15. Keputusan Tuan Khalid

1723 Words
"Semua dokumen tentangnya sudah saya periksa. Tidak ada yang perlu diragukan, Sir," kata Ahmed menjelaskan sambil menyerahkan berkas penting terkait semua data Siti. Beberapa menit lalu, dia sampai di kediaman Tuan Khalid dan bergegas ke ruangan ini karena ia tahu bahwa tuannya sedang marah. Napasnya masih terengah-engah karena langkah yang terburu-buru. Dalam hati dia bertanya, kesalahan apa gerangan yang dilakukan oleh Siti sehingga Tuan Khalid mencurigai gadis itu. "Apa ada yang aneh ketika dia tinggal di rumahmu?" tanya Tuan Khalid penuh selidik. Beliau sibuk membolak-balik halaman berkas yang ada di tangannya, sambil menunggu jawaban dari Ahmed. "Maksudnya ... aneh bagaimana, Sir?" tanya Ahmed seraya mengernyit. Bila aneh yang dimaksudkan adalah keceriaan Siti dan keakrabannya dengan keluarga Ahmed, maka jawabannya adalah iya. Namun, apakah itu jawaban yang diharapkan oleh Tuan Khalid? "Aneh ... aneh ... apakah menurutmu dia gadis biasa atau bukan?" jelas Tuan Khalid sendiri tak yakin dengan kebenaran pertanyaannya. Saat ini, beliau bahkan meragukan kebenaran tindakannya. Dirasanya, yang dia lakukan saat ini sangatlah konyol dan kekanak-kanakan. Di sisi lain, Ahmed sendiri merasa tak mengerti mengapa Tuan Khalid begitu gusar. Apanya yang tidak biasa dari Siti? Bagi Ahmed, tak ada ketidakwajaran di diri Siti. Ahmed hanya merasa Siti cukup berbakat, walaupun gadis itu tampak cukup pendiam. Mungkin sedikit terlampau berbakat. Mungkinkah bakatnya itu yang sedang dipertanyakan Tuan Khalid? "Siti adalah gadis yang berbakat—sangat berbakat—dan cepat belajar karena memiliki kemauan yang keras. Dia belajar Bahasa Arab dan menyetir mobil dalam waktu yang cukup singkat ...." Ahmed berpikir sejenak, tiba-tiba teringat tentang perasaannya yang agak mengganjal mengenai Siti. "Dia terlihat banyak menahan diri dalam mengekspresikan perasaannya. Yang paling saya ingat adalah ... hmm ... saya kira Siti akan terkagum-kagum ketika masuk kabin kelas bisnis, tapi ternyata tidak ...," lanjut Ahmed ragu-ragu. Dia kini mempertimbangkan ulang apa yang hendak dilaporkan pada Tuan Khalid. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada Siti bila dia terlalu banyak bicara tentang hal yang sebenarnya tidak perlu. "Hmm ... itu saja?" selidik Tuan Khalid lebih jauh lagi. Meminta Ahmed memberi jawaban lebih. Beliau sedikit mencium gelagat pembelotan yang dilakukan Ahmed. Bagaimana mungkin Ahmed akan mengkhianati atasan yang telah menganggapnya sebagai teman dan saudara? Sungguh, bila Ahmed memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa, maka Tuan Khalid memastikan akan memberikan suatu hukuman kepada Ahmed. Untunglah, itu tak perlu terjadi karena Ahmed pun dengan segera menjawab, "Kadang saya merasa sebenarnya dia gadis yang periang, bukan pendiam atau penakut. Karena justru hal itulah yang saya lihat ketika dia sedang bercengkrama dengan ibu dan adik saya." Tak disangka, Tuan Khalid tidak berkomentar apa-apa terhadap jawaban terakhir Ahmed. Hanya terpana, lalu menatap kosong, seolah-olah jawaban Ahmed adalah sesuatu yang dicarinya sejak lama. Padahal, Ahmed hanya mengungkapkan hal yang paling 'aman' agar tidak menjadikan tuannya mencurigai hal yang bukan-bukan mengenai Siti. Bila sudah seperti ini, siapa hendak disalahkan? Ahmed yang tadinya tenang, sekarang membasahi kedua telapak tangannya dengan keringat dingin. Mencoba menebak apakah gerangan yang sedang dipikirkan oleh Tuan Khalid tentang Siti. Tentu, Ahmed akan terkejut bila dia tahu apa yang kini sedang dipikirkan oleh sang Tuan. Di tengah lamunannya, Tuan Khalid teringat saat Siti bersama Sophia. Siti terlihat bahagia dan tertawa lepas. Tidak ada beban berat yang terlihat dari ekspresi Siti seperti saat berhadapan dengannya. Seperti halnya anak kecil yang sedang bermain bersama kawan sebayanya. Begitu menikmati suasana. Tuan Khalid mengusap wajah, menyadari kesalahan bahwa dia terlalu memusingkan hal yang bukan urusannya. Hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang pimpinan perusahaan, yang di bahunya tertumpu hajat hidup jutaan ribuan karyawan dan anggota keluarganya. 'Memalukan sekali!' rutuknya dalam hati. 'Baiklah. Aku harus menyudahi hal ini!' tekad Tuan Khalid dalam hati. Tuan Khalid pun memutuskan untuk percaya saja bahwa Siti memang tidak berbahaya. Sebagaimana yang Siti ikrarkan sendiri kepadanya sebelum beliau memanggil Ahmed dan meminta laporan detail. Namun, bukan berarti Tuan Khalid merasa dirinya salah mengira-ngira. Beliau tetap yakin bahwa masa lalu Siti tidaklah sesederhana yang tampak. Hanya saja, kali ini, beliau menganggap hal itu tak penting. Tuan Khalid bertekad hanya akan melihat Siti sebagai sosoknya yang sekarang saja. Calon pengasuh untuk calon bayinya. Memposisikan Siti sebagai karyawannya yang harus diperlakukan dengan baik dan diayomi, sebagaimana beliau memperlakukan semua karyawan yang lain. 'Seperti apa pun masa lalunya, aku tidak akan ambil pusing lagi. Asalkan dia nanti tidak menimbulkan kekacauan,' janji Tuan Khalid dalam hati. "Oke, baiklah," ujar Tuan Khalid kemudian kepada Ahmed. "Sekarang, kamu boleh melaporkan hal lain yang aku minta." Ahmed pun tersenyum lega karena yakin bahwa urusan Siti sudah beres. Kemudian, dengan tenang dia menjawab, "Anda tidak menyuruh saya ke sini untuk melaporkan hal lain selain urusan Siti, Sir!" "...." Tuan Khalid hampir tak percaya apa yang baru saja dilakukannya. Memanggil Ahmed di hari Sabtu hanya karena masalah Siti? Betapa tidak pentingnya hal yang baru saja beliau lakukan. Hal ini membuat sang Tuan merasa sangat malu. Rasa malunya semakin berlipat ganda saat mengingat apa yang tadi beliau lakukan kepada Siti. Benar-benar hal yang sangat buruk yang tidak seharusnya dilakukan oleh pria bermartabat. Pastilah tadi beliau membuat gadis itu sangat ketakutan. Lagi-lagi, Tuan Khalid mengusap wajah untuk menghilangkan pikiran yang tidak menyenangkan. Dalam hati beliau berjanji untuk tidak akan pernah mengulanginya lagi. Cukup sudah dua kali ini beliau membuat Siti merasa tidak aman berada di dekatnya. "Baiklah. Kalau begitu, kamu bisa pulang sekarang," perintah beliau kepada Ahmed dengan sedikit merasa bersalah karena membuatnya repot untuk urusan remeh. Tuan Khalid melempar kasar berkas dari Ahmed ke meja kerjanya. Kemudian memeriksa tumpukan berkas lain untuk menyibukkan diri, dan untuk menjaga harga diri di depan Ahmed tentunya. Sesuatu yang sebenarnya tidak perlu, karena Ahmed sama sekali tak berpikir apa pun yang melukai harkat dan martabat tuannya. Ahmed hanya merasakan satu hal, lega karena urusan Siti berakhir dengan baik. Setelah Ahmed mohon diri dari ruangan Tuan Khalid, sang pemilik ruangan kini tak lagi berpura-pura menyibukkan diri. Beliau hanya menyesali kekhilafannya karena terlalu terprovokasi dengan cara Siti mempertahankan diri. Untuk pertama kalinya Tuan Khalid menyaksikan dengan mata kepala sendiri keberanian seorang wanita yang dibalut dalam ketenangan, walaupun keselamatannya berada di ujung tanduk. Sesuatu yang membutuhkan kebijaksanaan besar dan kepercayaan diri tingkat tinggi. Normalnya, hal seperti itu hanya akan ditemui dari pria dengan usia yang matang, yang berhadapan dengan pria lain yang seusia atau yang lebih muda. Hanya ada sedikit pengecualian di sini. Pengecualian yang hanya berlaku untuk orang-orang seperti dirinya. *** Sementara menunggu kelahiran sang buah hati, Madam Aisha meminta Siti untuk mengakrabkan diri dengan lingkungan barunya. Sebagaimana sore ini, Siti memilih untuk membantu Alya membuat kue. Alasan pertama memilih Alya, adalah karena Siti sangat menyukai kue manis. Yang kedua, karena kue yang dibuat kali ini adalah cream puff. Kue yang sangat disukai Siti sejak kecil. Memandangi adonan kue yang mengembang di balik oven memang sesuatu yang sangat menyenangkan bagi anak-anak maupun orang dewasa. Begitu pula bagi Siti saat ini. Seakan mengenang kembali masa kecil, membuat kue bersama ibunya, dia begitu menikmati pemandangan choux pastry yang merekah cantik dengan topper adonan pie warna-warni yang retak-retak di atasnya. Perpaduan sempurna antara dua adonan pastry yang berbeda. "Siti, bisakah kamu membantu membuat krimnya?" tanya Alya kepada Siti yang sedang mengagumi bulatan-bulatan kue berlapis buih di dalam oven. Tanpa harus membuka isinya, terlihat sekali bahwa dalamnya berongga, berisi udara, karena adonan mentah yang tadinya berukuran kecil, kini telah mengembang menjadi tiga kali lipat setelah dipanaskan dengan suhu tinggi. "Tentu. Apa yang harus saya lakukan?" Alya meminta Siti mencampur custard filling di dalam lemari pendingin dan whipped cream yang sudah siap pakai. Tak lama, baik isian maupun kulitnya, sudah siap. Siti dan Alya, berlomba mengisinya agar krimnya tak sempat membuat kue lembek sebelum disajikan. Hanya sebagian, karena sebagian yang lain akan diisi nanti. Alya kemudian meminta Siti dan para pelayan lain yang sudah mulai berdatangan ke dapur untuk mengantar semua kue dan teh yang sudah siap ke kamar para madam, Tuan Khalid, dan Nona Sophia. Sementara Alya akan menyiapkan teh dan kue untuk waktu istirahat pelayan lain. Setelah memenuhi nampan dengan kue dan teh yang sudah dibagi sesuai porsi, Siti dan yang lain segera berjalan menuju kamar para tuan rumah. Sebagaimana bisa ditebak, tugas Siti adalah mengantar makanan ke kamar Madam Aisha. Perjalanan dari dapur menuju kamar Madam Aisha, melewati lorong berdinding kaca, sehingga terlihatlah pemandangan taman yang indah di luar karena cuaca pun sedang cerah. 'Sayang sekali, seharusnya para penghuni rumah bisa menikmati waktu minum teh bersama di sana.' Siti bergumam dalam hati, sambil terus melangkah. Menurutnya, waktu minum teh yang dihabiskan di dalam kamar, sama saja dengan sekadar menggemukkan badan semata. Tidak ada percakapan hangat, tidak pula bertukar kabar dan opini tentang suatu topik. Andaikan saja mereka berminat untuk meluangkan waktu bersama, mungkin suasana rumah ini akan lebih hidup. Apakah aneh bila para istri berkumpul dan bercengkrama dengan akrab seolah-olah mereka adalah sahabat karib? Di lain rumah, bisa saja bila hal itu terjadi, akan dianggap aneh. Persaingan di antara para istri untuk merebut hati suami membuat kerukunan sulit diwujudkan. Sehingga pada umumnya, tidak mungkin untuk menyatukan beberapa istri dalam satu rumah. Namun, yang terlihat di rumah Tuan Khalid bukanlah hal seperti itu. Tuan Khalid tampak begitu adil dalam menafkahi istri-istrinya. Baik masalah waktu maupun finansial. Sangat adil dan profesional, bahkan perhatian yang diberikannya kepada para istri juga sama. Dalam artian, bila kamu melihatnya sebagai bentuk perhatian, maka Tuan Khalid sangat memperhatikan semua istrinya dengan adil. Namun, bila kamu mengatakan yang dilakukan Tuan Khalid adalah sikap acuh tak acuh terhadap para istri, maka semua istri Tuan Khalid juga sama-sama tidak diberi perhatian. Oleh karena itu, tidak terlihat sama sekali aura persaingan di antara para istri Tuan Khalid. Mereka hanya seperti bunga-bunga cantik yang mendekorasi sudut-sudut rumah. Sangat disayangkan bila mereka tidak menggunakan kesempatan ini untuk mengakrabkan diri satu sama lain agar hidup mereka lebih berwarna, bukan? Setidaknya, hal itulah yang ada di pikiran Siti sebelum dia sampai di kamar Madam Aisha. Siti mengetuk pintu kamar sang Madam yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. "Saya mengantarkan kue dan teh untuk Madam," seru Siti lembut dari luar kamar. Madam Aisha menyahut lembut dari dalam kamar, mempersilakan Siti masuk. Tak seperti tadi pagi, wajah Madam Aisha agak pucat dan murung. Siti sangat berharap, hal ini tidak ada hubungannya dengan penolakan hadiah yang dia lakukan tadi pagi. Bila benar begitu, tentulah dia merasa sangat bersalah. Namun, pucat wajah Madam Aisha tampak tidak wajar. Sepertinya, ini berhubungan dengan masalah kesehatan beliau. "Apakah Madam merasa kurang sehat?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD