Hari itu terasa begitu tenang. Langit di luar rumah sakit tampak jernih, angin berembus lembut menelusuri tirai putih yang menari pelan di jendela. Seolah badai yang mengguncang kehidupan mereka beberapa hari terakhir telah benar-benar berlalu. Tapi, ketenangan itu hanyalah semu, seperti genangan air yang menutupi jurang di bawahnya. Jesslyn duduk di sisi ranjang sahabatnya, tersenyum lembut sambil melipat selimut di pangkuan Sofia. “Kalau begitu, aku pulang dulu. Aku hanya ingin mandi dan berganti pakaian,” ucapnya pelan. Sofia mengangguk, bibirnya menampilkan senyum kecil. “Pergilah. Aku tidak apa-apa. Sudah kukatakan, ayah dan ibuku akan datang nanti. Kau juga tidak boleh terlalu lama di sini, Jesslyn. Suamimu pasti menunggumu.” Jesslyn mengangkat alis, sedikit terkejut. “Kau tah

