Bab 30. Rasa Yang Tidak Boleh Ada

1028 Words

Jesslyn duduk di kursi malas di balkon kamarnya, tatapannya kosong menembus langit yang mulai meredup. Satu kakinya terangkat, masih terbungkus perban putih yang membuat geraknya terbatas. Segelas minuman terletak di meja kecil di samping kursi, dibawa oleh pelayan atas permintaannya. Ia tidak sekalipun memanggil Levin. Baginya, selama pria itu tidak mengganggu, itu sudah cukup. Di telinganya, suara Sofia terdengar lewat sambungan telepon. “Bagaimana dengan kakimu, Jesslyn?” tanya sahabatnya dengan nada penuh khawatir. Jesslyn menunduk, menatap perban yang melilit pergelangan kakinya. “Sudah cukup baik. Mungkin tiga hari lagi aku sudah bisa kembali latihan.” “Jangan memaksakan dirimu. Aku bisa datang menjenguk setelah pulang kerja.” “Tidak, jangan lakukan itu!” sahut Jesslyn cepat, ha

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD