Di rumah, Jesslyn masih duduk di tempat yang sama. Ponselnya digenggam erat di d**a, matanya merah, dan air mata belum juga berhenti mengalir. Meski hatinya perih, ia tahu—keputusan ini harus diambil. Demi kebaikan semua orang. Demi Indra. Demi keluarganya. Sejak awal, memang begini takdir yang harus ia jalani. Biarlah dirinya yang berkorban. Selama Levin masih menginginkannya, pria itu tidak akan menyakitinya. Itu sudah cukup baginya untuk bertahan. Jesslyn mengusap air mata yang tersisa di pipi. Ia menunduk, menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Itu harus menjadi air mata terakhir yang jatuh untuk Indra. Saat Levin kembali nanti, ia tak boleh menunjukkannya lagi. Ia tak boleh menguji kesabaran pria itu lebih jauh. Petir menggelegar, menyambar di langit malam, membuat kaca je

