03. Hidup Baru

2534 Words
Sudah hampir seminggu sejak kematian Robert ayah James. Namun kondisi James tak berubah banyak. Ia masih diselimuti kesedihan. Ditambah, James menjadi seperti ayahnya dikala ibunya pergi selama-lamanya. Hanya berdiam diri di dalam kamarnya. James sudah tak lagi bermain bersama Kevin adiknya. Bahkan, saat Kevin memaksa James untuk meladeninya, justru James membentak adiknya tersebut. Membuat Ayu beserta pengasuh Kevin lainnya harus menenangkan tangisan Kevin. “Bang, teman-teman Papa minta Abang untuk menemui mereka…” ujar Mbok Tuti yang sudah berjalan masuk menghampiri majikannya itu. Wanita itu tak mendapatkan respon yang berarti. Ia pun melangkah masuk, menghampiri James yang hanya duduk bersandar pada sandaran tempat tidurnya sambil meringkuk. Dibelainya lembut kepala James, membuat remaja laki-laki itu mengangkat kepalanya. “Kenapa Mbok? James ‘kan sudah sarapan tadi… James belum mau sekolah Mbok. Besok mungkin!” racau James. “Teman-teman Papa minta Abang untuk menemui mereka, katanya ada berkas yang harus ditanda tangani Abang. Sama ada hal penting yang harus mereka sampaikan…” ucap Mbok Tuti dengan penuh kelembutan. “James masih belum mau ketemu siapa-siapa Mbok…” ucapnya lalu kembali menundukkan kepalanya. Menyembunyikan wajahnya dalam ringkukan. “Mereka sudah tiga kali datang lho Bang, dan hari ini berkas-berkas itu harus ditanda tangani. Ini demi perusahaan Papa…” bujuk Mbok Tuti sekali lagi. Untungnya bujukan itu berhasil membuat James bergerak dan mengikuti permintaan Mbok Tuti. Kini, James sudah duduk di ruang tamu ayahnya yang dikhususkan untuk menyambut tamu-tamu penting. Di hadapannya ada tiga orang dewasa berbagai usia. Dua di antaranya James kenal. Yaitu Renald, orang yang menjadi kuasa hukum keluarga mereka. Serta Gerry, perwakilan kuasa hukum perusahaan ayahnya. “Abang James sudah makan, ‘kan Mbok?” tanya Renald saat Mbok Tuti pamit meninggalkan James dengan mereka. “Sudah Pak…” jawab Mbok Tuti sambil menatap mohon untuk tidak mengomentari kondisi James yang nampak seperti manusia berjasad namun tak bernyawa. “Abang, ada beberapa berkas yang harus abang tanda tangani. Ini berkaitan dengan pemindahan saham perusahaan dan juga urusan perbankan. Ini Pak Adi, dia perwakilan Bank yang akan menerangkan bagaimana proses aset Pak Robert akan dikelola sesuai dengan wasiat Almarhum. Lalu…” “Jadi Papa sudah meninggalkan wasiat?” tanya James menatap Renald tajam. Membuat pria yang jauh di atas umurnya sedikit tak berkutik. “Beliau sudah mempersiapkannya saat mengetahui kondisi kesahatannya memburuk, Bang!” kali ini Gerry bersuara, berusaha menenangkan James yang masih tidak menerima keadaannya. “Jadi Papa memilih untuk ninggalin saya dan adik saya, lari tanpa tanggung jawab?” lirihnya berusaha menahan emosinya. Terlihat matanya bergetar diiringi tubuhnya yang naik turun. “Kami tidak tahu alasan pasti Pak Robert, tapi Pak Robert sudah mempersiapkan segalanya. Kita mulai dari aset perusahaan…” ucap Gerry meminta Renald untuk memulai keperluan mereka datang ke rumah atasannya itu. “Baik, menurut keputusan Pak Robert… tujuh puluh persen saham milik Almarhum Robert William Warengsou di PT MR Corpora akan dibagi dua sama rata kepada James Robert Warengsou dan Kevin Robert Warengsou. Sehingga, seluruh saham yang dimiliki oleh PT MR Corpora di setiap sektor industri akan terbagi menjadi dua dengan besaran yang sesuai. Rumah utama yang dihuni oleh kedua anak Almarhum akan menjadi milik PT MR Corpora, sehingga rumah ini tidak dapat dijual belikan tanpa izin perusahaan. Serta hak tinggalnya akan jatuh kepada James dan Kevin di bawah pengawasan perusahaan. Sedangkan aset pribadi Almarhum lainnya akan dibagikan secara merata. Daftarnya dapat James baca sendiri sebelum menandatangi berkas-berkasnya. Kemudian untuk aset keuangan akan diterangkan oleh pihak bank yang berwenang. Silakan Pak Adi…” ucap Pak Renald selaku kuasa hukum keluarganya mempersilakan perwakilan bank untuk membacakan persoalan keuangan James dan adiknya. “Terima kasih Pak Renald. Begini Nak James, mengingat Nak James masih di bawah umur, membuat Pak Robert khawatir akan manajemen keuangan yang akan diemban oleh Nak James. Sehingga, kami pihak bank Madya yang mana PT MR Corpora sebagai pemegang saham terbesar akan mengatur dan mengelola keuangan Nak James dan Nak Kevin hingga umur kalian berdua mencapai dua usia puluh lima tahun.” “Maksudnya bagaimana itu Pak?” tanya James yang sejak mereka memulai membacakan wasiat, hanya diam mendengarkan. “Pak Robert sudah mengatur keuangan Nak James setiap bulannya.” James pun akhirnya memahami. Karena selama ini ia tidak pernah memegang uang. Saat ia memerlukan seseuatu, ia hanya akan menyapaikannya kepada Mbok Tuti, tak lama apapun yang diinginkannya sudah berada di tangannya. “Mulai hari ini, Nak James sudah mempunyai rekening tabungan sendiri. Di mana setiap bulannya, akan ditransfer sebesar dua ratus juta rupiah. Hanya untuk keperluan pribadi Nak James saja.” “Dua ratus juta perbulan? Kalau saya mau beli mobil gimana Pak?” tanya James seperti tidak menyukai keputusan ayahnya. “Dua ratus juta perbulan itu hanya untuk keperluan dasar sehari-hari Nak James. Sedangkan keperluan lainnya akan dijelaskan oleh Pak Gerry. Selaku pengawas untuk kediaman rumah ini.” “Terus yang mencapai dua puluh lima tahun itu apa Pak?” “Total keuangan pribadi Pak Robert di seluruh bank yang ada, mencapai lima belas triliun rupiah. Semua itu akan dibagi rata kepada Nak James dan Nak Kevin. Sehingga, keuangan pribadi Nak James kini sebesar tujuh koma lima triliun. Akan tetapi, Nak James tidak dapat megambilnya semau Nak James sebelum usia dua puluh tahun. Sebagai gantinya, akan diberlakukan pemasokkan secara berkala sebesar dua ratus juta disetiap bulannya. Menurut Pak Robert nominal itu cukup untuk memenuhi keperluan Nak James disetiap bulannya.” jelasnya kembali. “Ok. Tidak masalah, lalu kalau saya mau beli mobil. Atau mau beli hotel gitu gimana? Masa saya harus nabung berbulan-bulan atau harus nunggu usia dua puluh lima tahun?” tanya James seenaknya. “Silakan Pak Gerry untuk menjelaskan keperluan lain atas rumah ini…” ucap Renald kepada Gerry. “Begini Pak James…” “Panggil seperti biasa aja Pak!” “Oh iya, begini Bang… Karena wasiat Almarhum menyatakan rumah beserta isinya di bawah pengawasan perusahaan. Maka setiap keperluan rumah ini akan diatur oleh kami. Berikut gaji para pekerja di rumah ini. Bila dirasa Bang James membutuhkan sesuatu yang jumlahnya melebihi jatah bulanan yang sudah ditentukan. Maka Bang James bisa menghubungi saya, akan kami usahakan untuk memenuhi keperluan Bang James. Hal ini juga bisa Bang James ambil melalui akun pribadi Bang James, atau dari keuntungan pembagian saham milik Bang James yang dikelola oleh perusahaan. Jika di rasa Bang James ingin menambah aset atau membuat perusahaan baru, bisa konsultasikan kepada kami. Apakah perusahaan itu ingin dimasukkan ke dalam kopora atau ingin pisah dan menjadi milik Bang James pribadi. Kami akan mempersiapkan dan mengurus semuanya karena memang itu adalah tugas kami.” ucap Gerry sesopan mungkin. “OK. Terus siapa pemimpin perusahaan?” “Untuk saat ini, perusahaan dipimpin oleh Pak Beni. Selaku pemegang saham terbesar ketiga di perusahaan. Bila diurutkan, maka James dan Kevin merupakan pemegang saham tersbesar lalu disusul Pak Beni kemudian seluruh jajaran pemegang saham lainnya. Adapun bila perusahaan ingin Pak James pimpin, maka dapat mengadakan rapat pemegang saham untuk menentukan pemimpin perusahaan. Saat ini perusahaan PT MR Corpora belum pernah mengadakan rapat pemegang saham untuk menentukan pemimpin perusahaan karena Almarhum sendiri yang menunjuk Pak Beni sebagai pemimpin.” “OK, Lalu rumah sakit MR bagaimana? Pak Beni juga yang akan pimpin?” “Betul, termasuk rumah sakit MR juga dimpimpin oleh Pak Beni karena memang masuk ke dalam jajaran unit usaha PT MR Corpora.” saat ingin bertanya bagaimana caranya James untuk menjadi dokter di rumah sakitnya sendiri, tiba-tiba ia terhenti. Setelah menyadari bahwa cita-citanya itu sudah hilang bersamaan dengan hilangnya kasih sayang ayahnya dari hidupnya. “OK! Lalu apa lagi yang harus dibahas?” “Ini berkas yang harus Bang James tanda tangani, di dalamnya juga terdapat pembagian aset pribadi Almarhum. Tertera aset mana saja milik Bang James, dan mana saja milik Dek Kevin.” jelas Gerald selanjutnya sembari membuka sampul tebal layaknya map ijazah dengan logo perusahaan PT MR Corpora. Tak lama, tangan James sibuk membubuhkan tanda tangannya di atas beberapa selembar kerta sembari di ambil momen tersebut dengan perangkat video oleh Renald dan Gerry. “Ini kartu ATM Nak James, sudah ada nominal dua ratus juta di dalamnya, dan mulai bulan depan akan terus bertambah dua ratus juta setiap bulannya.” James mengambil kartu tersebut dari tangan Adi. “Boleh pinjam handphone Nak James, sekalian akan saya aktifkan M-bankingnya…” “Hape saya di kamar, sebentar ya Pak…” ucap James sembari beranjak. Saat keluar dari ruang tamu khusus tamu ayahnya itu, tiba-tiba Rena salah satu pekerja di rumah besarnya berlari kecil menghampirinya. “Bang James butuh sesuatu?” “Enggak Mbak, cuman mau ambil hape saya…” “Biar Saya yang ambilkan…” ucapnya langsung berlari melesat menuju kamar James yang masih jauh untuk digapai. Menyadarkan James bahwa saat ini hidupnya berubah total. Selama ini ia jarang meminta bantuan pada pekerja yang bekerja di rumahnya. Karena memang kegiatannya hanya bersekolah, bermain dengan adiknya dan menemani ayahnya. Hingga hal itu semua berubah. Setelah ditinggal mati oleh ayahnya, seluruh pekerja di rumahnya memperlakukannya seperti orang yang malang. Seperti anak yang harus diberikan perhatikan khusus. James tidak menyukai hal itu. Ia tak ingin dikasihani. Itulah alasan terbesar mengapa ia tak ingin bersekolah terlebih dahulu. Mengingat, sekolah tempatnya belajar merupakan sekolah di bawah yayasan pendidikan milik perusahaan ayahnya yang kini menjadi miliknya. Ia tak siap untuk mendapatkan pandangan iba dari teman-temannya yang tidak terlalu ia kenal. Karena sejak ibunya meninggal, James lebih memilih menghabiskan waktunya di rumah. Bahkan semua les dan kursus, ia lakukan di dalam rumah. Mulai dari les bahasa asing, hingga bela diri yang juga diikuti oleh adiknya Kevin yang sudah memasuki usia lima tahun. “Biar saya sendiri aja Mbak!” teriak James langsung berlari menuju kamarnya sambil berpikir bahwa dirinya harus lebih tegas, agar orang-orang di sekelilingnya tidak menatapnya dengan pandangan menyedihkan. Namun seberapa kerasnya usaha itu, tetap saja segala sesuatu pasti tidak sesuai dengan harapan. Esoknya, James sudah memutuskan untuk bangkit. Ia ingin menunjukkan pada dunia bahwa dirinya baik-baik saja, walaupun sudah menjadi seorang yatim piatu di saat usianya justru sangat membutuhkan bimbingan orang tua. Akan tetapi, berita mengenai dirinya yang siap bersekolah setelah seminggu lebih tak menampakkan diri tiba lebih awal dengan tanggapan yang sedikit negatif dari sebagian siswa yang juga mengenyam pendidikan di tempat yang sama dengan James. “Sumpah deh. Kok guru-guru lebay banget sih! Emang dia siapa? Pas bokapnya Wesley meninggal tiga bulan lalu, nggak ada tuh guru-guru yang minta kita buat ngehibur Wesley!” ucap Ghea, gadis yang tahun kedua di bangku sekolah menengah atasnya ini harus satu kelas dengan James. Ia sedang berkumpul dengan teman-teman kelompoknya duduk di sekelilingnya. Mulai dari depan, belakang, hingga samping kanan dan kiri. Terdapat empat orang siswa perempuan yang duduk mengelilinginya. Menjadikan mereka yang semula tidak begitu saling kenal, menjadi akrab satu sama lain. Tubuhnya sesekali berputar ke kanan, kiri, dan ke belakang. Mengikuti sumber suara yang mengelilinginya. Terlebih, mereka semua mengidolakan Wesley. Siswa tampan dengan segudang prestasi akademik. Ditambah, ia sering membawa piala kemenangan untuk klub basket kebanggaan sekolah mereka. Tak heran, Wesley yang terlahir dari keluarga menengah, dapat mengikuti gaya hidup siswa lainnya yang memang terlahir dari kalangan atas. Karena sekolah di bawah yayasan yang kini milik James, menerapkan sistem berstandar internasional dengan biaya cukup fantastis. Membuat penghuninya pun terdiri dari kaum elit.   “Mungkin, karena dia selalu jadi juara umum kali ya?” ucap Carissa yang harus memutar tubuhnya, agar dapat menikmati perbincangan sebelum kelas kedua di mulai. Setelah kelas pertama berakhir, guru kembali mengingatkan seluruh murid untuk berbaur dengan James yang selama ini selalu nampak tidak ingin bertemen dengan mereka. “Terus, kenapa coba dia masuknya di jam pelajaran kedua? Padahal tadi gue lihat, dia datang sebelum bell masuk kok!” protes Ghea kembali. Berusaha menggiring opininya untuk seluruh kelompoknya ikut tak menyukai James. “Mungkin guru-guru mau ngasih tahu materi apa aja yang udah ketinggalan. ‘Kan, dia gak pernah dekat sama siapa pun di sekolah. Jadi, pasti dia tengsin lah buat minjem catatannya kita. Lagian sombong banget sih…” kali ini yang bersuara adalah Siera, yang duduk di belakang Ghea. Gadis berparas India itu sampai harus sedikit berdiri, agar suaranya tidak berlari terlalu jauh ke telinga yang bukan kelompoknya. Namun ucapannya seketika disela oleh Ghea. Seakan mengingat sesuatu yang penting, Ghea langsung antusias tak menggubris ucapan Siera. “Eh, eh, eh…! Gue baru inget! Dia ‘kan pernah hampir mau digebukin sama Wesley…” suaranya sedikit nyaring, namun untungnya diskusi kecil mereka tidak digubris oleh penghuni kelas lainnya. Karena mereka pun sedang membicarakan hal yang sama mengenai James yang harus dihibur oleh mereka. “Kok bisa?” tanya Becky yang sedari awal hanya menyimak pembicaraan teman-temannya. “Jadi, pas awal-awal kelas sepuluh… Dia tuh nabrak Wesley ampe jatuh. Bukannya minta maaf tapi malah lari gitu aja naik ke mobilnya. Nah, Wesley nggak suka ‘kan… besoknya Wesley samperin dia, biar tuh anak minta maaf. Tapi tau nggak….?” Ghea memainkan matanya, sengaja membiarkan teman-temannya penasaran akan kelanjutan ceritanya. “Apa?” desak Siera yang kini sudah lebih mencondongkan tubuhnya ke Ghea. Tak mempedulikan pinggangnya yang mulai linu. “James bilang gini…” Ghea bergerak sebentar seolah menirukan gaya James kala itu. “Kenapa lu berdiri di tengah jalan. Bukan salah gue kalau akhirnya lu jatoh ketabrak!” ucap Ghea sembari mengubah suaranya agar sedikit berat. “Dih… Terus-terus…?” Ghea memutar tubuhnya ke arah kiri, setelah menyadari bahwa sedari tadi Indah tak menyumbang cerita apapun. “Lu mah cuman ngonsumsi doang… ikutan bagi informasi kek!” protes Siera sambil berusaha menghujani pukulan ke kepala Indah dengan tangan kanannya. Namun usahanya tak berhasil karena jarak mereka cukup jauh. “’Kan, gue emang nggak ada informasi apa-apa tentang si James… Terus… Terus…?” “Wesley kesal ‘kan, terus langsung mau pukulin tuh anak. Tapi sayangnya ada guru… Sejak itu, Wesley berusaha curi-curi kesempatan buat ngasih tuh anak pelajaran. Tapi, seperti yang kita tahu. Dia cuman datang ke sekolah terus pulang. Makan aja nggak pernah di kantin kok! Selalu di ruang guru… Yaudah, akhirnya Wesley jadi lupa ama kejadian itu. Terus udah nggak pernah lagi berpas-pasan ama dia…” “Dia anaknya guru atau gimana sih? Kok selalu makan di ruang guru?” tanya Becky semakin penasaran. “Nggak mungkin laah… orang dia dijemput supir terus-terusan… Anak mami banget deh. Padahal kita-kita udah bawa mobil atau motor sendiri ‘kan? Dia masih aja dijemput supir.” kilah Carissa menepiskan teori Becky. “Gue pernah ya, ke ruang guru gitu gara-gara tugas. Terus, lihat dia lagi makan di ruang tamu kepala sekolah. Tanya dong ke Pak Wayan… Katanya, si James yang minta izin pake ruangan itu biar bisa sambil belajar pas makan. Soalnya di kantin berisik, di kelas juga berisik…” terang Siera pada teman-temannya. “Iya gue tau sih emang dia jaura umum, pinter juga. Tapi nggak segitunya juga ‘kan? Sekarang malah ditambah kita yang nggak kenal-kenal amat ama dia harus coba menghibur dia…” protes Ghea kembali. “Terus gimana? Lu pada ada niatan bakalan nyamperin dia gitu nggak buat basa-basi apa gitu…?” tanya Indah ke seluruh teman-temannya. Saat Becky siap membuka mulut, tiba-tiba mulutnya tertutup kembali. Tatkala, pintu yang terbuka dan menghadirkan sosok yang sejak tadi menjadi topik pembicaraan mereka. Membuat dua puluh tiga pasang mata di dalam kelas itu langsung memandang ke arah yang sama. Menghadirkan tatapan yang beraneka ragam, menciptakan perasaan yang tak menentu dalam benak James. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD