14. Menginap

1475 Words
“Yakin nggak mau ikut ke Bogor? Kamu cuma di rumah sama Kak Bi lho, Nak.” Muti menggangguk mendengar pertanyaan Mama yang keempat kalinya itu. “Kuat kamu seminggu Cuma makan mi instan?” “Mamah! Bintang nggak sekejam itu!” Protes Bintang ketika mendengar pertanyaan mamanya itu. Dina terkekeh mendengar sanggahan anak sulungnya itu. “Lho emang kamu bisa masakin adek kamu apa? Goreng telur aja gosong kamu. Bisa-bisa mama pulang anak mama kurus.” “Warteg banyak, Mah. Lagian Marmut dilepas di kebon juga kenyang.” “Kakaaaak!!” jerit Muti sambil cemberut sementara Bintang terbahak sambil mengacak rambut Muti dengan gemas. Jadi ceritanya, sore ini, Mama, Ayah, dan Langit akan berangkat ke Bogor selama satu minggu. Kebetulan Ayah ada tugas di Kota Hujan itu selama satu minggu, jadi Mama dan Langit sekalian ikut menginap di rumah Eyang. Muti benar-benar sedang tidak ingin ke mana-mana. Ia akan menuntaskan 'cita-citanya' untuk bangun siang selama satu minggu penuh. “Kakak jangan ngacak-acak kamar Langit ya! Awas aja kalau ada yang pindah tempat satu centi pun. Langit bakal tahu.” Langit adalah orang paling rapi nomor dua setelah Mama. Anak itu juga hapal letak semua barangnya. Jadi setiap kali Muti masuk dan merubah letak satu barang, Langit pasti langsung tahu. “Iya, Bawel!” “Kamu masak nasi aja di rumah. Lauknya beli. Jangan semua-muanya beli. Ngirit.” “Ngiritan jajan semua kali, Mah. Masak nasi belum tentu abis. Jajan kan sekali makan.” Dina melotot pada Bintang. “Jangan ajarin adik kamu boros!” Lalu beliau berpaling lagi pada Muti yang tengah asyik makan kuaci. “Di kulkas ada ungkep ayam, nanti kamu tinggal goreng aja. Di freezer ada nugget sama tori no teba. Bumbu sayur sop juga udah Mama buatin di kulkas. Jangan kebanyakan jajan sama makan micin. Makin bodoh nanti kamu.” Muti menggangguk. Ia tidak perlu membantah karena ia memang bodoh. Ia adalah yang paling bodoh di rumah. “Bintang makan micin mulu aja pinter, Ma!” Kembali protes Bintang membuat Dina melotot. “Pokoknya jangan kebanyakan jajan. Awas kalau belum seminggu udah minta uang jajan lagi.” “Iya, Mamaahh. Udah sana berangkat ntar kesiangan. Kayak nggak hapal jalanan Bogor aja.” Muti mendorong mamanya untuk masuk ke dalam mobil dan melambai. Jika dibiarkan, mamanya bakalan ngoceh sampai jam dua belas malam. “Dek, jajan yuk!” Ajak Bintang begitu mobil yang dinaiki orangtua dan adik mereka keluar halaman. Kening Muti berkerut. “Baru aja Mama bilang ...” “Mau nggak? Lontong sayur yang di lapangan. Yang pake telor bulet utuh. Yang sambelnya enak banget. Adek boleh nambah deh.” Oh, Bintang memang kejam. Kakaknya itu tahu bahwa makanan adalah godaan Muti yang terbesar. Ia tidak akan pernah bisa menolak sesuatu berjudul makanan, seperti apapun bentuknya. Muti beranjak pergi menaiki motor Bintang sebelum kakaknya itu menghidupkan motornya. Bintang terkekeh penuh kemenangan. Tahu jika adiknya tidak akan bisa menolak makanan. Dua puluh menit kemudian, Muti sudah kenyang dengan dua mangkuk lontong sayur yang baru saja selesai disantapnya. Bintang sampai terheran-heran melihat daya tampung perut Muti yang luar biasa. “Kamu kalau ditraktir cowok juga rakus begitu?” Muti mendongak dari keasyikannya makan kerupuk dan menyeringai hingga membuat Bintang terkekeh. “Nggak malu gitu? Nanti cowok-cowok jadi ilfil tahu sama kamu.” “Nyatanya aku punya pacar, Kak. Damar juga tetep aja sering traktir aku makan.” “Sebenernya kamu pacaran sama Damar apa anak yang satunya lagi sih?” Bintang memang jarang di rumah. Karena itulah ia tidak tahu siapa yang menjadi pacar Muti sekarang. Ia hanya mendengarnya dari Mama yang memang ratu rumpi di rumah. “Kata Mamah kamu pacaran sama anak baru itu. Bener?” Tanya Bintang lagi setelah Muti tetap asyik makan kerupuk. Muti mengangguk. “Namanya Nero, Kak.” “Kamu beneran suka sama dia?” Sampai detik ini, tidak pernah ada yang bertanya apa ia benar-benar suka pada Nero. Oh, mungkin Damar pernah bertanya, tetapi Muti tahu itu hanya karena kekesalan Damar pada sikap Nero. Sedangkan Bintang, ketika Muti menatap mata kakaknya itu, benar-benar ingin mendapatkan jawaban yang sebenarnya. “Muti nggak yakin,” jawab Muti sambil menghabiskan teh manisnya sampai tandas. Bintang mengangkat satu alis tebalnya. “Jadi kamu pacaran sama Reno cuma biar ngerasain pengalaman punya pacar di SMA gitu?” “Namanya Nero, Kak.” “Iya itu pokoknya. Jawab Kakak.” Sebelum ini, yang selalu mereka bicarakan hanyalah seputar remeh temeh tentang pelajaran yang Muti tidak tahu. Tentang uang jajan Muti yang selalu habis sebelum satu minggu. Atau tentang Langit yang tidak bisa jauh dari komik-komiknya. Muti tidak pernah membicarakan hal-hal personal tentang dirinya pada kakak sulungnya ini. Dan sejujurnya, ia memang tidak pernah membicarakan hal-hal seperti ini pada siapapun. Tumbuh sebagai satu-satunya anak perempuan dalam keluarga, membuatnya tidak memiliki teman bercerita seperti orang lain yang memiliki saudara perempuan. Yah, sebenarnya bisa saja ia berbagi cerita dengan Bintang atau Mama. Akan tetapi Bintang terlalu sibuk dengan kuliah dan kerja paruh waktunya. Dan Mama, yah, Mama bukan teman bercerita yang bisa Muti andalkan karena pasti wanita itu akan mengatakannya pada ayah dan semua orang rumah. “Enggak juga sih, Kak. Sebenernya ... Muti mau cerita kalau kakak beliin adek bubur ayam di ujung sana.” Tangan Muti menunjuk ke ujung jalan tempat penjual bubur ayam favoritnya mangkal. “Astaga, Adek! Perut kamu ada apanya sih?? Nggak, nggak, nggak. Ayok pulang. Mamah bilang nggak boleh banyak jajan.” Muti terbahak melihat kakaknya menggeleng-gelengkan kepala dengan heran. Tentu saja ia tidak ingin makan lagi. Itu hanya satu cara agar Bintang tidak lagi mencecarnya dengan pertanyaan tidak penting itu. Mereka baru saja sampai ke rumah dan Muti baru akan tidur lagi ketika ia melihat sebuah sedan mewah memasuki halaman. Ia tahu siapa pemilik mobil mewah itu karena sudah beberapa kali menaikinya. “Siapa, Dek?” Tanya Bintang dengan heran karena tidak biasanya mereka memiliki tamu dengan kendaraan semewah ini. “Tantenya Damar.” “Tantenya... Astaga! Ibu Violeett!!” Mata Bintang berseri-seri dan ia segera berlari menghampiri Violet yang baru keluar mobil. Muti mencibir. Violet adalah cinta pertama anak-anak Bakti Bangsa. Termasuk Bintang yang juga alumni sekolah itu. “Kok ibu tumben ke sini?” Tanya Bintang dengan sok manis. “Iya mau ajak Muti jalan-jalan.” Muti menghampiri Violet dan menjabat tangannya dengan sopan. “Tante sendirian?” Violet mengangguk. “Anak-anak lagi pada mau mancing sama ayah sama Opanya. Tante bosen,” jawabnya sambil cemberut. Muti terkekeh sementara ia menepuk punggung kakaknya yang menatap Violet dengan kekaguman luar biasa. Bintang boleh ganteng luar biasa, tetapi tetap saja ia tak berdaya di hadapan wanita ini. “Ibu mau ajak Bintang juga nggak?” tanya Bintang lagi. Violet terbahak. “Ibu mau ajak Muti ke salon. Kamu mau ikut nyalon?” “Ke mana aja Bintang rela asal sama ibu.” Tawa Violet semakin keras sementara Muti mencubit pinggang kakaknya dengan malu. Bintang tidak pernah senorak ini sebelumnya. “Tapi Muti belum mandi, Tan. Mau nunggu?” Violet mengangguk. “Ayo masuk, Bu. Udah sana, Dek, mandi. Yang lama!” Usir Bintang sambil mendorong Muti. Dasar Bintang. Muti tahu kakaknya itu hanya ingin bersama Violet lebih lama. Bertekad tidak ingin membuat kakaknya berduaan dengan Violet terlalu lama, Muti mandi dengan kecepatan kilat dan turun dalam waktu kurang dari sepuluh menit. “Kamu mandi beneran, Dek?” Bintang menatapnya dengan curiga. “Mandilah! Ayok, Tan, kita pergi.” “Kakak nggak diajak?” “Nggak!” Jawab Muti cepat. “Bintang, ibu pinjem adik kamu bentar ya. Nggak apa-apa kan?” Bintang menggeleng dan tersenyum seperti orang b**o. “Lama juga nggak apa-apa. Nggak dibalikin juga nggak apa-apa. Anak satu ini suka ngabisin beras, Bu.” “Kakaaak!!” Protes Muti disambut tawa Violet. “Kalian kelihatan sangat akrab ya. Tante jadi kangen Ola berantem sama Damar,” ucap Violet saat mereka sudah di dalam mobil. “Kak Ola nggak pulang liburan akhir tahun, Tan?” Violet menggeleng dengan sedih. “Dia nggak pengen pulang tahun ini. Katanya mau ngerasain musim dingin pertamanya di sana.” “Kenapa nggak Tante yang ke sana?” “Kesehatan Papi kurang baik akhir-akhir ini. Kami nggak berani pergi jauh-jauh. Apalagi cuma kami yang di rumah. Mbak Hanum sama Mbak Hannah nggak ada.” Muti meraih tangan Violet dan menggenggamnya erat. “Kan ada Muti, Tan. Muti mau kok nemenin Tante selama liburan.” “Beneran??” Muti mengangguk. Melihat Violet sedih, rasanya ia tidak tega. Biarlah ia melupakan cita-citanya bangun siang selama seminggu asalkan wanita ini senang. “Janji ya! Awas kalau kamu bohong sama Tante.” “Iya Muti janji, Tan. Tante boleh kok culik Muti tiap hari biar Tante punya temen main.” “Pak, Pak, kita balik lagi ke rumah Muti.” Violet menyuruh sopirnya dengan tergesa. “Lho ngapain, Tan?” Tanya Muti heran. “Ambil baju kamu. Kamu nginep di rumah Tante seminggu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD