Malam itu, Indra benar-benar tenggelam dalam minuman memabukkan. Di sudut bar yang remang, botol-botol kosong berjejer di depannya, menjadi saksi bisu dari hati yang baru saja hancur. Musik pelan yang mengalun tak lagi terdengar indah, hanya menjadi gema menyakitkan di telinganya. Setiap tegukan alkohol seolah ingin menenggelamkan satu nama yang tak bisa ia lupakan, Jesslyn. Wanita itu menolak cintanya. Bukan karena tidak mencintainya lagi, tapi demi keluarganya dan rasa takut yang ia sembunyikan di balik kepasrahannya. Indra tahu itu, tapi tetap saja, luka itu nyata. Luka yang menolak untuk disembuhkan. “Kenapa, Jesslyn... kenapa harus dia?” gumamnya lirih, menatap kosong ke arah gelas di tangannya. Air mata hampir jatuh, tapi ia buru-buru meneguk sisa minuman, seolah alkohol bisa

