bersikap murung. Hal itu diperparah saat ibunya tiada. Ayahnya hanya menghabiskan hari-harinya di ruangan kerjanya, ditemani berbagai macam botol minuman, yang James sendiri tidak mengerti kenapa ayahnya menyukai minuman pahit tersebut. James sebenarnya ingin protes karena tak diajarkan menggambar lagi olehnya. Ayahnya juga tidak lagi menggendong Kevin adiknya. Bahkan, ayahnya sering menghindari Kevin yang sudah beranjak empat tahun kala itu. Entah apa maksudnya. Setiap James mengajak Kevin ke kamar ayahnya atau ruang kerja ayahnya, ayahnya seperti terpaksa menerima mereka. Ia pun lekas menyuruh mereka keluar kamar, dengan alasan ada urusan pekerjaan. Tapi sejatinya, James tahu. Bahwa itu hanyalah cara ayahnya mengusir mereka. James melihat adegan itu sembari menahan amarahnya. Andai saja, ia mengetahui bahwa penyebab ayahnya meninggalkan mereka untuk selama-lamanya, disebabkan oleh semua minumun pahit yang ditenggak ayahnya itu. Tentu, ia tidak akan membiarkan ayahnya terhanyut dalam kesedihan sembari meneguk berkali-kali minuman tersebut. James kembali melirik botol yang sempat ia banting namun tak kunjung pecah. Ia memutuskan mengambilnya dan melemparkannya ke arah meja kerja ayahya, yang menampilkan bayangan ayahnya sedang memandang foto ibunya. James marah. Ayah yang seharusnya menjadi sosok penguat hidupnya, justru hancur. Ayah yang seharusnya menjadi sosok yang merawat dirinya dan adiknya, justru lepas tanggung jawab dan menyerahkannya semua ke pengurus rumah. Ayah yang seharusnya menjadi contoh baik bagi pertumbuhan masa remaja, justru menjadi orang yang harus selalu diperhatikan. Sejak mamanya meninggal, di kepala James selalu terngiang ucapan terakhir wanita yang sangat dicintainya itu. “Abang jangan kangen mamah ya kalau mamah nggak ada… Mama akan lebih sedih kalau James kangen terus-terusan sama Mamah…!” salah satu penggalan kalimat yang diminta ibunya sebelum ia menghebuskan napas. “Abang, harus jadi anak baik ya… Mamah minta tolong titip Papah dan Kevin ya sayaang… Jaga mereka yaaa….” tambahnya membuat James tak mengerti, kenapa harus dia yang menjaga ayah dan juga adiknya. Bukannya orang dewasa yang seharusnya menjaga anak kecil seperti dia? Tapi apa yang dibilang oleh ibunya itu dapat ia pahami begitu melihat perubahan diri ayahnya. Ayahnya seperti mayat hidup, begitu ibu dinyatakan meninggal dunia. Setiap hari hanya berada di dalam ruang kerjanya, sesekali keluar menuju kamar tidurnya dan menangis sambil memeluk baju, bantal serta benda lain milik ibunya. James yang turut sedih hanya mampu menenangkan ayahnya dengan mengelus-elus kepala ayahnya. “Abang harus jadi anak pintar yang baik di sekolah yaa… Mamah mau James jadi dokter yang bisa nyembuhin banyak orang yang juga sakit seperti Mamah…!” pesan mama lainnya. Tentu, keinginan jadi dokter tidak muncul begitu saja dari mulut ibunya. Kalau bukan atas dasar keinginan James sendiri. Sejak melihat keadaan wanita yang melahirkannya sakit-sakitan, James berusaha menyenangkan mamanya. Tak jarang, ia memijat-mijat kaki mamanya yang terbaring di samping adiknya. Ia juga sering memperhatikan seluruh orang dewasa yang tengah merawat mamanya. James ingat, saat ia lebih kecil. Ia sangat membenci orang dewasa yang memakai pakaian putih tersebut. Ia sering menolak bila ibu mengajaknya untuk ke dokter. Tapi kini, sejak ia melihat ibunya sering kali merasa lebih baik setelah pulang dari rumah sakit, atau dikunjungi dokter. Ia menjadi terpesona dengan orang-orang yang disebut dokter. Dalam bayangannya, dokter bak pahlawan yang dapat menyelamatkanya orang. “Abang mau jadi dokter biar bisa sembuhin Mamah!” ucap James polos saat melihat mamanya sedang dirawat oleh para dokter. Melihat celotehan anak pertamanya itu membuat Martha, Ibu James tersenyum bahagia. Kini, kembali terngiang ucapan Ibunya yang menginginkannya menjadi dokter. Ia pun sudah berusaha untuk mewujudkan impian Ibunya itu, ia belajar mati-matian sembari bermain dengan adiknya. Menggubris semua ajakan teman sekelasnya yang ingin mengajaknya bermain setelah pulang sekolah. Bahkan, sejak sepeninggal ibunya. James sudah tidak lagi bergaul. Ia memilih langsung pulang karena harus merawat adiknya, juga kadang kala menengok ayahnya. Sekadar memastikan ayahnya masih terjaga. Kini, James melihat bayangan dirinya yang sedang memamerkan prestasinya kepada ayahnya. Kala itu, ayahnya nampak sangat tidak kauran. Rambutnya yang sudah tidak terpangkas bertahun-tahun, nampak seperti hantu yang sering James lihat di film-film. Belum lagi, wajah ayahnya yang sudah dipenuhi dengan rambut, yang melingkari sebagai wajahnya. “Paah…” bisik James sambil menggoyangkan tubuh ayahnya dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya masih menjempit selembar ijazah kelulusan SMP-nya dengan nilai terbaik. Ia menjadi juara umum di sekolahnya. “Martha… Aku kangen kamu Mar… kenapa kamu ninggalin aku dan anak-anak kita…!” terdengar sayup igauan ayah James. Ayahnya bahkan tak menggerakkan tubuhnya yang masih tergeletak sebagian di atas meja kerjanya. Tangan kirinya ia jadian penopang kepala, sedangkan tangan kanannya masih tersentuh gelas yang isinya sudah kosong, tepat di hadapan wajahnya. Tak jauh terlihat beberapa foto keluarga dan ibunya yang berceceran di atas meja. “Paaah….” kali ini James menggoyangkan tubuh ayahnya lebih kuat. Membuatnya sedikit tersadar. Wajahnya menoleh ke arah James yang tinggi kini sudah melewati tinggi meja, membuat ayahnya harus mendongak. “Martha…” racaunya sambil tersenyum lebar. “Ini James Paaah…..” “Aaaah… My best buddy!” racaunya tak karuan. “Kamu lihat ini Martha… Anak kita sudah besar!” tambahnya lagi, kali ini ia beranjak. Menatap James dengan tatapan kosong, namun dengan mulut yang tersenyum lebar. “Paah… James mau nunjukkin ijazah James Pah. James menjadi lulusan terbaik Pah!” ucapnya sembari menunjukkan bukti prestasinya. Ayahnya yang semula memandang James dengan tatapan kosong, tiba-tiba tersedu-sedu. Matanya mengeluarkan air yang deras, entah karena sedih atau haru. “Papah kenapa menangis?” tanya James bingung harus berbuat apa. “I’m happy buddy!” ucap papanya sambil menarik ijazahnya. “Mamah pasti senang banget. Mamah mau kamu jadi dokter kan?” James hanya mengangguk. “Semoga rumah sakit kita sudah jadi saat kamu jadi dokter yaaah….” ucapnya sambil menepuk pundak James. Ia ingin mengusap anak pertamanya itu, namun karena badannya terlalu lemas untuk beranjak. Maka, tangannya hanya dapat meraih bahu James. “Kamu sudah besar!” ucapnya sekali lagi, kembali menyandarkan tubuhnya ke atas meja kerjanya. James sudah tahu bahwa ayahnya akan kembali meracau. Ia tak habis pikir, kenapa ayahnya hanya menghabiskan waktu dengan meratapi ibunya, yang sudah lebih dari empat tahun tiada. Mbok Tuti yang mengurus rumah, hanya mendatangi ayahnya ketika ingin memberikan makan. Atau saat orang kantor ayahnya datang. Karena sejak Robert mengalami depresi berat akan kematian istrinya, ia meminta direktur utama untuk mengambil alih segala macam urusan pekerjaan. Proyek-proyek besar pun sudah tidak diurus langsung oleh Robert yang merupakan perancang utama sekaligus pemilik perusahaannya. Robert adalah arsitek ternama, dalam maupun luar negeri. Hasil tangannya menciptakan infrastruktur di beberapa kota besar di dunia. Tidak heran dalam waktu singkat, ia sudah memiliki perusahaan konstruksi yang konsumennya adalah proyek pemerintah ataupun swasta kelas besar. Perusahaan itu pun berkembang menjadi sebuah grup unit usaha, yang menaungi infrastruktur, pendidikan, hiburan, industri makan, transportasi hingga retail. Kini, perusahaan itu sudah melebarkan sayapnya ke unit kesehatan masyarakat. Awalnya, James pun ingin menjadi arsitek seperti ayahnya. Namun, ketika melihat para dokter yang merawat ibunya, cita-citanya pun berganti. James masih memperhatikan siluet adegan yang memperlihatkan ayahnya tertidur di atas meja kerjanya, sambil sesekali bangun untuk meneguk kembali minuman pahit itu. Hingga adegan itu memaparkan kejadian beberapa hari lalu. Ia masih rutin menjenguk ayahnya ke dalam ruangan ini, ia pun masih mendapati ayahnya dalam keadaan tertidur di atas meja kerjanya. “Pah… Kevin mau pamerin gambar yang di gambar Kevin paaah…!” ucap James sambil menggoyang-goyangkan tubuh Papanya. “Katanya itu hadiah ulang tahun buat James Paah… Kevin gambar James bagus banget Paah!!” ucap James sekali lagi, berharap ayahnya ingat bahwa dirinya hari ini berulang tahun. Selain itu, ia berharap ayahnya antusias akan bakat adiknya yang mengalir dari ayahnya tersebut. “Paaah!” kali ini James kembali menggoyangkan tubuh ayahnya dengan sedikit kencang. Akan tetapi, ayahnya tidak kunjung bangun. Membuat James sedikit cemas. Kembali ia mengguncangkan tubuhnya, tapi hasilnya tetap sama. Ayahnya tak kunjung bergerak. Ia pun memeriksa tangan ayahnya, berharap masih merasakan denyut nadi ayahnya. Namun, ia semakin cemas ketika tangan ayahnya sudah tak lagi hangat. Ditambah, ia tak dapat menemukan denyut nadi ayahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD